Masa Adven: Berjaga-jagalah

 

Lukisan Stanley Spencer, Poppies, 1938

Tahun A

Minggu Adven I

Yesaya 2: 1-5

Roma 13: 11-14a

Matius 24: 37-44 

                                                                                                                                “Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga-jaga, dan  tidak  membiarkan rumahnya dibongkar”.

Kita memasuki masa Adven yang ditandai dengan lilin pertama yang menyala di dalam lingkaran Adven. Segera setelah lilin menyala, terang lilin bercahaya di dalam keindahan lingkaran Adven. Ranting coklat yang berbentuk lingkaran, hijau daun dan hiasan bersatu dengan cahaya lilin Adven melukis kesucian Adven. Adven adalah masa pengharapan akan kedatangan Kristus. Kristus datang kepada setiap hati untuk menyatakan bahwa Tuhan menyelamatkan dan begitu mencinta manusia. Dalam kasih-Nya, Tuhan memberikan hidup baru kepada manusia lewat Yesus Putera-Nya dan membawa terang kepada dunia. Namun kedatangan-Nya seperti pencuri. Tuhan yang datang seperti pencuri mau mengatakan bahwa dia datang pada saat yang tepat dan pada saat yang tidak kita duga. Hari kedatangan-Nya merupakan rahasia-Nya, misteri-Nya. Maka, dalam masa Adven kita selalu diingatkan akan hari kedatangan Tuhan yang seperti pencuri.

Maka, lilin yang menyala di lingkaran Adven mengajak setiap orang beriman untuk berjaga-jaga akan kedatangan Kristus yang seperti pencuri: “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”. Apa itu berjaga-jaga? Apakah kita berjaga-jaga seperti peronda malam yang membawa pentungan karena dikatakan bahwa Tuhan datang seperti pencuri?

Berjaga-jaga adalah pergi kepada terang. Pergi kepada terang berarti meninggalkan perbuatan-perbuatan gelap: percabulan, hawa nafsu, pesta pora, iri hati. Perbuatan-perbuatan gelap ibarat hidup di “malam hari” di mana kegelapan menguasai kehidupan. Hidup “di malam hari” membuat diri lupa dan tidak menyadari hari kedatangan Tuhan. Diri yang lupa sama dengan orang-orang zaman Nuh yang dilenyapkan oleh air bah: “Pada zaman sebelum air bah itu orang makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera; mereka tidak menyadari apa yang terjadi sampai air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua”. Pergi kepada terang dalam bahasa St.Paulus adalah “hidup di siang hari”. Di “siang hari” “matahari” bersinar di atas kehidupan dengan terang benderang karena Kristus sendiri sang matahari. Hidup “di siang hari” berarti hidup di dalam Kristus. Hidup di dalam Kristus sudah pasti meniru dan meneladani segala perkataan dan perbuatan-Nya dalam hidup sehari-hari; mendengarkan sabda-Nya melakukan segala perintah dan kehendak-Nya. Maka, kata Paulus: “kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang” .

Hidup di “siang hari” dalam bahasa nabi Yesaya adalah hidup dalam terang Tuhan. Di dalam terang-Nya Tuhan menuntun kita untuk pergi ke gunung-Nya. Gunung tempat rumah Tuhan berdiri tegak di atas gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit. Dari ketinggian gunung rumah-Nya, Tuhan memanggil dan mengundang setiap orang agar pergi ke gunung-Nya. Untuk itu, segala bangsa berduyun-duyun pergi ke gunung Tuhan. Di dalam perjalanan ke gunung-Nya, ia sendiri mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya. Kabut kegembiraan dan damai datang menyelimuti perjalanan kita ke gunung Tuhan. Tidak ada lagi perseteruan, kebencian dan peperangan. Semuanya menikmati damai yang memenuhi hati seperti yang dikatakan oleh Yesaya: “mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak  dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas. Bangsa yang satu tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa yang lain, dan mereka tidak akan lagi berlatih perang”. Tentu saja dalam jalan tersebut kita mengarahkan, mengangkat hati dan jiwa kita kepada kehadiran Tuhan. Hati dan jiwa diarahkan dan diangkat dengan berdoa dan mencinta. Doa dan cinta membuat kita melihat pohon-pohon keselamatan yang tumbuh di jalanan ke gunung Tuhan. Doa dan cinta itu pula yang menjadikan kita selalu siap siaga menyambut kedatangan Anak Manusia yang tak terduga. Oleh sebab itu pula, masa Adven juga dapat dikatakan sebagai jalan menuju ke gunung Tuhan. Walaupun demikian, terhadap jalan ini tidak semua orang akan memilihnya bahkan ada yang menolaknya. Akibatnya, seperti yang dikatakan oleh Injil “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan yang sedang menggiling gandum, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan”.

Ternyata, ketika kita berjalan meniti jalan Adven pada saat itu juga kita pergi keluar untuk menyambut Tuhan. Kita membawa lilin baru yaitu lilin Kristus sendiri untuk menyambut kedatangan-Nya. Lilin-lilin Kristus tersebut bercahaya dengan lembut di sepanjang jalan Adven. Kita memegang lilin Adven dengan seruan: “datanglah Tuhan, datanglah”. Dalam iman dan cinta kita menanti Tuhan penuh pengharapan. Iman, harapan dan cinta membentuk lingkaran Adven yang indah nan suci sebagai tempat alas lilin-lilin Kristus bercahaya.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

1 thought on “Masa Adven: Berjaga-jagalah”

Leave a Reply