Keangkuhan

LIV

Keangkuhan

Francis Bacon

Lukisan Cleto Luzzi, The Recital

Didongengkan dengan indah oleh Aesop[1]: Si lalat duduk di atas gandar roda kereta dan berkata, Sungguh hanyalah debu yang kuangkat! Jadi, ada orang-orang yang angkuh yaitu mereka yang terhadap segala hal apa pun berjalan sendiri atau mengandalkan sarana-sarana yang hebat sehingga mereka begitu percaya diri bahkan berpikir bahwa mereka mampu mengatasi segalanya. Sebenarnya mereka yang berjaya pastilah seorang pemberontak; sebab segala keberanian terbentuk karena adanya perbandingan-perbandingan. Mereka harus menjadi orang yang penuh dengan kekerasan demi menciptakan reputasi dari ucapan mereka yang angkuh. Oleh karena itu, keberadaan mereka tak mungkin menjadi rahasia, maupun tidak mengesankan; tetapi seperti kata pepatah Perancis, Beaucoup de bruit, peu de fruit; Banyak berkoar-koar, sedikit buah.

Meskipun demikian, tentu saja ada faedah dari kualitas ini dalam urusan-urusan kenegaraan. Di mana ada sebuah opini dan ketenaran yang terbentuk entah dari keutamaan ataupun kehebatan, orang–orang ini adalah peniup terompet yang gemilang. Sekali lagi, seperti yang dikatakan oleh Titus livus[2] berkaitan dengan kasus Antiochus[3] dan Etolians[4], kadang kala ada pengaruh yang hebat dari kebohongan-kebohongan bersilang; seolah-olah seseorang menjembatani dua raja dengan maksud mempersatukan mereka untuk berperang melawan pihak ketiga, maka dia menyanjung kekuatan kedua-duanya dengan amat berlebihan dengan mengatakannya yang satu kepada yang lain: dan kadang kala keberhasilannya dalam mempersatukan membuat dia dipercaya oleh kedua belah pihak; caranya adalah dengan berpura-pura memiliki ketertarikan yang lebih besar daripada yang ia miliki untuk kedua belah pihak. Usaha ini dan hal-hal yang serupa sering kali menimbulkan pertengkaran karena hanya dihasilkan dari kebohongan belaka, sebab segala kebohongan cukup untuk membiakkan opini-opini dan opini-opini membawa kepada pokok permasalahan. Namun, untuk para komando militer dan para tentara, keangkuhan adalah poin yang esensial; sebab seperti besi yang menajamkan besi, maka dengan keangkuhan, seorang prajurit menguatkan yang lain. Dalam usaha yang penuh dengan tantangan dan resiko, tipe-tipe orang yang tenar sungguh membawa hidup dalam persoalan, dan mereka yang bertipe murni dan sederhana tentu lebih mempunyai pemberat daripada layar[5]. Dalam ketenaran pembelajaran, seekor burung akan lambat terbang jika tanpa bulu-bulu yang suka pamer. Qui de contemnenda gloria libros scribunt, nomen, suum, inscribunt. (Mereka yang menulis buku-buku demi ketenaran membubuhkan nama mereka pada halaman judul). Socrates[6], Aristoteles[7], Galen[8] adalah orang-orang yang benar-benar suka pamer. Sungguhlah bahwa keangkuhan membantu mengekalkan ingatan seseorang, dan keutamaan tak pernah demikian dipandang oleh kodrat manusia ketika keutamaan hanya dihargai sebagai hal yang sekunder. Demikian juga bahwa ketenaran Cicero[9], Seneca[10], Plinius Secundus[11] tidaklah akan mampu bertahan lama, jika ketenaran mereka tidak disertai dengan keangkuhan yang ada dalam diri mereka layaknya pernis yang tidak hanya membuat atap rumah mengkilap tetapi juga tahan lama. Tetapi mengenai semuanya ini, selagi saya berbicara tentang keangkuhan, bukan maksud saya mengkritik kata-kata Tacitus[12] yang ditujukan kepada Mucianus[13]; Omnium quae dixerat feceratque arte quadam ostentator (seseorang yang mempunyai kecakapan untuk mendapatkan keuntungan dari semua apa yang dikatakan dan dikerjakan): kejayaan ini tidaklah berasal dari keangkuhan, tetapi dari natura keluhuran budi dan kebijaksanaan; dan kecakapan ini di dalam diri beberapa orang tidak hanya mempesona tetapi juga merupakan suatu kehangatan. Tetapi berkaitan dengan soal memaafkan, penyerahan-penyerahan, kesopanan itu sendiri yang diperintahkan dengan baik tak lain adalah seni pamer. Dan berkaitan dengan seni-seni pamer tersebut tidak ada yang lebih baik daripada yang dikatakan oleh Plinius Secundus, yang kiranya menjadi pujian dan sanjungan bebas kepada orang lain, di mana di dalam pujian dan sanjungan, diri manusia mempunyai segala kesempurnaan. Kata Plinius dengan penuh jenaka: Dalam memuji orang lain, kamu sendiri melakukan hal benar, sebab dia yang kamu puji adalah baik yang lebih hebat dari kamu maupun yang lebih rendah dari kamu. Jika dia lebih rendah dari kamu, dan sekiranya dia harus dipuji, maka kamu sungguh melakukan hal yang lebih; sebaliknya seandainya dia lebih hebat daripada kamu, dan tidak seharusnya kamu dipuji, kamu melakukan hal yang kerdil. Orang-orang tenar adalah celaan orang bijaksana, sanjungan orang-orang bodoh, idola-idola[14] para parasit dan budak dari keangkuhan mereka sendiri.

[1] Aesop adalah pengarang fabel Yunani yang tersohor pada zamannya bahkan sampai sekarang ini. Tentang Aesop selengkapnya lihat essai XLIV; no. 5

[2] Tentang Titus Livius lihat essai XL; no. 1

[3] Antiochus III Sang Agung (241 SM – 187 SM) adalah seorang Yunani, raja kemaharajaan Seleucid (kemaharajaan Seleucid ini terletak di Yunani-Macedonia; setelah Alexander Agung mangkat, wilayah kekuasaan Alexander Agung (tentang Alexander Agung lihat essai XIX; no. 6) diambil oleh para jenderalnya; Seleucus berhasil mendapatkan wilayah Timur kekuasaan Alexander setelah berhasil membunuh Perdiccas (salah satu jenderal Alexander Agung). Wilayah Kemaharajaan Seleucid yang dipimpin oleh Antiochus III meliputi dari Syria sampai Asia Barat. Ia dijuluki dengan Basileus Megas (Raja Besar). Keberhasilan Antiochus III dalam pertempuran menaklukkan bangsa-bangsa lain membuat dirinya bersama dengan polis Aetolia mendeklarasikan melawan republik Roma di tanah Yunani. Akibatnya, Antiochus bersama polis Aetolia segera dibabat habis oleh Roma di bawah Jenderal Scipio Asiaticus.

[4] Aetolia adalah konfederasi kota dan suku di Aetolia, Yunani tengah. Aetolia kemudian membentuk liga yang dikenal dengan nama Liga Aetolia sehingga menjadi kekuatan konfederasi militer yang tangguh demi melawan Macedonia (Philip II) dan Liga Achaean. Kemudian, ketika Antiochus III, raja kemaharajaan Seleucid melawan Roma, Liga Aetolian membantu Antiochus III. Dengan kekalahan Antiochus III, Aetolian pun menjadi bagian dari Provinsi Roma yaitu provinsi Achaea (Liga Achaean juga berhasil digilas oleh Roma di bawah pimpinan Lucius Mummius).

[5] Artinya orang-orang yang murni dan sederhana lebih tenang, lebih berprinsip (ibarat pemberat) dan tidak berambisi daripada orang-orang terkenal yang memiliki sikap ambisius, tidak berprinsip sehingga membuat hidup terombang-ambing (ibarat layar).

[6] Socrates amat terkenal pada zamannya; ia dijuluki sebagai nabi dewa matahari, seorang suci, orang paling bijaksana, bahkan sampai sekarang Sokrates dianggap sebagai bapa Filsafat Barat. Tentang Sokrates selengkapnya lihat essai XLIV; no. 7.

[7] Aristoteles seorang filsuf kondang pada zamannya (ia menjadi pembimbing dan guru pribadi Alexander Agung) bahkan sampai sekarang. Tentang Aristoteles lihat essai XXVII; no. 1

[8] Aelius Galenus atau Claudius Galenus (129 M -200 M) yang lebih dikenal dengan nama Galen adalah seorang dokter dan filsuf Romawi (dari etnis Yunani). Sebagai seorang dokter, Galen amat berjasa di dalam bidang medis atas penyelidikannya tentang pathologi, pharmacologi dan neurologi. Ia amat dipengaruhi teori humorism (tentang teori humorism lihat essai III; no. 1) yang dicetuskan oleh Hippocrates. Teori medisnya dipakai dan mempengaruhi ilmu medis Barat selama dua millennium, misalnya: teori psikologinya yang dipakai oleh kedokteran Barat sampai tahun 1628; bahkan para mahasiswa kedokteran sampai sekarang ini masih mempelajari tulisan Galen. Salah teorinya yang masih dianut sampai sekarang adalah bahwa otak mengontrol semua pergerakan otot lewat sistem-sistem saraf tengkorak dan yang ada di sekitarnya. Sebagai seorang filsuf, ia menulis traktat Seorang Dokter Yang Baik adalah Seorang Filsuf.

[9] Cicero adalah negarawan kondang Romawi. Tentang Cicero lihat essai  XVI; no. 18

[10] Seneca adalah negarawan masyur Romawi. Tentang Seneca lihat essai II; no. 1

[11] Gaius Plinius Caecilius Secundus, (61 M – 112 M) yang lebih dikenal sebagai Plinius Muda adalah seorang pengacara, pengarang dan hakim Romawi. Plinius Muda ini diasuh dan didik oleh pamannya sendiri yaitu Plinius Tua. Plinius Secundus bekerja sebagai hakim untuk Kaisar Trajan (tentang Trajan lihat essai XXVII; no. 23). Plinius juga dikenal sebagai sejarahwan karena tulisan-tulisannya tentang peristiwa yang terjadi di zamannya (misalnya tentang meletusnya gunung Vesuvius 24 Agusutus 79; tentang Kaisar Trajan). Plinius berteman baik dengan sejarahwan Roma yang terkenal lainnya yaitu Tacitus dan Suetonius.

[12] Tentang Tacitus lihat essai II; no. 7

[13] Tentang Mucianus lihat essai VI; no. 5

[14] Bacon dalam bukunya Novum Organum membahas soal idola. Idola adalah suatu terminologi yang dicetuskan olehnya untuk menjelaskan segala kesesatan yang menghalangi atau yang membuat menyimpang persepsi manusia sehingga menciptakan tirai yang menutupi manusia untuk melihat realitas dan merintangi pencarian manusia akan kebenaran. Kesesatan itu meliputi antara lain: angan-angan, prasangka, emosi atau perasaan, hanbatan-hambatan psikologis. Maka, menurut Bacon, ada empat idola: yang pertama; Idola-Idola Suku: adalah idola-idola yang menguasai manusia pada umumnya karena kecenderungan manusia untuk membiarkan dan mengumbar nafsu, kesombongan, prasangka, harapan dan segala sesuatu yang menawan hati sehingga membuat mereka menjadi buta akan realitas; idola suku juga terjadi ketika manusia terlalu mempercayai kepada kelima indra mereka, meskipun manusia sendiri mengerti bahwa kelima indra itu penuh dengan kesalahan. Penyebabnya adalah keengganan manusia untuk membenturkan dan mengkaji indra-indra merujuk kepada pengalaman. Yang kedua; Idola-Idola Gua: adalah segala kesesatan yang menimpa para individu karena keterbatasan-keterbatasannya yang bersumber dari kodrat, lingkungan, pengalaman tertentu. Setiap orang hidup di dalam dunianya, lingkungannya sehingga ia seolah-olah hidup dan tinggal di “gua”. Akibatnya, diri kekurangan pengetahuan yang dapat diandalkan dan yang valid tentang segala sesuatu yang ada di luar dunianya, di luar “guanya”. Misalnya fundamentalisme agama. Maka, Bacon mengajak setiap orang untuk mencurigai, mengkritisi ide-ide, filsafat pemikiran yang berasal dari “guanya” itu. Yang ketiga; Idola-Idola Pasar, Idola-Idola Pasar ini merupakan kesesatan-kesesatan semantik, opini-opini yang menyelusup ke dalam pikiran lewat kata-kata yang menjerat dan membengkokkan penilaian. Idola-idola Pasar merupakan kesesatan yang paling mengganggu. Idola-Idola Pasar ini terdiri dari nama-nama, istilah-istilah, terminologi-terminologi akan hal-hal yang tidak ada atau nama-nama, istilah, terminologi yang tidak tepat ataupun yang membingungkan hal-hal yang ada. Misalnya, kata demokrasi mempunyai makna yang berbeda di Rusia, Inggris dan Kuba; demikian juga dengan makna cinta di zaman sekarang ini memiliki makna yang berbeda-beda. Menurut Bacon, tidak mungkin bagi kita untuk menjauhkan diri secara total dari kesesatan-kesesatan dan penampilan-penampilan yang keliru karena kesesatan dan penampilan yang salah itu merupakan bagian dari kodrat dan kondisi kehidupan. Walaupun demikian, tetaplah kita harus waspada akan persoalan semantik, kata, istilah, yang kita terapkan dalam relasi kita dengan orang lain. Yang keempat; Idola-Idola Teater: sistem dogma atau filsafat yang telah diinternalisasi dan dihidupi tanpa mengacu dan membenturkan kepada realitas: Idola-Idola Teater ini serupa dengan fiksi-fiksi yang dimainkan dalam panggung teater yang tentu saja menarik dan menjauhkan para audien dari kenyataan lalu mengantarkan para audien kepada dunia khayalan. Sistem yang ada di dalam Idola-Idola Teater kiranya begitu canggih, menawan pikiran dan hati, sehingga menciptakan suatu pandangan baru tetapi mengasingkan diri dari realitas, membenamkan diri kepada takhayul bahkan dalam sistem Idola Teater filsafatnya bisa bercampur dengan teologi dan tradisi sehingga semakin menciptakan ketertutupan dan kesombongan yang begitu ketat dan kaku tanpa mungkin ada dialog. Segala kesesatan ini terjadi karena orang-orang yang terjebak di dalam idola teater tidak melihat pengetahuan dengan benar. Misalnya para sophist tidak mau berdialog dengan pengalaman; para empiris terlalu gampang menjadi puas, orang-orang yang penuh ketakhayulan meracuni pengetahuan dan menyebarkan kesesatan mereka. Idola-Idola Teater juga mempengaruhi dan membawa pikiran kepada ekses dogmatisme ataupun anti dogma secara ekstrim.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply