Keangkuhan

Keangkuhan

Francis Bacon

Lukisan Cleto Luzzi, The Recital

Didongengkan dengan indah oleh Aesop [1] : Si lalat duduk di atas gandar roda kereta dan berkata, Sungguh hanya debu yang kuangkat! Jadi, ada orang-orang yang angkuh yaitu yang terhadap segala hal apa pun berjalan sendiri atau mengandalkan sarana-sarana yang hebat sehingga mereka percaya diri bahkan berpikir bahwa mereka mampu mengatasi segalanya. Sebenarnya mereka yang berjaya pastilah seorang pemberontak; sebab segala keunggulan terjadi karena adanya perbandingan-perbandingan. Mereka harus menjadi orang yang penuh dengan kekerasan demi menciptakan reputasi dari ucapan mereka yang angkuh. Oleh karena itu, keberadaan mereka tidak mungkin menjadi rahasia, maupun tidak mengesankan; tetapi seperti kata pepatah Perancis, Beaucoup de bruit, peu de fruit; Banyak berkoar-koar, sedikit buah.

Meskipun demikian, tentu saja ada faedah dari kualitas ini dalam urusan-urusan kenegaraan. Di mana ada sebuah opini dan ketenaran yang terbentuk dari keutamaan atau kehebatan, orang–orang ini adalah peniup terompet yang gemilang. Sekali lagi, seperti yang dikatakan oleh Titus livus [2] berkaitan dengan kasus Antiochus [3] dan Etolians [4], kadang kala ada pengaruh yang hebat dari cerita-kebohongan bersilang; seolah-olah seseorang menjembatani dua raja dengan maksud mempersatukan mereka untuk melawan pihak ketiga, maka dia menyanjung kekuatan kedua-duanya dengan sangat berlebihan dengan mengatakannya yang satu kepada yang lain: dan kadang kala keberhasilannya kepada satu pihak akan membuat dia dipercaya oleh kedua pihak; caranya adalah dengan mengembangkan rasa ingin tahu yang lebih besar daripada yang ia miliki untuk kedua belah pihak. Usaha ini dan hal-hal yang serupa sering kali menimbulkan masalah karena hanya dihasilkan dari masalah belaka, karena segala sesuatu cukup untuk membiakkan opini-opini dan opini-opini membawa kepada pokok permasalahan.

Namun, untuk para komando militer dan para tentara, keangkuhan adalah poin yang esensial; sebab seperti besi yang menajamkan besi, maka dengan keangkuhan, seorang prajurit menguatkan yang lain. Dalam usaha yang penuh dengan tantangan dan resiko, tipe-tipe orang yang tenar sungguh membawa hidup dalam masalah, dan mereka yang bertipe murni dan tentu lebih memiliki pemberat daripada layar[5]. Dalam ketenaran pembelajaran, seekor burung akan terbang lambat jika tanpa bulu-bulu yang suka pamer. Qui de contemnenda gloria libros juru tulis, nomen, suum, inscribunt. (Mereka yang menulis buku-buku demi ketenaran membubuhkan nama mereka pada halaman judul). Socrates [6] , Aristoteles [7] , Galen [8] adalah orang-orang yang benar-benar suka pamer. Sungguhlah bahwa keangkuhan membantu mengekalkan ingatan seseorang, dan keutamaan pernah dilihat oleh kodrat manusia ketika keutamaan hanya dihargai sebagai hal yang sekunder. Demikian juga bahwa ketenaran Cicero [9] , Seneca [10] , Plinius Secundus [11]dekat akan bertahan lama, jika ketenaran mereka tidak disertai dengan keangkuhan yang ada dalam diri mereka layaknya pernis yang tidak hanya membuat atap rumah tetapi juga tahan lama. Tetapi semuanya ini, selagi saya berbicara tentang keangkuhan, bukan maksud saya mengkritik kata-kata Tacitus [12] yang ditujukan kepada Mucianus [13] ; Omnium quae dixerat feceratque arte quadam ostentator ( seseorang yang memperoleh keuntungan dari semua yang dikatakan dan dikerjakan)): kejayaan ini bukan berasal dari keangkuhan, tetapi dari natura keluhuran budi dan terjadi; dan ini di dalam diri beberapa orang tidak hanya mempesona tetapi juga merupakan suatu kehangatan. Tetapi juga berkaitan dengan penyesalan, dalam-penyerahan, kesopanan itu sendiri yang diperintahkan dengan baik tak lain adalah seni pamer. Dan hal yang baik dengan seni-seni pamer tersebut tidak ada yang lebih baik daripada yang dikatakan oleh Plinius Secundus, yang kiranya menjadi pujian dan sanjungan bebas orang lain, di mana di dalam pujian dan sanjungan, diri manusia memiliki segala kesempurnaan. Kata Plinius dengan penuh jenaka:Dalam memuji orang lain, kamu sendiri melakukan hal yang benar, karena dia yang kamu puji adalah baik yang lebih hebat dari kamu maupun yang lebih rendah dari kamu. Jika dia lebih rendah dari kamu, dan sekiranya dia harus menetapkan, maka kamu sungguh melakukan hal yang lebih; sebaliknya, dia lebih hebat daripada kamu, dan tidak seharusnya kamu menemukan, kamu melakukan hal yang kerdil . Orang-orang tenar adalah celaan orang bijaksana, sanjungan orang-orang bodoh, berhala-idola [14] para parasit dan budak dari keangkuhan mereka sendiri.

[1] Aesop adalah pengarang fabel Yunani yang tersohor pada zamannya bahkan sampai sekarang ini. Tentang Aesop selengkapnya lihat essai XLIV; tidak. 5

[2] Tentang Titus Livius lihat esai XL; tidak. 1

[3] Antiochus III Sang Agung (241 SM – 187 SM) adalah seorang Yunani, raja kemaharajaan Seleucid (kemaharajaan Seleucid ini terletak di Yunani-Macedonia; setelah Alexander Agung mangkat, wilayah kekuasaan Alexander Agung (tentang Alexander Agung lihat essai XIX; no. 6) diambil oleh para jenderalnya; Seleucus berhasil mendapatkan wilayah Timur kekuasaan Alexander setelah berhasil membunuh Perdiccas (salah satu jenderal Alexander Agung). Wilayah Kemaharajaan Seleucid yang dipimpin oleh Antiochus III meliputi dari Syria sampai Asia Barat. Ia dijuluki dengan Basileus Megas(Raja Besar). Keberhasilan Antiochus III dalam pertempuran menaklukkan bangsa-bangsa lain membuat dirinya bersama dengan polis Aetolia mendeklarasikan melawan republik Roma di tanah Yunani. Hasil, Antiochus bersama polis Aetolia segera habis oleh Roma di bawah Jenderal Scipio Asiaticus.

[4] Aetolia adalah konfederasi kota dan suku di Aetolia, Yunani tengah. Aetolia kemudian membentuk liga yang dikenal dengan nama Liga Aetolia sehingga menjadi kekuatan konfederasi militer yang tangguh demi melawan Makedonia (Philip II) dan Liga Achaean. Kemudian, ketika Antiochus III, raja kemaharajaan Seleucid melawan Roma, Liga Aetolian membantu Antiochus III. Dengan kekalahan Antiochus III, Aetolian pun menjadi bagian dari Provinsi Roma yaitu provinsi Achaea (Liga Achaean juga berhasil digilas oleh Roma di bawah pimpinan Lucius Mummius).

[5] Artinya orang-orang yang murni dan sederhana, lebih berprinsip dan tidak berambisi daripada orang-orang yang terkenal yang memiliki sikap, tidak berprinsip sehingga membuat hidup terombang-ambing.

[6] Socrates sangat terkenal pada zamannya; ia dijuluki sebagai nabi dewa matahari, seorang suci, orang paling bijaksana, bahkan sampai sekarang Sokrates dianggap sebagai bapa Filsafat Barat. Tentang Sokrates selengkapnya lihat essai XLIV; tidak. 7.

[7] Seorang Aristoteles Seorang Apa yang Kondang pada zamannya (ia menjadi pembimbing dan guru pribadi Alexander Agung) bahkan sampai sekarang. Tentang Aristoteles lihat esai XXVII; tidak. 1

[8] Aelius Galenus atau Claudius Galenus (129 M -200 M) yang lebih dikenal dengan nama Galen adalah seorang dokter dan karya ilmiah (dari etnis Yunani). Sebagai seorang dokter, Galen amat berjasa di bidang medis atas penyelidikannya tentang patologi, farmakologi, dan neurologi. Ia sangat penting teori humorisme(tentang teori humorisme lihat essai III; no. 1) yang dicetuskan oleh Hippocrates. Teori medisnya dipakai dan mempengaruhi ilmu medis Barat selama dua milenium, misalnya: teori psikologinya yang dipakai oleh kedokteran Barat sampai tahun 1628; bahkan para mahasiswa kedokteran sampai sekarang ini masih mempelajari tulisan Galen. Salah teorinya sampai sekarang adalah bahwa otak mengontrol semua pergerakan otot lewat sistem-sistem saraf tengkorak tengkorak dan yang ada di sekitarnya. Sebagai seorang Penulis, ia menulis traktat Seorang Dokter Yang Baik adalah Seorang Filsuf .

[9] Cicero adalah negarawan kondang Romawi. Tentang Cicero lihat esai XVI; tidak. 18

[10] Seneca adalah negarawan masyur Romawi. Tentang Seneca lihat essai II; tidak. 1

[11] Gaius Plinius Caecilius Secundus, (61 M – 112 M) yang lebih dikenal sebagai seorang pengacara, pengarang dan hakim Romawi. Plinius Muda ini diasuh dan didik oleh pamannya sendiri yaitu Plinius Tua. Plinius Secundus bekerja sebagai hakim untuk Kaisar Trajan (tentang Trajan lihat essai XXVII; no. 23). Plinius juga dikenal sebagai sejarahwan karena tulisan-tulisannya tentang peristiwa yang terjadi di zamannya (misalnya tentang meletusnya gunung Vesuvius 24 Agusutus 79; tentang Kaisar Trajan). Plinius berteman baik dengan sejarahwan Roma yang terkenal lainnya yaitu Tacitus dan Suetonius.

[12] Tentang Tacitus lihat esai II; tidak. 7

[13] Tentang Mucianus lihat esai VI; tidak. 5

[14] Bacon dalam bukunya Novum Organummembahas tentang berhala. Idola adalah suatu terminologi yang dicetuskan olehnya untuk menjelaskan kesesatan yang menahan atau yang membuat segala penyimpangan manusia sehingga menciptakan tirai yang menutupi manusia untuk melihat realitas dan merintangi pencarian manusia akan kebenaran. Kesesatan itu meliputi antara lain: angan-angan, perubahan, emosi atau perasaan, hanbatan-hambatan psikologis. Maka, menurut Bacon, ada empat berhala: yang pertama; Idola-Idola Suku: adalah idola-idola yang menguasai manusia pada umumnya karena kecenderungan manusia untuk membiarkan dan mengumbar nafsu, kesombongan, harapan, dan segala sesuatu yang membuat hati menjadi buta akan kenyataan; berhala suku juga terjadi ketika manusia terlalu percaya kepada kelima indra mereka, meskipun manusia sendiri mengerti bahwa kelima indra itu penuh dengan kesalahan. Penyebabnya adalah keengganan manusia untuk membenturkan dan mengkaji didra-indra Merujuk kepada pengalaman. Yang kedua; Idola-Idola Gua: adalah segala kesesatan yang menimpa individu karena keterbatasan-keterbatasannya yang bersumber dari kodrat, lingkungan, pengalaman tertentu. Setiap orang hidup di dunianya, sehingga ia seolah-olah hidup dan tinggal di “gua”. Sebagai hasil dari kekurangan pengetahuan yang dapat diandalkan dan yang valid tentang segala sesuatu yang ada di luar dunianya, di luar “guanya”. Misalnya fundamentalisme agama. Maka, Bacon mengajak setiap orang untuk curiga, mengkritisi ide-ide, filsafat pemikiran yang berasal dari “guanya” itu. Yang ketiga; Idola-Idola Pasar, Idola-Idola Pasar ini merupakan kesesatan-kesesatan semantik, opini-opini yang menyelusup ke dalam pikiran lewat kata-kata yang menjerat dan membengkokkan penilaian. Idola-idola Pasar merupakan kesesatan yang paling mengganggu. Idola-Idola Pasar ini terdiri dari nama-nama, istilah-istilah, terminologi-terminologi akan hal-hal yang tidak ada atau nama-nama, istilah, terminologi yang tidak tepat ataupun yang mencengangkan hal-hal yang ada. Misalnya, kata demokrasi memiliki makna yang berbeda di Rusia, Inggris dan Kuba; demikian juga dengan makna cinta di zaman sekarang ini memiliki makna yang berbeda-beda. Menurut Bacon, tidak mungkin bagi kita untuk salah diri secara total dari kesesatan-kesesatan dan penampilan-penampilan yang keliru karena kesesatan dan penampilan yang merupakan bagian dari kodrat dan kondisi. Meskipun demikian, tetaplah kita harus waspada akan masalah semantik, istilah, yang kita miliki dalam relasi kita dengan orang lain. Yang keempat; Idola-Idola Teater: sistem dogma atau Filsafat yang telah diinternalisasi dan dihidupi tanpa mengacu dan membenturkan pada realitas: Idola-Idola Teater ini serupa dengan fiksi-fiksi yang dimainkan dalam panggung teater yang tentu saja menarik dan para penonton dari kejadian lalu mengantarkan para penonton kepada dunia khayalan. Sistem yang ada di dalam Idola-Idola Teater kiranya begitu canggih, menawan pikiran dan hati, sehingga menciptakan suatu pandangan baru tetapi mengasingkan diri dari realitas, membenamkan diri kepada takhayul bahkan dalam sistem Idola Teater Filsafat bisa bercampur dengan teologi dan tradisi sehingga menciptakan ketertutupan dan tanpa yang begitu ketat dan kaku mungkin ada dialog. Segala kesesatan ini terjadi karena orang-orang yang terjebak dalam teater berhala tidak melihat pengetahuan dengan benar. Misalnya para sofis tidak mau berdialog dengan pengalaman; para empiris terlalu mudah menjadi puas, orang-orang yang penuh ketakhayulan meracuni pengetahuan dan menyebarkan kesesatan mereka. Teater Idola-Idola juga mempengaruhi dan membawa pikiran kepada ekses dogmatisme atau anti dogma secara ekstrim. Misalnya para sofis tidak mau berdialog dengan pengalaman; para empiris terlalu mudah menjadi puas, orang-orang yang penuh ketakhayulan meracuni pengetahuan dan menyebarkan kesesatan mereka. Teater Idola-Idola juga mempengaruhi dan membawa pikiran kepada ekses dogmatisme atau anti dogma secara ekstrim. Misalnya para sofis tidak mau berdialog dengan pengalaman; para empiris terlalu mudah menjadi puas, orang-orang yang penuh ketakhayulan meracuni pengetahuan dan menyebarkan kesesatan mereka. Teater Idola-Idola juga mempengaruhi dan membawa pikiran kepada ekses dogmatisme atau anti dogma secara ekstrim.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply