Pujian

LIII

Pujian

Francis Bacon

Lukisan Henry Gillard Glindoni, The Flower Girl

Pujian adalah pantulan kebaikan, tetapi pujian ibarat gelas atau badan yang memantulkan kebaikan. Seandainya pujian datang dari orang-orang biasa, maka umumnya pujian tersebut palsu dan sia-sia; bahkan pujian yang demikian membuat diri menjadi orang sombong daripada orang yang benar. Sebab orang awam tidaklah memahami banyak hal tentang kebaikan-kebaikan yang terpuji. Semua kebaikan yang rendah disanjungkan oleh mereka; kebaikan-kebaikan yang biasa-biasa saja memukau mereka dalam keheranan dan kekaguman; namun terhadap kebaikan yang tertinggi mereka sama sekali tidak mempunyai rasa untuk mengecapnya. Bahkan tontonan-tontonan dan kualitas-kualitas yang seolah-olah seperti kebaikan justru mempesona mereka dengan luar biasa. Memang ketenaran bagai sebuah sungai yang menyelamatkan benda-benda yang ringan dan enteng tetapi menenggelamkan benda yang berat dan kuat.  Jika ada seorang manusia yang penuh dengan kebaikan dan patut dipuji, maka ia seperti yang dikatakan oleh kitab suci nomen bonum instar unguenti fragrantis (nama yang harum lebih baik dari minyak yang mahal)[1]. Nama yang baik akan mengharumkan segala yang ada di sekitarnya dan keharumannya tidak akan pudar dengan gampang. Sebab keharuman minyak lebih lama daripada keharuman bunga. Ada banyak poin-poin yang keliru tentang pujian, sehingga benarlah kalau seseorang menaruh kecurigaan terhadap pujian yang ditujukan kepadanya. Ada pujian yang berasal dari penjilat dan jika dia seorang penjilat biasa, dia akan memakai atribut-atribut umum yang kiranya menyenangkan setiap orang. Jika ia seorang penjilat yang licik, dia akan berpusat pada kesombongan orang yang disanjung yaitu orang yang merasa dirinya terhebat, dan di sanalah si penjilat yang licik akan meninggikan kesombongan orang tersebut dengan hebat: jika dia penjilat yang lancang, maka akan mencari kekurangan seseorang yang disadari oleh orang tersebut; karena kekurangannya itu dia merasa yang paling jelek sehingga tampak pada raut mukanya; lantas si penjilat yang lancang mencari kesempatan yang baik untuk menunjukkan kekurangan tersebut sekaligus sambil mengolok dalam hati (spreta conscientia). Ada pujian dalam bentuk kesopanan yang berasal dari harapan dan penghormatan serta yang merupakan suatu hak untuk para raja dan orang-orang terpandang; ketika raja atau orang-orang terpandang mengatakan kepada masyarakat siapakah mereka, maka pujian (laudando praecipere) mengajarkan bagaimana menghormati mereka dan apa yang seharusnya dibuat rakyat kepada raja atau orang-orang terpandang itu.

Beberapa orang dipuji karena kekurangan mereka dengan cibiran yang jahat dengan tujuan  membangkitkan iri hati dan kecemburuan kepada mereka: pessimum genus inimicorum laudantium  (musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang memuji). Jadi, seperti yang dikatakan oleh pepatah orang-orang Yunani: dia yang dipuji karena kekurangannya pastilah mempunyai jerawat yang muncul di atas hidungnya; pepatah Yunani itu seperti pepatah kita: lecet akan muncul di atas lidah yang mengatakan kebohongan. Pastilah bahwa pujian yang apa adanya, yang disampaikan dalam suatu kesempatan dan tidak kasar adalah sungguh suatu kebaikan. Salomo mengatakan siapa pagi-pagi sekali memberi selamat dengan suara nyaring, hal itu akan dianggap sebagai kutuk baginya[2]. Terlalu membesar-besarkan orang atau hal sungguh akan membawa persoalan dan menyebabkan iri hati[3] dan cercaan. Memuji diri sendiri tidaklah pantas, kecuali di dalam hal-hal khusus, tetapi memuji pekerjaan atau profesi kiranya dilakukan dengan doa yang penuh syukur dan kemurahan hati.

[1] Pengkotbah 7:1

[2] Amsal 27:14

[3] Bandingkan dengan essai Iri Hati (essai IX)

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply