Kehormatan Dan Reputasi

LV

Kehormatan Dan Reputasi

Francis Bacon

Lukisan Paris Bordone , Portrait of a man in armor with two pages

paris-bordoneKemenangan kehormatan adalah penyingkapan keutamaan dan nilai yang dihidupi oleh manusia tanpa adanya kepalsuan. Sebab ada manusia yang dalam tindakannya menipu tetapi efeknya ia mendapat kehormatan dan reputasi sehingga dibicarakan oleh kebanyakan orang namun sebenarnya dalam hati kurang pantas dipuji. Dan sebaliknya, ada orang yang mengelamkan keutamaannya dalam forum resmi sehingga pendapatnya tidaklah dihargai. Jika seseorang memamerkan hal-hal yang tidak diperjuangkan olehnya sebelumnya; ataupun yang telah diperjuangkan dan ditekuninya; atau yang telah diraihnya tetapi bukan dengan fakta yang benar, maka kenyataannya dia akan mendapatkan reputasi atau kebaikan daripada kesulitan-kesulitan yang lebih besar sebagai konsekuensinya, tetapi nyatalah bahwa dia hanya seorang pengikut[1]. Andaikata seseorang begitu menguasai tindakan-tindakannya, seperti di dalam salah satu tindakan di antara tindakannya dia menyenangkan setiap kelompok atau segala tipe manusia, musik menjadi lebih indah. Seseorang adalah seorang manajer akan kehormatannya yang buruk yaitu dia yang membawa kepalsuan di dalam tindakannya, dan  kegagalan yang menyertai di dalam tindakannya tersebut kiranya memalukan dirinya melebihi daripada memenangkan kehormatan yang dapat membuat dirinya terhormat. Kehormatan yang diperoleh dan dibuat bersinar melalui kompetisi mempunyai pantulan yang tercepat, ibarat berlian-berlian yang dipotong permukaannya. Oleh karena itu, biarkanlah manusia berjuang untuk mengalahkan pesaing-pesaingnya dalam perihal kehormatan, ibarat memanah dengan lebih baik dari para pesaing lewat busur milik para pesaing itu sendiri, jika dia memang mampu. Pengikut-pengikut yang tersembunyi dan para pembantu menolong banyak dalam hal reputasi. Omnis fama a domesticis emanat (semua ketenaran berasal dari pembantu). Iri hati, yang merupakan kebusukan kehormatan, dibinasakan secara dasyat dengan mendeklarasikan diri sendiri dalam tujuan akhir untuk mencari kepantasan daripada ketenaran, dengan menghubungkan kesuksesan kepada penyelenggaraan ilahi dan kebahagiaan daripada dengan kebaikan atau kebijakannya sendiri. Kepemimpinan tingkatan kehormatan kekuasaan yang benar adalah sebagai berikut: Tingkatan yang pertama adalah conditores imperiorum, pendiri bangsa dan persemakmuran; seperti Romulus[2], Cyrus[3], Caesar[4], Ottoman[5], Ismael[6]. Tingkatan yang kedua adalah legislatores, pembuat hukum yang disebut juga sebagai pendiri yang kedua atau perpetui principes (penguasa-penguasa abadi), karena mereka memerintah dengan hukum-hukum mereka setelah mereka tiada, seperti Lycurgus[7], Solon[8], Justinian[9], Eadgar[10], Alphonsus Castile[11], Sang bijak yang menyusun Siete Partidas[12] (Tujuh Bagian). Tingkatan yang ketiga adalah liberatores, atau salvatores (para penyelamat), seperti para penyelamat dalam rangkaian perang sipil yang panjang  dan menyedihkan, atau mereka yang membebaskan bangsa dari perbudakan yang dibuat bangsa asing atau tirani; seperti Augustus Caesar[13], Vespasianus[14], Aurelianus[15], Theodoricus[16], Raja Inggris Henry VII[17], Raja Perancis Henri IV[18]. Tingkatan yang keempat adalah propagatores atau propugnatores imperii (para pemenang kemaharajaan); seperti para pemenang perang dalam peperangan yang terhormat demi memperluas wilayah–wilayah kemaharajaan, atau yang berhasil mempertahankan wilayah kemaharajaan dengan gagah berani dari para penyerbu. Dan tingkatan yang terakhir adalah bapa bangsa yang memerintah dengan adil dan membawa bangsa kepada kemakmuran di masa pemerintahan mereka. Kedua tingkatan dari tingkatan terakhir tidaklah perlu disebutkan contoh-contohnya karena begitu banyak. Tingkatan kehormatan yang ada di dalam diri para subjek adalah: yang pertama adalah participes curarum[19] (rekan kepedulian) yaitu mereka yang membantu para raja dalam menyelesaikan persoalan-persolan berat, tangan kanan para raja demikianlah kita menyebutnya. Selanjutnya adalah duces belli, para pemimpin yang gagah berani dalam perang, seperti perwira-perwira raja, yang sungguh melakukan tindakan-tindakan kepahlawanan di dalam peperangan. Yang ketiga adalah gratiosi, para favorit, yaitu mereka yang tidak melampui ukuran ini, yaitu mereka yang menjadi penghibur kekuasaan dan tidak melakukan kekejaman kepada rakyat. Dan yang keempat adalah negotiis pares (keseimbangan dalam usaha), adalah mereka yang memiliki posisi yang baik di bawah kedudukan raja dan melaksanakan tugas mereka dengan kepantasan. Ada juga suatu kehormatan yang dapat ditempatkan di antara kehormatan yang tertinggi yang terjadi amat jarang; yaitu mengorbankan diri kepada kematian atau kepada marabahaya demi kebaikan negaranya, seperti yang dibuat M. Regulus[20] dan kedua Decii[21].

[1] Bandingkan dengan essai Pengikut dan Sahabat (essai XLVIII).

[2] Romulus adalah pendiri kerajaan Romawi. Tentang Romulus selengkapnya lihat essai XXIX; no. 18

[3] Cyrus adalah pendiri kemaharajaan Persia. Tentang Cyrus lihat essai XXIX; no. 20

[4] Pendiri Kekaisaran Romawi. Tentang Julius Caesar lihat essai IV; no. 5

[5]Pendiri kemaharajaan Ottoman Turki. Karena kecakapan dan kemahirannya berperang, Osman berhasil membawa suku Kayi menjadi suku yang kuat dan luas wilayahnya dan kemudian menjadi kemaharajaan Ottoman. Tentang kemaharajaan Turki lihat essai XXIX; no 27

[6] Ismail adalah pendiri dinasti Safavid dan pemersatu Iran. Tentang Ismail lihat essai XLIII; no. 8

[7]Lycurgus adalah pembuat hukum Sparta yang legendaris di mana dengan hukum yang dibuatnya, ia memperbaharui masyarakat Sparta sehingga Sparta menjadi masyarakat yang berorientasi dan mengedepankan  militer. Konon ia membuat hukum Sparta berdasarkan nubuat dewa Apollo di Delphi. Reformasi hukumnya didasarkan kepada tiga hal: kesetaraan, kekuatan militer, kecermatan. Ketenaran dan kehebatan Lycurgus sebagai pembuat hukum dikenang sampai sekarang. Misalnya di Amerika Serikat, nama Lycurgus terukir di relief marmer yang ada di House of Representatives, Amerika Serikat.

[8] Solon terkenal karena mereformasi dan memperbaharui kehidupan polis Athena. Tentang Solon lihat essai XXIX; no. 7

[9] Justinianus I (Latin: Flavius Petrus Sabbatius Iustinianus Augustus) yang lebih dikenal sebagai Justinianus Sang Agung adalah kaisar Byzantinum dari tahun 527 sampai tahun 565. Justinianus berhasil mengembalikan kebesaran Romawi dan mengambil kembali wilayah-wilayah kemaharajaan Romawi Barat yang telah dicaplok musuh-musuhnya. Tindakannya tersebut merupakan bagian dari kebijakannya: renovatio imperii (restorasi kemaharajaan). Dalam perihal ekspansi wilayah, ia berhasil mengalahkan kemarahajaan Sassanid; menaklukkan kerajaan Ostrogoths, mengambil-alih dan memulihkan wilayah Dalmatia, Sisila, Italia dan Roma yang dikuasai oleh suku barbar; menguasai semenanjung Iberia (Spanyol) dan menaklukkan Tzani di Laut Hitam. Ia memilih menteri-menterinya berdasarkan kecakapan dan kehebatan di bidangnya masing-masing sehingga pemerintahan Justinianus begitu solid di semua bidangnya. Misalnya: di bidang militer, ia mengandalkan jenderal Belisarius and Narses (tentang Narses lihat essai IX; no. 1); mengangkat Tribonian sebagai penasihatnya; memilih Petrus Sang Patrician sebagai diplomat kerajaan; menunjuk Yohanes orang Cappadocian dan Petrus Barsymes sebagai menteri ekonomi dan keuangan. Di bidang hukum Justinianus I menyusun hukum Romawi yang disebut Corpus Juris Civilis yang menjadi dasar hukum moderen. Ia juga mendirikan dan membangun gereja-gereja misalnya ia membangun kembali dan menjadikan gereja Hagai Sophia lebih indah. Perekonomian Byzantinum pada masa Justinianus begitu kuat dengan mengandalkan kepada sektor pertanian. Dia mati tanpa keturunan dan digantikan oleh Justinus II.

[10] Edgar I  (7 Augustus 943 – 8 Juli 975), yang juga disebut sebagai Sang Damai adalah raja kerajaan Inggris dari tahun 959 sampai tahun 975.  Edgar I memimpin Inggris dengan penuh konsolidasi politis sehingga kerajaan Inggris berada di dalam ketentraman dan persatuan. Ia juga berhasil mereformasi dan memperbaiki cara hidup biarawan Benediktin Inggris bersama dengan uskup Dunstan.

[11] Alfonso X (23 November 1221 – 4 April 1284) yang dipanggil juga El Sabio (Sang Bijak) adalah raja Castile, León and Galicia dari 30 Mei 1252 sampai wafatnya. Alfonsus memiliki minat akan pengetahuan terutama astrologi dan kesusastraan. Contohnya: di bidang astrologi ia mensponsori pembentukan Tabel Alfonsine (berisi data untuk menghitung posisi matahari, bulan dan planet-planet berdasarkan bintang-bintang tertentu) sehingga karena jasanya kawah bulan dinamai Alfonsus; di bidang sastra ia menulis puisi Cantigas de Santa Maria (puisi untuk Bunda Maria); Ia juga menyuruh cendekiawan Muslim, Yahudi, dan Kristen untuk menterjemahkan buku-buku bahasa Arab dan Ibrani ke dalam bahasa Spanyol dan Latin. Dalam bidang hukum, Alfonsus menyusun Siete Partidas (Tujuh Kitab Hukum) yang mana Siete Partidas ini merupakan kitab hukum yang penting pada abad pertengahan. Bahkan ketika Spanyol menjadi kemaharajaan, Siete Partidas menjadi hukum yang berlaku di koloni-koloni Spanyol. Alfonso digantikan oleh anaknya sendiri yaitu Sancho IV.

[12] Lihat catatan kaki no. 11

[13] Dengan kemenangan atas Markus Antonius, Kaisar Augustus berhasil mengakhiri perang saudara dan menyelamatkan Romawi dari kekacauan. Tentang Kaisar Augustus selengkapnya lihat essai II; no. 4

[14] Tentang Vespasianus lihat essai II; no. 8

[15] Aurelianus (Latin: Lucius Domitius Aurelianus Augustus) adalah kaisar Romawi dari tahun 270 sampai tahun 275. Sebelum menjadi kaisar, Aurelianus adalah seorang jenderal Kaisar Romawi Claudius Gothicus. Setelah kaisar Claudius mangkat karena sakit, ia digantikan oleh adiknya yaitu Quintillus yang amat tidak populer dibandingkan dengan Aurelianus sehingga Aurelianus mendapatkan mahkota Romawi dengan mudahnya. Sebagai seorang kaisar, Aurelianus banyak mengalahkan bangsa-bangsa asing seperti Alamanni, Goths, Vandals, Juthungi, Sarmatians, dan Carpi.  Aurelianus juga berhasil memulihkan stabilitas provinsi-provinsi Romawi yang ada timur setelah berhasil mengalahkan kemaharajaan Palmyrene. Ia juga sukses menghancurkan kemaharajaan Gallic di Barat sehingga mengembalikan dan menyatukan wilayah Gaul dan Britain ke pangkuan kemaharajaan Romawi. Ia membangun Tembok Aurelian di Roma, memperbaiki ekonomi dan menindak tegas para koruptor. Ketika ia hendak menyerang kemaharajaan Sassanid, ia dibunuh oleh tentara Praetoria yang takut dihukum karena korupsi yang dilakukannya. Aurelianus digantikan oleh Tacitus. Karena jasa-jasanya, Aurelianus mendapat gelar “orang yang telah memperbaiki dunia”.

[16] Theodoric Sang Agung adalah raja Ostrogoths (471-526), penguasa Italia (493–526), dan konsul kemaharajaan Romawi Timur (Byzantinum). Ostrogoths adalah sekutu Byzantinum karena wilayah Ostrogoths ada di dalam teritori Byzantinum. Setelah Theodoric naik takhta Ostrogoths, Theodoric bekerja sama dengan Kaisar Zeno -kaisar Byzantinum- demi kepentingan yang menguntungkan kedua belah pihak. Ostrogoths membutuhkan wilayah Byzantinum sementara Kaisar Zeno terancam oleh Odocaer -penguasa Italia- yang menghancurkan Romawi Barat dan menggulingkan kaisar Romawi Barat yang terakhir yaitu Romulus Augustus. Maka, Zeno meminta Theodoric menyerang dan menghancurkan Italia pimpinan Odocaer. Theodoric pun menyerang dan berhasil mengalahkan Odocaer serta mendirikan kerajaan di Italia. Theodoric digantikan oleh cucunya Athalaric. Kerajaan Ostrogoths sendiri tidak bertahan lama setelah kematian Theodoric karena tidak ada pemimpin yang secermelang Theoderic dan pengganti Theoderic melakukan pemberontakan kepada Byzantinum sehingga dibinasakan oleh Kaisar Byzantinum Justinius I. Kerajaan Ostrogoths berakhir tahun 553.

[17] Henry VII Inggris berhasil mengakhiri perang Roses (perang perebutan takhta Inggris antara dinasti York melawan Lancaster). Selengkapnya tentang Henry VII lihat essai XXIX; no. 15

[18] Henry IV Perancis adalah raja Perancis dari tahun 1589 sampai tahun 1610. Sebelum menjadi raja Perancis, Henry IV adalah Raja Navarre. Ia mendapatkan takhta Perancis setelah Henry III mati dibunuh dan Henry III sendiri tak mempunyai anak. Henry IV beragama Protestan dan dikenal sebagai raja yang baik sehingga ia mendapat julukan le bon roi Henri (“Raja Henry Yang Baik”) karena selama masa pemerintahannya, Henry sungguh memperhatikan kesejahteraan rakyat Perancis, sebagai contoh: dalam bidang politik ia memberikan toleransi kebebasan agama antara Katolik dan Protestan lewat Dekrit Nantes (1598) sehingga mengakhiri perang sipil; dalam bidang hubungan internasional, Henry IV menjalin relasi dengan Ottoman Turki, ia juga membentuk French East India Company untuk menjangkau perdagangan Asia meniru kebijakan dagang Inggris: East Indies Company (EIC) dan Belanda: Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Henry IV mati dibunuh oleh François Ravaillac.

[19] Participes curarum adalah sebutan bagi para sahabat Kaisar Romawi. Lihat essai Persahabatan (essai XXVII)

[20] Gaius Atilius Regulus adalah konsul Roma yang mati terbunuh ketika berperang untuk mempertahankan Romawi dari invasi suku Celtic ke wilayah Itali di Telamon tahun 225 SM.

[21] Trajan Decius (Gaius Messius Quintus Decius Augustus) adalah kaisar Romawi dari tahun 249 sampai tahun 251 di mana pada tahun 251 ia memerintah Romawi bersama anaknya Herennius Etruscus sehingga mereka sering kali disebut dengan Decii (Dua Decius). Trajan Decius mendapatkan mahkota Romawi setelah menggulingkan Kaisar Marcus Iulius Phillipus (Philip Si Arab). Ketika menjadi kaisar, Decius menghadapi persoalan ekonomi yang pelik dan bahaya serbuan dari suku-suku barbar. Lalu pada saat berperang melawan suku Goths, Decius dan anaknya mati bersama di pertempuran Abrittus.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply