Kategori Ada

 

Lukisan Mary Irwin, Victorian Teapot and Pansies, 1996

      

Ada dengan kategorinya membuat akal budi dan jiwa menyelami makna dirinya untuk mengkontemplasikannya dalam terang ilahi

 

Ada haruslah diartikan dan dimaknai. Sebagai usaha untuk memaknai dan mengartikan sekaligus mengklasifikasikan ada muncullah kelas-kelas ada yang disebut dengan kategori[1]. Continue reading “Kategori Ada”

Hari Valentine: Hati St. Valentinus yang terdiam

Lukisan Paul Cezanne, Still Life Flowers in Vase, 1888

Bukti cinta ada di dalam setiap karya.

Di mana cinta ada maka cinta akan mengerjakan hal-hal yang besar.

Sebaliknya ketika cinta berhenti berkarya, di saat itu pula cinta menghilang”

Paus Gregorius Agung

Setiap tanggal 14 Februari kita merayakan hari Valentine yang kita maknai sebagai hari kasih sayang. Continue reading “Hari Valentine: Hati St. Valentinus yang terdiam”

Tuhan Menurut Metafisika

 

Lukisan John Constable,Parham Mill, Gillingham,1826

Esensi Tuhan definitif adalah Cinta dan Belas Kasih

 

Esensi sebagaimana dikatakan menjelaskan dan mengatakan tentang apakah sesuatu hal itu. Maka berbircara tentang esensi Tuhan berarti berbicara tentang siapakah Tuhan. Tuhan  telah merevelasikan diri-Nya kepada ciptaan terutama manusia. Karena itulah manusia dapat berbicara tentang Tuhan dan mendiskusikan siapakah diri-Nya. Continue reading “Tuhan Menurut Metafisika”

Esensi Menurut Metafisika

 Lukisan Vincent Van Gogh, Houses with Thatched Roofs, Cordeville, 1890

 

“Demi memiliki pengetahuan yang benar, kita harus mengerti esensi hal-hal, bukan hanya manifestasi-manifestasi mereka”

David Barenboim

 

Pengertian esensi

Secara etimologis, esensi berakar pada esse: jika esse adalah to be (adalah) maka esensi merupakan sesuatu yang mendefinisikan ada. Namun baik esse dan esensi secara ontologis merupakan dua prinsip yang berbeda satu sama lain tetapi diciptakan serempak. Memang, segala yang ada memiliki esse dan berkat esse kita menyebut ada-ada (entia)[1]. Continue reading “Esensi Menurut Metafisika”