Salam Maria

Lukisan: Flowers- Anonymous Artist

 

Lukas 1:39-56

                                                                                          “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

Seorang rahib mendapat tugas untuk mengambil beberapa buku di biara lain. Dalam perjalanan ke biara itu, ia singgah di suatu rumah. Rumah itu tampak sepi. Ketika ia mengetuk pintu, keluarlah sepasang suami istri yang sudah tua menyambut dia. Suami istri begitu baik dan ramah kepada si rahib. Karena rumah itu begitu sepi, dalam perjamuan makan, si rahib bertanya kepada suami istri tersebut tentang anak-anak mereka. Ternyata suami istri tersebut tidak dikarunia anak. Setelah selesai makan, si rahib pergi ke kamar untuk berdoa. Dalam doanya, si rahib bertanya kepada Tuhan mengapa orang sebaik mereka itu tidak mendapat karunia anak. Tuhan menjawab pertanyaan si rahib itu. Katanya: “mereka tidak mempunyai anak karena itulah kehendakku. Lalu si rahib melanjutkan perjalanan menuju ke biara.Beberapa tahun kemudian si rahib kembali ke biara asalnya. Dalam perjalanan ke biara asalanya, ia pun singgah di rumah yang sama. Rumah itu sekarang begitu ramai, tidak seperti dahulu ketika ia untuk pertama kalinya datang ke rumah itu. Banyak orang di rumah itu. Dan rahib itu kembali disambut dengan baik sekali oleh sepasang suami istri tersebut. Dalam perjamuan makan, si rahib bertanya kepada suami istri tersebut tentang orang-orang itu. Suami istri itu menjawab dengan gembira: tentu mereka adalah anak-anak kami. Suami istri menceritakan bahwa beberapa hari setelah kepergian si rahib, singgahlah seorang wanita ke rumah mereka. Ketika ia hendak meninggalkan rumah ini, dia mendoakan kami. Dan pada saat dia mendoakan kami, dalam hati kami berseru agar Tuhan mengaruniakan anak kepada kami. Dan sekarang inilah anak-anak kami. Sambil penuh kegembiraan dan rasa syukur yang luar biasa atas keajaiban ini, si rahib pergi ke kamar untuk berdoa dan bertanya kepada Tuhan. Tuhan beberapa tahun lalu aku masih ingat perkataanmu tentang mereka. Katamu mereka tidak mempunyai anak karena kehendakmu. Tetapi sekarang mengapa mereka memiliki anak. Sambil tertawa terbahak-bahak Tuhan menjawab dia: “Pasti ada orang suci yang mengubah nasib mereka”[1] . 

Setiap kali kita bertemu kawan, kenalan bahkan dengan orang asing, kita selalu memberikan salam. Salam yang kita berikan atau yang kita tujukan kerap kali menjadi kegembiraan dan sukacita bagi mereka. Pada hari Maria juga memberi salam kepada Elizabeth saudarinya. Elizabeth adalah representasi setiap orang beriman. Demikian juga bahwa Maria memberi salamnya kepada kita.

Lukas menceritakan bahwa berangkatlah Maria dan langsung berjalan menuju ke sebuah kota di Yehuda. Sebuah kota di Yehuda sebenarnya bisa dimaknai sebagai simbol atau lambang tempat di mana kita berada. Itu berarti bahwa Maria pergi mengunjungi dan memberi salam kepada setiap hati seperti halnya ia mengunjungi rumah Zakaria dan memberi salam kepada Elizabeth.

Elizabeth yang mendengar salam Maria bersukacita bahkan anak yang ada di dalam rahimnya melonjak kegeringan. Sebab Salam Maria itu datang dari ibu Tuhan yang mengunjungi Elizabeth. “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Salam Maria menunjukkan kerendahan hati Maria. Ia memberi salam, menyapa semua orang tanpa memandang siapa orang itu. Maria menerima dan mencintai semua orang. Ia adalah ibu orang beriman; ia adalah ibu dari setiap hati yang percaya kepada Yesus Kristus.

Salam Maria itu menjadi sukacita bagi Elizabeth ketika ia mendengarkan salam Maria itu. Salam Maria itu akan menjadi sukacita bagi kita seperti halnya Elizabeth ketika kita mendengarkan salam Maria itu. Mendengarkan itu berarti menyingkirkan kebebalan, ketidakpercayaan kita dan sungguh berserah diri kepada Maria. Ketika kita melakukan semuanya itu, maka kita membuka hati terhadap sapaan Maria dan membiarkan diri dituntun melalui Maria kepada Kristus. Kita akan mendengar salam Maria dengan damai dan salam Maria itu menjadi sukacita bagi kita.

Dan ketika salam Maria itu menjadi sukacita bagi kita, maka hidup kita pun berubah. Kita mempunyai hidup baru. Kita menjadi lebih kuat di dalam kesesakan, di dalam kecemasan. Dan ketika kita membuka pintu hati dan jiwa kita untuk kunjungan Maria, tentu dia akan mendoakan apa yang menjadi beban kita, kesusahan kita, kegalauan kita sehingga apa yang mustahil berkat dan melalui Maria menjadi kenyataan, segala yang berat dan yang tak mungkin dilalui berkat Maria menjadi ringan. Sungguh suatu hidup baru berkat salam Maria dan kunjungan Maria.

Dalam film Passion of The Christ, terdapat kata-kata yang menunjukkan bahwa Maria sebagai ibu Tuhan sekaligus ibu kita; seorang ibu yang selalu mendampingi, menjaga dan melindungi bahkan memberikan nyawa bagi anak-anaknya:

 Daging dari dagingku, hati dari hatiku, biarkan aku mati bersamamu, anakku!

[1] Diambil dari Burung Berkicau, Anthony De Mello

Copyright © 2016 ducksophia.com. All Rights Reserved

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply