Tubuh, Bahasa, dan Ucapan

 

Lukisan: Paul Gustave Fischer, Waiting for The Tram

Bahasa adalah suatu kulit: aku menggosokkan bahasaku melawan satu sama lain. Seolah-olah aku memiliki kata-kata, bukan jari-jari, atau jari-jari di akhir kata-kata. Bahasaku bergetar dari hasrat. Emosi berasal dari kontak ganda: di satu sisi, segala aktivitas diskursus secara diam-diam dan tidak langsung mengungkapkan penandaan unik, yaitu aku menghasratkanmu (emosi) dan aku membebaskan emosi:aku memberi makan emosi, aku mengembangkan emosi,aku meledakkan emosi (bahasa menikmatinya dengan menyentuh dirinya sendiri); di sisi lain, aku membungkus emosi satu sama lain dengan kata-kataku, aku membelainya, aku menyikatnya, aku mempertahankan kesenangan ini, aku menghabiskan waktu untuk melangsungkan komentar yang mana relasi itu kukirimkan.

Roland Barthes

Percakapan antara aku dan kamu menciptakan suatu peristiwa di dunia karena adanya makna, pesan dan intensi yang termuat di dalam percakapan kita. Makna, pesan dan intensi tersampaikan dan terpahami berkat realitas tubuh. Continue reading “Tubuh, Bahasa, dan Ucapan”

Pembuktian Eksistensi Tuhan Oleh G.W Leibniz

Lukisan: ALfred Sisley, BORDS DU LOING À SAINT-MAMMÈS, 1885

                               

Kenyataannya, karena Tuhan pada saat yang sama adalah yang paling adil, dan paling lembut dari segala raja, dan karena ia hanya menuntut niat baik kepada  subyek-subyeknya, selama tulus dan sungguh-sungguh, maka mereka tidak bisa berharap kondisi yang lebih baik. Untuk membuat mereka sungguh bahagia, Tuhan hanya meminta agar mereka mencintainya [1]

Persoalan dan perdebatan tentang eksistensi Tuhan merupakan suatu garis kontinuitas yang mengalir menuju ke keseluruhan sejarah filsafat Ketuhanan terutama Teodicea. Continue reading “Pembuktian Eksistensi Tuhan Oleh G.W Leibniz”

Manusia dan Representasi Simbolisnya (Bagian II)

Lukisan Maurice de Vlaminck, Personnages dans La Rue

Simbol dan ritus

Salah satu ekspresi istimewa dari bahasa simbolis manusia ternyata dihadirkan oleh ritus. Maka, aksi ritus, dari bentuk yang paling dasar sampai kepada bentuk yang kompleks, memiliki suatu karakter simbolis. Konsekuensinya, arti atau makna ritus tidaklah bersumber dari kata-kata yang terucapkan secara harafiah maupun dari gerak-kelakuan atau realitas ritus itu sendiri, tetapi dari fakta bahwa secara bersamaan bahasa ini -baca ritus- melibatkan makna simbol di dalam keyakinan ( mitos, tradisi, kepercayaan) kelompok di mana makna simbol diterapkan. Continue reading “Manusia dan Representasi Simbolisnya (Bagian II)”

Manusia dan Representasi Simbolisnya (Bagian I)

 

Lukisan Maurice de Vlaminck, Bouquet De Marguerites Et Bleuets

 

Disadur dari

L’uomo e la sua rappresentazione simbolica

Carlo Rocchetta

Ternyata hidup manusia diwarnai dan tersatukan dengan simbol-simbol karena manusia menciptakan dan berinteraksi dengan mereka. Lalu mereka menjadi bagian dari kesadaran, pemahaman dan aktivitas manusia. Akibatnya ruang lingkup hidupnya seperti ekonomi, politik, budaya, ekonomi bisa dipandang sebagai simbol. Misalnya sistem ekonomi dianggap sebagai simbol pertentangan kelas atau simbol dari hasrat, kesadaran sebagai simbol dari ketidaksadaran, budaya sebagai sebagai simbol dari imajinasi. Manusia sendiri adalah suatu simbol dan mempresentasikan dirinya secara simbolis pula. Continue reading “Manusia dan Representasi Simbolisnya (Bagian I)”

Politikus atau Demagog ?

 

Lukisan Edouard Manet, Before The Mirror, 1876

 

Kata seorang negarawan Asyur:

“Negarawan yang cemerlang meramu dan menetas etika dan moralitas dalam pikiran dan tindakan bernegaranya”.

 

 

 

Politik adalah suatu cara, usaha dan kebijakan baik di dalam konsep maupun praktis untuk membangun dan mewujudkan kebaikan bersama. Prinsip kebaikan bersama menjadi tujuan politik. Continue reading “Politikus atau Demagog ?”