Ikutlah Aku

 

Lukisan: John William Godward, Opfergabe an Venus

Ibrani 4:12-16

Markus 2:13–17

Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai,

Rahmat dan keselamatan Tuhan senantiasa berkarya dalam kehidupan dan mencari manusia di setiap zaman. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa Tuhan kita bukanlah Tuhan yang pasif, melainkan Tuhan yang mendekati kehidupan; Tuhan yang mencintai kehidupan; Tuhan yang kita seru sebagai Bapa. Kenyataan yang mengagumkan ini tampak ketika Yesus memanggil Lewi.

Ketika Yesus lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”

Ungkapan “ketika Yesus lewat, Ia melihat Lewi dan berkata: Ikutlah Aku” menunjukkan karya-Nya yang mewujudkan keselamatan-Nya di dalam kehidupan. Sesungguhnya, keselamatan sebagai rahmat-Nya terbuka bagi semua orang karena Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan. Hal yang mengagumkan ialah bahwa keselamatan itu menjelma dalam pribadi Yesus, Putra terkasih-Nya. Ia senantiasa memanggil setiap orang untuk mengikuti-Nya dan memperoleh keselamatan. Inilah kabar sukacita yang seharusnya didengarkan dan dirasakan oleh setiap orang dengan telinga hati. Sebagaimana telinga indra untuk mendengar suara eksternal seperti kicau burung, nyanyian, maka telinga hati untuk mendengarkan panggilan hati bagi setiap pribadi yang percaya kepada-Nya: Ikutlah Aku

Lewi, anak Alfeus, mengajarkan kepada kita bagaimana menerima panggilan itu dan mengikuti-Nya. Ia segera bangkit dan mengikuti Yesus. Namun, mengapa ia tidak ragu untuk mengikuti-Nya dan seakan-akan tidak membutuhkan pertimbangan apa pun?

“Ikutlah Aku” adalah Sabda-Nya yang ditawarkan kepadanya. Kita mengetahui bahwa sabda-Nya itu, sebagaimana dikatakan dalam Surat kepada Orang Ibrani, hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun. Ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati.

Pada saat perkataan “Ikutlah Aku” diucapkan, Lewi seakan-akan telah ditikam oleh pedang Sabda-Nya. Pedang itu, di satu sisi, mematikan kegelapan yang disebabkan oleh dosa dan, di sisi lain, menyelamatkan. Sabda itu membawa kebaikan, memurnikan kehidupan, dan membebaskan manusia dari dosa. Ia adalah pedang yang memberikan terang kepada kehidupan, bukan pedang yang membinasakan.

Maka, bangkitnya Lewi berarti bahwa ia membiarkan dirinya ditembus oleh Sabda-Nya; ia membiarkan dirinya direngkuh oleh rahmat-Nya. Hasilnya, Lewi bertobat dan menjadi manusia baru. Masa lalunya telah diterangi oleh cahaya Sabda-Nya; sejarah hidup Lewi telah memperoleh pengampunan. Ia bukan lagi sekadar Lewi, melainkan kini ia menjadi murid Kristus: Lewi, anak Alfeus, sang murid Kristus.

Sejak saat itu, ia menjawab panggilan TUhan dengan cinta kepada-Nya dan kepada sesama. Perjamuan yang diadakannya dengan mengundang banyak orang menjadi tanda nyata kasihnya kepada Tuhan dan sesama. Sukacita memenuhi kehidupannya dan dilambangkan dengan mengadakan perjamuan bersama Yesus dan sahabat-kenalannya.

Pada meja yang sama, Yesus, Lewi, para ahli Taurat, para murid, dan para pemungut cukai makan bersama. Kehadiran Yesus dan kesediaan-Nya untuk makan bersama mereka menyingkapkan kenyataan lain yang Tuhan hendak bagikan kepada kita. Ia turut merasakan kelemahan dan penderitaan kita dalam segala hal, kecuali dalam dosa. Ia mengetahui dan merasakan semuanya.

Terlebih, pada meja yang sama kita diangkat menjadi putra dan putri Tuhan. Tidak ada diskriminasi dan tidak ada pembedaan berdasarkan penghakiman; yang tinggal hanyalah kasih di dalam perjamuan itu. Orang-orang Farisi tidak memahami bahwa Tuhan adalah TUhan yang mengampuni; bahwa kasih-Nya datang untuk merangkul putra-putri-Nya. Mereka tidak merasakan belas kasih-Nya yang hadir di meja perjamuan, padahal mereka sendiri juga dikasihi oleh-Nya. Sebabnya, mereka mencari kesempurnaan hidup dengan mengandalkan diri mereka sendiri. Mereka lupa kalau kesempurnaan hidup terjadi karena rahmat Tuhan sendiri, bukan semata-mata usaha pribadi mereka sendiri. Telinga hati mereka tertutup akan panggilan belas kasih Tuhan kepada setiap orang.

Di meja itu terjadi persekutuan antara Tuhan dan manusia yang memancarkan keharuman dan keindahan Ekaristi. Dengan demikian, Ekaristi memperlihatkan karya Yesus sebagai Tuhan yang menyelamatkan dan Tuhan yang menyembuhkan.

Tuhan yang menyembuhkan berarti bahwa Sabda-Nya juga menyembuhkan. Yesus adalah tabib sejati karena Ia menyembuhkan luka-luka yang disebabkan oleh dosa. Ia memotong segala kerusakan akibat dosa yang berdiam dalam hati dan pikiran manusia. Segala sesuatu terbuka di hadapan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan-Nya. Hal-hal yang tersembunyi dapat menjadi beban, sedangkan penyingkapan membawa manusia kepada kebenaran. Karena itu, hanya Dialah yang mampu menyembuhkan dengan sempurna.

Akhirnya, kasih Tuhan dan keluhuran manusia tampak dan terukir dalam perjumpaan ini: Tuhan yang memanggil, “Ikutlah Aku,” dan manusia yang bangkit lalu mengikuti-Nya.

Copyright © 2016 ducksophia.com. All Rights Reserved

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply