Lukisan: Francesco Vinea, The Courtly Guest in The Wine Cellar

Tahun C
Minggu Biasa XVI
Kejadian 18: 1-10a
Kolose 1:24-28
Lukas 10: 38-42
Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu, yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya.
Mitos Jawa mengatakan bahwa kalau ada kupu-kupu masuk ke rumah berarti akan kedatangan tamu. Tamu dalam berbagai budaya dianggap sebagai seorang yang terhormat dan agung. Kedatangan seorang tamu memberi kesibukan bagi tuan rumah karena tuan rumah pasti menginginkan sang tamu merasa nyaman dan senang bertamu di rumahnya. Maka, pepatah Kristiani mengatakan: hospes venit, Christus venit. Kedatangan seorang tamu adalah kedatangan Kristus sendiri.
Hari ini Abraham dalam bacaan pertama menyambut kedatangan tiga orang tamu yaitu Allah sendiri. Paulus menyambut Kristus dengan menjadi pelayan Kristus yang setia sampai akhir hayatnya. Dalam Injil Lukas, Marta dan Maria menyambut tamu Yesus. Ketiga orang ini mempunyai caranya tersendiri dalam menyambut dan menunjukkan keramahtamahan kepada para tamu tersebut.
Ketika melihat ketiga orang asing yang hendak singgah di tendanya, Abraham menyongsong dan menyambut mereka. Di tenda, Abraham menyuruh Sara-istrinya untuk membuat roti bundar dan mengolah anak lembu, mengambil dadih dan susu untuk disuguhkan kepada tamu-tamu tersebut. Keramahtamahan Abraham kepada mereka membuat mereka berjanji bahwa tahun depan Sara akan melahirkan seorang anak. Keramahtamahan Abraham kepada para tamu membawa berkat kepada dirinya. Sebab ternyata para tamu tersebut adalah Allah yang mengunjungi Abraham dengan cara tersembunyi; Tuhan yang memberikan janji kepadanya ketika singgah ke tempatnya. Dan Abraham telah menyambut tamu dengan kebaikan dan keramahtamahan yang istimewa.
Kerahmatamahan Paulus dalam menyambut tamu Yesus adalah dengan menjadi pelayan firman-Nya. Ia mewartakan Kristus dan firman-Nya ke segala penjuru dan kepada segala bangsa. Ia adalah pelayan jemaat. Dan sebagai pelayan jemaat Paulus memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan Kristus dan mengajari jemaat dalam segala hikmat.
Maria dan Marta menerima dan menyambut tamu Yesus. Ketika Yesus datang, Marta dengan keramahtamahannya sibuk melayani Yesus. Sementara keramahtamahan Maria ditunjukkan dengan duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Jadi, baik Abraham, Paulus Marta dan Maria telah menunjukkan keramahtamahan kepada para tamu di dalam rumah mereka masing-masing.
Menurut Levinas tempat keramahtamahan yang pertama dan utama adalah rumah. Mengapa keramahtamahan terjadi di rumah? Pertama, karena keberadaan rumah bukanlah melulu soal kepemilikan seperti halnya barang yang dapat disimpan dan dipelihara. Rumah memiliki nilai lebih daripada sekedar soal barang atau properti. Fungsi primordial rumah juga bukanlah arsitektur bangunannya. Orang mencari rumah karena pertama-tama rumah memberikan keramahtamahan (kesanggrahan) kepada pemiliknya. Keramahtamahan yang diberikan rumah kepada pemiliknya membuat si pemilik mampu untuk membentuk dirinya. Hal itu disebabkan di dalam rumah ada kebebasan. Dengan demikian rumah adalah tempat yang memberi kebebasan untuk self-growth, untuk membentuk kepribadian dan nilai hidup, untuk bertumbuh dan berkembang.
Maka, kebebasan yang ada di rumah bukanlah kebebasan seperti yang diberikan oleh instansi. Kebebasan instansi adalah kebebasan ekslusif yang menolak segala sesuatunya yang tidak berkaitan dengan instansi tersebut. Tidak demikian dengan rumah. Kebebasan yang ada di dalam rumah adalah kebebasan yang unik: rumah selalu memberi ruang bagi sesuatu yang tidak berhubungan dengan dirinya. Keramahtamahan sebuah rumah justru terjadi ketika aku menyambut orang lain -sesuatu yang tidak berhubungan dengan diriku- di dalam rumahku dan aku menyambut mereka.
Rumah yang paling utama dalam memberikan kesanggrahan adalah diri. Diri haruslah menjadi diri yang memiliki keramahtamahan agar para tamu yang datang dan mengunjungi “rumah” menjadi kerasan dan senang. Tamu dengan segala keunikannya, karakternya -baca alteritasnya- sungguh menjadikan diriku murah hati. Melalui kemurahan hati, aku mau untuk membuka “pintu rumahku” dan memberikan “ruang di rumahku” kepada dia -si tamu-. “Ruang rumahku” itu meliputi pikiranku, perasaanku, keinginanku, sejarahku, pengalamanku, usahaku, kebanggaanku, bahkan pula kegagalanku, penderitaanku dan sebagainya. Maka, berkat kemurahan hati, aku mampu memberi segala yang kumiliki kepada para tamu. Dengan demikian dengan keramahtamahan di dalam “rumahku” aku memiliki cinta yang selalu menuju kepada orang lain; dia yang berbeda dengan diriku; dan karena cinta aku menerima dan memberikan tempat dalam diriku kepada dia.
Cerita Abraham, Paulus, Marta dan Maria mau mengatakan bahwa Yesus telah mengunjungi “rumah kita” yaitu diri kita. Karena itu, kita harus menangkap dan siap akan kedatangan-Nya ke dalam “rumah kita”. Tuhan telah datang dan bertamu ke dalam “rumah kita” lewat sabda-Nya. Kita menyambut kedatangan Yesus di dalam diri kita dengan keramahtamahan Abraham, Paulus Marta dan Maria. Selain menyambut Yesus dengan hal yang terbaik dan keramahtamahan seperti yang dibuat Abraham, Paulus dan Marta, keramahtamahan yang utama adalah duduk di dekat Yesus dan mendengarkan dia karena mengasihi Yesus dimulai dengan mendengarkan dia (Bertold Anton Parreira). Mendengarkan sabda Yesus membawa dan menenggelamkan diri kepada cinta Allah. Mendengarkan sabda Yesus terjadi melalui kontemplasi yaitu duduk di dekat Yesus untuk mendengarkan sabda-Nya.
Kontemplasi akan sabda Yesus merupakan sekolah kebenaran pendengaran karena mendengarkan sabda Yesus adalah sumber utama semua kehidupan dan semua doa Kristiani (ibid). Dengan mengkontemplasikan sabda Yesus kita pun memiliki keberanian untuk menyambut dan melayani tamu Yesus Kristus seperti yang dibuat oleh Paulus, Abraham, Marta dan Maria. Tentu saja kontemplasi membangun “rumah” menjadi “rumah” ora et labora. Ora et labora adalah keramahtamahan agung dan suci yang membuat kita pun berseru ketika sang tamu agung datang: “ Kristus, selamat datang di rumahku”.
Kristus yang selalu datang di rumah kita karena kristus seperti kata Paulus: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.
Copyright © 2016 ducksophia.com. All Rights Reserved