Ucapan Dan Hati

Lukisan: Berthe Morisot, Young Girl on the Grass, 1885

Sirakh 27: 5-8

5. Kalau ayakan digoyang-goyangkan, maka sampahlah yang tinggal; demikianpun keburukan manusia tinggal di dalam bicaranya.

6. Perabot tukang periuk diuji di dalam dapur pembakaran; dan ujian manusia terletak di dalam bicaranya.

7. Nilai ladang ditampakkan oleh buah pohon yang tumbuh di situ; demikian pula bicara orang menyatakan isi hatinya.

8. Jangan memuji seseorang sebelum ia bicara; sebab itulah batu ujian manusia.

 

Eksegese

Kalau ayakan digoyang-goyangkan, maka sampahlah yang tinggal; demikianpun keburukan manusia tinggal di dalam bicaranya (ayat 5).

Ayakan atau penampi digunakan untuk memisahkan biji gandum dari sekam dan kotoran. Ketika ayakan digoyang-goyang, kotoran yang sebelumnya tersembunyi akan menjadi terlihat. Realitas ini dijadikan metafora dalam menguji percakapan manusia. Ketika seseorang berbicara akan tersingkap cacat, prasangka, kebodohan atau kebijaksanaanya. Karena pembicaraannya adalah ayakan yang menyingkapkan kedalaman batin dan pikirannya. Perkataan seseorang menunjukkan siapakah dia sesungguhnya.

Perabot tukang periuk diuji di dalam dapur pembakaran; dan ujian manusia terletak di dalam bicaranya (ayat 6).

Perabot tukang periuk diuji di dalam api untuk menunjukkan seberapa kuat perabot itu, seberapa bagus perabot itu. Perabot tukang periuk yang belum dibakar di dalam tungku api tampak bagus dan indah, tetapi setelah dioven dengan api yang panas tinggi akan terbukti apakah perabot itu ada cacatnya atau retaknya. Jadi api menghilangkan ketidakmurnian sekaligus memurnikan periuk tukang periuk. Maka sebagaimana api di dalam tungku  demikian pula ucapan seseorang diuji dalam situasi tertentu atau ketika dia bebas berbicara, akan tampak kualitas dirinya entah itu keutamaannya atau keburukannya. Tutur katanya dan ucapannya menunjukkan apa yang tersimpan di dalam pikiran dan hatinya dengan gamblang dan jelas misalnya prasangkanya, nilai-nilai yang dipegang. Kata-kata berfungsi sebagai barometer kebijaksanaanya.

Nilai ladang ditampakkan oleh buah pohon yang tumbuh di situ, demikian pula bicara orang menyatakan isi hatinya (ayat 7).

Buah pohon menunjukkan nilai  suatu ladang karena buah pohon merupakan cermin dari ladang tersebut. Jika buah dari pohon-pohon yang tumbuh di ladang itu besar, bagus, manis berarti ladang tersebut dipelihara, dirawat dengan baik pula. Sebaliknya, kalau buah yang dihasilkan pohon di ladang itu jelek menunjukan bahwa ladang yang tidak dirawat dengan baik. Sama dengan buah pohon di ladang, demikian pula pembicaran orang menunjukkan isi hatinya. Apa yang diucapkan merupakan cermin hatinya. Apa yang dikatakan adalah manifestasi dari pikiran dan batin seseorang.

Jangan memuji seseorang sebelum ia bicara, sebab itulah batu ujian manusia (ayat 8)

Penampilan lahiriah seseorang, kekayaannya ataupun status sosial tidak menunjukkan siapakah sebenarnya orang itu. Bahkan semuanya itu kerap kali menipu. Di sini Sirakh mengingatkan agar berhati-hati dan tidak terges-gesa memuji orang berdasarkan kesan pertama. Seseorang hanya diuji  ketika dia berbicara dengan orang lain atau dengan diri sendiri. Sebab pembicaraan menunjukkan pemikiran dan keyakinannya. Sebaiknya adalah mendengarkan dahulu perkataannya karena melalui ucapannya akan tampak kebijaksanaan atau kebodohannya. Baru setelah itu memuji atau mencelanya.

Makna

Kata-kata dan ucapan seseorang bukanlah sekedar suara dan kata-kata yang tanpa arti melainkan menunjukkan nilai-nilai yang dia hidupi, kebijaksanaan yang ia punya, kekurangan bahkan ketakutan dan kekhawatiran yang dia hadapi karena ucapan adalah isi batin dan pikiran seseorang. Maka Sirakh memberikan memberikan petunjuk soal discernment untuk mengetahui dan menguji siapakah orang itu. Karakter yang sejati mungkin dapat disembunyikan untuk sementara waktu, tetapi lambat laun akan tampak melalui perkataan dan tindakannya. Cepat atau lambat kata-kata seseorang entah itu yang termanifestasi di dalam dialog, nasihat, canda, hujatan,  keputusan yang dia buat akan menunjukkan siapakah dia sebenarnya.

Kata-kata adalah cermin hati sehingga kata-kata adalah jendela untuk melihat hati seseorang. Dengan demikian, kebijaksanaan bagi Sirakh berarti mendengarkan ucapan seseorang dan bukan melihat tampang dan penampilan lahiriah.

Kebijaksanaan Sirakh ini memiliki gema yang kuat dengan ajaran Yesus: karena yang diucapkan mulut meluap dari hati (Lukas 6:45). Kata dan hati adalah satu kesatuan. Ladang hati akan menghasilkan pohon buah kata-kata. Segala perkataan yang baik dan yang buruk berasal dari hati. Hati yang baik akan menghasilkan perbendaraan kata yang baik dan hati yang buruk akan menghasilkan perbendaraan kata yang buruk.

Diri manusia yang sesungguhnya dimulai dari hati karena hati adalah cikal bakal segala sesuatunya. Lalu, apa yang ada di hati menjadi kata-kata; kata-kata menjadi tindakan; tindakan menjadi perilaku; perilaku menjadi kebiasaan; kebiasaan menjadi karakter dan karakter akan menjadi nasib seseorang.

Copyright © 2026 ducksophia.com. All Rights Reserved

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply