Sukacita Menurut Sirakh

Lukisan: Claude Monet, Lilac Irises, 1917

Sirakhh 30: 21-25

Jangan menyerahkan diri kepada kesedihan

Jangan pula menyiksa dirimu dengan pikiranmu

Keriangan hati merupakan kehidupan bagi manusia

dan umur hidupnya diperpanjang oleh sukacitanya

Legakanlah jiwamu dan hiburkanlah hatimu

jauhkanlah kesedihan dari dirimu

Sebab banyak orang sudah dibinasakan oleh kesedihannya

dan kesedihan hati tidak ada gunanya

Iri hati dan suasana batin yang buruk memperpendek hidup

Kesusahan membuat orang  menjadi tua sebelum waktunya.

Hati yang gembira memiliki nafsu makan yang baik

dan semua yang dimakannya memberi manfaat baginya

 

Eksegese

 Jangan menyerahkan diri kepada kesedihan

Jangan pula menyiksa dirimu dengan pikiranmu

Lewat dua ayat ini, Yesus bin Sirakh memberikan petuah bijaksana yaitu agar tidak menyerahkan diri kepada kesedihan. Kesedihan dalam Perjanjian Lama dapat dipahami sebagai salah satu momen kehidupan sebagaimana sukacita sehingga kesedihan bukanlah sesuatu yang jahat dari dirinya. Kesedihan adalah reaksi manusia atas kehilangan, penderitaan dan beban hidup. Maka, kesedihan merupakan pengalaman manusia yang nyata dan wajar. Kesedihan juga dapat berputar-putar di dalam pikiran sehingga menyiksa diri sendiri. Pikiran yang telah didekap oleh kesedihan akan membawa kepada keputusasaan karena hilangnya harapan dan semangat hidup. Sirakh tidak menyangkal dan menolak kesedihan. Tetapi Sirakh mengingatkan bahwa kesedihan akan menjadi hal berbahaya ketika ia dibiarkan berlarut-larut dan dipelihara terus-menerus sampai menguasai diri. Ketika kesedihan menguasai diri ia melemahkan kehidupan dan kesedihan menjadi tuan atas jiwa dan pikiran.

Keriangan hati merupakan kehidupan bagi manusia

dan umur hidupnya diperpanjang oleh sukacitanya

Kalau di dalam dua ayat sebelumnya Sirakh menasihati soal kesedihan, maka sekarang ia memberikan petuah perihal sukacita. Sukacita atau kegembiraan bukan sekedar perasaan senang sesaat. Sukacita dalam kacamata Sirakh dapat dimengerti sebagai keadaan hati yang sejalan dengan kebijaksanaan, rasa syukur, takut akan Tuhan dan hidup yang tertib. Semuanya itu menerbitkan sukacita di dalam hati.  Sukacita itu terbentuk karena ada kehidupan batin yang sehat dan damai yang lahir dari kebijaksanaan dan hubungan yang benar dengan Tuhan. Kalau kesedihan menjadi beban yang menggerogoti jiwa, maka sukacita adalah tenaga yang memulihkan jiwa.

Legakanlah jiwamu dan hiburkanlah hatimu

jauhkanlah kesedihan dari dirimu

Sebab banyak orang sudah dibinasakan oleh kesedihannya

dan kesedihan hati tidak ada gunanya

Ketika kesedihan datang menerpa, Sirakh menasihati agar orang harus segera bangkit dan tidak bisa tinggal berlama-lama di dalam kesedihan apalagi sampai menguasai hati dan jiwa. Sebab, bagi Sirakh jiwa dan hati adalah pusat kehidupan manusia. Maka cara mencintai dan menjaga jiwa dan menghibur hati dari kesedihan adalah menata segala kegelisahan agar tidak menguasai hati dan jiwa.

Memang kesedihan besar bisa terjadi kepada siapa saja dan banyak orang tidak mampu mengatasinya. Sirakh mengingatkan kenyataan itu. Tidak ada gunanya mempertahankan kesedihan karena kesedihan yang berlarut menghilangkan banyak hal: harapan, sukacita, teman dan kehidupan itu sendiri. Orang yang berkubang terus-menerus di dalam kesedihan tentu akan kehilangan daya untuk menjalani kehidupan.

Iri hati dan suasana batin yang buruk memperpendek hidup

Kesusahan membuat orang menjadi tua sebelum waktunya

Iri hati mencuri kegembiraan hati dan suasana batin yang buruk melenyapkan ketenangan jiwa. Hati yang tercuri kegembiraannya dan yang ketenangan jiwanya hilang sudah pasti tidak ada kedamaian. Hidupnya akan diisi dengan kericuhan batin dan kericuhan batin hanya akan memperpendek umur. Artinya ia mengisi hidupnya dengan kesedihan dan kesengsaraan sehingga pasti mempercepat datangnya kematian.

Bagi Sirakh, kekhawatiran menghasilkan masa tua yang datang lebih cepat. Kekhawatiran menyebabkan beban dan beban itu meletihkan jiwa dan hati, dan pikiran. Kekhawatiran  yang terus dipelihara menguras tenaga batin dan menyuramkan kehidupannya.

Orang yang letih jiwa dan hati dan pikiran akan mengkeroposkan tubuh dengan cepat sekali. Hasilnya orang menjadi tua karena tidak ada kesegaran, hanya ada layu yang sebelum waktunya.

Hati yang gembira memiliki nafsu makan yang baik

dan semua yang dimakannya memberi manfaat baginya

Melalui dua ayat yang terakhir ini, Sirakh mengkaitkan hati yang gembira dan bercahaya dengan nafsu makan. Orang yang punya hati yang berseri mempunyai nafsu makan yang baik dan segala yang dimakannya memberi manfaat baginya. Orang yang hatinya berseri berarti ia memiliki vitalitas, antusias dan penuh semangat terhadap segala sesuatunya bahkan terhadap tantangan, kesulitan yang ia hadapi. Maka ia mempunyai nafsu yang baik. Tantangan yang ia terima dalam kehidupan ini menjadikan dirinya menjadi lebih baik, lebih bertumbuh, lebih bijaksana karena hatinya berseri-seri.

Memang orang yang hatinya berseri-seri membuat dia menikmati kehidupan dan segalanya menjadi berkat bagi dirinya. Ia menjadi sehat secara fisik dan mental dan batin. Ia hidup sepenuhnya dan seutuhnya.

 

Makna

Salah satu kebijaksanaan dalam pandangan Sirakh adalah hidup di dalam sukacita. Sukacita harus menjadi warna utama dalam hidup. Tetapi hidup di dalam sukacita tidaklah mudah karena arus kehidupan memuat momen baik sukacita maupun kesedihan. Bahkan, bisa jadi momen kesedihan itu lebih sering datang daripada momen sukacita.  Memang di dalam arus kehidupan ini kadang kala tidak bisa dibedakan lagi antara sukacita dan kesedihan. Kita tidak tahu lagi mana sukacita mana kesusahan. Semuanya mengalir bersatu di dalam arus kehidupan. Sebabnya kesedihan adalah pengalaman manusiawi sebagaimana halnya sukacita sekaligus tanda dan bukti kalau kita ini hidup.

Kesedihan dan hilangnya kegembiraan terjadi karena kehilangan orang yang dicintai, kemiskinan, penderitaan, kegagalan dan ketidakadilan. Ya semuanya itu menciptakan kesusahan hati dan pikiran. Tetapi Sirakh memperingatkan bahaya kesedihan yang dibiarkan terus-menerus. Kesedihan yang berlarut–larut akan menjadi penjara batin dan penjara pikiran. Di dalam penjara batin, orang akan dibinasakan oleh kesedihan. Di dalam penjara pikiran, orang tidak lagi mampu mengatasi kesusahan.  Maka nasihat Sirakh terasa dekat ketika ia berkata: “Jangan menyerahkan diri kepada kesedihan, jangan pula menyiksa dirimu dengan pikiranmu”. Petuah bijaksananya ini mengajak dan menyadarkan diri untuk segera keluar dari kesedihan.

Kekhawatiran sering muncul dari dari rasa takut dan ketidakpastian. Manusia takut akan masa depan karena tidak adanya kepastian; manusia takut karena dihantui masa lalu. Di dalam kekhawatiran, manusia tidak lagi hidup di masa sekarang ini. Pikirannya bisa terbang ke masa depan ataupun ke masa lalu yang bisa melahirkan kekhawatiran yang berlebihan. Kekhawatiran yang berlebihan dapat membuat hati semakin sulit mempercayakan diri kepada Tuhan. Pada saat itu, yang sering terjadi adalah bahwa ketakutan lebih besar daripada kenyataan. Akibatnya, sering kali manusia menderita bukan karena kenyataan, tetapi justru karena bayang-bayang ketakutan yang belum tentu terjadi. Buahnya adalah kesusahan. Orang yang memakan buah kesusahan setiap saat akan memperpendek umurnya dalam arti ia akan melewati momen momen yang akan berlangsung dengan tinta kesedihan. Maka menurut Sirakh bahwa tidak ada gunanya membiarkan diri terus hidup di dalam kesusahan. Tidak ada yang abadi, semuanya akan berlalu termasuk kesusahan. Arus kehidupan tetap mengalir terus ke depan. Menara nasihat Sirakh terasa dekat ketika ia berkata: “legakanlah jiwamu dan hiburkanlah hatimu”.

Menghibur hati bisa dilakukan dengan berdoa, diam, istirahat, berbicara dengan orang yang dicintai atau belajar kembali mensyukuri hal-hal kecil. Legakanlah jiwamu dan hiburkanlah hatimu dilakukan ketika diri mengisi masa sekarang dengan tindakan, pikiran dan ucapan yang baik. Kebaikan yang dilakukan justru menjadi kelegaan jiwa dan hiburan hati. Sebab kebaikan adalah hidup yang selaras dengan perintah dan kebijaksanaan Tuhan. Kebaikan merupakan pertolongan dan pelipur lara bagi diri sendiri. Sebab kebaikan mengarahkan hati keluar dari pusaran kesedihan menuju relasi dengan Tuhan dan sesama.

Senada dengan Sirakh, Yesus meneguhkan kita untuk tidak khawatir dalam Matius 6: 28-34: “Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”.

Kebijaksanaan Yesus Kristus mengajak orang untuk menyerahkan diri penyelenggaraan ilahi. Ketika orang sungguh berserah kepada penyelenggaraan ilahi orang diberi kekuatan agar diri tidak dikuasai olehnya. Berserah kepada penyelenggaraan ilahi sungguh membuat hati gembira dan berseri dan hati tidak lagi menjadi gamang. Hati berseri melahirkan optimisme dan keberanian menghadapi aneka tantangan hidup. Yesus – Allah sendiri- menghibur dan menguatkan hati yang gamang dan kecut.

Sukacita yang lahir dari hati yang damai sering terpancar keluar dan mempengaruhi cara seseorang menjalani hidup.  Hidupnya menjadi berseri sebab ia makan buah sukacita terus-menerus. Terhadap buah sukacita ini, ia memiliki nafsu makan yang baik. Karena itu hidupnya diperpanjang oleh sukacitanya. Ia mewarnai momen-momen yang terjadi dengan sukacita yang membuat ia hidup seutuhnya. Kalaupun ia bersedih, ia tidak membiarkan dirinya untuk tinggal lama di dalam kesusahan. Ia tahu bahwa momen kesedihan menjadikan diri lebih matang, lebih bijaksana, lebih peduli, lebih berbelas kasihan dan lebih mengasihi sesama dan kehidupan. Ia menimba pembelajaraan diri dari kehidupan. Ia pun bersukacita akan pembelajaran ini. Dalam sukacita, segala yang dilakukan memberi manfaat bagi dirinya, orang lain, dan dunia. Pada akhirnya, ia menjadi manusia tersenyum dan tertawa. Tertawa karena sukacita dalam hatinya yang berseri; tersenyum karena jiwanya yang lega. Memang keriangan hati adalah kehidupan manusia.

Copyright © 2026 ducksophia.com. All Rights Reserved

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply