Diskursus

XXXII

Diskursus

Francis Bacon

Lukisan Lawrence Alma-Tadema, The discourse

the_discourse

Ada beberapa orang di dalam diskursus mereka menginginkan pujian untuk kecerdasan mereka yang tercermin dalam kemampuan mematahkan segala argumen daripada penilaian, dalam melihat apa yang benar; seolah-olah sebuah pujian karena mengetahui apa yang dikatakan, dan bukan apa yang seharusnya dipikirkan. Beberapa orang memiliki kedudukan-kedudukan umum yang kukuh dan ide-ide yang membuat mereka begitu mengesankan, dan mereka ingin membuat suatu variasi dalam pembicaraan dengan menggabungkan antara kedudukan dan ide mereka; padahal variasi tersebut justru merupakan suatu kebodohan karena sebagian besar berisi hal-hal yang membosankan, dan sekali dirasakan sungguh suatu kekonyolan. Bagian termulia dari suatu pembicaraan adalah memberikan kesempatan; membimbing diskusi dan mempercayai yang lain; sebab dengan itu semua seseorang ibarat memimpin sebuah tarian. Adalah baik, dalam diskursus dan cara berbicara dalam suatu pembicaraan, mengkombinasikan dan mencampurkan tema yang aktual dengan argumen-argumen, cerita-cerita dengan rasionalitas, melontarkan pertanyaan-pertanyaan dengan menjabarkan opini-opini, dan canda tetapi dengan keseriusan: sebab adalah hal yang membosankan jika diri menjadi letih dalam suatu pembicaraan, dan, seperti yang kita katakan sekarang ini, menjadi letih karena ibarat terlalu lelah mengemudi karena segala sesuatunya terlalu jauh. Berkaitan dengan canda, ada suatu hal yang pasti yang harus menjadi privasi yang tak boleh dijadikan canda, yaitu tentang agama, masalah kenegaraan, persoalan-persoalan orang-orang besar, masalah-masalah penting yang melanda setiap orang sekarang ini, setiap kasus yang layak mendapatkan rasa iba. Namun kiranya ada orang yang berpikir bahwa kecerdasan mereka telah tertidur, kecuali mereka berganti-ganti dengan sesuatu canda yang menarik dan aktual. Itu adalah suatu sikap yang seharusnya dikekang :

                                                Parce, puer, stimulis, et forties utere loris

                (Hai, anak laki-laki, lepaskanlah cemeti dan peganglah kekang dengan lebih ketat).

Pada umumnya, manusia haruslah menemukan perbedaan antara keasinan dan kepahitan. Artinya: dia yang memiliki sikap yang suka menyindir yang membuat orang lain merasa takut akan kecerdasannya itu, maka dia pun harus takut akan ingatan orang lain. Dia yang banyak bertanya, belajar dan menyerap banyak; tetapi lebih istimewa jika dia mengarahkan pertanyaan-pertanyaannya kepada keahlian orang-orang yang tersebut; karena dengan demikian ia memberikan kepada mereka kesempatan untuk mendapatkan kesenangan dengan cara menjawab semua pertanyaan tersebut, sementara itu, dia sendiri akan mengumpulkan pengetahuan terus-menerus. Tetapi semoga juga pertanyaan-pertanyaannya tidak menciptakan kesulitan-kesulitan; sebab pertanyaan-pertanyaan yang demikian adalah cocok untuk dilontarkan oleh seorang penguji. Semoga dia juga memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Ah tidak, seandainya ada pembicara-pembicara yang mendominasi dan menyita semua waktu yang ada, semoga dia menemukan cara untuk menghentikan mereka dan mendorong yang lain untuk berbicara; seperti para pemusik yang terbiasa menghentikan mereka yang menari terlalu lama dalam tarian Galliard[1].

Jika suatu waktu kamu menyembunyikan pengetahuanmu tentang sesuatu hal yang dikira orang seharusnya kamu tahu, maka kamu pun di dalam kesempatan yang lain akan dipandang bahwa kamu mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Pembicaraan mengenai diri sendiri haruslah sejarang mungkin dan dipilih dalam waktu yang tepat. Saya kenal seseorang yang menang dalam suatu debat dengan mencemooh, mengatakan, dia pasti seorang yang ingin dilihat sebagai orang yang bijaksana, karena ia berkata terlalu banyak tentang dirinya: dan ada sebuah kesempatan di mana seseorang kiranya memuji dirinya sendiri dengan suatu kesantunan yang tinggi yaitu dengan cara memuji kebaikan orang lain; terutama jika kebaikan orang lain juga adalah kebaikan dirinya sehingga berpura-pura memuji orang lain itu padahal hanya untuk memuji dirinya sendiri. Perkataan yang sifatnya personal yang menyentuh kekurangan orang lain harus digunakan dengan hati-hati, sebab diskursus kiranya harus menjadi ibarat sebuah ladang di mana semua orang bisa tinggal dengan nyaman tanpa perlu lagi pulang ke rumah. Saya mengenal dua orang bangsawan, yang berasal dari barat Inggris, yang salah satunya selalu dicemooh, namun selalu bersukacita di dalam rumahnya; sementara yang satu akan selalu bertanya tentang orang-orang yang berada di meja lain, katakanlah dengan jujur, apakah di meja sana tak pernah ada suatu cemohan atau lelucon yang mencela aku? Maka, para tamu akan menjawab, sungguh, hal-hal yang semacam itu telah berlalu. Dan sang tuan rumah akan berkata, aku berpikir bahwa orang ini kiranya telah merusak makan malam yang indah ini.

Keleluasaan pembicaraan melebihi kefasihan berbicara; dan berkata kepada dia yang menyenangkan yang dengannya kita bersepakat melebihi berbicara dalam kata-kata yang baik atau dalam keteraturan yang baik. Suatu pembicaraan yang baik yang berkelanjutan, tanpa suatu jawaban yang baik pula dari lawan bicara, menunjukkan kelambatan: dan suatu jawaban atau tanggapan yang baik, tanpa suatu perkataan yang berkesinambungan yang baik menunjukkan kedangkalan dan kelemahan pula. Seperti yang kita lihat dalam dunia binatang, bahwa mereka yang terlemah dalam berjalan adalah yang tergesit dalam berbalik seperti yang terjadi antara anjing jenis greyhound[2] dan trewelu. Memanfaatkan terlalu banyak fakta sebelum masuk ke dalam persoalan meletihkan; tidak menggunakan sama sekali fakta-fakta yang ada adalah suatu ketumpulan.

[1] Tari galliard (galliarde dalam Perancis; gagliarda dalam bahasa Italia) adalah tarian langkah kaki yang diiringi dengan musik yang pada umumnya terdiri dari lima langkah kaki, berasal zaman Renaissance dan begitu populer di seluruh Eropa pada abad ke 16. Tari galliard menjadi tarian favorit Ratu Elizabeth I.

[2] Anjing jenis greyhound adalah anjing yang terkenal karena kecepatan larinya sehingga biasa diadu dalam balapan (balapan anjing).

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply