Catatan Penerjemah

bbe25fedbcde21901ebe9c1247410576 Essai-Essai Atau Pertimbangan-Pertimbangan Kenegaraan Dan Moral mencakup berbagai tema, ditulis dengan kejernihan pikiran dan suatu gaya bahasa yang indah serta diwarnai dengan kepadatan makna yang reflektif.  Jelas, buku ini bukan suatu dogma atau suatu idealisme bagi kehidupan kenegaraan dan politik ataupun moral, namun apa yang ditulis Bacon merupakan suatu koleksi dan penyelidikan yang cerdik tentang bagaimana seseorang kiranya berhadapan dan mengisi hidup kenegaraan, politik, moral dan sehari-hari sebagaimana adanya sesuai dengan keagungan diri manusia. Maka, Essai-Essai Atau Pertimbangan-Pertimbangan Kenegaraan Dan Moral ibarat kebebasan seorang sahabat yang memberikan nasihat supaya diri terbebas dari para perayu ulung yang tak lain adalah diri sendiri dan supaya sampai kepada terang dan pengertian serta tindakan. Sebagai sahabat, segala nasihat yang disampaikan ini bukan suatu keharusan yang memaksa agar dilakukan tetapi merupakan suatu pertimbangan, pilihan dan referensi untuk berkonsultasi, menimang-nimang, berefleksi akan segala perkara yang terjadi melalui kebenaran, sejarah, filsafat, kitab suci bahkan fabel atau dongeng. Kebenaran: karena, seperti yang dikatakan Bacon, kebenaran yang hanya menilai kebenaran itu sendiri, mengajarkan bahwa penyelidikan akan kebenaran adalah rayuan cinta atau cumbuan cinta, pengetahuan akan kebenaran, yang merupakan kehadiran dari kebenaran, dan keyakinan akan kebenaran, yang merupakan kenikmatan akan kebenaran, adalah kedaulatan agung yang berasal dari kodrat manusia. Sementara, sejarah meletakkan nilai-nilainya dalam peristiwa-peristiwa yang lampau bukan sebagai asumsi sistem ide tetapi sebagai kecermelangan untuk berpikir dan membentuk sikap moral dan etika yang benar; di dalam sejarah mengendaplah hasrat dan ada historis manusia sehingga makna dan arti sejarah harus digali supaya sejarah menjadi pembelajaran dan cermin bagi masa sekarang dan masa depan dalam horizon kemenangan kehormatan yang adalah penyingkapan keutamaan dan nilai yang dihidupi oleh manusia tanpa adanya kepalsuan. Filsafat itu sendiri dengan daya kritisnya ibarat pedang yang menghancurkan kepicikan, kebodohan manusia dan membedah pikiran manusia supaya bebas dari ketakhayulan, ilusi, iman dan kebenaran palsu. Semua kepalsuan dan segala kebodohan serta moral dan etika yang bobrok baik dari para pemimpin maupun rakyat membahayakan dan menghancurkan negara. Sebab semuanya itu adalah tanda bahaya bahkan realitas definitif bahwa negara berada di dalam badai yaitu tergiring kepada hasutan, kerusuhan dan kekacauan. Kitab suci adalah lentera yang menerangi segala sesuatunya supaya sampai kebenaran; suatu jembatan membawa manusia kepada tujuan sejati; dan sebuah kompas yang menunjukkan ke mana segala sesuatunya harus berjalan. Fabel atau dongeng membuat essai ini menjadi suatu diskursus yang mencerahkan dan inspiratif tetapi juga menyindir, mengkritisi dan penuh satir dengan kesegaran dan kenyamanan karena seperti kata Bacon diskursus kiranya harus menjadi ibarat sebuah ladang di mana semua orang bisa tinggal dengan nyaman tanpa perlu lagi pulang ke rumah.

Memang essai-essai Bacon diwarnai oleh iman Kristiani karena Bacon sendiri memang seorang Kristiani yang mengerti seluk beluk ajaran Kristiani, tetapi essai ini dipersembahkan bagi semua terutama seperti kata terakhir bacon sebelum kematiannya: “Demi namaku dan ingatan, aku meninggalkannya bagi manusia yang memiliki kefasihan bertutur kata yang indah dan bagi bangsa-bangsa asing dan bagi generasi yang akan datang”; dan demi tindakan kenegaraan yaitu demi memajukan bangsa; serta untuk menjadi handal dan cerdik dalam bergulat dengan urusan-urusan praktis sehari-hari dalam koridor keutamaan dan kebebasan.

Maka, semua catatan kaki yang ada di dalam Essai-Essai Kenegaraan Dan Moral berasal dan diberikan oleh penerjemah supaya para pembaca mengerti konteks, situasi dan maksud Bacon sendiri karena tulisan Bacon merupakan buah permenungan, buah kritikan, buah sindirian akan peristiwa aktual di zamannya. Tanpa mengenal dan memahami para tokoh, situasi, latar belakang historis, peristiwa yang disebut oleh Bacon akan mengasingkan dan menjauhkan diri dari maksud dan tujuan Bacon. Selain itu, supaya terjemahan ini tidak semakin kehilangan konteks dan keotentikannya karena semua buku terjemahan adalah ibarat air yang disuling sehingga menjadi tawar dan tak  berasa. Catatan kaki di sini diambil dari berbagai sumber dan sifatnya menjelaskan dan menguraikan serta kadang berupa komentar. Gambar-gambar yang ada di dalam buku ini juga diberikan oleh penerjemah bukan untuk menghiasi atau dekorasi tetapi agar para pembaca dapat mengkontemplasikan lalu menjadi seperti kata Bacon supaya mendekat pada pergulatan dan hati manusia. Gambar-gambar di sini diambil dari berbagai lukisan.

Terjemahan ini dipersembahkan untuk yang pertama: Sigfried Paul Zahnweh yang telah mengajarkan kontemplasi dan suri teladan karena kontemplasi menerangi segala peristiwa menjadi penuh makna berlimpah-limpah sehingga mengusir ketiadaan makna dan suri teladan membuat pengetahuan, moral dan etika sebagai yang hidup, yang nyata bukan sekedar utopia atau mimpi. Kontemplasi dan suri teladan yang beliau ajarkan memancangkan tiang identitas diri yang kokoh. Yang kedua untuk Laurensius Sutadi yang telah mengajarkan bagaimana untuk mencintai pengetahuan karena pengetahuan adalah kebijaksanaan dan -seperti kata Bacon sendiri- pengetahuan adalah kekuatan (knowledge is power). Semangat beliau yang tunjukkan dan ajarkan telah mematrikan kata-kata Immanuel Kant sapere aude (Beranilah mengetahui) di dalam hasrat untuk selalu mencari dan memperdalam pengetahuan dan tak pernah lupa bahwa pengetahuan merupakan jalan bertanggung jawab demi dan untuk kehidupan. Yang ketiga adalah untuk Bertold Anton Parreira yang telah mengajarkan bagaimana untuk mencintai kitab suci karena kitab suci sendiri adalah penjaga yang mengarahkan dan membimbing pengetahuan kepada sang kebijaksanaan dan kebenaran itu sendiri lewat berbagai untaian peristiwa yang terjadi di dalam hidup ini.

Catatan: Terjemahan ini hanya untuk penyebaran pribadi saja dan belum mendapat izin dari  pemegang hak cipta  yaitu Harvard Classics, Vol. 3, Part 1 Essays, Civil and Moral NEW YORK: P.F. COLLIER & SON COMPANY, 1909–14 NEW YORK: BARTLEBY.COM, 2001

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply