Mengupas Fear and Trembling Soren Kierkegaard

Lukisan Rembrandt, The Sacrifice of Isaac, 1635

 

 

                Once I am dead, Fear and Trembling alone will be enough for an imperishable name as author. Then it will be read, translated into foregin languange as well

(Soren Kierkegaard)

Kierkegaard, sang filosof Denmark, adalah seorang pengembara iman Kristiani. Pengembaraan imannya itu terlukis di dalam salah satunya bukunya Fear and Trembling. Dalam Fear and Trembling, ia mencoba memahami, menafsirkan cerita kitab suci Kejadian 22: 1-19 dari sudut filosofis. Sebab Kejadian 22: 1-19 itu adalah salah satu cerita terhebat yang pernah ada dimuka bumi ini. Hebat karena penuh dengan misteri iman. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Kierkegaard mencoba menguak kekayaan arti teks kitab suci tersebut yang tersembunyi di bawah teks itu.

Ia membuka bukunya dengan judul Exordium. Exordium dimaksudkan oleh Kierkegaard untuk membahasakan kembali cerita kitab suci secara berbeda dengan teks aslinya. Ia hendak menggambarkan situasi batin dan pergulatan Abraham yang paling eksistensial yaitu kegelisahan ketika harus mengorbankan Iskak di gunung Moria. Ada empat versi cerita tentang Abraham yang akan mengorbankan Iskak. Tujuan Kierkegaard adalah mau menunjukkan bahwa Abraham itu pantas menyandang gelar bapa iman kaum Kristiani karena ia berhasil mengalahkan kegelisahan dan sungguh berpasrah kepada kehendak Tuhan. Mari kita simak salah satu Exordium tentang Abraham yang dibahasakan secara berbeda oleh Kierkegaard.

Abraham mengajak Iskak -anaknya- ke gunung Moria. Dalam perjalanan, ia memandangi Iskak dan memegang tangannya dengan penuh kelembutan. Namun Iskak tidak mengerti apa yang dilakukan sang ayah. Lalu Abraham bersama Iskak mulai mendaki gunung Moria dan sang anak tetap tidak mengerti segala sesuatunya. Tiba-tiba Abraham berhenti dan memandangi kembali sang anak. Pandangannya kali ini adalah pandangan yang liar, kejam dan penuh teror. Ia melemparkan anaknya sambil berseru bahwa ia adalah seorang penyembah berhala. Dan berkata bahwa semua ini adalah kehendaknya dan bukan perintah Tuhan. Isak pun menangis dalam kesedihan dan berteriak kepada Tuhan: “Bapa di surga, kasihanilah aku, Tuhan Abraham kasihanilah aku; jika aku tidak memiliki bapa di bumi ini, maka Engkaulah bapaku. Mendengar itu, Abraham berbisik dengan lembutnya kepada dirinya sendiri “Bapa di surga, aku bersyukur kepadamu; lebih baik dia percaya bahwa ayahnya seorang monster daripada kehilangan iman akan Dirimu”. Demi iman anaknya, Abraham mengaku dirinya sebagai seorang penyembah berhala.

Bagi Kierkegaard Abraham itu sungguh seorang ksatria iman. Sebagai seorang ksatria iman Abraham menjadi seorang termasyur dari yang termasyur. Dan orang yang termasyur tidak akan pernah dilupakan. Lagi pula orang menjadi masyur menurut jalannya sendiri-sendiri. Ada yang menjadi masyur karena perjuangannya; ada yang menjadi hebat karena menaklukkan dunia atau pun dirinya sendiri. Tetapi yang termasyur diantara semuanya itu adalah orang bergulat dengan Tuhan. Mengapa? Mudah bagi setiap orang untuk meniru perbuatan Abraham mengorbankan anaknya jika tidak memiliki iman. Tetapi justru imanlah yang membuat sulit bagi Abraham untuk mengerti perintah Tuhan dan semua yang ingin menirunya. Sulit karena bagaimana mungkin Tuhan yang penuh kasih meminta satu-satunya anak yang dikasihi Abraham bahkan anak terjanji untuk dikorbankan sebagai persembahan kepada Tuhan sendiri. Pergulatan ini melampui pergulatan orang yang menaklukkan dirinya sendiri bahkan dunia. Pergulatan Abraham itu membutuhkan iman yang luar biasa. Tidak mudah dan bukan sembarang orang yang memiliki iman yang seperti itu. Karena itulah dia menjadi yang termasyur di antara yang termasyur. Orang dapat meniru orang-orang hebat yang pernah ada di muka bumi ini dengan berbuat apa yang mereka lakukan. Tetapi hanya dengan iman seseorang dapat menjadi serupa dengan Abraham. Demikianlah klaim Kierkegaard atas kemasyuran Abraham.

Kata Kierkegaard: iman itu suatu paradoks. Buktinya dengan iman Abraham mau membunuh anaknya demi menuruti perintah Tuhan. Dengan iman tindakannya itu dianggap tindakan yang kejam tetapi juga tindakan yang suci. Berkat iman pula, Abraham mendapatkan kembali anak yang dikasihinya dan bahkan Tuhan makin berkenan kepadanya. Paradoks iman mau mengatakan bahwa pikiran tidak akan pernah mampu memahami iman itu sendiri. Mengapa pikiran tidak akan pernah mampu menaklukkan iman? Karena iman terjadi dan dimulai ketika pikiran berhenti berpikir. Tentu hal ini menimbulkan persoalan. Persoalan merupakan problem aspek dialektis yang terlukis secara implisit dalam cerita Abraham.  Ada tiga problem:

  1. apakah ada suatu suspensi etis yang bersifat teleologis?

Melalui problem yang pertama, Kierkegaard mau membenturkan tindakan Abraham dengan etika. Etika itu selalu memiliki karakteristik universal. Karena karakternya yang universal, etika diaplikasikan kepada semua orang dan berlaku sepanjang masa. Dengan demikian sesorang dikatakan hebat, cemerlang dan beretika jika orang itu mampu memenuhi tuntutan yang universal itu. Tuntutan yang universal berarti  penyangkalan dan peniadaan individualitas, singularitas demi yang universal. Sementara iman itu adalah suatu individualitas, subyektivitas, pengalaman personal. Ada kontradiksi antara etika dan iman. Kontradiksi ini menyebabkan iman menjadi suatu paradoks. Paradoks terletak pada kenyataan bahwa iman itu menyangkut tindakan individu, pengalaman personal dan tentu saja sering kali berlawanan dengan yang universal itu. Tindakan Abraham yang mau mengorbankan Iskak demi perintah Tuhan di mata etika tentu adalah tindakan konyol dan keliru bahkan absurd. Namun justru ketika Abraham melawan etika dan di dalam absurditas, Abraham malah mendapatkan apa yang tidak diberikan oleh etika yaitu kasih Tuhan. Kasih-Nya hanya diberikan kepadanya melalui iman bukan dengan etika. Tindakan individu atau subyektivitas yang menjadi pioner di dalam iman lebih cermerlang dibanding obyektivitas, universalitas yang menjadi kebanggaan etika. Dengan demikian menurut Kierkegaard tindakan individual, pengalaman personal, subyektivitas –dalam hal ini iman- lebih hebat daripada universalitas milik etika. Dengan kata lain etika tidak akan pernah mengerti apa yang dilakukan oleh iman. Iman selalu melampui etika. Iman itu tidak akan pernah bisa dijelaskan kepada orang lain. Iman itu selalu merupakan kekayaan personal dari pribadi yang bersangkutan. Hanya pribadi yang bergulat dengan iman yang dapat memahami misteri iman itu sendiri. Kierkegaard membuktikan hal itu dengan membandingkan cerita Abraham dengan pengalaman Perawan Maria ketika ia menerima kabar bahwa ia mengandung dari Roh Kudus. Peristiwa Maria mau menunjukkan bahwa misteri iman tidak mungkin untuk dipahami oleh orang lain. Abraham dan Marialah yang dapat memahami misteri iman yang hadir di dalam diri mereka. Jadi iman bagaikan seorang pengembara yang berjalan sendirian di jalan yang sempit serta terjal. Tak ada satupun orang yang akan mengerti seorang pengembara iman. Absurditas yang demikian membuat iman menjadi suatu kekaguman, kecermerlangan. Kecermerlangan itu membuat iman tidak bisa dilepaskan dari hidup manusia. Mengapa? Karena manusia selalu menghasratkan yang cemerlang itu. Akhirnya iman itu sendiri adalah passion. Dan passion itulah yang menciptakan persatuan di antara manusi

2. Apakah ada kewajiban absolut kepada Tuhan?

Kewajiban absolut adalah kewajiban yang diperintahkan Tuhan. Contohnya kewajiban untuk mencintai sesama. Titik sentrum problem yang kedua berkaitan esensi kewajiban itu sendiri. Kewajiban itu menjadi kewajiban secara per se jika kewajiban itu dirunut kembali kepada Tuhan sendiri. Sayangnya di dalam praktis kewajiban absolut, aku tidak masuk  ke dalam relasi dengan Tuhan tetapi di dalam relasi dengan sesama yang aku cintai. Mengapa? Karena Tuhan itu sesuatu yang abstrak. Realitas yang seperti inilah yang terjadi di dalam etika. Itu berarti bahwa etika menyangkal kewajiban absolut kepada Tuhan. Sebab etika selalu mengasumsikan bahwa eksterioritas itu lebih tinggi daripada interioritas. Tentu saja hal ini tidak berlaku di dalam iman. Di dalam iman yang terjadi adalah interiositas itu lebih tinggi daripada eksterioritas. Di sini rupanya Kierkergaard membalik pernyataan Hegel yang amat mengagungkan eksterioritas daripada interioritas. Bagi Hegel eksterioritas adalah universalitas. Universalitas Hegel tentu tidak akan pernah mengerti tindakan Abraham. Bahkan tindakan Abraham itu akan dipandang sebagai tindakan egoisme dan bukan demi Tuhan. Tidak demikian dengan iman. Perbuatan iman itu selalu memiliki dua tujuan. Yang pertama tentu seperti yang dikatakan etika yaitu egoisme yang tertinggi. Yang kedua adalah yang tersembunyi dan yang tidak dilihat oleh etika yaitu suatu kesetiaan mutlak kepada Tuhan dan demi kehendak-Nya. Dua tujuan ini mau mengatakan bahwa iman sekali lagi adalah suatu paradoks. Oleh sebab itu, iman tidak dapat dimediasikan dengan universalitas. Tindakan  iman yang bersifat subyektif tidak akan pernah dimengerti oleh siapa pun. Inilah keagungan seorang ksatria iman. Seorang ksatria iman tidak akan pernah mampu mengajari orang lain untuk menjadi ksatria iman. Sebab seseorang menjadi ksatria iman hanya melalui pengalaman personalnya. Ksatria iman lahir ketika seseorang menerima paradoks dan sebaliknya seseorang tidak akan pernah menjadi ksatria iman jika menolak paradoks. Paradoks yang dimaksud adalah adanya suatu kewajiban absolut kepada Tuhan yang tidak dilihat oleh universalitas. Tindakan Abraham mengorbankan Iskak merupakan salah satu realitas kewajiban absolut kepada Tuhan. Kewajiban absolut dapat membawa seseorang untuk melakukan apa yang dilarang oleh etika. Tetapi kewajiban absolut tidak pernah membuat sesorang untuk berhenti mencintai. Abraham telah menunjukkan hal ini. Abraham mencintai Iskak dengan seluruh jiwanya. Ketika Tuhan meminta Iskak, Abraham makin mencintai anaknya. Karena itulah dia mampu mengorbankan anaknya demi kasihnya kepada Tuhan. Etika menganggap tindakan Abraham sebagai seorang pembunuh. Akibatnya hidup seorang ksatria iman penuh penderitaan. Penderitaan itu berupa ketidakberdayaan dirinya untuk membuat etika dan universalitas mengerti tindakannya. Tidak hanya itu saja, dia juga tidak memiliki hasrat untuk mengajarkan apa yang dilakukannya kepada orang lain. Sebab seorang ksatria iman itu hanyalah seorang saksi bukan guru. Kewajiban absolut kepada Tuhan tidak bisa dilepaskan dari hidup seorang ksatria iman. Jadi seorang ksatria iman melalui tindakan individual dan subyektivitas pasti selalu memiliki kewajiban absolut kepada Tuhan. Maka jika memang kewajiban absolut itu ada, maka, kewajiban absolut adalah suatu paradoks. Sebab  Abraham sebagai individu tunggal lebih tinggi dari pada universal dan sebagai invidividu tunggal Abraham berada di dalam relasi absolute dengan sang absolute, jika tidak demikian Abraham pun tidak mengada.

3. Apakah secara etis Abraham dibenarkan untuk menyembunyikan perbuatannya itu dari Sarah, Eliezer dan Iskak?

Untuk memenuhi perintah Tuhan, Abraham tidak mengatakan apa pun baik kepada Sara, Eliezer bahkan Iskak. Abraham tak bersuara dan menyembunyikan perintah itu terhadap siapa pun. Menurut Kierkegaard tak bersuara merupakan setan dan ilahi . Tak bersuara itu jelas jebakan iblis. Dan semakin tak bersuara semakin mengerikan sang iblis. Mengapa? Tak bersuara itu menolak penyingkapan, meniadakan keterbukaan dan tinggal di dalam ketersembunyian. Hal yang demikian adalah identik dengan iblis. Tetapi di sisi lain tak bersuara adalah suatu keilahian yang dipenuhi dengan pengertian iman. Sebab iman menolak penyingkapan, keterbukaan. Iman itu subyektif dan personal sehingga tidak mampu untuk diungkapkan, dikatakan kepada universalitas. Padahal universalitas dan etika itu selalu meminta keterbukaan dan penyingkapan (disclosure). Lantas ketika Abraham berdiam diri di hadapan Sarah, Eliezer dan  Iskak seolah-olah Abraham melewati tiga otoritas etika. Oleh sebab itu, Abraham berada di dalam dilema. Dilema Abraham itu menciptakan ketegangan dan kegelisahan di dalam dirinya. Abraham sendirian. Kesendirian Abraham mau mengatakan bahwa Abraham bukan pahlawan etika. Pahlawan etika mengorbankan dirinya dan segala sesuatunya demi universalitas. Tindakan dan emosinya milik universalitas. Dalam keterbukaan dan penyingkapan dia menjadi pahlawan etika. Keterbukaan membuat pahlawan etika tidak pernah tahu arti suatu kesendirian. Tentu hal ini tidak sesuai dengan Abraham. Dia tidak melakukan apa pun untuk universalitas dan dia menyembunyikan segala sesuatunya serta tak bersuara. Dia bersuara bukan di dalam bahasa manusia, melainkan di dalam bahasa ilahi. Di dalam bahasa ilahi dia membuat dua perjalanan. Perjalanan pertama berupa kepasrahan iman yang tidak akan pernah dipahami oleh setiap orang karena hal ini adalah sebuah pengembaraan yang sifatnya privat. Perjalanan yang kedua adalah perjalanan iman. Inilah kegembiraannya. Dia tinggal di dalam kebenaran demi cintanya. Cintanya adalah Tuhan sendiri. Setiap orang yang mencintai Tuhan tidak membutuhkan tangisan, pujian. Orang yang mencintai Tuhan melupakan penderitaannya di dalam cintanya kepada Tuhan. Itu berarti bahwa tindakan Abraham tidak akan pernah dibenarkan jika iman itu tidak melampaui universalitas. 

Akhirnya Fear and Trembling ditutup dengan sebuah epilog yang menyatakan bahwa iman adalah hasrat tertinggi di dalam manusia . Maka, manusia yang beriman tidak akan pernah berhenti mencari dan memahami imannya. Berhenti untuk mencari dan memahami iman membuat iman tidak bertumbuh. Iman itu dinamis dan tidak pernah ada ukuran yang mampu mengukur iman. Oleh sebab itu kata Kierkegaard menyoal iman“One must go further, one must go futher”

 

Tanggapan

Melalui Fear and Trembling, Kierkegaard mencoba mengajak orang-orang Kristiani untuk merenungkan kembali imannya. Iman bagi Kierkegaard tidak bisa diharmonikan dengan universalitas, obyektivitas. Sebab iman memiliki rasionalitasnya sendiri dan berbeda dengan rasionalitas milik universalitas. Di sini Kierkegaard mau mendobrak kehebatan rasionalitas dan universalitas yang amat dipuji oleh Hegel. Bagi Hegel yang absurd dan segala sesuatu yang berada di luar jangkuan obyektivitas adalah hal tidak dapat dibenarkan. Kierkegaard menantang Hegel dengan mengklaim bahwa obyektivitas itu di bawah subyektivitas. Universalitas dan obyektivitas bukanlah yang paling sempurna dan terhebat. Buktinya universalitas dan obyektivitas tidak pernah mampu masuk dan menembus serta memahami segala sesuatu yang berada di dalam wilayah iman. Sebagai gantinya yang dapat mengerti dan menembus wilayah iman hanyalah subyektivitas dan interioritas.

 Maka, iman tetap memiliki kapasitas untuk bersaing dengan yang obyektivitas. Sebab iman itu memiliki mata yang melihat dan mengerti apa yang tidak dilihat dan dimengerti oleh universalitas dan obyektivitas. Dengan demikian iman bukanlah suatu kebodohan dan sesuatu yang tidak berguna di tengah budaya yang memuja rasionalitas saat ini. Iman tetap memiliki suatu relevansi di dalam hidup peradaban modern sekarang ini. Relevansinya adalah pengalaman personal dengan Tuhan yang hadir di dalam setiap peristiwa hidup. Juga imanlah yang memunculkan insipirasi-inspirasi, ide-ide baru yang berguna bagi kemajuan zaman. Selain itu, iman itu menjaga tiap pribadi agar tidak jatuh ke dalam nihilisme seperti yang digagas oleh Nietszche. Relevansi dan sumbagan iman yang seperti itu jelas tidak pernah ditangkap oleh obyektivitas ataupun rasionalitas. Relevansi dan sumbangannya hanya dapat dirasakan di dalam pengalaman personal dan subyektivitas. Tentu pemikiran Kierkegaard menguatkan bagi kaum beriman untuk berani menerima dan bergulat dengan yang absurd, di luar nalar. Suatu ajakan keberanian untuk berjalan sendirian di tengah peradaban sekarang ini yang amat mengagungkan rasionalitas, obyektivitas dan verifikasi. Jadi Kierkegaard menjadikan iman sebagai pandangan hidup(weltanschauung) dan cara hidup orang beriman dalam pergulatannya  mengisi kehidupan.

Iman sebagai subyektivitas dan melampui yang universalitas itu mengakibatkan iman tertutup bagi segala sesuatunya. Tertutupnya iman membuat iman menjadi hal absolut. Absolut itu mau mengatakan bahwa dialah yang paling benar dan tidak bisa diganggu gugat serta segala sesuatunya tunduk di bawahnya. Tidak ada celah untuk bisa masuk ke dalam wilayah iman. Dengan demikian tidak ada kaidah yang menguji iman. Bahaya yang ditimbulkan adalah hal ini dapat membuat iman jatuh ke dalam kegelapan fundamentalis. Orang menjadi beriman secara buta. Beriman secara buta membuat orang dengan mudahnya bertindak secara irasional.

Iman bukan lagi sesuatu yang cemerlang dan menyelamatkan tetapi menjadi sesuatu yang membinasakan kehidupan. Lihat saja korban-korban irasionalitas iman. Mulai dari perang salib bahkan sampai situasi konflik di Suriah, Afghanistan dan bahkan di Indonesia. Dengan demikian Kierkegaard jatuh di dalam pengabsolutan iman yang tentu saja memiliki resiko yang besar pula. Bagaimanapun juga iman tetap membutuhkan rasionalitas. Fides quarens intellectum. Jika iman dilepaskan dari rasionalitas ataupun obyektivitas lalu siapa yang dapat menjamin kebenaran iman. Iman juga butuh ekplorasi akal budi dan obyektifnya agar sisi-sisi irasionalitasnya dapat dikupas. Jadi ketika Kierkegaard menjadikan iman sebagai weltanschauung mungkin malah menjebak orang dalam irasionalitas iman itu sendiri. Orang beriman hanya mencintai kelompok iman yang sama dan membenci yang iman yang lain sehingga menolak berelasi dengan yang lain, persoalan ketidakadilan, kemiskinan, kebatilan disalahkan kepada iman yang lain lalu menyakini bahwa imannya hanya satu-satunya yang mampu menyelamatkan dunia dari persoalan yang berlangsung. Dengan demikian iman sebagai weltanschauung menguatkan dan menyuburkan fundamentalis beragama yang saat ini menjadi momok bagi perdamaian dunia.

 

 

 

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply