Lukisan: Joaquim Mir Trinxet, Fantasia del Ebro, 1930

Sirakh 29: 21-28
- Kebutuhan pokok untuk hidup ialah air dan makanan serta pakaian dan perumahan untuk menudungi ketelanjangan.
- Hidup seorang miskin di bawah pondok dari papan adalah lebih baik daripada sedap-sedapan yang mewah di rumah orang lain.
- Baik jika banyak maupun kalau sedikit, hendaklah sejuk hati, maka takkan kaudengar comelan karena merantau.
- Buruklah kehidupan orang yang mesti pergi dari rumah ke rumah, sebab tempat merantau engkau tidak boleh membuka mulut.
- Sebab engkau hanya seorang pendatang dan memberi minum tanpa mendapat terima kasih, dan di samping itu mesti mendengar perkataan yang menyakiti hati ini:
- Kemari, hai perantau, siapkanlah meja, dan kalau mempunyai apa-apa, berilah aku makan!
- Silakan pergi, hai perantau, guna orang terhormat, saudaraku datang bertamu padaku; aku membutuhkan rumahku.
- Sungguh beratlah semuanya itu bagi orang yang halus perasaannya, yaitu: dicaci maki karena merantau dan dicemoohkan sebagai orang yang berhutang.
Eksegese
- Kebutuhan pokok untuk hidup ialah air dan makanan serta pakaian dan perumahan untuk menudungi ketelanjangan.
Sirakh menyatakan bahwa air, makanan, pakaian dan perumahan merupakan hal mendasar agar manusia dapat hidup dengan layak. Menarik bahwa Sirakh menyatakan perihal pakaian untuk menutupi ketelanjangan. Telanjang yang dimaksud Sirakh bukan hanya telanjang fisik tetapi juga berkaitan dengan martabat manusia. Pakaian untuk menutupi ketelanjangan mengungkapkan terpenuhinya martabat manusia. Dengan demikian, orang yang tidak memiliki keempat hal pokok tersebut atau salah satu kebutuhan itu tidak tercukupi berarti dia hidup di dalam kekurangan, mengalami rasa malu dan bisa tidak berharga di hadapan sesamanya.
- Hidup seorang miskin di bawah pondok dari papan adalah lebih baik dari pada sedap-sedapan yang mewah di rumah orang lain.
Pada ayat ini, Sirakh menegaskan soal kemandirian. Sedap-sedapan terkait dengan kenikmatan. Menikmati kenikmatan di rumah orang lain bisa menyenangkan tetapi juga memiliki konsekuensi. Dalam perjalanan waktu, karena kelekatan pada kenikmatan bisa jadi orang akan kehilangan kebebasan dan beresiko tergantung pada kemurahan hati orang lain. Ketika ia sudah terbiasa tergantung dengan kemurahan hati orang lain, ada bahaya yang mengintai bahwa orang akan berharap pada kemurahan hati orang lain lalu orang bisa tidak lagi percaya pada kemampuan diri sendiri. Bahkan rasa aman dan harga diri pun menjadi pertaruhannya.
Melihat resiko itu, menurut Sirakh bahwa hidup miskin di bawah pondok yang terbuat dari papan adalah lebih baik karena orang memiliki kebebasan, tidak tergantung pada orang lain dan memiliki harga diri sendiri. Ia berdikari sendiri dan itu lebih bermartabat daripada mengandalkan ataupun memohon kemurahan hati orang lain.
- Baik jika banyak maupun kalau sedikit, hendaklah sejuk hati, maka takkan kaudengar comelan karena merantau.
Sikap mendasar yang diperlukan dalam hidup adalah sejuk hati. Sejuk hati dapat diartikan sebagai keadaan batin yang damai, tentram dan penuh sukacita. Dengan sejuk hati orang akan merasa cukup dan cukup itu berarti penuh syukur terhadap kebaikan yang telah diterima entah banyak ataupun sedikit. Memang kita tidak pernah tahu ukuran kecukupan seseorang. Tapi setidaknya dengan sejuk hati orang tidak mudah terdorong mencari kehidupan yang bergantung kepada orang lain. Ia pun bisa terhindar dari penghinaan yang biasa dialami oleh orang yang merantau. Tujuan orang merantau atau menumpang bisa mempunyai berbagai macam alasan. Tetapi orang yang merantau menurut Sirakh beresiko direndahkan dan dicela terutama ketika dia bergantung kepada belas kasihan orang lain.
- Buruklah kehidupan orang yang mesti pergi dari rumah ke rumah, sebab tempat merantau engkau tidak boleh membuka mulut. 25. Sebab engkau hanya seorang pendatang dan memberi minum tanpa mendapat terima kasih, dan di samping itu mesti mendengar perkataan yang menyakiti hati ini: 26. Kemari, hai perantau, siapkanlah meja, dan kalau mempunyai apa-apa, berilah aku makan! 27. Silakan pergi, hai perantau, guna orang terhormat, saudaraku datang bertamu padaku; aku membutuhkan rumahku. 28. Sungguh beratlah semuanya itu bagi orang yang halus perasaannya, yaitu: dicaci maki karena merantau dan dicemoohkan sebagai orang yang berhutang.
Pada ayat 24-28, Sirakh mempertegas nasib, kesedihan sekaligus melukiskan penderitaan orang yang merantau.
Bagi Sirakh orang yang merantau dengan berpindah-pindah rumah atau tempat merupakan hal yang menyedihkan. Sebabnya dia tidak lagi mempunyai kebebasan untuk berbicara maupun bertindak setelah mendapat rumah untuk menumpang. Hal ini membuat dia tergantung kepada belas kasihan si pemilik rumah. Akibatnya martabat orang perantau begitu rendah di mata si pemilik rumah. Dia tidak punya kedudukan sama sekali. Kebaikan dan jasanya pun tidak diperhitungkan. Terlebih, ia diperlakukan seperti seorang pesuruh. Dan sebagai pesuruh dia hanya disuruh dan diperintah oleh pemilik rumah untuk menuruti keinginan dan kemauan si pemilik rumah. Mustahil membantah apalagi menolak. Jelas, orang merantau tidak berdaya sama sekali dan tak punya daya tawar. Nasibnya tidak jelas, dan tidak aman dan tergantung pada si pemilik rumah. Sewaktu-waktu dia bisa diusir oleh si pemilik rumah pada saat pemilik rumah membutuhkan rumah tersebut. Hari-harinya dipenuhi dengan rasa ketidakpastian akan di mana nanti akan tinggal selanjutnya. Maka perasaan orang yang merantau adalah malu tak tertahankan. Dia tidak bisa melawan atau mengungkapkan perasaannya. Hanya bisa diam, memendam dan menanggung cemooh sebagai orang yang berutang. Dia dikatakan sebagai orang yang berutang karena dia diperbolehkan menumpang di rumah orang. Dia berutang bukan untuk uang melainkan akan kebaikan dan kemurahan orang tersebut.
Makna
Keramahtamahan merupakan wujud dari cinta kepada sesama sekaligus bentuk takut akan Tuhan. Maka, Sirakh dalam bab 29:21-28 mengajarkan keramahtamahan yang benar dan sejati. Keramahtamahan kiranya lahir dari cinta yang tulus kepada sesama dan takut akan Tuhan dan bukan dari keinginan untuk menguasai atau merendahkan orang lain. Cinta yang tulus dan takut akan Tuhan dalam rupa keramahtamahan membuat orang melihat bahwa sesama yang hidupnya kurang terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar adalah para malaikat yang hadir dalam rupa ketidakberdayaan manusia. Maka, surat Ibrani 13:2 mengingatkan “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat “(Ibrani 13:2). Keramahtamahan yang sejati tidak berhenti pada memberi, melainkan pada penghormatan terhadap martabat manusia.
Keramahtamahan Sirakh ini juga mengingatkan akan kata-kata Yesus sendiri: “Ketika aku lapar kamu memberi aku makan, ketika aku haus kamu memberi aku minum, ketika aku orang asing kamu memberi aku tumpangan” (Matius 25:35). Dengan demikian keramahtamahan bukan sekedar kewajiban sosial melainkan perjumpaan dengan Kristus sendiri dalam diri orang yang membutuhkan.
Cinta yang tulus dan takut akan Tuhan berawal dari hati yang sejuk. Orang yang sejuk hati biasanya memiliki sikap batin merasa cukup. Orang yang memiliki sikap batin yang merasa cukup adalah orang yang terkaya karena orang yang demikian tidak lagi mendambakan segala sesuatunya, tidak lagi merasa membutuhkan segala sesuatu atau merasa kurang. Orang yang sejuk hati melihat hal-hal yang indah seperti bintang di langit, mawar yang tumbuh di taman, mendengarkan suara burung, kebaikan-kebaikan yang ada di sekitar hidupnya dan mensyukuri segala sesuatunya. Maka, orang yang sejuk hati akan merasakan bahwa dia telah dicintai dan anugerahi kebaikan Tuhan sehingga sekarang dia membalas segala kebaikan Tuhan dengan memberikan keramahtamahan. Akibatnya, orang yang sejuk hati menolak mengubah keramahtamahan menjadi penindasan. Ketika keramahtamahan menjadi bentuk menghina dan memperlakukan sesama hanya sebagai pesuruh, maka keramahtamahan kehilangan hakikatnya: keramahtamahan berubah menjadi penindasan. Ia bertopeng keramahtamahan tetapi berwujud kebencian.
Sirakh juga mengkritik orang yang kehilangan kemandirian karena bergantung kepada kemurahan hati dan kebaikan orang lain. Orang yang kurang tidak bisa terus-menerus mengandalkan kebaikan orang lain. Kemurahan hati orang juga ada batasnya dan ada saatnya akan berhenti. Sebenarnya, kemurahan hati orang lain merupakan pertolongan sesaat yang mana orang harus berjuang membangun kemandiriannya sendiri. Hidup kemandirian yang diajarkan Sirakh bukanlah kesombongan untuk hidup tanpa membutuhkan siapa pun, melainkan keberanian menjalani hidup dengan mengandalkan Tuhan dan diri sendiri. Tanpa kemandirian, orang rentan untuk tidak lagi menjadi berharga di mata sesamanya dan lebih mudah diperlakukan secara tidak hormat. Dan Sirakh telah mengingatkan hal itu: Hidup seorang miskin di bawah pondok dari papan adalah lebih baik dari pada sedap-sedapan yang mewah di rumah orang lain.
Copyright © 2026 ducksophia.com. All Rights Reserved