Kekayaan Menurut Kebijaksanaan Sirakh

 

Lukisan: Fernando Amorsolo, Mango Pickers, 1936

Sirakh 31:1-11

1. Berjaga-jaga karena kekayaan memperkurus badan, dan kesusahan karenanya mengeyahkan tidur.

2. Kesusahan karena nafkah tidak membiarkan orang mengantuk, dan tidur dihalaukan sakit keras.

3. Orang kaya bersusah payah sementara hartanya bertambah, dan apabila berhenti ia limpah mewah.

4. Sebaliknya, orang miskin bersusah payah oleh sebab nafkahnya berkurang, dan kalau berhenti ia serba kekurangan.

5. Barang siapa gila emas tidak terlepas dari dosa, dan orang yang memburu-buru uang akan tersesat karenanya.

6. Banyak orang telah terjatuh karena emas dan mesti menghadapi kebinasaannya.

7. Sebab emas menjadi batu sandungan bagi mereka yang mendewakannya, dan setiap orang tolol tertangkap olehnya.

8. Berbahagialah orang kaya yang kedapatan tidak bersalah dan tidak mengejar emas.

9. Siapa gerangan orangnya, maka mesti kita puji bahagia, sebab sesuatu yang ajaib dilakukannya di tengah-tengah bangsanya.

10. Siapa gerangan yang tahan uji terhadapnya dan menyatakan diri sempurna? Itu sungguh menjadi suatu kebanggaan baginya! Siapa orangnya yang dapat bersalah tetapi tidak bersalah juga, yang dapat berbuat jahat tetapi tidak melakukannya?

11. Maka itu kesejahteraannya terjamin, dan amalannya akan diwartakan jemaah.

Eksegese

1. Berjaga-jaga karena kekayaan memperkurus badan, dan kesusahan karenanya mengeyahkan tidur. 2. Kesusahan karena nafkah tidak membiarkan orang mengantuk, dan tidur dihalaukan sakit keras. 3. Orang kaya bersusah payah sementara hartanya bertambah, dan apabila berhenti ia limpah mewah. 4. Sebaliknya, orang miskin bersusah payah oleh sebab nafkahnya berkurang, dan kalau berhenti ia serba kekurangan.

Sirakh membuka kebijaksanaannya dengan seruan untuk berjaga-jaga akan kekayaan. Jelas yang dimaksud dengan kekayaan adalah harta benda seperti emas, uang, rumah, ternak, ladang atau segala yang seseorang miliki secara material. Menurutnya, kekayaan yang dimiliki seseorang membuat orang tersebut kurus badan dan menyusahkan sehingga membuatnya tidak bisa tidur. Sebabnya, kekayaan memang membuat diri untuk terus-menerus menjaga kekayaannya. Alasannya bisa bermacam-macam, misalnya khawatir kehilangan harta bendanya entah dicuri entah ditipu entah salah berdagang; khawatir gagal panen; khawatir bagaimana menambah atau memperbesar kekayaan. Nampaknya, kekhawatiran ini menyertai hidupnya sehari-hari sehingga menjadi beban. Jadi, yang membebani bukan kekayaannya itu sendiri melainkan kekhawatiran. Beban, tindak-tanduk dan usaha yang selalu waspada setiap saat tampaknya menyita pikiran, tenaga dan kesehatan sehingga membuat orang susah tidur dan menjadi kurus. Dengan kata lain membuat hidup tidak tenang, tidak nyaman bahkan bisa jadi tidak menikmatinya. Menjadi orang kaya pun juga tidak tenang dan belum tentu enak karena kekhawatiranya akan kekayaannya. Ayat 2 menggambarkan betapa beratnya perjuangan mencari penghidupan. Mencari nafkah membuat orang untuk bekerja terus-menerus tanpa istirahat. Pikiran dan kesehatan dipicu tanpa henti untuk memenuhi tuntutan hidup. Akibatnya, seseorang terus dibayangi kecemasan yaitu apakah kebutuhan hidup nantinya akan tercukupi. Kecemasan yang membayangi terus ini seperti penyakit serius yang menghalau tidur nyenyak.

Selanjutnya, menurut Sirakh ada kesamaan nasib antara orang kaya dan orang miskin tetapi berbeda di dalam hasilnya. Baik orang kaya dan orang miskin mengalami kesusahan. Kesusahan yang dimaksud dalam konteks ini adalah kesusahan untuk mencari uang. Mereka sama-sama susah yaitu sama-sama bekerja keras tetapi hasil yang mereka nikmati amat berbeda. Jerih payah orang kaya menghasilkan tambahan kekayaan sementara jerih payah orang miskin hanya untuk bertahan hidup. Orang kaya kalau tidak bekerja lagi ia akan menikmati kekayaannya dan karena itu tetap hidup mewah. Sementara orang miskin ketika dia tidak bekerja, ia tambah kekurangan segalanya. Memang demikianlah realitas kehidupan karena ironi nasib antara orang kaya dan orang miskin.

5. Barang siapa gila emas tidak terlepas dari dosa, dan orang yang memburu-buru uang akan tersesat karenanya. 6. Banyak orang telah terjatuh karena emas dan mesti menghadapi kebinasaannya. 7. Sebab emas menjadi batu sandungan bagi mereka yang mendewakannya, dan setiap orang tolol tertangkap olehnya.

Segala kekayaan yang dibahas Sirakh kiranya disimbolkan dengan emas. Emas itu sendiri adalah hal yg disukai, didambakan, dan dicari oleh manusia. Sebab, kilaunya yang menawan, nilainya yang mahal dan membuat orang menjadi kaya jika memilikinya. Maka, daya godaan emas begitu kuat sehingga banyak orang tergila-gila akan emas. Orang yang sudah dirasuki dan dikuasai semangat mendewakan emas dan tanpa lagi mengindahkan kejujuran, moral ataupun takut akan Tuhan pasti tersesat dan jatuh di dalam dosa. Emas itu baik adanya. Namun yang membuat emas jadi batu sandungan adalah kecintaan pada emas. Dan Sirakh menyebut disposisi batin yang demikian sebagai kebodohan. Sebabnya, dalam terang perjanjian lama, cinta yang sesungguhnya adalah cinta kepada Tuhan dan sesama.

Sudah banyak orang yang mencintai emas dalam arti mendewakannya sehingga banyak orang menanggung konsekuensinya yaitu berupa kebinasaan. Kebinasaan ini dapat diartikan misalnya mencari emas sampai mengorbankan kesehatan yang membuat diri sakit, relasi keluarga yang hancur, persaingan yang membawa kerugian kepada diri sendiri dan orang lain, menenggelamkan diri ke dalam kejahatan demi emas dan uang.

8. Berbahagialah orang kaya yang kedapatan tidak bersalah dan tidak mengejar emas. 9. Siapa gerangan orangnya, maka mesti kita puji bahagia, sebab sesuatu yang ajaib dilakukannya di tengah-tengah bangsanya. 10. Siapa gerangan yang tahan uji terhadapnya dan menyatakan diri sempurna? Itu sungguh menjadi suatu kebanggaan baginya! Siapa orangnya yang dapat bersalah tetapi tidak bersalah juga, yang dapat berbuat jahat tetapi tidak melakukannya? 11. Maka itu kesejahteraannya terjamin, dan amalannya akan diwartakan jemaah.

Ayat 8 merupakan pujian Sirakh kepada orang kaya yang mendapatkan kekayaannya dengan cara yang benar sekaligus yang tidak mendewakan emas. Orang kaya yang demikian menurut Sirakh dapat disebut sebagai orang yang berbahagia. Menyaksikan tindakan dan perilaku orang kaya yang demikian dan berbahagia, maka Sirakh mengajak setiap orang untuk memujinya. Dia menjadi teladan bagi orang-orang Israel tentang bagaimana menjadi kaya dengan cara yang benar tetapi juga tidak menjadikan emas sebagai cinta dan prioritas hidupnya. Cara dia yang demikian dan disposisi batinnya yang seperti itu sungguh suatu tindakan yang mengagumkan dan luar biasa, sungguh patut untuk dihormati. Sirakh juga menyatakan orang yang kaya yang demikian patut berbangga kepada dirinya sendiri bukan karena kekayaannya melainkan ia mampu mempertahankan integritasnya. Dengan kekayaannya orang bisa berbuat apa saja demi memperoleh kekayaan termasuk melakukan kejahatan. Namun dia tetap memilih mendapatkan dan mencari kekayaan dengan cara yang benar dan terpuji. Dia tahan uji akan godaan dan tidak tersilaukan dengan kekayaan. Dia berhasil mengalahkan dirinya sendiri dan sekali lagi dia patus berbangga atas integritasnya. Pada akhirnya, kesejahteraannya terjamin karena didapat dengan cara yang benar dan dalam terang Tuhan sehingga ketenangan dan damai ada di dalam hidupnya, tidak dikhawatirkan oleh resiko kekayaan yang didapatkan dengan cara yang tidak baik. Perbuatan baiknya dipuji, dikenang dan diberitakan dari mulut ke mulut sebagai teladan karena kekayaan yang dimilikinya dipergunakan secara benar.

 

Makna

Kekayaan adalah sesuatu yang baik adanya. Dalam banyak masyarakat, kekayaan sering dipandang sebagai ukuran keberhasilan material. Ketika kekayaan didapat, dunia akan menyanjungnya dan memulyakannya. Siapa yang memiliki kekayaan tentu membawa kegembiraan karena setidaknya hidupnya dipermudah dengan kekayaannya. Maka, kekayaan membawa kegembiraan manusia. Dalam Perjanjian lama kekayaan yang dimiliki seseorang dapat dikatakan sebagai suatu anugerah Tuhan. Namun menurut Sirakh kekayaan juga memiliki dukacitanya. Dukacitanya ada dalam bentuk kepemilikan. Memang, harta dan kepemilikan membawa kebahagiaan. Tetapi segala bentuk kepemilikan juga memiliki benih dukacita. Bukan karena kepemilikan itu jahat, melainkan karena manusia cenderung melekatkan hatinya kepada miliknya dan menjadikannya pengganti Tuhan.

Apa yang hari ini menghadirkan kegembiraan dapat berubah menjadi sumber kesedihan. Sumber kesedihan itu terjadi karena segalanya berubah misalnya rusak, hilang atau tidak dapat dipertahankan lagi. Bukan karena memiliki dan menjadi kaya itu salah. Masalahnya adalah ketika hati bergantung kepadanya sebagai sumber kebahagiaan dan menganggapnya sebagai milikku. Selama kebahagiaan bergantung kepada sesuatu yang tidak kekal hati mudah tergoncang saat kehilangan. Ketergantungan berarti adanya keterikatan. Keterikatan pada kekayaan mengikat batin, pikiran, bahkan kesehatan seseorang.

Ketergantungan kepada kekayaan mengingatkan pada peristiwa di dalam Perjanjian baru yaitu ketika seorang yang mendengar perkataan Yesus: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku lalu menjadi sedih. Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Markus 10:21-22) 

Keterikatan melahirkan kecemasan. Di dalam kecemasan ada penderitaan sehingga orang tidak lagi dapat hidup dengan tenang. Hidupnya telah dikuasai cinta akan kekayaan, hidupnya dirajai oleh Tuhan kekayaan. Padahal kekayaan bukanlah tujuan akhir hidup manusia melainkan Tuhan sendiri. Itulah yang diingatkan oleh kebijaksanaan Sirakh.

Senada dengan Sirakh, Yesus juga mengatakan betapa sulitnya orang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah. Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.  Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Markus 10:24-25). Yesus mengajak setiap orang melepaskan segala kemelekatan. Sebab, di balik setiap kegembiraan yang disertai kemelekatan orang tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Baik Yesus dan Sirakh tidak mengajarkan orang untuk hidup miskin melainkan mengajak setiap orang untuk memiliki kekayaan tanpa menggenggam, untuk mencintainya tanpa melekat. Itulah kebebasan batin dan kebebasan batin adalah kekayaan yang sesungguhnya. Bagaimana itu dilakukan, apakah hal itu mungkin? Dalam perspecktif perjanjian baru hanya dengan percaya kepada Yesus dan memohon kepada Yesus kiranya diri mampu terbebas dari keterikatan. Sebab bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” (Markus 10:27).  

Selama cinta kepada Tuhan dan sesama itu ada di dalam hati dan pikiran, maka cinta yang demikian akan menjadi integritas. Dengan integritas, orang tidak akan mudah diperbudak oleh kekayaan karena ia tahu mana yang harus dipilih dan sekaligus integritas adalah ketahanannya menghadapi gelombang godaan buruk dan jahat akan kekayaan. Bahkan integritas membuat kekayaan menjadi berkat bagi diri sendiri, orang lain dan dunia (hewan, tumbuhan, lingkungan) dan  bukan menjadi batu sandungan bagi segala sesuatunya. Pada saat itu dia dapat mengikuti Yesus dengan bebas dan cinta: “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.

 Copyright © 2026 ducksophia.com. All Rights Reserved

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply