Kebenaran

I

Kebenaran

Francis Bacon

Lukisan Crispin Van Den Broeck, Truth and Deception

18

 

Apa itu kebenaran? kata Pilatus sambil mengolok[1], dan pertanyaan itu kiranya tidak menggugat suatu jawaban.

Tentu saja, terhadap pertanyaan tersebut ada kesenangan akan kepusingan yang ditimbulkannya dan bagi orang yang mencintai kehendak bebas (free will) dalam berpikir maupun dalam bertindak menilai pertanyaan tersebut sebagai suatu penindasan dalam perihal membangun sebuah kepercayaan. Dan meskipun mazhab Skeptik[2] telah tiada, tetapi masihlah tetap berlangsung pengaruh filsafat Skeptik yang bersumber dari nadi yang sama, walaupun kiranya darah dalam nadi para filsuf Skeptik yang sekarang ini[3] tidak sebanyak seperti yang ada dalam nadi para filsuf Skeptik awali[4].

Dalam usaha menemukan kebenaran, tidak hanya kesulitan dan kerja keras yang dihadapi manusia maupun bahwa ketika kebenaran itu ditemukan kebenaran malah mengungkung pikiran manusia yang senang menciptakan kebohongan-kebohongan; tetapi juga karena suatu cinta natural akan kebohongan itu sendiri meskipun merupakan cinta yang korup. Salah satu mazhab Yunani yang terakhir (Lucian[5]) menyelidiki persoalan dan berpikir dengan serius apa yang menjadi penyebab fakta ini, bahwa manusia mencintai kebohongan-kebohongan, kendatipun manusia tidak membuat kebohongan demi kesenangan yang menjadi tujuan para penyair maupun demi laba yang menjadi tujuan para pedagang, tetapi sungguh demi kebohongan itu sendiri. Kebenaran yang sama ini (bahwa manusia mencintai kebohongan) adalah suatu ketelanjangan dan keterbukaan di siang bolong, yang memang tidak menunjukkan topeng-topeng dan sandiwara-sandiwara serta kejayaan-kejayaan dunia, tetapi saya tidak dapat mengatakan bahwa kebenaran ini setengah agung dan cantik seperti terang-terang lilin. Kebenaran tersebut kiranya seharga mutiara yang menunjukkan dirinya sebagai perhiasan yang paling baik dalam cahaya, tetapi mutiara tidak akan mengalahkan harga berlian atau batu delima yang memamerkan dirinya sebagai batu yang terindah dalam variasi cahaya.

Suatu kombinasi kebohongan sungguh menambahkan suatu kesenangan. Tetapi, konsekuensinya apakah setiap orang sungguh akan ragu bahwa seandainya dari pikiran manusia itu diturutilah opini-opini yang sia-sia, harapan-harapan palsu, penilaian-penilaian yang keliru, khayalan-khayalan dan semacamnya seperti yang ingin dilakukan akan menggoreskan hal-hal kusut yang buruk, penuh dengan kesedihan dan rasa sakit, serta ketidaknyamanan bagi pikiran dan diri mereka sendiri? Salah seorang pujangga, dalam kesusahan yang merana, menyebut puisi sebagai vinum-daemonum (anggur iblis), karena puisi memenuhi imajinasi; akan tetapi sungguh disertai dengan bayangan suatu kebohongan. Namun bukanlah suatu kebohongan yang melintas begitu saja dalam pikiran, justru kebohongan yang terbenam dan mengendap di dalam pikiran itulah yang menyebabkan rasa sakit, seperti yang telah kita bicarakan sebelumnya. Bagaimana pun juga kebohongan nantinya akan menjadi sumber penilaian dan afeksi yang keliru. Namun, kebenaran yang hanya menilai kebenaran itu sendiri mengajarkan bahwa penyelidikan akan kebenaran adalah rayuan cinta atau cumbuan cinta, pengetahuan akan kebenaran yang merupakan kehadiran dari kebenaran dan keyakinan akan kebenaran yang merupakan kenikmatan akan kebenaran adalah kedaulatan yang agung yang berasal dari kodrat manusia.

Ciptaan Tuhan yang pertama, dalam kisah penciptaan semesta, adalah terang dari indra, yang terakhir adalah terang akal budi; dan karya sabat Tuhan sejak itu adalah memberi iluminasi (penerangan)[6] yang berasal dari Roh-Nya. Maka, yang pertama, dia menghembusi terang di atas permukaan benda-benda atau kekacauan, kemudian dia menghembusi terang di atas wajah manusia; dan sampai sekarang dia masih menghembusi dan menginspirasikan terang kepada orang-orang pilihan-Nya. Lucretius[7] yang mengindahkan filsafat Epikurean[8] yang sebaliknya justru dianggap lebih rendah dari semua filsafat pada waktu itu, mengatakan tentang filsafat Epikurean dengan baik: adalah suatu kesenangan berdiri di atas pantai dan melihat kapal-kapal terombang-ambing di atas laut; adalah suatu kenikmatan berdiri di balik cendela kastil dan melihat ke bawah suatu pertempuran dan petualangan-petualangan yang ditimbulkan dari pertempuran tersebut: tetapi tidak ada kesenangan yang dapat dibandingkan selain dengan berdiri di atas tanah kebenaran yang subur (sebuah bukit yang lapang bebas dan di mana udaranya selalu bersih dan tenang) dan melihat ke bawah akan segala kesalahan dan segala penyimpangan dan halimun dan angin ribut yang ada di dalam lembah, jadi selalu bahwa pemandangan ini disertai dengan rasa kasihan dan bukan dengan ketertakjuban maupun kebanggaan. Tentu saja surga di atas dunia, seandainya pikiran seorang manusia bergerak di dalam kasih, bersandar dalam penyelenggaran ilahi dan kembali kepada kutub kebenaran.

Berpaling dari kebenaran teologis dan filosofis menuju kepada kebenaran duniawi; kebenaran duniawi akan dikenali bahkan oleh mereka yang tidak mempraktekkannya; bahwa persetujuan yang bulat dan jelas adalah kehormatan kodrat manusia; dan bahwa suatu kombinasi kebohongan adalah seperti logam campuran emas dan perak, yang tampaknya membuat kerajinan logam menjadi lebih baik, tetapi faktanya malah merusaknya. Sebab kebohongan yang berbelit-belit dan berliku-liku ini adalah cara berjalan ular yang berjalan dengan perut dan bukan dengan kaki. Tidak ada kelaliman yang sungguh menyelimuti manusia dengan rasa malu selain dia yang dijumpai berbohong dan berkhianat. Oleh karena itu, Montaigne[9] mengatakan dengan indah ketika dia menyelidiki sebabnya mengapa kata-kata kebohongan seharusnya menjadi kehinaan dan dakwaan yang penuh dengan kebencian. Katanya, jika kenyataan ini dipertimbangkan dengan baik, menyatakan bahwa seseorang itu berbohong adalah searti menyatakan hal berikut ini: bahwa dia berani kepada Tuhan tetapi seorang pengecut bagi manusia. Sebab suatu kebohongan berhadapan langsung dengan Tuhan namun bersembunyi di hadapan manusia. Tentu saja kejahatan yang berasal dari kebohongan dan pelanggaran iman kiranya tidaklah mungkin dapat diekspresikan dengan amat baik sehingga akan menjadi seruan terakhir untuk memanggil penghakiman Allah atas umat manusia; fakta ini telah dikatakan ketika Kristus datang bahwa dia tidak akan mendapati iman di atas bumi ini[10].

[1] Ponsius Pilatus adalah gubernur Romawi untuk provinsi Yudea yang ditunjuk oleh Kaisar Tiberius pada tahun 26 dan memimpin Yudea sampai tahun 36. Apa itu kebenaran adalah interogasi sekaligus olokan Pilatus kepada Yesus sebelum Yesus disalibkan (Yohanes 18: 38a). Olokan Pilatus kepada Yesus apa itu kebenaran menjadi salah satu olokan yang paling tersohor sepanjang masa.

[2] Skeptik memilik banyak definisi, namun pada umumnya mengacu kepada sikap yang meragukan; mempertanyakan pengetahuan, fakta, keyakinan, kebenaran yang selama ini dipegang dan dipercayai; bahkan juga meragukan segala sesuatunya yang berasal dari indra-indra manusia. Tidak ada standar atau kriteria yang dapat diandalkan demi mencapai pengetahuan, kebenaran yang pasti dan kepastian yang valid. Maka, aliran skeptik dapat mencakup skeptik religius (mempertanyakan prinsip-prinsip religius, misalnya iman, wahyu, dogma agama), skeptik filosofis (menyatakan bahwa segala pendekatan yang mensyaratkan informasi dan pengetahuan haruslah didukung dengan evidensi), skeptik ilmu pengetahuan (menyatakan bahwa selama ini analisis kritis akan klaim pengetahuan ternyata kekurangan evidensi empiris).

[3] Contoh para filsuf skeptis awali: Homer, Xenophanes, Pyrrho (orang pertama yang mengklaim sebagai filsuf skeptis ), Sextus Empiricus, dst.

[4] Para filsuf skeptis modern misalnya: Descartes, Montaigne.

[5]Lucian adalah seorang ahli retorika dan novelis (salah satu seorang novelis pertama dalam peradaban Barat). Karya-karya Lucian antara lain yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: True History, Dialogues of the Dead, Dialogues of the Gods, Dialogues of the Courtesans, Alexander the False Prophet, Sale of Creeds, Philopseudes (termasuk The Sorcerer’s Apprentice). Lucian amat mengagumi karya-karya Epikurus. Demi membela Epikurus, ia menulis sebuah satir yang indah untuk menyindir Alexander Abonoteichus yang membakar sebuah buku karya Epikurus: “Sungguh suatu berkat yang melimpah yang dibawa buku Epikurus untuk para pembacanya dan betapa damainya, tenangnya dan bebasnya yang diciptakan oleh bukunya bagi para pembacanya, dengan membebaskan para pembacanya dari teror-teror dan keanehan serta ancaman-ancaman, dari harapan-harapan semu dan idaman-idaman yang berlebihan, dengan membangun dalam diri pembaca kecerdasan dan kebenaran, dan sungguh memurnikan pemahaman mereka, bukan dengan obor, obat dan hal-hal yang semacam ketololan, tetapi sungguh dengan pemikiran yang lurus, kebenaran dan kejujuran”.

[6] Tambahan dari penerjemah.

[7] Titus Lucretius Carus adalah seorang penyair dan filsuf Romawi serta pemuja Epikurus. Ia menulis buku De Rerum Natura (On the Nature of Things) yang terdiri dari enam jilid buku. Buku tersebut sebenarnya merupakan kumpulan puisi yang disusun dengan sedemikian baik sehingga memberikan penjelasan yang gamblang, berbentuk naratif yang kuat dan penuh dengan lirik-lirik yang indah. Bukunya itu secara garis besar menjelaskan ide-ide Epikurus tentang natura, psikologi, epistemologi, etika, kosmologi. Jadi bisa dikatakan bahwa lewat buku De Rerum Natura Lucretius adalah juru bicara dari Epikurus.

[8] Epikurus adalah pendiri mazhab Epikurean. Pada umumnya filsafat Epikurus berdasarkan suatu pemikiran bahwa semua kebaikan dan kejahatan berasal dari sensasi kenikmatan dan penderitaan. Maka, apa yang baik adalah suatu kenikmatan dan apa yang buruk adalah suatu penderitaan. Epikurus amat menekankan kepada kenikmatan sebagai tujuan hidup. Menurutnya, semua makhluk hidup selalu mengejar kenikmatan karena di dalam kenikmatan ada kebahagiaan. Yang dimaksud kenikmatan oleh Epikurus bukanlahlah kenikmatan sensasional, sensual, penuh kedagingan atau yang sifatnya sementara (seperti yang digagas oleh libertinism) tetapi kenikmatan yang kekal; kenikmatan yang menciptakan kedamaian; kenikmatan yang membebaskan tubuh dari penderitaan dan jiwa dari kebingungan atau kekacauan. Untuk mencapai kenikmatan yang demikian haruslah disertai dengan keutamaan-keutamaan seperti kesahajaan, kesabaran, kerendahan hati. Juga bisa dikatakan bahwa kenikmatan Epikurus bersandar pada absennya penderitaan tetapi bukan berkiblat kepada kepuasan. Seandainya penderitaan itu dipilih daripada kenikmatan yang dalam beberapa kasus terjadi karena penderitaan membawa kepada kenikmatan yang lebih (misal orang sakit memilih untuk dioperasi agar dia menjadi sembuh dan sehat). Ketika manusia tidak menderita, manusia tidak lagi membutuhkan kenikmatan, tetapi membuat manusia masuk ke dalam ketenangan pikiran dan jiwa yang sempurna (ataraxia). Jadi, kenikmatan Epikurus membawa kepada asketisme, penguasaan diri, dan sikap lepas bebas. Epikurus juga percaya bahwa dunia ini terbentuk dari atom-atom yang bergerak dalam ruang kosong. Segala sesuatu yang ada (manusia, binatang, benda-benda bahkan dewa-dewa) tak lain adalah hasil dari atom-atom yang berinteraksi satu sama lain (bertabrakan, yang memantul dan jalin menjalin) tanpa ada tujuan, maksud di balik semua gerakan atom-atom tersebut. Pendapatnya berbeda dengan Democritus (Tentang Democritus lihat essai XVI; no. 4) karena Epikurus mengakui bahwa pergerakan atom tidak selalu dalam orbit yang lurus tetapi kadang kala berbelok. Konsekuensinya, Epikurus menolak paham determinasi dan mengakui adanya kehendak bebas (free will)

[9] Michel Eyquem de Montaigne (28 February 1533 – 13 September 1592) adalah seorang penulis yang amat berpengaruh pada zaman Renaissance Perancis. Kepopuleran Montaigne bersandar pada buku besar yang ia tulis dengan judul Essay yang diterbitkan tahun 1580. Essay secara umum membahas dan menggambarkan manusia khususnya tentang dirinya sendiri. Montaigne juga dianggap sebagai bapak skeptik modern. Ia berkeyakinan bahwa manusia tak pernah akan mencapai kepastian yang benar dan sejati. Pandangan skeptisnya yang masyur terumus dalam kata-katanya, Que sais-je‘ (Apa yang saya tahu?)

[10] Lihat Lukas 18:8 : Akan tetapi jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di atas bumi?

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply