Keagungan Manusia Sebagai Ciptaan Tuhan

 

Lukisan: Adolf Kaufmann

 

Sirakh 17: 1-14

 1.Manusia diciptakan Tuhan dari tanah, dan ke sana akan dikembalikan juga.

2. Ia menganugerahkan kepadanya sejumlah hari dan jangka, dan memberinya kuasa atas segala sesuatunya di bumi. 3. kepadanya dikenakan kekuatan yang serupa dengan kekuatan Tuhan sendiri dan menurut gambar Allah dijadikan-Nya. 4. Di dalam segala makhluk yang hidup Tuhan menaruh ketakutan kepada manusia, agar manusia merajai binatang dan unggas.

6. Lidah, mata dan telinga dibentuk-Nya, dan manusia diberinya hati untuk berpikir. 7. Tuhan memenuhi manusia dengan pengetahuan yang arif, dan menunjukkan kepadanya apa yang baik dan apa yang jahat. 8. Ia menanamkan mata-Nya sendiri di dalam hati manusia untuk menyatakan kepadanya keagungan pekerjaan Tuhan.

10.  Maka manusia mesti memuji nama Tuhan yang kudus untuk mewartakan pekerjaan-Nya yang agung. 11. Tuhan telah mengaruniai manusia pengetahuan lagi dengan memberi mereka hukum kehidupan menjadi milik pusaka. 12. Perjanjian kekal diikat-Nya dengan mereka dan segala hukum-Nya dipermaklumkan-Nya kepadanya.

13. Mata mereka telah melihat kemuliaan Tuhan yang agung, dan suara-Nya yang dahsyat telah didengar telinga mereka. 14. Ia berkata kepada mereka: “Jauhilah setiap kelaliman”, dan masing-masing diberi-Nya perintah mengenai sesamanya.

Eksegese

Ciptaan yang berasal dari tanah 

  1. Manusia diciptakan Tuhan dari tanah, dan ke sana akan dikembalikan juga

Sirakh mengikuti kisah penciptaan dalam kitab Kejadian: penciptaan bintang, tumbuhan-binatang, dan manusia. Ia menjelaskan asal-usul manusia dan kembalinya manusia yaitu dari tanah kembali ke tanah. Asal-usul kehidupan dan akhir kehidupan manusia bertemu pada realitas yang sama yakni tanah.

Anugerah Tuhan kepada manusia ciptaan

2. Ia menganugerahkan kepadanya sejumlah hari dan jangka, dan memberinya kuasa atas segala sesuatunya di bumi. 3. Kepadanya dikenakan kekuatan yang serupa dengan kekuatan Tuhan sendiri dan menurut gambar Allah dijadikan-Nya. 4. Di dalam segala makhluk yang hidup Tuhan menaruh ketakutan kepada manusia, agar manusia merajai binatang dan unggas.

Dalam ayat 2-6 Sirakh berbicara dan menjelaskan anugerah Allah yang diberikan kepada manusia supaya ia menjadi ciptaan yang paling agung. Pertama, manusia dianugerahi sejumlah hari dan jangka. Dengan kata lain dia diberi hidup dan hidupnya ada rentang waktunya. Rentang waktunya menunjukkan bahwa hidupnya di dunia itu tidak abadi karena ia hanya ciptaan yang berasal dari tanah dan akan kembali kepada tanah. Artinya, ia menerima keberadaannya dari Tuhan. Jadi ia adalah makhluk fana dan terbatas.

Justru sebagai makhluk fana, Tuhan menganugerahi kuasa kepada manusia atas segala sesuatu yang di atas di bumi. Kuasa di sini menunjukkan bahwa ia diberi mandat untuk mengelola ciptaan dengan penuh tanggung jawab dan cinta. Ia mampu mengelola bumi dengan tanggung jawab karena ia dianugerahi kekuatan yang serupa dengan Tuhan dan ia diciptakan sesuai gambar dan rupa-Nya. Gambar dan rupa Allah membuktikan bahwa martabat setiap manusia berasal dari Tuhan sendiri. Martabat manusia tidak ditentukan dari apa yang dimilikinya ataupun apa yang dilakukannya. Keagungan martabatnya karena ia adalah gambar dan rupa Allah; ia serupa dengan Tuhan. Karena keserupaannya dengan sang Pencipta, ia adalah ciptaan yang paling mulia di antara ciptaan yang lain.

Karena itu pula, Tuhan menanam ketakutan kepada setiap makhluk. Tujuan dari ketakutan yang ada di dalam diri setiap makhluk terhadap manusia adalah supaya manusia merajai binatang dan unggas. Namun, Tuhan menghendaki manusia merajai atas binatang dan unggas dengan kebaikan dan tanggung jawab, bukan dengan kekejaman, pembunuhan atau penindasan kepada mereka.

Panca indra-hati yang dibentuk-Nya dan diberi-Nya kepada manusia pengetahuan akan kebaikan dan kejahatan 

6. Lidah, mata dan telinga dibentuk-Nya, dan manusia diberinya hati untuk berpikir. 7. Tuhan memenuhi manusia dengan pengetahuan yang arif, dan menunjukkan kepadanya apa yang baik dan apa yang jahat. 8. Ia menanamkan mata-Nya sendiri di dalam hati manusia untuk menyatakan kepadanya keagungan pekerjaan Tuhan.

 Tuhan membentuk panca indra manusia seperti lidah untuk berbicara, mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar agar ia dapat mengenali dan menyelami realitas. Kemudian ia juga dianugerahi hati untuk berpikir. Dalam antropologi Israel hati adalah takhta intelektualitas manusia. Dengan memiliki hati untuk berpikir dan panca indra maka manusia dapat memperoleh pengetahuan. Disebutkan oleh Sirakh tentang pengetahuan yang arif. Pengetahuan yang arif berarti ia mempergunakan pengetahuan untuk menciptakan kebaikan dan kemakmuran bagi segala ciptaan. Bukan pengetahuan yang menyengsarakan dan menghancurkan ciptaan. Pengetahuan yang arif membawa manusia kepada kebijaksanaan. Puncak dari anugerah Tuhan kepada manusia adalah kemampuan membedakan  apa yang baik dan apa yang jahat. Maka, pengetahuan bagi Sirakh tidak hanya menyangkut dimensi intelektualitas tetapi juga dimensi moralitas. Dengan mengetahui yang baik dan yang jahat, manusia tidak hanya mengetahui realitas sebagaimana adanya, tetapi juga ia mampu memahami bagaimana ia harus bertindak terhadap  realitas tersebut. Ia tidak lagi bertindak melulu karena dorongan dari panca indra tetapi sekarang ia mampu memilih dan bertanggung jawab akan perbuatannya. Ia mampu mencari makna dan merefleksikan, memaknai realitas.

Kemudian  Tuhan menanamkan mata-Nya sendiri di dalam hati manusia. Tujuannya supaya manusia dapat melihat keagungan pekerjaan Tuhan. Dengan menanamkan mata-Nya di hati manusia, kiranya secara natura manusia memiliki kapasitas untuk mencintai Tuhan sang pencipta ketika ia melihat karya-karya Tuhan yang besar dan agung.

Keharusan manusia ciptaan terhadap Tuhan sang pencipta

10. Maka manusia mesti memuji nama Tuhan yang kudus untuk mewartakan pekerjaan-Nya yang agung.

Dengan mata Tuhan yang ada di hati manusia maka segala pengetahuan manusia menuntun manusia untuk  mencari, mengenali, memuliakan dan mewartakan karya Tuhan yang agung. Setelah menerima segala rahmat maka tidak ada sikap lain manusia selain tunduk memuji dan bersyukur akan keagungan Tuhan.

Anugerah Tuhan berupa hukum kehidupan  dan perjanjian antara Tuhan dan manusia

11. Tuhan telah mengaruniai manusia pengetahuan lagi dengan memberi mereka hukum kehidupan menjadi milik pusaka. 12. Perjanjian kekal diikat-Nya dengan mereka dan segala hukum-Nya dipermaklumkan-Nya kepadanya.

Setelah menganugerahi pengetahuan akal budi dengan dimensi moralnya, Tuhan sekarang menganugerahkan lagi kepada manusia hukum kehidupan. Segala hukum kehidupan diberitahukan oleh-Nya kepada manusia. Hukum kehidupan adalah hukum Musa yang dapat diartikan sebagai pewahyuan Sinai. Hukum kehidupan menjadi milik pusaka dalam arti hukum kehidupan menjadi warisan yang terpatri di dalam diri setiap manusia. Hukum itu diturunkan, disampaikan dan diajarkan kepada setiap generasi tanpa ada keterputusan.

Maka dengan hukum kehidupan itu sebenarnya Tuhan mengikat suatu perjanjian kekal dengan manusia. Hukum dalam konteks Israel bukan hanya menyoal larangan tetapi hukum mengantar orang untuk melakukan dan melaksanakan hukum itu sendiri. Pelaksanaan hukum mengantar manusia kepada kebijaksanaan dan kehidupan bahkan kepada sang Pencipta Tuhan sendiri.

Perintah Tuhan terakhir kepada manusia ciptaan

13. Mata mereka telah melihat kemuliaan Tuhan yang agung, dan suara-Nya yang dahsyat telah didengar telinga mereka. 14. Ia berkata kepada mereka: “Jauhilah setiap kelaliman”, dan masing-masing diberi-Nya perintah mengenai sesamanya.

Realitas tentang kemuliaan-Nya telah ditangkap oleh panca indra manusia dengan melihat dan mendengar hukum kehidupan yang diberitahukan kepadanya. Tuhan sendiri yang menyatakan kemuliaan-Nya kepada manusia. Dan Tuhan sendiri memberikan perintah yang terakhir dari: jauhilah kejahatan karena Tuhan membenci kejahatan dan perintah mengenai sesama. Kedua perintah ini mengingatkan kepada hukum cinta kasih yang ada di dalam kitab Imamat. Perintah kepada sesama mungkin adalah perintah untuk mencintai sesama seperti dirimu sendiri. Membenci kejahatan juga bisa berarti mencintai Tuhan dengan segenap hati dan pikiran seperti yang ada di dalam kitab Imamat. Perintah untuk tidak melakukan ketidakadilan terhadap sesama menunjukkan bahwa hubungan dengan Tuhan harus diwujudkan dalam hubungan dengan manusia lain. Kemuliaan Tuhan hanya dapat dimengerti dan ditangkap ketika manusia menjauhi kejahatan dan mencintai sesama. Dengan demikian, Sirakh menghubungkan penciptaan dengan pewahyuan dan kehidupan moral. Kesempurnaan manusia ciptaan adalah ketika ia melakukan perintah terakhir-Nya.

 

Makna

Manusia diciptakan Tuhan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Ia diciptakan oleh Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan sang Pencipta. Maka hidup manusia tidak hanya berhenti atau berakhir di hidup di dunia ini saja. Kehidupan di dunia yang fana ini menunjukkan bahwa ada kehidupan yang lebih tinggi dari kehidupan dunia ini.  Dengan kata lain ia dipanggil kepada hidup yang kekal yaitu hidup bersekutu dengan Tuhan sang pencipta.

Untuk itu, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan dan diberi kuasa yang serupa dengan-Nya. Kuasa dan gambar Tuhan menunjukkan bahwa martabat manusia itu berasal dari Tuhan. Maka, martabat manusia dapat dimengerti sebagai infinitas (dignitas infinita). Artinya martabat manusia melampaui segala penampilan fisik dan aspek khusus kehidupannya. Tuhan menghormati martabat manusia yang Ia sendiri ciptakan. Setiap manusia dirancang di dalam hati Tuhan, dan oleh karena itu, setiap orang adalah buah dari suatu pemikiran-Nya. Setiap orang dikehendaki, dikasihi oleh Tuhan dan keberadaan setiap orang penting dan berharga tanpa terkecuali. Dan karena manusia memperoleh kuasa, maka manusia dibimbing dan dituntun oleh penilaiannya sendiri sehingga dia memiliki kebebasan sebagai gambar dan rupa Tuhan.

Dia memiliki kebebasan dalam gambar dan rupa Allah karena ia dianugerahi akal budi dan hati nurani sebagai kemampuan untuk membedakan apa yang baik dan apa yang jahat. Dengan pengetahuan dan hati nurani yang demikian manusia kiranya bertindak atau berbuat sesuai dengan pertimbangannya dan menikmati kebebasan dan sekaligus bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya. Ia tidak berada di bawah dominasi insting tetapi ia mampu memilih berdasarkan akal budi dan hati nurani. Ia bertindak oleh karena kesadaran akan tanggung jawabnya dan tugasnya sebagai seorang manusia.

Manusia mempunyai tugas dan hak untuk mencari kebenaran supaya dia dengan kebijaksanaan membentuk dirinya dengan benar dan memiliki penilaian suara hati yang benar lewat segala sarana yang ada. Yang lebih hebat lagi, dengan anugerah pengetahuan dan hati nurani ia pun mampu menemukan kebenaran secara utuh dan Tuhan sang pencipta. Bahkan menurut Sirakh Tuhan telah menanam mata-Nya di hati manusia supaya manusia melihat kemuliaan karya-Nya yang agung. Setiap manusia lahir dengan kepercayaan kepada Tuhan. Kenyataan ini sudah ada di dalam hati manusia. Setiap manusia akan mengenali sang pencipta di dalam waktu yang berbeda dan di bawah keadaan atau kondisi yang berbeda. Dengan demikian, sebenarnya ateis yang sejati tidak pernah ada. Ateis hanya ada di dalam bibir tetapi di dalam hatinya manusia percaya akan Tuhan sang pencipta.

Sirakh juga berbicara tentang panggilan manusia. Tuhan memanggil manusia untuk memuliakan-Nya di dalam roh dan kebenaran. Manusia ada bukan hanya oleh kuasa Tuhan, melainkan juga di dalam kehadiran-Nya dan dekat dengan-Nya. Itulah sebabnya manusia menyembah dan memuliakan-Nya (Laudato si no. 69)

Kebenaran ini menemukan puncaknya di dalam Yesus Kristus yang mana Tuhan menyatakan diri-Nya secara sempurna melalui dan di dalam Kristus. Kristus adalah gambar dan rupa Allah yang sempurna sehingga ia adalah model manusia yang sempurna. “Ia adalah gambar Allah  yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kolose 1:15). Kita sebagai pengikut Kristus pun dipanggil untuk mengikuti dan mengimitasi Kristus sang kesempurnaan baik secara kata, tindakan, visi, pemikiran, tanggung jawab. Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Matius 5:48).

Kesempurnaan manusia memuncak pada tanggung jawabnya kepada kehidupan. Artinya hidup dan tindakan manusia harus berdasarkan pada Tuhan dan sesama dan segala ciptaan. Dengan kata lain ia menjadi penjaga kehidupan dalam arti merawat kehidupan, menyelamatkan kehidupan, mencintai kehidupan, merestorasi kehidupan; bukan membunuh, menghancurkan, menyiksa, mengeksploitasi kehidupan hanya untuk makanan, kesenangan, estetika.

Sebab keberadaan manusia berakar pada tiga hubungan mendasar yang saling terkait erat: hubungan dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan ciptaan (Laudato Si no. 66). Untuk itu kita dipanggil untuk menyadari bahwa makhluk hidup lain memiliki nilai intrinsik di hadapan Tuhan dan, “melalui keberadaan mereka, mereka memuji Dia serta memuliakan-Nya karena “Tuhan bersukacita atas karya-karya-Nya.” (Laudato Si no. 69).

Kata-kata Sirakh Jauhilah setiap kelaliman” dan masing-masing diberi-Nya perintah mengenai sesamanya menjadi terang benderang dan menjadi seruan yang bergema di dalam hati. Jauhilah setiap kelaliman dan masing-masing diberi-Nya perintah mengenai sesamanya karena segala sesuatu saling terhubung, dan perlindungan yang sesungguhnya atas kehidupan kita sendiri—serta hubungan kita dengan alam—tidak dapat dipisahkan dari persaudaraan, keadilan, dan kesetiaan terhadap sesama. (Laudato Si no. 70). Dengan demikan, disitulah terletak keagungan manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Copyright © 2026 ducksophia.com. All Rights Reserved

 

 

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply