Feminisme Yang Sejati

 Lukisan Albert Henry Collings, Girl With Lilac

 

Ut ameris, amabilis esto

Supaya engkau dicintai, jadilah orang yang penuh cinta

 

Pada pertengahan abad dua puluh bangkitlah suatu pergerakan, pemikiran, filosofi perempuan yang disebut dengan feminisme. Gerakan dan pemikiran ini muncul sebagai suatu reaksi dan perlawanan terhadap keterkungkungan perempuan di dalam suatu imperalisme kodrat laki-laki yang disebut dengan civilasi maskulin. Civilasi maskulin dapat diartikan bahwa tatanan kehidupan ataupun realitas yang selama ini berlangsung selalu berada dalam dominasi dan hegemoni kodrat laki-laki. Dominasi dan hegemoni laki-laki mau mengatakan bahwa laki-laki tidak memberi ruang bagi perempuan untuk berperan serta di dalam tatanan kehidupan. Laki-laki yang menguasai, menentukan, mendominasi dan mengatur sendi-sendi kehidupan; jadi semacam arogansi laki-laki. Misalnya semua laki-laki bisa menjadi apa saja sementara posisi perempuan hanya selalu menjadi ibu rumah tangga. Bahkan hirarki dan diskriminasi tersebut diterima dan didukung oleh struktur sosio-budaya-politis, agama dan kondisi masyarakat. Akibatnya, perempuan selalu terpinggirkan dalam hak, martabat dan pengakuan sosialnya bahkan selalu menjadi obyek segala kekerasan. Situasi ketidakadilan dan deskriminasi ini memicu kaum perempuan untuk meminta haknya agar mereka diperlakukan sama dengan laki-laki dan mengklaim bahwa laki-laki dan perempuan adalah sederajat. Fenomena ini akhirnya melahirkan apa yang disebut feminisme[1]. Maka, feminisme adalah suatu pemikiran, pandangan untuk membangun, memperbaharui kenyataan dan sendi–sendi kehidupan yang difondasikan pada perspektif dan karakter kodrat perempuan sekaligus perjuangan perempuan untuk mendapat legitimasi martabat dan haknya yang sederajat dengan laki-laki.

Sekarang ini karena begitu ingin mendobrak hegemoni maskulin dengan berpendapat bahwa keruwetan, kekerasan, kebencian, dan keamburadulan yang terjadi di sepanjang kehidupan disebabkan oleh hegemoni civilasi maskulin, feminisme malah menjadi sebuah filosofi, pemikiran dan pandangan hidup yang kerap kali menyimpang dari tujuannya sehingga makin menyuramkan kehidupan. Misalnya sebuah klaim feminisme yang menyatakan bahwa aborsi merupakan hak mutlak seorang perempuan. Dikatakan mutlak karena perempuan berhak mengaborsi jika menurutnya janin itu merusak, menggangu, merebut, mengkerdilkan tubuh dan haknya. Artikel ini akan menggali esensi yang sejati dari feminisme. Apa itu feminisme yang sejati? Bagaimana feminisme beraksi terhadap persoalan-persoalan kehidupan?

 

Klaim Nietzsche tentang perempuan

Pandangan Nietzsche tentang feminisme berguna untuk menunjukkan dan mengetahui betapa kokohnya hegemoni civilasi maskulin. Selain itu, pandangan Nietzsche tentang perempuan merupakan representasi penilaian yang ada (masyarakat, agama, politik, kultural, dst) yang status quo terhadap kedudukan perempuan.

Menurut Nietzsche perempuan adalah suatu artis[2]. Dengan pernyataan itu, Nietzsche hendak meledek perempuan. Baginya, perempuan selalu memainkan kepura-puraan, berlagak dan menyembunyikan kebenaran. Akibatnya, perempuan hanya adalah simbol dari ketidakbenaran dari suatu kebenaran (Femme est un nom de cette non-vérité de la vérité)[3]. Maka, bagi Nietzsche: “perempuan begitu artistik[4].

Artistik seorang perempuan disebabkan karena perempuan penuh dengan gaya (Le style) yang begitu melekat dengan hidup seorang artis. Mau tak mau seorang artis harus menampilkan gaya untuk menjaga keberlangsungan profesinya. Lalu apa jelasnya gaya? Gaya adalah sebuah pesona untuk memikat pelihatnya. Maka, gaya juga adalah sebuah topeng yang menggoda, menipu dan merayu mereka yang telah terpesona di dalamnya. Terlebih, fungsi gaya diperlukan sebagai sarana, media perlindungan untuk melawan ancaman yang menakutkan yang hadir saat ini sekaligus menjaga image yang dimiliki sang artis. Dengan demikian, gaya melindungi dan menyembunyikan isi, arti, makna, kebenaran dari sesuatu hal[5].

Agar sang aktris dapat bergaya, dibutuhkan suatu jarak (distance). Jarak menjadi elemen kekuatan seorang perempuan[6]. Kekuatan apa? Kekuatan untuk menciptakan rayuan. Seorang perempuan merayu dari jarak. Dengan adanya jarak, gaya menemukan kebebasannya untuk bereaksi, berekpresi dan melakukan rayuan. Dan jarak inilah yang membuat perempuan memalingkan kebenaran dan pada saat yang sama membuatnya mampu untuk memberikan gaya, dirinya agar dimiliki laki-laki. Maka, Nietzsche memperingatkan agar berhati-hati dan waspada terhadap jarak ketika berhadapan dengan perempuan. Sebab awal sebuah rayuan perempuan itu dimulai dari jarak.

Tentu saja laki-laki itu selalu berhasrat untuk menangkap, memiliki perempuan sehingga pada saat yang sama ia akan tertipu dengan mudah oleh perempuan karena perempuan adalah ketidakbenaran dari suatu kebenaran. Perempuan dengan demikian oleh Nietszche disempitkan dan direduksi menjadi soal erotis yang penuh kepalsuan. Erotis menjelaskan bahwa perempuan semata-mata hanyalah nafsu (passion) dan nafsu selalu membawa kepada penyesalan. Sebab, menurut Niezstche orang yang tertangkap oleh perempuan akan terlumat habis.

Lalu apa yang menjadi rayuan perempuan yang melumat laki-laki? Jawabannya adalah cinta. Cinta seorang perempuan itulah yang akan melumat laki-laki yang tertawan di dalamnya. Hebatnya, cinta seorang perempuan merupakan hal yang selalu dikejar, diinginkan, diidam-idamkan oleh laki-laki. Konsekuensinya, hidup adalah perempuan (Oui, la vie est femme). Hidup dikatakan perempuan karena hidup penuh dengan kebohongan dan diwarnai intrik-intrik hanya untuk mendapatkan dan memenangkan perempuan. Namun inilah yang menjadi kebanggaan perempuan: dicari, dirindukan, diinginkan oleh laki-laki. Ketika perempuan dicari, dirindukan, perempuan menunjukkan kekuatannya dan kekuasaannya. Lantas, Nieztsche mengangap passion yang ada di dalam diri setiap perempuan tak lain adalah sebuah kehendak untuk berkuasa, memerintah dan memperbudak laki-laki.

Bagi Nietzsche, feminisme adalah usaha, dan kinerja perempuan yang menginginkan untuk menjadi laki-laki dalam konteks mengambil alih hegemoni maskulin[7]. Jadi, mereka hendak menampilkan sebuah hegemoni baru yaitu civilasi feminin. Semuanya itu membuat Nietzsche meligitimasi feminisme sebagai seorang artis filosofi[8]. Artis filosofi karena klaim dan filosofi feminisme hanyalah sebuah kedok untuk meruntuhkan imperialis laki-laki dan menggantinya dengan imperialis perempuan. Klaim feminisme misalnya kesetaraan, emansipasi tak lain dan tak bukan hanyalah sebuah topeng dan media mewujudkan kehendaknya untuk berkuasa, mendobrak dan menggantinya dengan otoritas yang didasarkan pada kodrat perempuan.

 

Kekhasan seorang perempuan: menjadi seorang ibu

Feminisme mendobrak dan memberontak dominasi maskulin: perempuan bukanlah obyek pemuasan dari hasrat laki-laki namun perempuan perempuan sama dan sederajat, semartabat bahkan kapasitas, kemampuan dan fakultas yang menjadi kekhasan, kehebatan laki-laki juga dimiliki dan bisa dijalankan, dikerjakan oleh perempuan. Misalnya saja kemampuan menjadi seorang pemimpin negara[9], berperang, dan sebagainya.

Namun bagi Edith Stein[10] -salah seorang tokoh feminisme- tuntutan feminisme bahwa semua profesionalisme bisa dijalankan oleh setiap perempuan bukanlah utama dan pertama. Hal itu bukan berarti Stein menolak, meremehkan kemampuan dan hak perempuan ataupun Stein setuju bahwa perempuan berada di bawah laki-laki. Bagi Stein, semua profesionalisme terbuka bagi perempuan dan perempuan memiliki kesempatan yang sama, semartabat dengan laki-laki dalam tatanan kehidupan ini.

Namun Stein mencoba mencari dasar feminisme yang benar. Menurut Stein sumbangan perempuan bagi masyarakat dapat dikerjakan dan ditemukan di dalam setiap profesi yang mana setiap perempuan menghendakinya. Tetapi peranan dan sumbangan perempuan yang dibutuhkan dalam bangsa, negara, lingkungan atau di mana pun ia berada yang utama dan terpenting bukan apa yang dimiliki dan bukan apa yang menjadi profesi, pekerjaan, karir perempuan tetapi adalah jati dirinya, identitasnya, kodratnya; jadi bukan apa tetapi siapa perempuan itu; bukan propertinya, aksidentalnya tetapi subtansinya, ontologinya.

Untuk itu, Stein menggali ontologi perempuan yang sesuai dengan kodratnya[11]. Pencarian Stein akan ontologi perempuan dilatar-belakangi pemikiran Aquinas dan Aristoteles. Ternyata ontologi perempuan terletak pada jiwanya. Stein menyatakan bahwa setiap jiwa manusia baik laki-laki dan perempuan memiliki kekhasan, keunikan dan kekayaannya sendiri-sendiri. Semuanya ini dilihat oleh Stein sebagai cara untuk saling melengkapi, menyempurnakan tatanan kehidupan dan bukan sebuah hirarki nilai untuk saling merendahkan satu sama lain.

Lalu kekhasan, keunikan dan kekayaan jiwa -baca ontologi- setiap perempuan, menurut Stein adalah menjadi seorang ibu. Hal ini dapat dilihat dari struktur personal perempuan dan dimensi kemanusiaan.

Yang pertama, struktur personal perempuan: konstitusi fisik dan psikis perempuan secara kodrati terarah, terdisposisi untuk selalu menjadi ibu -konsepsi, kehamilan dan kelahiran- karena merupakan buah dari persatuan  dengan laki-laki dalam ikatan perkawinan[12]. Konstitusi fisik dan psikis perempuan membuktikan bahwa sejak permulaan kehidupan, perempuan sebagai sang ibu melahirkan, menerima dan mencintai anak yang dikandung di dalam rahimnya. Keibuan melibatkan persatuan istimewa dengan misteri kehidupan yang terbangun semenjak dalam kandungan. Persatuan dengan misteri kehidupan membuat sang ibu dipenuhi dengan kekaguman dan mengerti apa yang terjadi di dalam rahimnya dengan suatu institusi dan perasaan yang unik. Peristiwa konsepsi, kehamilan dan kelahiran merupakan wilayah eklusif antara sang ibu dan anak karena selama proses kehamilan dan kelahiran pihak laki-laki tetap tinggal di luar dan tidak terlibat apa- apa secara fisik meskipun nantinya laki-laki berbagi bersama dengan perempuan dalam menjadi orang tua. Terlebih, dengan berbagai cara, laki-laki belajar kebapaanya dari sang ibu[13]. Keekflusifan itu bukan menunjukkan suatu kesombongan melainkan keterpilihan, keunikan, kekhasan tubuh dan jiwa perempuan -seperti yang dikatakan oleh Irigaray-[14]: “Tubuhnya mampu mentolerir pertumbuhan tubuh yang lain dalam dirinya tanpa menjadi penyakit, tanpa penolakan atau kematian salah satu organisme”. Karena kedekatannya dengan kelahiran dan perkembangan manusia, setiap perempuan selalu mencari dan memeluk apapun yang hidup, personal dan utuh. Maka tubuhnya adalah kehidupan yang melahirkan kehidupan sehingga di balik tubuhnya memancarkan kesucian kehidupan. Sementara jiwanya menunjukkan bahwa dia selalu memberikan diri, mengorbankan dan melayani. Altruisme perempuan yang melekat pada hakikat biologis dan struktur psikologis menandai, membentuk, mewarnai kepribadian perempuan dan cara perempuan mengisi hidup ini yang nampak dalam pemikiran, tindakan, relasinya[15]. Memelihara, melindungi, membesarkan apa yang hidup adalah kodratnya, hasrat keibuannya yang selalu memenuhi jiwanya. Maka jiwanya adalah keagungan dan keanggunan yang penuh cinta.

Yang kedua, dimensi personal kemanusiaan dapat dipetakan sebagai berikut: manusia hidup pertama kali di dalam rahim ibu; ia mendapat makanan dan kasih sayang dari ibu sejak semula. Bagi setiap manusia, yang ada pertama semenjak dia terbentuk, tercipta dan berada di dunia dalam eksistensinya adalah relasi dengan ibu. Dengan kata lain, yang dirasakan dan yang ada pertama kali sejak ia hidup adalah kasih seorang ibu. Pengalaman awali dengan ibu selalu mewarnai, membentuk hidup seterusnya: sejak semula manusia hidup di dalam cinta. Figur dan kontribusi ibu memegang peran vital untuk membentuk dan menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya: tubuh, jiwa dan roh. Lalu terdefinisikanlah siapakah ibu: Ibu adalah dialah yang melahirkan, membentuk dan memelihara kehidupan sejak semula. Ibu adalah seorang perempuan sehingga peranan perempuan sebagai penjaga, pemelihara kehidupan sudah terkoporasi dalam kodratnya. Ibu adalah kehidupan dan ibu menjadi elemen konstitutif tentang kebenaran manusia[16].

Dimensi struktur fisik-psikis perempuan dan dimensi personal manusia membuktikan ontologi perempuan: cinta seorang ibu. Dalam konteks ontologi, hal ini berarti bahwa seorang perempuan mempresentasikan nilai-nilai yang unik karena dia adalah seorang manusia yang unik, pada saat yang sama keunikannya disebabkan oleh kodrat keperempuanannya yaitu cinta seorang ibu. Realitas cinta seorang ibu yang memberi kehidupan dan dipenuhi dengan kelembutan menunjukkan pula bahwa perempuan adalah home. Home itu berbeda dengan house. House itu identik dengan keeklusifan. Maksudnya house tidak mentolerir dan memberi ruang bagi sesuatu yang berbeda dengan dirinya. House itu menutup diri dan tidak memberikan kesanggrahan bagi yang tinggal di dalamnya. Semuanya serba formal, penuh dengan ketegangan. Tidak demikian dengan home. Home itu selalu memberikan keramahtamahan, kesanggrahan, kebebasan bahkan ketenangan. Ada sesuatu kenyamanan dan ketulusan dalam Home sehingga menjadi kondisi untuk self-enclosure. Home itu juga selalu terbuka dan menerima siapa saja. Akhirnya home itu menciptakan intimasi, kehangatan bagi mereka yang tinggal di dalamnya. Kehangatan dan intimasi yang ada di dalam dirinya itulah yang menjadikan dirinya sebagai tempat untuk berlindung, berteduh. Itu berarti pula bahwa perempuan adalah sahabat laki-laki dalam perjalanan hidup ini. Perempuan bukanlah bukan benda, obyek tetapi pribadi utuh dan sempurna bersama dengan laki-laki menyusuri kehidupan ini.

Kehangatan dan intimasi seorang ibu melukis kehebatan, keindahan, kesempurnaan perempuan. Lalu ontologi perempuan yang selalu dipenuhi dengan kehangatan dan intimasi membuat dirinya identik dengan apa yang disebut dengan kepedulian (Fürsorge)[17]. Perempuan selalu menjadi pioner utama dalam sikap peduli dengan kehidupan. Kepedulian perempuan terletak, berdiam dan berumah di dalam perasaannya. Perasaan inilah yang merupakan kekuatan, keunikan dan andalan perempuan dalam mengarungi kehidupan[18]. Bagi Alison Jaggar perasaan perempuan memiliki nilai epistemologis yang luar biasa. Perasaan dapat mengenali, mengetahui dan memasuki realitas di mana ketetapan dan pemahaman rasio-kognitif tidak dapat menangkapnya. Dan bagi Stein, melalui perasaannya seorang perempuan lebih mudah membangun relasi, komunikasi dan sikap peduli dengan yang lain[19]. Perasaan menjadi dorongan untuk membuka dan keluar dari diri untuk menuju kepada yang lain; kepada sesamaku. Dan perasaan yang demikian disebut dengan empati. Bertitik tolak dari empati, Stein menyatakan bahwa empati harus menjadi jiwa feminisme.

 

 

 

Esensi feminisme: empati

Empati menjadi fondasi untuk segala pengalaman intersubyektif. Mengapa? Empati dalam pemikiran Stein dapat dimengerti sebagai Aku yang secara aktif keluar dari diriku untuk berjumpa dan bertemu dengan orang lain[20] supaya Aku merasakan segala sesuatu yang terjadi di dalam batin orang lain karena empati menciptakan pengertian (verstehen) untuk diriku. Verstehen Stein bukan hanya semata-mata pemindahan informasi, pengetahuan ke dalam fakultas kognitif. Namun verstehen Stein berarti mengetahui dan memahami sebabnya, dasarnya, mengapanya dari sesuatu[21]. Verstehen itu sendiri adalah karakter otentik dari being manusia. Dalam aktualisasi verstehen, tindakan verstehen merupakan suatu pergerakan dari suatu yang transendental atau pergerakan yang melampaui being karena verstehen menembus batas-batas being dan memperluas dirinya sendiri sampai di mana being tidak menjangkau realitas atau being  yang berada di luar dirinya. Maka, verstehen Stein juga mencakup apa yang disebut dengan mengalami (erleben). Mengapa? Fasilitas dan medium yang menyisipkan diriku ke dalam being lain supaya aku memperoleh verstehen yang otentik disebut dengan mengalami (Erleben). Ketika seseorang itu mengerti sesuatu dengan baik dan benar, aktivitas mengerti sebagai kinerja rasio-kognitif pasti meliput proses mental-perasaan yang terwujud dalam aktivitas mengalami.

Maka, mengalami adalah living through[22]: pengalaman empati menempatkan diriku dalam pengalaman, perasaanmu seolah-olah apa yang kamu alami, apa yang kamu rasakan juga aku alami, aku rasakan tanpa aku harus mengalami secara langsung tetapi tanpa mengurangi keaslian, keontentikan pengalaman yang kamu rasakan. Di sini mengalami sebagai living through menggandeng perasaan dan pengalaman sebagai hal yang berkaitan satu sama lain: setiap perasaan bersumber dari pengalaman. Mengapa? Pengalaman merupakan elemen yang hidup karena ternyata pengalaman adalah suatu elemen yang terbentuk dalam dan dari proses kehidupan secara terus-menerus. Hal ini bermakna bahwa pengalaman merupakan konsekuensi dan suksesi dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang mempunyai koherensi dengan batin manusia dan memiliki makna yang permanen dalam konteks kehidupan. Selanjutnya peristiwa hidup yang dimengerti dan dialami berarti membiarkan kehidupan dimaknai dan dirasakan sebagai suatu keseluruhan, dalam nafasnya dan kekuatannya. Dengan demikian, setiap pengalaman yang dialami dipetik dari kontinuasi kehidupan sehari–hari dan pada saat yang sama berkaitan dengan seluruh hidup-dunia. Empati membuat dan menjadikan pengalaman hidup sebagai sesuatu yang dialami secara total dan utuh. Mengalami dalam pengalaman yang hidup menempatkan hidup seluruhnya dalam masa sekarang karena mengalami selalu berarti sekarang dan di sini –hic et nunc. Mengalami dalam empati membawa masa lalu dan masa depan ke dalam masa sekarang. Maka, empati mempresentasikan esensi dari pengalaman itu sendiri: pengalaman itu selalu memuat aku-kamu yang terangkum menjadi kita bersama karena kita ada di dalam hidup- dunia.

Karena verstehen dan erleben terpatri dan terstruktur pada subyek-aku, maka Stein menegaskan bahwa Aku adalah eksistensi-ada yang absolut. Aku sebagai ada yang absolut mau mengatakan bahwa Aku menentukan segala-galanya; Akulah yang pertama-tama berperan dan menentukan segala sesuatunya. Absolut Aku bukan Aku yang tertutup seperti yang monade yang digagas oleh Leibniz atau pun Aku yang mendominasi dan menyerap segala sesuatunya demi Aku yang absolut. Justru sebaliknya. Aku absolut yang dipahami oleh Stein adalah Aku yang membuka diri terhadap realitas yang di luar diriku; Aku yang masuk ke dunia lain yang asing bagiku untuk mengenalnya, berelasi, bahkan mencintainya. Aku yang demikian adalah Aku yang reflektif karena adanya suatu refleksi akan diriku, atas keunikan yang ada di dalam setiap pribadi bahkan kenyataan di luar diriku. Jadi Aku yang reflektif melihat aku sendiri sebagai yang hidup dalam determinasi yang intensional yaitu hidup-dunia yang memuat aku dan kamu sebagai dasar kehidupan.

Aku yang reflektif memastikan adanya sesuatu kesadaran. Apa itu kesadaran? Pengertian Stein akan kesadaran dipengaruhi oleh Husserl. Kesadaran bagi Husserl berarti sadar akan sesuatu hal.Namun bagi Stein kesadaran itu bukan hanya sadar akan sesuatu (obyek) tetapi menyadari realitas empati yang dimiliki oleh setiap orang. Jadi seperti halnya Husserl yang mengatakan bahwa kesadaran itu menjadi realitas manusia, Stein berpendapat bahwa empati itu mengejewantah di dalam setiap pribadi. Tanpa adanya empati, komunikasi dan relasi yang benar dan otentik dalam peradaban manusia mustahil terbangun. Mengapa? Setiap relasi adalah suatu relasi dengan sesuatu; kehidupan manusia adalah relasi dengan dunianya yang mencakup dirinya, sesamanya, alam semesta, bahkan yang di luar dirinya[23]. Dalam berelasi dengan orang lain, empati merupakan akses, kondisi dan prasyarat dari diriku agar aku dapat berelasi dengannya. Lalu, empati dimaknai sebagai realitas a priori artinya empati telah distrukturkan sedemikian rupa sebelum aku memiliki kesadaran akan empati yang ada di dalam diriku. Empati sebagai realitas a priori juga menunjukkan bahwa empati merupakan pre-original condition untuk membangun relasi dengan orang lain. Empati sudah diberikan sejak semula dalam hidup manusia; sudah disisipkan ke dalam Aku semenjak Aku berada di dalam dunia. Empati yang disisipkan ke dalam Aku membuat Aku menjadi Aku yang transendental, bukan Aku yang soliter; Aku yang altruis, Aku yang terbuka untuk berelasi dan bukan Aku yang egois. Konsekuensinya, empati sebagai pre-original condition yang memampukan aku untuk membangun relasi, mengenalnya, bekerja sama bahkan mencintainya adalah suatu revelasi etis yang menjadi padanan dan pilar kehidupan yang sejati. Dikatakan revelasi etis karena tanpa ada empati yang disisipkan sejak aku ada tidak akan pernah ada kehidupan yang sejati yaitu soal relasiku dengan orang lain yang termuat dalam hidup-dunia bahkan tanpa empati manusia tidak akan pernah sampai kepada Yang lain daripada being itu sendiri. Empati adalah sebuah makna, suatu perasaan, suatu wacana dan tindakan yang murni transendental karena orang lain yang dipahami, dirasa dalam objek persepsi melalui empati menjadi aku yang kedua karena tanpa empati tak mungkin aku mampu menembus dan memahami bahwa kamu adalah aku yang kedua[24].

Dengan adanya kesadaran akan empati, maka kesadaran itu sendiri adalah suatu sikap karena dalam kesadaran akan empati ada suatu pilihan dan tindakan: empati membuat aku menyisihkan, menangguhkan segala ideku, kehendakku, penilaianku yang “di sini dan sekarang”. Lantas ketika aku telah menyisihkan, menangguhkan dan mengurung apa yang menjadi keinginanku, penilaianku, pada saat itulah aku baru mampu berempati untukmu sehingga aku membangun relasi dan komunikasi dengan kamu.

Terlebih, empati mencegah aku untuk cuek dan tidak peduli terhadap orang lain. Bagi Stein tidak mungkin ada ketidakpedulian, kecuekan. Justru sebaliknya. Empati membuat aku untuk selalu peduli, terbuka dan memberi tempat untuk orang lain. Aku mampu merasakan apa yang menjadi penderitaannya, kesulitannya, kesedihannya, kegembiraannya, dan sebagainya karena dia adalah diriku yang kedua. Tidak hanya merasakan tetapi juga menanggung dan berkorban demi dan untuk dia- diriku yang kedua. Meminjam bahasa Levinas empati mengantarku untuk melakukan substitusi [25]. Jadi, tidak mungkin bagi diriku untuk cuek dan berdiam diri di hadapan sesamaku terlebih mereka yang menderita[26].

Perempuan dengan pikiran dan perasaannya yang lembut, peka, penuh intimasi dan sebagai kehidupan dalam forma cinta seorang ibu mampu mengaktualkan empati yang ada di dalam dirinya secara lengkap. Hati perempuan adalah hati yang penuh dengan empati, tindakan perempuan adalah tindakan yang diterangi empati, pemikiran dan perkataan perempuan adalah pemikiran dan perkataan yang diwarnai dengan empati. Di sinilah esensi feminisme: empati. Empati itu tidak hanya menjadi esensi tetapi juga menjadi panggilan feminisme[27].

 

 

 

Panggilan Feminisme

 

Panggilan feminisme di sekarang ini adalah merehumanisasi dunia yang telah dicengkram oleh hedonisme dan materialisme. Hedonisme dan materialisme adalah budaya maut. Dikatakan maut karena hedonis dan materialisme hanya mengandalkan eksploitasi dan dominasi terhadap sesama. Memang secara duniawi dan indrawi hedonisme dan materialisme tampaknya menyenangkan dan menggembirakan. Tetapi apa yang ditawarkan dan diagungkan oleh aliran tersebut hanyalah sebuah kesengsaraan. Mengapa? Karena ketika orang mengeksploitasi saudaranya, orang mengkhianati dirinya sendiri; ketika orang mengumbar hawa nafsu dan tunduk kepada kesenangan harafiah, orang terjebak di dalam perbudakan kesenangan. Lantas semuanya itu hanya membuat pribadi jatuh ke dalam kesendirian. Sebab kegembiraan dan kebahagian hidup justru ditemukan di dalam relasinya dengan sesama dan di dalam kebebasan. Relasi yang dimaksud bukanlah relasi utilitas yaitu relasi yang dibangun hanya berdasarkan kepentingan dan kegunaan. Relasi yang menciptakan kegembiraan dan kebahagaian adalah relasi kepedulian, relasi kasih. Tiadanya relasi yang demikian mengantar dunia kepada kekeringan. Relasi kasih diawali dan dibentuk oleh ibu. Hedonisme dan materialisme telah melupakan ingatan-ingatan kasih yang diawali dan dimulai oleh ibu. Cengkraman hedonisme dan materialisme membuat dunia rindu akan kelembutan seorang ibu.

Feminisme dipanggil untuk kembali mengingatkan kesadaran awali hidup manusia yaitu cinta seorang ibu. Jika feminisme mampu mengembalikan ingatan-ingatan awali setiap orang bersama sang ibu maka akan menjadi kesadaran historis yang universal. Kesadaran historis adalah suatu cara untuk self-knowlege. Self-knowledge menggugah dan membuka horizon kesadaran manusia akan kodratnya dan jati dirinya yang otentik karena self-knowledge merupakan kehidupan yang menginterpretasikan kehidupan. Di sinilah terletak panggilan feminisme yaitu mewujudkan apa yang menjadi kerinduan dunia: kelembutan ibu. Ibu yang dimaksud bahwa feminisme mengkonkretkan kodrat keibuan sebagai kodrat unik perempuan dengan tindakan nyata. Misalnya melayani mereka yang terbuang, membantu mereka yang kesulitan, melawan usaha-usaha yang membinasakan kehidupan, membawa kelembutan, menjadi sahabat bagi siapa saja. Dengan demikian secara ontologi pula terbersit dan terkandung pula tanggung jawab yang dipercayakan kepada setiap perempuan: belajar mendengarkan dan memahami kerinduan dan kebutuhan yang hidup dalam ketidaksadaran manusia. Tindakan-tindakan feminisme yang demikian kiranya dapat dirangkum dalam satu kata yaitu kepedulian. Kepedulian itu sendiri merupakan aktualisasi empati. Kepedulian menjadi kebalikan dari egoisme, cuekisme sebagai hasil budaya hedonisme dan materialisme. Jadi feminisme dipanggil untuk memberi kesaksian akan kepedulian dalam tindakan nyata. Kepedulian  adalah makna cinta kasih yang sejati karena melibatkan penyerahan diri dan sikap menampung sesama. Itu berarti bahwa hanya dalam semangat cinta feminisme dapat menemukan panggilan, martabat, esensi dan kebenaran tentang jadi dirinya sendiri[28]. Kata Stein di hadapan civitas perempuan Katolik Swiss:

          Menyerahkan diri dalam perpekstif perempuan akedemis katolik, atau setiap orang Kristiani tidak berarti melibatkan pelenyapan kejatidirian seperti dalam filsafat India yaitu hilangnya Aku ke dalam ketiadaan atau terserapnya Aku ke           dalam gaya kolektivisme         Rusia. Penyerahan diri berarti menyerahkan kepada Ada (Tuhan), suatu sublimasi jati diri, suatu         proses yang melibatkan kepribadian secara utuh dan penuh untuk mencapai persatuan dengan Ada tak terhingga.       (Sesungguhnya, ini adalah superhumanity). Hal ini akan mengantar kepada tanggung jawab yang melibatkan subjek          diri kita (profesi mengajar), dengan orang lain (bimbingan) dan dengan jiwa orang lain (kerasulan kita)”

Penyerahan diri adalah esensi cinta yang murni; kasih yang sejati. Dan cinta atau yang kasih yang demikian tidak pernah tertidur, tidak pernah tenang, selalu bergelora karena tidak pernah berhenti untuk peduli dengan sesama. Maka, budaya kematian yang dibuat oleh hedonisme dan materialisme diganti dengan peradaban cinta oleh feminisme melalui keibuan dan kepedulian. Sejatinya, peranan dan panggilan feminisme merupakan suatu universalitas karena ontologi dan existensi perempuan dalam relasinya, dalam cara ia mengisi hidup dan mewarnai dunia ternyata membentuk, memperbaharui dan menyegarkan masyarakat dan struktur relasi semua orang: laki-laki dan perempuan. Feminisme yang benar justru berguna untuk kebaikan dan keindahan kehidupan laki-laki dan perempuan. Semua dimensi kehidupan yang telah usang diindahkan dan diperbaharui lagi oleh feminisme.

 

 

Penutup

Kalau ditanya apakah itu feminisme yang sejati? Maka terjawab dengan tegas: feminisme yang sejati dan otentik adalah cinta seorang ibu. Keunikan ini bukan suatu keterkungkungan kodrati bagi perempuan tetapi sungguh suatu panggilan, keterpilihan bahkan kesucian. Cinta seorang ibu merupakan kenyataan unik dan tak tergantikan dalam hidup manusia: manusia hidup selalu dalam bingkai mencintai dan dicintai yang dimulai sejak dia berada di dalam dunia pertama kalinya yaitu dalam rahim sang ibu. Dari sang ibu terbuktilah satu fakta yang definitif: cinta adalah syarat ontologis dan penegasan etis manusia.

Cinta seorang ibu mengacu pula pada totalitas makna feminisme yaitu pemberian dan pengorbanan yang tulus kepada yang lain. Perempuan tentu bisa menjalankan segala profesi yang dikehendaki dan dimaui, memiliki martabat yang sama dengan laki-laki, tetapi perempuan tidak bisa dan tidak boleh melupakan kodratnya sebagai cinta seorang ibu.  Artinya terlepas dan independen dari konteks budaya di mana dia hidup dan terbebas dari atribut-atribut fisik dan psikologis seperti pendidikan, status sosial, menikah atau  tidak menikah seorang perempuan tetaplah seorang ibu[29] dan sahabat bagi kehidupan. Maka semakin perempuan berperan dalam kiprahnya sebagai seorang manusia, makin sehat dan makin baik kondisi masyarakat dan bangsa itu.

Cinta seorang ibu menjadikan kekuatan perempuan dan membuat dirinya sebagai perempuan yang “sempurna”. Perempuan yang “sempurna” selalu dirindukan oleh keluarga bahkan bangsa dan dunia karena cinta seorang ibu adalah rahasia sekaligus solusi, kelembutan, ketenangan, dan keteduhan, dan kedamaian bagi hidup ini. Ketika ibu berkenan mencintai, merawat dan membesarkan anak-anaknya dengan keutulusan, maka terjadilah reformasi moral; perasaan alami cinta akan akan kembali bersemi di dalam setiap hati. Rumah yang penuh dengan sukacita dari seorang ibu yang penuh cinta adalah jalan termanis melawan kekerasan (Jean Jacques Rousseau). Lembah air mata dunia yang disebabkan kekerasan, kebencian akan diubah, dihapus dan diganti dengan keindahan dan kekayaan feminisme: hati seorang ibu yang mencintai dan berkorban. Horatius mengungkapkan realitas ini dengan indah:

 

Matre pulchra filia pulchrior

 Seorang ibu yang baik pasti akan melahirkan pula anak-anak yang berbudi pekerti baik[30]

Dan lagi kata Jean Jaques Rosseau dalam novelnya Emile :

ketika para  wanita menjadi para ibu yang baik ,maka para pria akan menjadi suami dan ayah yang baik.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Buber, Martin, I and Thou, trans. Ronald Gregor Smith, Edinburgh: T&T Clark, 1974

Derrida, Jacques, Éperon Les Styles de Nietzsche, trans. Barbara Harlow, Chicago: University of Chicago Press, 1978

Gadamer, Hans Georg, Truth and Method, New York: Crossroad,1988

Haney, Kathleen and Johanna Vailquette, “Edith Stein: Woman as Ethical Type,” in J.J.Drummond and L. Embree, eds. Phenomenological Approaches to Moral Philosophy. Kluwer Acad. Pub., 2003, hal 451-473

——, “Edith Stein: Woman and Essence,” in L. Fisher and L. Embree, eds. Feminist Phenomenology. Kluwer Acad. Pub., 2000, hal  213-235

Michau, Michael R., Edith Stein’s Contribution to a Phenomenology of Ethical Revelation, http://www.purdue university. com

Levinas, Emmanuel, Otherwise Than Being, Pittsburgh: Duquesne Universtiy Press, 1998

Garcia, Laura L., The Role of Woman in Society, http://www.Catholic.Net 22 April 2006

Sawicki, Marianne, The Phenomenology of Edith Stein. http://www.nd. edu. 22 April 2006

Stein, Edith, Life in a Jewish Family,1891-1916: An Autobiography, trans Josephine Koeppel, Washington D.C., ICS Publications, 1986

—–, Spirituality of The Christian Woman dalam Edith Stein, Essays on Woman Vol II. http:// www. ewtn.com. 22 April 2006

      Ensiklik

John Paul II, Mulieris Dignitatem, 15 August 1988, http:// www.vatican.va

 

 

 

 

 

[1] Bdk. Sinclair B. Ferguson & David F. Wright (eds.), New Dictionary of Theology (Leicester, England: Inter-Varsity Press,1990) hal 225

[2] Jacques Derrida, Éperon Les Styles de Nietzsche, trans. Barbara Harlow (Chicago: University of Chicago Press, 1978) hal 71

[3] Ibid., hal 50

[4] Ibid., hal 69

[5] Ibid., hal 38

[6] Ibid., hal 48

[7] Ibid., hal 65

[8] Ibid., hal 67

[9] Misalnya saja Margaret Thetcher, Bichelet, Gloria Arroyo dan sebagainya. Menurut Hegel jika seorang perempuan memerintah suatu negara, maka negara itu berada di dalam bahaya. Hal ini terjadi karena perempuan memerintah negara bukan berdasarkan rasio tetapi dipengaruhi oleh kecenderungan-kecenderungan dan opini-opini. G.W. F. Hegel, Philosophy of Right, trans S.W. Dyde (New York: Prometheus Books,1996) hal 172

[10] Edith Stein adalah seorang perempuan Yahudi. Karena pandangan dan kontribusinya untuk memberdayakan kaum perempuan, Edith Stein dianggap tokoh feminisme yang amat berpengaruh. Pengaruh pemikirannya nyata di dalam Ensiklik Yohanes Paulus II, Mulieris Dignitatem, 15 Agustus 1988.

[11] Laura L. Garcia, The Role of Woman in Society, http://www.Catholic.Net 22 April 2006

[12] Bdk. John Paul II, Mulieris Dignitatem art 18,  15 August 1988, http:// www.vatican.va

[13] Ibid.

[14] Luce Irigaray, Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda, diterjemahkan oleh Rahayu Hidayat (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2005) hal 57. Dikutip dalam Haryatmoko, Dominasi Penuh Muslihat. Akar Kekerasan dan Diskriminasi (Jakarta: Gramedia, 2010) hal 150

[15] Bdk. Ibid., hal 58 dalam Haryatmoko, Dominasi Penuh Muslihat. Akar Kekerasan dan Diskriminasi (Jakarta: Gramedia, 2010) hal 151

[16] Kathleen Haney and Johanna Vailquette. “Edith Stein: Woman as Ethical Type,” in J.J.Drummond and L. Embree, eds. Phenomenological Approaches to MoralPhilosophy (Kluwer Acad. Pub, 2003) hal 456

[17] Edith Stein, Spirituality of The Christian Woman dalam Edith Stein, Essays on Woman Vol II. http:// www. ewtn.com. 22 April 2006

[18] Alison Jaggar, Love and Knowledge. Emotion in Feminist Epistemology dalam Ann Garry & Marilyn Pearsall Woman (eds.), Knowledge and Reality. Explorations in Feminist Philosophy (Boston: Unwin Hyman, Inc, 1988) hal 123-155

[19]  Edith Stein., op.cit.

[20] Michael R. Michau, Edith Stein’s Contribution to a Phenomenology of Ethical Revelation. www. purdue university. com.

[21] Marianne Sawicki, The Phenomenology of Edith Stein. http://www.nd. edu. 22 April 2006

[22] Edith Stein, Life in a Jewish Family, 1891-1916: An Autobiography, trans Josephine Koeppel (Washington D.C., ICS Publications, 1986) hal 199

[23] Bdk. Martin Bubber, I and Thou, trans Ronald Gregor Smith (Edinburgh: T&T Clark, 1974) hal 25

[24] Sebuah skema perbandingan antara Stein dan Levinas tentang terjadinya tanggung jawab demi dan untuk orang lain. Skema ini mau menegaskan bahwa menurut Stein terjadinya tanggung jawab demi dan untuk orang lain berasal dari Aku yang aktif dan berinisiatif membuka diri dan pergi ke tempat orang lain yang disebabkan oleh realitas empati yang ada di dalam diriku. Sementara, Aku yang dipahami Levinas adalah Aku yang pasif karena Aku tersandera di dalam ketelanjangan, kerapuhan orang lain sehingga Aku bertanggung jawab demi dan untuknya.

                               1                                           2                                                                3

Stein       :          Aku                  →     Orang lain                  →  Tanggung jawab demi dan untuk orang lain

 

Levinas   :     Orang lain           →            Aku       →   Tanggung jawab demi dan untuk orang lain

 

 

[25] Emmanuel Levinas, Otherwise Than Being (Pittsburgh: Duquesne Universtiy Press, 1998) hal 113-118

[26] Di sini pemikiran Stein mengenai empati berdekatan sekali tokoh feminisme Carol Giligan. Giligan dikenal dengan pemikirannya tentang Etika kepedulian.

[27] Michael R. Michau, Edith Stein’s Contribution to a Phenomenology of Ethical Revelation, http:// www. purdue university. com.

[28] Edith Stein, Challenges Facing Swiss Catholic Academic Women dalam Edith Stein Essays on Woman Vol II. http:// www. ewtn.com.

[29] Kathleen Haney, op.cit., hal 456

[30] Terjemahan harafiahnya: dari seorang ibu yang cantik lahir seorang gadis yang lebih cantik.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply