Bunga Uang

XLI

Bunga Uang

Francis Bacon

Lukisan Alex de Andreis, At The Money Lender

at-money-2

Banyak orang telah membuat celaan humoris akan bunga uang[1]. Mereka mengatakan bahwa kasihan sekali bahwa iblis telah mengambil jatah perpuluhan[2] Tuhan. Bahwa lintah darat adalah penghancur hari Sabat, karena mereka selalu berkerja membajak tanah pada hari Minggu[3]. Bahwa lintah darat adalah pemalas seperti yang dikatakan oleh Virgil[4]:

Ignavum fucos a praesepibus arcent

(Mereka mengusir para pemalas, suatu bangsa yang malas dari sarangnya).

Bahwa lintah darat menodai hukum pertama yang dibuat demi manusia setelah manusia jatuh ke dalam dosa yang adalah in sudore vultus tui comedes panem tuum; bukan, in sudore vultus alieni (lewat keringat wajahmu seharusnya kamu makan rotimu, dan bukan lewat keringat wajah orang lain). Kiranya para lintah darat mempunyai topi orange Yahudi[5], karena mereka menerapkan prinsip Yahudi. Yaitu demi uang mereka melawan kodrat untuk menghasilkan uang; dan yang semacamnya. Maksud saya mengatakan hal ini karena bunga uang merupakan concessum propter duritiem cordis (suatu hal yang diizinkan oleh akal budi karena kedegilan hati manusia); karena memang pastilah ada praktek pinjam-meminjam dan karena manusia begitu keras hati sehingga tidak mau meminjamkan uang dengan bebas, maka bunga uang diperbolehkan. Beberapa yang lain telah membuat dalil-dalil perbankan yang licik dan mencurigakan demi menyingkapkan aset-aset seseorang dan properti-properti yang lain. Tetapi sedikit saja yang telah membicarakan tentang faedah bunga uang. Adalah baik untuk menentukan di hadapan kita tentang keuntungan dan kerugian bunga uang, bahwa kebaikan bunga uang kiranya dipertimbangkan atau dikumpulkan tersendiri; dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian, supaya selagi kita mengusahakan keuntungan bunga uang dengan cara yang lebih baik, kita tidak akan menjumpai praktik bunga uang dengan cara yang lebih buruk.

Kerugian dari bunga uang, yang pertama, adalah membuat jumlah pedagang menjadi lebih sedikit. Sebab seandainya mereka tidak berkecimpung di dalam perdagangan bunga uang, maka perputaran uang mengalir, dan uang sebagian besar akan digunakan dalam perdagangan, yang adalah vena porta (gerbang nadi)[6] bagi kemakmuran negara; yang kedua bunga uang itu memiskinkan para pedagang. Sebab sebagaimana seorang petani tidak dapat menggarap tanahnya dengan baik seandainya dia hanya duduk menunggu uang sewa yang besar, demikian juga seorang pedagang tidak dapat memajukan perdagangannya, jika dia hanya duduk menantikan bunga uang yang tinggi. Yang ketiga adalah suatu insiden yang disebabkan oleh dua kondisi tersebut di atas yaitu bahwa matinya perekonomian kerajaan atau negara yang disebabkan oleh pasang-surut perdagangannya. Yang keempat adalah bunga uang membuat harta negara ada di tangan beberapa orang. Sebab profesi sebagai lintah darat mengantar kepada suatu kepastian; sementara profesi yang lain tidak, dan pada akhir permainan uang akan berada di kotak; tentu saja akan menjadi kemakmuran ketika kekayaan diusahakan dengan lebih merata. Yang kelima, bunga uang menghancurkan harga tanah sebab manfaat utama peredaran uang adalah untuk perdagangan atau pembelian; bunga uang memblokir keduanya. Yang keenam, bunga uang sungguh menumpulkan dan mengkerdilkan segala industri, kemajuan dan penemuan baru, sehingga bunga uang kiranya menjadi kegemparan seandainya bunga uang bukan untuk hantaman kepada sektor-sektor tersebut. Yang terakhir, bunga uang adalah kebusukan dan kehancuran bagi kekayaan kebanyakan orang sehingga dalam perjalanan waktu menetas menjadi kemiskinan publik.

Di sisi lain, keuntungan dari bunga uang adalah bahwa meskipun bunga uang itu di dalam beberapa hal memblokir perdagangan; tetapi di beberapa segi lainnya bunga uang memajukan perdagangan; karena bahwa porsi terbesar perdagangan tentu saja digerakkan oleh pedagang-pedagang muda[7] yang meminjamkan bunga uang; jadi sekiranya para lintah darat menarik kembali atau menyimpan kembali uangnya, maka yang terjadi adalah bahwa perdagangan akan berhenti. Yang kedua, seandainya tidak  ada pinjaman yang mudah bersama dengan bunganya, kiranya kebutuhan-kebutuhan manusia akan menyeret manusia kepada suatu kehancuran yang segera; dalam keadaan itu mereka akan terpaksa untuk menjual segala properti (baik tanah atau aset-aset lain) jauh di bawah harga yang sebenarnya, maka, memang bunga uang menggerogoti mereka, tetapi juga pasar yang buruk akan melahap mereka dengan tenangnya. Untuk penggadaian akan sedikit memperbaiki persoalan: sebab manusia tidak akan menggadaikan tanpa manfaat; atau jika memang mereka menggadaikan aset mereka, mereka akan mencari tebusan yang pantas. Saya ingat akan seorang kaya yang kejam di sebuah daerah, yang mengatakan, Si iblis mengambil bunga uang ini sehingga menahan kita memiliki tebusan penggadaian dan surat tanggungan. Yang ketiga dan yang terakhir adalah, bahwa adalah suatu kenaifan berpandangan bahwa kiranya ada pinjaman uang tanpa bunga; dan mustahil berangan-angan tentang rangkaian kerugian yang menyertainya, seandainya praktek pinjam-meminjam sekiranya dikekang. Oleh karena itu, bersuara tentang penghapusan bunga uang adalah suatu ketololan. Semua negara pasti memiliki bunga uang, yang semacamnya atau tarif, ataupun dalam bentuk yang lain. Jadi, tampaknya opini untuk penghapusan bunga uang harus dikirimkan kepada Utopia[8].

Sekarang mari kita berbicara tentang reformasi dan regulasi bunga uang; bagaimana kerugian dari bunga uang dapat dihindari semaksimal mungkin dan keuntungannya dapat dipertahankan. Keberhasilannya muncul ketika adanya keseimbangan antara keuntungan dan kerugian bunga uang, sehingga keuntungan dan kerugian bunga uang direkonsiliasikan. Yang satu, gigi bunga uang kiranya digerinda sehingga tidak terlalu menggigit; yang lain, kiranya ada sela yang terbuka yang tertinggal sebagai sarana demi mengundang orang-orang kaya untuk meminjamkan uang kepada para pedagang supaya para pedagang dapat melanjutkan dan mempercepat perdagangan. Hal ini tidak dapat dilakukan, kecuali anda memperkenalkan dua macam bunga uang, bunga uang yang tinggi dan bunga uang yang rendah. Sebab jika anda mereduksi segala bunga uang menjadi bunga uang yang rendah, memang akan meringankan para peminjam umum, tetapi akan membuat para pedagang justru mencari uang dengan cara sebagai lintah darat. Dan haruslah diperhatikan bahwa ketika perdagangan barang-barang menjadi hal yang paling menguntungkan, kiranya akan menghasilkan bunga uang lewat tarif yang baik; tetapi kontrak-kontrak yang lain tidak demikian.

Guna memenuhi kedua tujuan ini (agar bunga uang tidak terlalu menggigit dan membuat orang kaya mau meminjakan uang supaya perdagangan berjalan)[9]; caranya kiranya dapat diringkas sebagai berikut ini: Bahwa ada dua suku bunga uang: yang pertama suku bunga uang yang bebas dan sifatnya umum untuk semua; yang kedua suku bunga uang yang dipraktekkan hanya di bawah izin, yaitu orang-orang khusus dan untuk jenis-jenis perdagangan tertentu. Oleh karena itu, yang pertama, suku bunga uang yang umum diperkecil sampai menjadi 5%; dan biarkanlah dideklarasikan suku bunga uang yang 5 % itu menjadi bebas bagi siapa saja dan berlaku sekarang ini dan biarkanlah pula negara menutup suku bunga uang tersebut untuk melaksanakan penalti bagi mereka yang tidak dapat membayar bunga tersebut. Hal ini akan mengamankan kredit dari segala kemacetan umum atau ketersendatan. Hal ini juga akan mengurangi peminjaman uang yang mudah yang tak terkira banyaknya di dalam suatu negara.  Keuntungan lain dari kebijakan ini adalah meningkatkan harga tanah karena tanah yang dibeli dalam angsuran selama 16 tahun harganya akan naik 6% dan bahkan mungkin lebih sementara suku bunga uang umum hanya memberikan 5%. Kenyataan ini secara objektif akan mengangkat dan merangsang industri-industri dan investasi-investasi yang menguntungkan, sebab akan banyak orang lebih berminat akan rangsangan suku bunga 6% daripada suku bunga 5%, khususnya mereka yang ingin meningkatkan labanya. Yang kedua biarkanlah orang-orang tertentu yang memiliki izin meminjamkan bunga kepada para pedagang yang telah dikenalnya dengan suatu bunga uang yang lebih tinggi; dan selanjutnya kiranya disertai pula dengan pengawasan. Biarkanlah pula suku bunga uang, bahkan suku bunga uang untuk para pedagang sendiri, menjadi hal yang mudah daripada yang dia biasanya membayar sebelumnya; karena dengan cara yang seperti ini semua peminjam akan mendapatkan kelegaan, entah dia seorang pedagang atau yang lain. Biarkanlah pula tidak ada bank atau stock umum, tetapi kiranya setiap orang menjadi tuan atas uangnya sendiri. Bukan maksud saya sama sekali membenci bank, tetapi bank-bank hampir tidak diperbolehkan, karena adanya kecurigaan-kecurigaan tertentu. Semoga negara menyelesaikan masalah-masalah kecil untuk perizinan dan sisanya dikerjakan oleh para kreditor; sebab jika pengurangan sungguh kecil, maka tidak akan ada hal-hal yang sepele yang melemahkan para kreditor. Sebagai contoh, bagi dia yang sebelumnya mengambil pinjaman dengan bunga 9-10%, akan segera mengambil pinjaman dengan bunga yang 8% daripada menyerahkan dagangannya seluruhnya hanya untuk bunga dan daripada berpaling dari pendapatan-pendapatan yang pasti ke pendapatan-pendapatan beresiko. Biarkanlah para kreditor yang berlisensi ini jumlahnya tak terkira, namun terbatasi di dalam kota-kota penting tertentu dan kota-kota perdagangan; sebab jika tidak terbatasi pada kota-kota tertentu mereka akan nyaris mampu mempengaruhi kondisi keuangan orang-orang dalam negara: jadi sebagaimana sembilan orang yang berlisensi tidak akan mengisap suku bunga 5% yang sekarang ini; sebab tidak ada orang yang akan meminjamkan uangnya di tempat-tempat yang jauh sekali, ataupun menaruh uangnya kepada tangan-tangan yang tidak dikenalnya.

Seandainya dikeluhkan bahwa kebijakan ini sungguh mengotorisasi praktek bunga uang, yang sebelumnya di beberapa tempat praktek bunga uang membutuhkan perizinan; jawabannya adalah, bahwa lebih baik mengurangi bunga uang dengan deklarasi daripada terjadi amukan yang disebabkan oleh kerja sama yang sifatnya diam-diam.

[1] Pada abad pertengahan, segala pinjaman berbunga, berapa pun bunganya, dianggap sebagai uang riba oleh gereja karena uang tidak boleh menghasilkan uang dengan praktik bunga uang. Siapa yang mempraktekkan bunga uang akan diekskomunikasi.

[2] Semacam zakat; seperpuluh pendapatan seseorang dipersembahkan untuk Tuhan (praktik  ajaran Yahudi). Iman Katolik mempercayai bahwa besarnya persembahan (perpuluhan) kepada Tuhan tidak ditentukan oleh jumlah seperpuluhnya tetapi berdasarkan ketulusan dan keikhlasan hati serta cinta dalam memberikan persembahan tersebut.

[3] Hari Minggu adalah hari untuk Tuhan maka biasanya pada hari Minggu orang-orang Kristen pergi merayakan misa dan beristirahat. Lihat essai XI; no. 2

[4] Tentang Virgil lihat essai XV; no. 2

[5] Ketika bunga uang dilarang oleh Gereja, orang-orang Yahudi mempraktekkan bunga uang sehingga mereka begitu kaya dan menentukan perekonomian Inggris. Pada tahun 1275, Raja Edward I menyatakan bahwa bunga uang sebagai hal terlarang dan merupakan penghojatan. Akibatnya orang-orang Yahudi digantung dan kekayaan mereka disita kerajaan dan bahkan mereka diusir dari Inggris lewat Edict Of Expulsion.

[6] Tentang vena porta lihat XIX; no. 41

[7] Pedagang muda yang dimaksud adalah pedagang kaya dan memiliki modal uang yang kuat.

[8] Utopia adalah buku karangan Thomas Moore (dihukum mati oleh Raja Henry VIII karena kesetiaannya kepada gereja Katolik Roma, lihat essai XIX; no. 11) yang berisi tentang gambaran ideal negara persemakmuran.

[9] Tambahan dari penerjemah.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply