Belajar

L

Belajar

Francis Bacon

 Lukisan Johann Hamza, An Elegantly Dressed Gentleman, seated beside a table in a library reading

Belajar itu bermanfaat untuk kesenangan, untuk hiasan dan untuk kecakapan. Faedah utama untuk kesenangan ada dalam kehidupan pribadi dan saat menyindiri; sebagai hiasan terlihat di dalam percakapan; untuk kecakapan terbukti di dalam penilaian dan pengelolaan urusan. Para ahli memang mampu mengerjakan dan menilai perkara khusus, satu per satu, tetapi menyoal nasihat-nasihat umum, perencanaan dan penanganan perkara dilakukan oleh mereka yang belajar.

Menghabiskan waktu untuk belajar secara berlebihan justru merupakan suatu bentuk kemalasan; memanfaatkan belajar melulu demi hiasan adalah kesan sok berilmu; tentu saja menilai segala sesuatunya berdasarkan teori belaka adalah tabiat seorang kutu buku. Belajar menyempurnakan kodrat manusia dan kodrat disempurnakan oleh pengalaman. Sebab kemampuan-kemampuan alamiah manusia ibarat tumbuhan alami yang membutuhkan penyiangan. Belajar sendiri memang cenderung memberikan petunjuk yang terlalu luas kecuali jika disatukan dengan pengalaman.

Orang-orang licik menyepelekan soal belajar, orang sederhana mengagungkannya, dan orang bijak memanfaatkannya. Alasannya, belajar mengajarkan faedah yang bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan kebijaksanaan untuk memanfaatkan belajar diperoleh dari praktik dan pengalaman.

Membaca bukan untuk membantah dan menyangkal, juga bukan untuk langsung mempercayainya dan menganggapnya sebagai suatu kepastian. Membaca bukan pula untuk sekedar percakapan melainkan untuk menimbang dan memikirkannya. Karena ada buku-buku yang harus diuji. Ada buku yang ditelan, dan hanya sedikit dikunyah dan dicerna; yakni buku–buku yang isinya tidak perlu dibaca seluruhnya. Ada buku yang dibaca seutuhnya tanpa kecermatan. Ada buku yang harus dibaca keseluruhan isinya dengan seksama dan penuh perhatian. Memang ada buku yang harus dibaca dengan ringkasan atau bantuan orang lain. Namun ringkasan dan bantuan orang lain hanya untuk buku yang kurang penting, sebab buku-buku yang demikian ibarat air murni yang telah kehilangan rasa.

Membaca menjadikan diri manusia berisi; berdiskusi menjadikan manusia yang teratur dalam berpikir; sedangkan menulis mengantar diri menjadi orang yang teliti. Maka, bila ia jarang menulis, ia sangat memerlukan daya ingat yang kuat; jika jarang berdiskusi, ia amat memerlukan kecerdasan yang sigap; dan bila ia jarang membaca, ia sungguh memerlukan kecerdikan yang tinggi agar dirinya tampaknya mengetahui apa yang sebenarnya tidak diketahuinya.

Sejarah membuat manusia bijak; puisi menjadikan manusia cerdas; matematika membuat pikiran manusia tajam; filsafat alam memberikan kedalaman pikiran; filsafat moral membentuk kebijaksanaan hidup; logika dan retorika menjadikan diri mampu untuk berdebat. Abeunt studia in mores -belajar mempengaruhi dan membentuk tingkah laku.

Tidak ada kecacatan intelektual yang tidak dapat diperbaiki lewat jenis belajar yang tepat, sebagaimana penyakit tubuh yang disembuhkan dengan jenis olah raga yang cocok. Olahraga boling baik untuk ginjal, menembak untuk paru-paru dan dada, jalan santai untuk pencernaan, membaca baik untuk pikiran, dan latihan-latihan lain sesuai dengan tujuan masing-masing. Maka, jika pikiran seseorang gampang mengembara, biarkan dia belajar matematika sebab dalam pembuktian, jika pikirannya melompat, ia harus kembali ke titik awal. Jika pikirannya tidak mampu membedakan atau menemukan perbedaan, biarkan dia mempelajari karya dari para ahli skolastik sebab mereka adalah cymini sectorespembelah rambut. Jika pikirannya tidak mampu menyusun argumen dan menarik kesimpulan dari satu hal ke hal lainnya biarkan dia belajar tentang perkara-perkara hukum. Jadi, setiap kecacatan pikiran kiranya memiliki obatnya sendiri.

 

Refleksi personal

Latar belakang historis zaman Bacon adalah munculnya gerakan revolusi ilmiah di Inggris. Bacon itu sendiri juga adalah pioner awal yang  menggagas revolusi ilmiah itu. Revolusi ilmiah Inggris menyoal pada pengetahuan dengan metode empiris induktif dan bukan pengetahuan yang berbasis pada rasionalisme deduktif-pengetahuan yang didapat dari akal murni tanpa eksperimen. Pengetahuan rasionalisme yang menutup diri terhadap eksperimen dan pengalaman menyebabkan deduksi dari teori lama  sehingga membuat orang berputar pada silogisme, definisi dan tanpa penyelidikan yang nyata.

Pengetahuan skolastik tertentu yaitu mereka yang menolak uji empiris justru menghasilkan konsep-konsep yang kabur dan spekulatif sehingga menetaskan kata-kata tanpa kontak dengan realitas dan bukan perbuatan atau kenyataan. Menurut Bacon, metode yang dipakai adalah dengan sekedar membaca dan menghafal tanpa memahami maknanya. Pengetahuan yang demikian hanyalah dogmatis sehingga tidak ada manfaatnya.

Bacon sebenarnya tidak menolak rasio sebagai ilmu pengetahuan. Yang dia tolak adalah rasio yang melepaskan diri dari pengalaman dan eksperimen. Untuk itu, Bacon menggagas metode empiris induktif supaya rasio diuji dengan pengalaman yang nyata. Dengan metode empiris induktif, Bacon yakin bahwa knowledge is power karena pengetahuan didapat dari pengalaman dan sudah terbukti dan diuji. Di sni, rasio tidak lagi ada di dalam pikiran tetapi sudah menjadi bagian dari praktis. Mengapa? Metode empiris induktif merupakan cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Belajar dengan metode empiris induktif membentuk kemampuan berpikir, meneliti dan menerapkan pengetahuan untuk kehidupan nyata. Bacon menekankan pemahaman melalui pengalaman, eksperimen dan observasi; jadi tidak berhenti pada teori dan pikiran saja. Empiris induktif mengandalkan pengumpulan bukti, analisis, dan menyimpulkan fakta-fakta yang diamati. Maka belajar adalah proses mempertanyakan, menyelidiki dan meneliti. Dengan metode empiris yang demikian, rasio tidak lagi ditempatkan sebagai pusat pengetahuan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai instrumen yang dibimbing, diuji dan dikoreksi oleh pengalaman. Contohnya, belajar tentang api. Dalam metode empiris induktif, belajar tentang api tidak hanya berdasarkan tekstual karena belajar tekstual belum cukup untuk mendapatkan pengetahuan yang nyata. Supaya mendapatkan pengetahuan nyata tentang api, pengamatan, observasi dan eksperimen tentang api dilakukan. Belajar dengan metode empiris adalah belajar yang produktif, aktif, kritis sehingga dalam arti tertentu merupakan skeptisisme yaitu tidak mempercayai begitu saja opini lama dan tradisi yang belum diuji oleh pengalaman.

Bagi Bacon ilmu pengetahuan itu baik itu sejarah, matematika, ilmu hukum membentuk watak manusia. Ilmu pengetahuan dengan disiplin dan metodenya menempa orang baik secara logika, kepribadian, cara pikir untuk mengikuti disiplin ilmu tersebut. Penempaan yang berulang kali sesuai kajian ilmu yang dipelajari dan dihidupi menghasilkan watak. Itu berarti bahwa ilmu pengetahuan telah menyatu di dalam diri atau telah mendarah daging dalam aspek diri.

Maka, tujuan belajar bagi Bacon ada di dalam koridor praktis bahwa belajar bukan sekedar untuk kepuasan pribadi tapi untuk manfaat praktis bagi kehidupan manusia. Pengetahuan harus mengatasi kesulitan, meningkatkan kemampuan manusia, mengobati kecacatan pikiran dan memperbaiki dunia.

Kalau diterjemahkan secara pendidikan modern, essai Bacon soal belajar mau mengatakan bahwa pendidikan itu membebaskan. Membebaskan dari apa? Pendidikan itu membebaskan diri dari kebodohan, ketidakmampuan, ketidakberanian, kemiskinan, ketidaktahuan. Pendidikan yang membebaskan itu berarti mengaktualisasi diri dan memberdayakan diri secara pengetahuan.  Ada tiga tindakan pendidikan yang fundamental untuk memberdayakan diri yaitu membaca, berdiskusi dan menulis. Ketiga aksi edukatif merupakan cara untuk memahami dan bersaksi akan pengetahuan. Ketiga aksi edukatif disatukan dengan pengalaman supaya pengetahuan yang didapat membangun kesadaran manusia kemudian mampu memaknai dunia dan mengubahnya dengan tanggung jawab.

Maka tujuan belajar tidak disempitkan untuk pandai dan untuk lulus ujian di bangku akademik. Tujuan belajar yang lebih tinggi adalah untuk setia dan demi makna hidup. Pengetahuan sejati tidak berhenti di ruang teori, tetapi diaplikasikan dan diterjemahkan menjadi cara hidup, praktik hidup, tindakan dan kenyataan. Belajar dengan mengerjakan, belajar dengan merefleksikan dan belajar yang berarti problem solving dalam konteks sosial -bukan melalui mengingat secara pasif- menjadi daya ampuh untuk mewujudkan tujuan pendidikan.

Akhirnya gema pepatah Latin non scholae, sed vitae discimus- kita belajar untuk hidup bukan untuk sekolah tidak pernah berhenti  bergema sampai hari ini.

Copyright © 2016 ducksophia.com. All Rights Reserved

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply