Kristus Pantokrator, ikon bergaya Byzantine/Ortodoks

Tahun A
Minggu Biasa XXI
Yesaya 22:19-23
Roma 11:33-36
Matius 16:13-20
Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi
Charles Lamb adalah penulis esai yang semakin mengkumandangkan Shakespeare -sang sastrawan yang terkenal sampai hari ini. Dia sangat berjasa dalam mempopulerkan Shakespeare kepada pembaca muda melalui Tales from Shakespeare. Suatu waktu dia makan malam dengan para koleganya. Sambil mengobrol tentang Shakespeare yang hebat itu, seorang kenalan bertanya kepada Charles Lamb: “Bayangkan jika Shakespeare masuk ke ruang makan kita saat ini”. Charles menjawab: “Kita akan mengangkat segelas anggur untuk orang hebat itu”. Kenalan yang lain bertanya kepada Charles Lamb: “Bayangkan Yesus datang ke sini”. Lamb menjawab: “Kita semua akan berlutut”. Itulah perbedaan mendasar antara seorang pribadi Nazareth dan semua pribadi hebat lainnya yang dapat kita pikirkan. Senada dengan semangat itu, pastor Gillhooly berkata: “Kristus adalah Tuhan, dan semua orang lain, apa pun perbuatan mereka, hanyalah orang sementara yang berlagak di atas panggung untuk waktu yang singkat kemudian pergi”.
Dalam bacaan Injil, Yesus bertanya kepada murid-muridnya: “Siapakah aku ini?” Tentu pertanyaan Yesus siapakah Aku ini juga ditujukan kepada kita karena kita adalah murid-muridnya sejak air baptis Bapa dan Putra dan Roh Kudus digoreskan di dahi. Menurutmu, siapakah aku ini? Kata menurutmu menunjukkan bahwa pertanyaan Yesus meminta jawaban personal dari setiap murid. Jawaban personal berarti aku mengenal Yesus dalam hidupku; aku mengalami hidup bersama Yesus. Aku akan tahu dan bisa menjawab Yesus ketika aku berani bergulat dengan kebaikan dan kebenaran Kristus di setiap momen hidupku dan menyatukannya dengan Kristus. Momen itu mencakup baik momen yang pahit maupun momen yang manis. Aku mampu menjawab siapakah Yesus ketika aku berani dan tetap berjalan bersama Kristus walaupun kadang Dia diam. Realitas gula atau cuka yang berlangsung di dalam perjalanan hidup terjadilah dan biarkanlah. Sebab di dalam pergulatanku, perjuanganku, gula dan cuka di sepanjang jalan hidupku, aku akan menjawab siapakah Yesus berdasarkan pengalamanku, pembuktianku, cintaku terhadap dan bersama Yesus sendiri. Bukan berdasarkan pengalaman atau pembuktian orang lain. Jawaban personalku tentang siapakah Yesus menurutku yang lahir dari hatiku, akan menjadi wadas, Petra, Petrus. Jawaban personalku yang otentik menjadikan diriku suatu gereja; aku adalah gereja. Jadi pengertian gereja pertama-tama bukan semata-mata bangunan yang terbuat dari batu, semen, kaca, kayu melainkan dari tubuh, roh dan hati yang percaya dan mengasihi Yesus sebagai Kristus. Gereja dibangun di atas iman orang Kristen yang percaya. Orang Kristen yang percaya adalah batu-batu yang hidup di dalam bangunan Tuhan itu.
Sebagai gereja yang terbangun dari tubuh, roh dan hati maka sabda dan peristiwa Yesus harus menjadi kata dan peristiwa hidup setiap murid-Nya. Dengan demikian murid-Nya yang adalah “Petra” akan tahu siapakah Yesus; apa yang dia mau. Bahkan “Petra” akan mencintai dan mengakui bahwa Yesus orang Nazareth adalah Kristus.
Kata Kristus berasal dari bahasa Yunani yang berarti Dia yang telah diurapi. Dalam bahasa Ibrani Kristus sepadan dengan Mesias. Kesaksian akan Yesus Nazareth sebagai Kristus merupakan pengakuan iman yang sangat besar. Yesus orang Nazareth itu adalah dia yang secara definitif diutus Tuhan untuk melaksanakan karya keselamatan-Nya. Yesus Nazareth adalah Mesias.
Israel memiliki pengharapan bahwa Allah akan menghadirkan seorang Mesias dalam kaitannya dengan janji Allah kepada Daud. Maka muncul pengharapan akan seorang keturunan Daud yang akan membawa pemerintahan Allah, keadilan dan pemulihan. Yesaya menubuatkan bahwa kunci kerajaan Daud akan diberikan kepada seorang tuan baru, yang akan memerintah sebagai bapa bagi umat Allah. Tipologi kunci ini mengingatkan akan pengangkatan Eliakim sebagai kepala pelayan di istana raja Hizkia. Kunci rumah Daud dapat dilihat sebagai nubuat Mesianis yang nantinya akan membebaskan Israel. Perlu diketahui secara sejarah bahwa bangsa Israel sering menjadi budak bangsa lain dan zaman Yesus, Israel dijajah oleh Romawi. Pada zaman Yesus, sebagian orang menantikan Mesias sebagai figur yang membawa pembebasan Israel dalam pengertian politik. Tetapi Yesus menunjukkan Mesias dalam arti yang lain. Mesias dalam pengharapan yang seperti itu tidak membawa keselamatan dan damai bagi setiap hati. Mesianis Yesus dilakukan bukan dengan menaklukkan dengan pedang tetapi Mesias yang menyelamatkan setiap hati dengan pemberian diri, pelayanan, penderitaan, salib, kematian dan kebangkitan. Jalan kemuliaan Mesias adalah salib. Kemesiasan Yesus orang Nazareth itu adalah kemesiasan kasih setia Tuhan kepada setiap pribadi. Kasih setia mesianis Tuhan berlaku selama-lamanya dan tidak lenyap seperti mesias ala politik yang memihak pada kepentingan politik tertentu yang menguntungkan. Kemesiasan Yesus memperhatikan orang hina, mendengarkan orang miskin, yang menderita, terbuang. Kemesiasan Yesus ada dan hadir di setiap hati yang mengasihi-Nya. Maka, seperti yang dikatakan dalam Mazmur: “di kala aku berseru, engkau mendengarkan daku, Engkau menambah kekuatan batinku”. Meskipun Yesus adalah Kristus Yang Maha Tinggi, ia sudi mendengarkan dan wafat seperti layaknya manusia biasa. Dalam Kristus, sejarah menjadi masa sekarang yang menyelamatkan. Maka, Kristus adalah pribadi paling unik di dalam sejarah. Tidak ada seorang pun dapat menulis sejarah umat manusia tanpa memberikan tempat pertama dan utama kepada Yesus orang Nazareth (Bdk HG. Wells). Dengan demikian, nama Yesus tidak hanya ditulis tetapi juga diukir ke dalam sejarah dunia. Injil menantang kita untuk menerima Yesus sebagai Kristus dan juru selamat kita (Emerson).
Kristus adalah Tuhan. Oleh karena itu, realitas, misteri dan kekayaan Kristus adalah seperti yang dikatakan oleh Paulus: “Betapa dalam dan kayanya kebijaksanaan dan pengetahuan Tuhan! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?”
Terhadap misteri Kristus, tentu aku belum sungguh-sungguh menjawab “siapakah Yesus?” hanya dengan mengulang jawaban Petrus. Aku harus sampai pada pengakuanku sendiri supaya aku mengenali Kristus dan sedikit mencicipi kekayaan Kristus, tenggelam dalam misteri Kristus seperti yang dikatakan oleh Paulus itu. Namun jawabanku tidak diciptakan sesuka hatiku. Jawabanku lahir ketika hidupku berjumpa dengan Kristus yang diwartakan -Kristus yang mengasihi, memberikan diri, memikul salib, wafat dan bangkit. Dalam perjalanan iman, Ia sendiri yang menuntun aku untuk menjawab pertanyaan-Nya: menurutmu, siapakah aku ini? Sebab, hanya hati yang terbuka dan sederhana yang mampu menjawab pertanyaan Kristus menurutmu, siapakah aku ini. Begitu aku mampu menjawab dan mengenal Kristus secara dekat dan pribadi maka tidak ada momen dalam hidupku yang sama lagi. Sejak saat itu, semua momen membangun diriku menjadi batu hidup, Petra dan menjadi gereja. Lalu di tengah perjalanan iman, secara lembut dan perlahan pertanyaan Yesus berbalik arah. Semula Dia bertanya kepadaku: “Menurutmu siapakah aku ini?” Tetapi setelah menjawab siapa Dia, aku harus berani bertanya kepada diriku sendiri: “Jika dia sungguh Kristus bagiku, lalu siapakah aku di hadapan-Nya?” Mungkin hanya salib dan kasih menjadi kunci untuk memahami siapa Kristus, sekaligus kunci untuk memahami siapa aku sebagai murid-Nya. Kedua jawaban akan mencapai finalitasnya ketika buku kehidupan telah selesai, ketika aku berjumpa dengan Kristus di kemah abadi.
Pada akhirnya segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Baginya kemuliaan selama-lamanya.
Copyright © 2026 ducksophia.com. All Rights Reserved