Faedah Harta Benda Menurut Yesus Bin Sirakh

 

Lukisan: Berthe Morisot, After Luncheon, 1881 

Sirakh 14:3-19

3. Kekayaan tidak serasi dengan orang yang lokek, dan bagi orang kikir apa faedahnya segala harta bendanya?

4. Barangsiapa yang mengumpulkan dengan merugikan dirinya, ia menimbun bagi orang lain, dan orang luar akan hidup mewah dengan harta bendanya.

5. Seseorang yang keras terhadap dirinya sendiri, terhadap siapakah ia baik hati, ia malah tidak sampai menikmati harta

. 6. Tidak ada seorangpun yang lebih buruk dari pada yang iri kepada dirinya sendiri. Itulah ganjaran kejahatannya sendiri!

7. Kalau ia berbuat baik, niscaya ia berbuat tidak dengan sengaja, tapi akhirnya menyatakan kejahatannya.

8. Buruklah orang yang matanya mengiri, yang memaling mukanya dan memandang rendah orang lain.

9. Mata orang serakah tidak puas dengan miliknya sendiri, dan mata duitan menyusutkan manusia.

10. Mata orang yang kikir menghemat makanan, maka kekurangan ada di atas mejanya.

11. Anakku, apabila ada milik hendaklah baik memelihara dirimu, tetapi juga sampaikanlah persembahan yang patut kepada Tuhan.

I2. Ingatlah maut tidak berayal-ayalan dan penetapan dunia orang mati tidak ditunjukkan kepadamu.

13. Sebelum meninggal berbuatlah baik kepada sahabat, ulurkanlah tangan dan berikanlah kepadanya menurut kemampuanmu.

14. Kebahagiaan sekarang jangan kautolak dari dirimu sendiri dan jangan melewatkan kebahagiaan yang diinginkan.

15. Tidakkah hasil jerih lelahmu mesti kau tinggalkan kepada orang lain dan hasil jerih payahmu dibagikan dengan undian?

16. Hendaklah memberi dan menerima serta bersenang-senang sebab di dalam dunia orang mati orang tidak dapat lagi mencari hidup senang.

17. Segala makhluk menjadi tua seperti baju, dan ada penetapan kekal, yakni: Orang mesti mati!

18. Sama seperti daun yang tumbuh pada pohon yang rindang: ada yang rontok ada yang tumbuh, demikianpun halnya bangsa yang berdarah daging: yang satu mati dan yang lain lahir.

19. Semua pekerjaan yang fana jatuh binasa dan bersama dengannya lenyaplah yang mengerjakannya.

Eksegese

3. Kekayaan tidak serasi dengan orang yang lokek, dan bagi orang kikir apa faedahnya segala harta bendanya? 4. Barangsiapa yang mengumpulkan dengan merugikan dirinya, ia menimbun bagi orang lain, dan orang luar akan hidup mewah dengan harta bendanya.

Pada ayat 3, Sirakh mengkritik orang lokek atau orang kikir. Orang kikir atau lokek adalah orang yang enggan bahkan tidak mau berbagi dengan sesama termasuk terhadap kenalan, sahabat. Memang harta benda dan kekayaan merupakan usaha pribadi dalam mendapatkannya. Walaupun demikian kekayaan dan harta benda memiliki dimensi sosial dan bukan penuh untuk diri sendiri. Sebab harta benda dan kekayaan juga merupakan rahmat Tuhan kepada seseorang agar ia dapat mencintai Tuhan dan sesama dengan lebih baik. Hal itu dapat dilakukan ketika sesorang mau berbagi dan membantu ataupun sedekah kepada sesamanya dengan harta benda yang ia miliki. Melihat faedah harta benda yang demikian, menurut Sirakh orang lokek dan orang kikir hidup tidak sesuai dengan faedah harta benda. Tanpa diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama, harta benda dan kekayaan tidak memberikan faedahnya bagi pemiliknya. Pada ayat 4, Sirakh mempertegas kritiknya. Orang kikir atau orang lokek adalah orang yang menimbun kekayaannya demi dirinya sendiri. Segala usahanya hanya dilakukan untuk mengumpulkan harta benda tanpa memberi ruang untuk sesama. Maka bagi Sirakh, usaha yang demikian adalah merugikan diri sendiri. Sebab, pada akhirnya dia tidak akan menikmati harta benda yang ia timbun. Orang lain yang akan mengambilnya dan orang luar akan menikmati harta bendanya. Manusia pasti akan mati termasuk orang kikir. Ketika dia mati harta benda yang ia kumpulkan tidak mungkin dibawanya. Dengan demikian ada ironi hidup: orang yang terus menimbun justru bekerja keras untuk kekayaan yang akhirnya dinikmati oleh orang lain.

  1. Seseorang yang keras terhadap dirinya sendiri, terhadap siapakah ia baik hati, ia malah tidak sampai menikmati harta. 6. Tidak ada seorangpun yang lebih buruk dari pada yang iri kepada dirinya sendiri. Itulah ganjaran kejahatannya sendiri! 7. Kalau ia berbuat baik, niscaya ia berbuat tidak dengan sengaja, tapi akhirnya menyatakan kejahatannya. 8. Buruklah orang yang matanya mengiri, yang memaling mukanya dan memandang rendah orang lain. 9. Mata orang serakah tidak puas dengan miliknya sendiri, dan mata duitan menyusutkan manusia.

Orang kikir tidak hanya menutup bagi orang lain tetapi juga terhadap diri sendiri. Segala harta dan kekayaan yang diusahakan dan dikerjakan untuk kekayaan itu sendiri, bukan untuk orang lain maupun diri sendiri. Ia menjadi budak bagi kekayaan sehingga tidak menikmati harta benda. Orang yang demikian pada akhirnya menjadi jahat kepada dirinya sendiri. Tidak ada ruang yang tersisa untuk dirinya sendiri dalam arti ia tidak membiarkan dirinya menikmati hasil jerih payahnya. Tegas bagi Sirakh bahwa orang yang demikian orang yang berbuat jahat. Kejahatannya adalah ia memperlakukan dirinya dengan keras yaitu hidup sebagai orang kikir. Ia lupa bahwa kekayaannya juga adalah rahmat Tuhan untuk dinikmati dengan baik sehingga ia tidak bersyukur kepada Tuhan.  Ia hidup dengan tidak bahagia. Maka, orang yang iri kepada dirinya adalah orang yang menyakiti diri sendiri dan menderita karena kekikirannya. Penderitaan adalah ganjaran kejahatannya karena ulahnya sendiri.

Menurut Sirakh, karena telah menjadi hamba kekayaan dan menjauhkan diri dari kasih cinta kepada Tuhan dan sesama, orang yang pelit tidak akan pernah berbuat baik. Kalaupun ia berbuat baik, bukan berasal dari keinginan untuk berbuat baik atau dari kemurahan hati. Kebaikan yang ia lakukan hanya sebagai tambahan atau akibat saja dan bukan tujuan utama. Pada akhirnya motif buruknya akan tampak.

Selanjutnya, Sirakh mengkritik keras orang yang iri akan harta benda orang lain. Iri akan harta benda di sini bukan hanya soal harta benda material melainkan mencakup  pandangan yang dengki, pelit dan tidak rela melihat orang lain memperoleh kebaikan. Orang yang iri membawa dirinya kepada sikap merendahkan sesama. Bisa jadi ia menolak berelasi dengan orang yang ia iri. Iri menguasai hati, batin dan pikirannya sehingga membuat dirinya sepenuhnya menjadi buruk atau jahat. Tidak lagi hal lain kecuali iri. Orang yang iri kerap berubah menjadi orang serakah. Orang yang serakah tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Ia selalu merasa kurang. Hal ini juga berlaku bagi orang yang mata duitan. Orang yang mata duitan hanya berfokus pada uang. Artinya bahwa keserakahan membuat orang tidak pernah merasa cukup. Bisa jadi karena keserakahan ia tidak lagi mempedulikan bagaimana uang itu didapatkan. Yang penting uang masuk ke kantongnya. Orang serakah dan mata duitan kiranya sudah tidak kenal lagi kebaikan dan moral.

 

  1. Mata orang yang kikir menghemat makanan, maka kekurangan ada di atas mejanya.

Salah satu bentuk menyakiti diri sendiri karena kekikirannya adalah menghemat makanan sedemikian sampai kekurangan makanan. Ia menahan lapar karena kikirnya. Ketika kekikiran sampai merambah ke kebutuhan pokok seperti makanan, maka orang kikir itu sudah amat jauh dari kehidupan yang baik.

  1. Anakku, apabila ada milik hendaklah baik memelihara dirimu, tetapi juga sampaikanlah persembahan yang patut kepada Tuhan. 12. Ingatlah maut tidak berayal-ayalan dan penetapan dunia orang mati tidak ditunjukkan kepadamu. 13. Sebelum meninggal berbuatlah baik kepada sahabat, ulurkanlah tangan dan berikanlah kepadanya menurut kemampuanmu. 14. kebahagiaan sekarang jangan kautolak dari dirimu sendiri dan jangan melewatkan kebahagiaan yang diinginkan. 15. Tidakkah hasil jerih lelahmu mesti kau tinggalkan kepada orang lain dan hasil jerih payahmu dibagikan dengan undian? 16. Hendaklah memberi dan menerima serta bersenang-senang sebab di dalam dunia orang mati orang tidak dapat lagi mencari hidup senang. 17. Segala makhluk menjadi tua seperti baju, dan ada penetapan kekal, yakni: Orang mesti mati! 18. Sama seperti daun yang tumbuh pada pohon yang rindang: ada yang rontok ada yang tumbuh, demikianpun halnya bangsa yang berdarah daging: yang satu mati dan yang lain lahir. 19. Semua pekerjaan yang fana jatuh binasa dan bersama dengannya lenyaplah yang mengerjakannya.

Setelah mengkritik orang yang kikir, Sirakh menyapa pembacanya dengan seruan anakku. Seruan ini adalah suatu seruan kasih sayang seorang bapa kepada anaknya. Sebagai bapa, Sirakh menasihati agar harta benda, kekayaan atau pun kebaikan yang dimiliki sungguh memelihara diri dalam arti seseorang mempergunakan dengan bijaksana dan dengan baik segala harta benda itu supaya hidup bahagia. Hidup bahagia berarti menikmati hasil jerih payah sebagai anugerah. Orang tidak boleh begitu pelit sampai mengabaikan kesejahteraan dirinya sendiri.

Sirakh juga mengingatkan untuk memberikan persembahan yang patut kepada Tuhan. Menarik bahwa Sirakh tidak menyebutkan nominalnya seperti seperpuluhan melainkan menyebutnya dengan patut. Persembahan yang patut kepada Tuhan adalah persembahan yang tulus yang sungguh berasal dari cinta kepada Tuhan dan bukan persembahan yang pamrih. Dalam konteks Sirakh, persembahan terutama menunjuk pada persembahan kepada Tuhan menurut tradisi Israel. Tetapi juga, semangat syukur kepada Tuhan juga diwujudkan melalui kemurahan hati kepada sesama.

Ayat 12 ini merupakan penjelasan awal mengapa orang harus menggunakan kekayaannya dengan bijak dan baik. Dasarnya adalah kematian yang adalah hal yang nyata dan merupakan kodrat setiap manusia. Tidak ada yang bisa menghindari ataupun menunda kematian. Misterinya, walaupun suatu keniscayaan, tidak ada yang tahu kapan seseorang akan mati. Penetapan kematian seseorang ada di dalam tangan Tuhan dan tersembunyi dari pengetahuan manusia. Dengan demikian orang yang menimbun harta seolah-olah ia yakin hidup selamanya. Padahal ketika kematian datang, harta yang ditimbun tidak akan dibawa olehnya ke alam maut. Menurut Sirakh bahwa sebelum meninggal, orang semestinya berbuat kebaikan dan bermurah hati sesuai dengan kemampuan kepada sesama minimal orang terdekat yaitu sahabat. Tujuannya adalah supaya menutup buku kehidupan dengan kebaikan dan harta bendanya ada faedahnya bagi orang lain. Sirakh menegaskan juga bahwa harta benda dan kekayaan membawa kebahagiaan. Maka kebahagiaan yang diperoleh dari kekayaan dan harta benda kiranya dinikmati sesuai dengan semangat takut akan Tuhan. Terlebih, Sirakh mengajak orang untuk menikmati kekayaannya sekarang dan saat ini dan jangan menunda menikmati kebahagiaan yang ada sekarang ini. Mewujudkan kebahagiaan yang diinginkan juga merupakan ungkapan syukur atas rahmat Tuhan karena Tuhan ingin manusia hidup bahagia. Selain itu, seseorang pasti mati dan ketika mati, ia tidak mungkin lagi menikmati jerih payahnya. Harta bendanya yang diusahakan dengan jerih payahnya akan diambil orang lain dan dinikmati oleh orang lain. Jika demikian, apa gunanya ia bekerja keras mendapatkan kekayaan namun tidak menikmati kekayaannya.

Selanjutnya, Sirakh menasihat agar orang bersenang-senang. Bersenang-senang di sini bukan dalam koridor memboroskan uang, hidup berfoya-foya dan melenceng dari semangat takut akan Tuhan. Bersenang-bersenang berarti mencukupkan diri  dengan harta benda dalam terang Tuhan. Di dalam alam maut, mustahil orang bersenang-senang karena bersenang-senang hanya terjadi di dalam kehidupan. Bersenang-senang juga berarti memanfaatkan dan menggunakan kekayaan secara wajar dan sesuai kemampuan demi kesejahteraan pribadi dan sesama. Maka menggunakan kekayaan  dengan benar  berarti menerima hasil jerih payah dengan syukur sekaligus membagikannya kepada sesama dengan tulus. Untuk itu Sirakh mengajak orang untuk menikmati kehidupan selagi masih hidup karena di dunia orang mati kesempatan itu sudah tidak ada lagi.

Sirakh kembali mengingatkan semuanya akan berlalu termasuk kekayaan dan harta benda. Semua akan menjadi tua seperti baju dan ada hukum alam abadi bahwa manusia pasti mati. Selama manusia hidup di dunia ia berada di bawah hukum alam yang tidak dapat dihindari yaitu bahwa setiap kehidupan akan berakhir di dalam kematian.

Kelahiran dan kematian adalah siklus kehidupan. Siklus kehidupan oleh Sirakh diibaratkan dengan daun yang terdapat pada pohon rindang. Daun pada pohon rindang ada yang tumbuh dan ada yang gugur. Siklus kehidupan itu mau mengatakan tidak ada ada yang abadi termasuk pekerjaan. Semua pekerjaan yang ada di dalam siklus kehidupan bersifat sementara karena manusia yang mengerjakan tidak terhindar dari kematian. Pekerjaan itu akhirnya lenyap atau diwariskan kepada orang lain

 

Makna                                

Kebijaksanaan Sirakh membahas soal faedah kekayaan. Tuhan menganugerahkan kekayaan kepada seseorang agar dia menikmatinya baik untuk dirinya sendiri dan orang lain. Itulah faedah kekayaan yang sejati.

Faedah kekayaan yang sejati itu menyingkapkan perihal memberi dan menerima yang merupakan satu kesatuan. Tidak mungkin hanya menerima atau sebaliknya karena kehidupan terjadi ketika memberi dan menerima segala sesuatunya. Kekayaan adalah baik adanya selama diperoleh dengan kejujuran dan dalam terang Tuhan. Tetapi juga kekayaan bukanlah tujuan hidup yang harus ditimbun terus-menerus melainkan sarana untuk memuji Tuhan dan sarana untuk menopang kehidupan.

Banyak orang berpikir dan berlomba mencari kekayaan untuk pengakuan dan identitas. Padahal identitas manusia dalam pandangan Sirakh ditentukan bukan dengan seberapa besar kekayaannya yang ia punyai melainkan bagaimana ia menggunakannya demi kesejahteraan diri, orang lain, kebaikan dunia. Artinya kekayaaan itu menjadi sarana untuk mewujudkan kasih, syukur dan kebaikan yang membimbing manusia untuk menemukan dan mencintai Tuhan, sesama dan semua yang hidup.

Sirakh menasihati agar seseorang dengan kekayaannya memberikan persembahan kepada Tuhan dengan patut. Nasihat Sirakh ini mengingatkan pada peristiwa persembahan janda miskin dalam Lukas 21:1-4. Artinya persembahan yang diberikan secara tulus, tanpa pamrih dan sungguh karena cinta adalah persembahan yang patut kepada Tuhan. Dengan demikian persembahan yang patut bukan menyoal jumlah nominalnya melainkan seberapa dalam cinta dan ketulusan yang ada di dalam persembahan  itu.

Persembahan yang demikian jelas tidak mungkin orang yang kikir. Orang kikir memutus siklus memberi dan menerima karena ia hanya ingin menimbun. Kekikiran menyingkapkan kemiskinan hati. Orang yang miskin hati memiliki pemikiran yang sempit. Sebab dia mempunyai kekayaan yang melimpah tetapi hidup di dalam ketakutan sehingga tidak menikmati hidup. Itu berarti kekikiran bukan pertama-tama menyoal masalah jumlah uang melainkan cara hati memandang harta.  Orang yang kikir dan orang serakah adalah orang yang tidak mencintai dirinya sendiri, orang lain bahkan Tuhan. Yang dia cintai hanyalah harta benda dan kekayaannya dan menjadikan itu semua segalanya.

Kritik keras Sirakh kepada orang kikir senada dengan kritik Yesus dalam Lukas 12:15-21. Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Sabda Yesus ini juga mengungkapkan penetapan kekal: kematian sebagaimana yang dikatakan oleh Sirakh. Kematian mengingatkan manusia agar tidak menimbun harta. Kesadaran akan hal ini bukan untuk menakuti melainkan agar manusia menggunakan waktu dan kekayaan dengan bijaksana dan sebaik-baiknya.

Masih senada dengan Sirakh, Yesus mengatakan: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu (Lukas 12:15). Kekayaan sering membuat orang tergelincir pada ketamakan. Sebab kekayaan dan harta benda itu menyenangkan hati dan memberi kenikmatan. Dunia memuji dan memulyakan kekayaan. Maka sikap berjaga-jaga dan waspada terhadap ketamakan harus diresapkan ke dalam hati dan pikiran agar menjaga diri supaya tidak jatuh ke dalam ketamakan. Ketamakan biasanya berwujud menimbun harta. Sayangnya menimbun harta tanpa menjadi kaya di hadapan Allah adalah kesia-siaan. Sebaliknya, orang yang menggunakan kekayaannya dengan bijaksana, murah hati dan penuh syukur telah menemukan faedah sejati dari kekayaan. Pada saat itu pula ia merayakan kehidupan dengan sukacita.

Tidak ada yang kekal dan semuanya berlalu termasuk harta benda pekerjaan. Dalam waktu yang ada dan tersisa nikmatilah kekayaan tetapi juga ingatlah akan kematian (Memento mori).

 Copyright © 2026 ducksophia.com. All Rights Reserved

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply