Mendidik Anak Menurut Yesus Bin Sirakh

Lukisan: Henri Matisse, Blue Interior with Two Girls,1947

Sirakh 30: 1-12

  1. Barangsiapa cinta kepada anaknya menyediakan cambuk baginya, supaya akhirnya ia mendapatkan sukacita karenanya.
  2. Barangsiapa mendidik anaknya dengan tertib akan beruntung karenanya, dan di kalangan para kenalan boleh membanggakannya.
  3. Orang yang mengajar anaknya menjadikan musuhnya iri hati dan di depan teman kawan dapat bersukaria karena dia.

  1. Meskipun ayahnya meninggal, namun seolah-olah tidak mati, sebab gambarnya telah ditinggalkannya.
  2. Selama masih hidup ia dapat memandang anaknya dengan sukacita, dan waktu meninggal tidak berdukacita.
  3. Ia meninggalkan anaknya sebagai pembalas dendam kepada musuh, dan untuk teman kawan ditinggalkannya seseorang yang balas budi.
  1. Barangsiapa memanja-manjakan anak membalut luka-lukanya sendiri, dan pada setiap teriakan gemetarlah batinnya.
  2. Kuda yang tak dijinakkan menjadi degil, dan anak yang tak terkekang menjadi terlanjur-lanjur akhirnya.
  1. Timanglah anak maka engkau akan dikejutkannya, berguraulah dengannya, niscaya engkau disedihkannya.
  2. Jangan ketawa sama dia, agar engkau jangan sedih bersama dengannya, dan supaya jangan sampai mengeritkan gigi akhirnya.
  3. Jangan ia kauberi kebebasan di masa mudanya, dan matamu jangan kaututup terhadap kebodohannya.
  4. Tundukkanlah kuduknya di masa kecilnya, dan siksalah pinggangnya waktu masih kecil, kalau tidak ia menjadi degil dan tidak taat kepadamu.
  5. Didiklah anakmu dengan tertib dan suruhlah ia kerja, supaya engkau jangan sakit hati karena keangkaraannya.

 

Eksegese

1. Barangsiapa cinta kepada anaknya menyediakan cambuk baginya, supaya akhirnya ia mendapatkan sukacita karenanya. 2. Barangsiapa mendidik anaknya dengan tertib akan beruntung karenanya, dan di kalangan para kenalan boleh membanggakannya. 3. Orang yang mengajar anaknya menjadikan musuhnya iri hati dan di depan teman kawan dapat bersukaria karena dia.

Kebijaksanaan Sirakh juga menyoal didikan bagi anak. Orang tua secara natural mencintai anaknya. Salah satu manifestasi dan bentuk cinta orang tua kepada anaknya adalah didikan. Menariknya, Sirakh mengkaitkan cinta kepada anak dengan cambuk untuk anaknya. Seorang anak tentu belum memiliki kontrol diri dalam arti ia bertindak sesuka hatinya tanpa tahu mana yang benar mana yang salah, ia belum mengerti akan nilai-nilai hidup. Cambuk untuk anak berarti mengarahkan anak agar dia bertumbuh dengan arah. Cambuk menyoal disipilin dan pendidikan dan itu bukan kekerasan. Tentu, pendidikan sejak dini akan memberikan kebahagiaan baik bagi si anak dan orang tua di kemudian hari. Kalau kenalan memuji orang tua tersebut karena didikan anaknya, maka orang yang tidak suka dengan keluarga yang berhasil di dalam mendidik anaknya akan iri hati. Anak yang berpendidikan membawa kehormatan dan kemuliaan bagi keluarga.

Mendidik seorang merupakan suatu proses yang berjalan terus-menerus di dalam waktu sampai batas tertentu. Didikan bagi anak bukan proses sekali jadi dan instan. Maka orang tua sekiranya mendidik anak dengan tanggung jawab sehingga dikatakan oleh Sirakh mendidik dengan tertib. Hasil didikan yang tertib akan membawa keberuntungan karena pendidikan yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Anak yang baik, berbudi pekerti yang luhur dan berpendidikan tentu akan membawa kebanggaan orang tua di hadapan kenalan. Sebabnya anak yang demikian membawa sukacita dan kenalan orang tua yang melihat anak demikan akan memuji kesuksesan orang tersebut di dalam mendidik anaknya.

  1. Meskipun ayahnya meninggal, namun seolah-olah tidak mati, sebab gambarnya telah ditinggalkannya.
  2. Selama masih hidup ia dapat memandang anaknya dengan sukacita, dan waktu meninggal tidak berdukacita.
  3. Ia meninggalkan anaknya sebagai pembalas dendam kepada musuh, dan untuk teman kawan ditinggalkannya seseorang yang balas budi.

Didikan yang baik dari seorang ayah adalah kekal. Artinya, mungkin ayah secara fisik telah meninggal, tetapi ia seolah-olah tetap hidup karena didikannya hadir di dalam diri anaknya. Memang anak adalah penerus kehidupan dan warisan nilai-nilai keluarga. Didikan yang berhasil dari seorang ayah kepada  anak membawa sukacita yang besar bagi sang ayah.  Sukacita yang besar terbawa oleh ayah sampai kepada kematiannya. Dalam konteks Timur kuno pembalas dendam bagi musuh bukan mendorong kebencian atau balas dendam pribadi. Tetapi anak kiranya menjadi pembela nama baik keluarga sekaligus kehormatan bagi orang tuanya.

7. Barangsiapa memanja-manjakan anak membalut luka-lukanya sendiri, dan pada setiap teriakan gemetarlah batinnya. 8. Kuda yang tak dijinakkan menjadi degil, dan anak yang tak terkekang menjadi terlanjur-lanjur akhirnya.

Pada kedua ayat ini, Sirakh memperingatkan akibat buruk bagi orang tua yang memanjakan anaknya. Memanjakan anak berarti memenuhi semua kemauannya, membiarkan anak mengikuti semua dorongannya. Anak yang dimanjakan oleh orang tua perlahan akan menjadi anak yang tidak terdidik dalam arti sulit untuk diberitahu, dibimbing ataupun diarahkan.  Anak yang demikian adalah anak yang tidak terdidik. Ia seperti kuda yang degil dan jika sudah demikian merusak masa depannya. Manusia tidak secara otomotis menjadi bijaksana karena kebijaksanaan memerlukan latihan dan pembiasaan. Kasih tanpa didikan membawa malu bahkan kesengsaraan dan kepedihan batin bagi orang tua.

9. Timanglah anak maka engkau akan dikejutkannya, berguraulah dengannya, niscaya engkau disedihkannya. 10. Jangan ketawa sama dia, agar engkau jangan sedih bersama dengannya, dan supaya jangan sampai mengeritkan gigi akhirnya.

Sirakh memperingatkan agar jangan membiarkan kebodohan dan kesalahan anak. Segala kebodohan dan kesalahannya harus diberitahu, diingatkan dan ditunjukkan mana yang benar dan mana yang baik. Pembiaran kebodohan dan kesalahan anak justru membiarkan anak menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab. Memang, Sirakh tidak melarang kegembiraan antara orang tua dan anak, tetapi  orang tua juga tidak boleh membiarkan segala sesuatunya hanya demi menyenangkan anak. Jangan sampai kasih sayang berubah menjadi pemanjaan ataupun sikap permisif yang membuat anak kehilangan batas dan disiplin. Semuanya itu nantinya hal itu akan membawa kesedihan bagi anak dan orang tua.

 11. Jangan ia kauberi kebebasan di masa mudanya, dan matamu jangan kaututup terhadap kebodohannya. 12. Tundukkanlah kuduknya di masa kecilnya, dan siksalah pinggangnya waktu masih kecil, kalau tidak ia menjadi degil dan tidak taat kepadamu. 13. Didiklah anakmu dengan tertib dan suruhlah ia kerja, supaya engkau jangan sakit hati karena keangkaraannya.

Kebebasan yang tidak disertai tanggung jawab dan bimbingan sering kali membawa anak muda kepada berbagai kebodohan. Sirakh tidak bermaksud mengekang anak tetapi justru memberi nasihat agar orang tua memberi kebebasan yang terarah  supaya anak bertumbuh dalam kebebasan yang mengarah kepada kebaikan dan kebenaran. Orang tua tidak boleh kehilangan wibawa di hadapan anaknya. Dengan kehilangan wibawa berarti mempersulit orang tua dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya bahkan membuat harga diri dan martabatnya juga hilang. Wibawa orang tua dibangun dengan didikan yang benar dan teladan hidup yang baik dan bukan dengan kekerasan terhadap anak. Salah satu didikan adalah membiasakan anak bekerja. Sebab kemalasan dan sikap tidak bertanggung jawab dapat membawa berbagai masalah dalam kehidupannya. Nantinya hal itu sudah pasti menyakitkan hati orang tua.

 

Makna

Salah satu kebijaksanaan Sirakh adalah mendidik anak. Sebab mendidik anak berarti orang tua mengambil bagian dalam karya Tuhan untuk membentuk anak agar mereka hidup menurut kebijaksanan dan takut akan Tuhan. Jelas, tempat utama dan pertama dalam mendidik anak adalah keluarga. Untuk itu, Sirakh menekankan pendidikan sejak dini. Maka, teladan yang baik dari orang tua adalah didikan yang baik dan efektif bagi anak. Anak sejak lahir memiliki potensi yang harus dibentuk dan diarahkan melalui teladan dan pendidikan orang tua. Teladan yang baik kiranya ada dalam ajaran St Paulus: Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Maka, cara mendidik anak adalah dengan kasih dalam wujud disiplin dan kebijaksanaan. Anak dibimbing, diarahkan dan diajarkan tentang kebenaran, kebaikan, moralitas, takut akan dan kebijakan praktis (bekerja) supaya anak bertumbuh dalam kasih akan Tuhan dan sesama dan lingkungan dan berguna bagi kehidupan.

Kebebasan anak dalam bertumbuh memiliki keterarahan kepada cinta kepada Tuhan dan sesama dan semua ciptaan. Sebaliknya, juga kebijaksanaan tidak berarti memanjakan anak dan menuruti segala keinginan anak membuat anak menjadi liar, tanpa mengerti moralitas, sopan santun, hal praktis. Hal itu justru akan menghancurkan hidup anak nantinya dan menjadi kesedihan bagi orang tua. Sebab anak terbiasa mengumbar segala keinginan dan bisa jadi memaksakan segala kemauannya agar terlaksana.

Mahkota orang tua adalah anak cucu dan kehormatan anak-anak ialah nenek moyang mereka (Amsal 17:6). Sebagai mahkota tentu anak adalah sumber sukacita dan warisan orang tuan. Nama, kehormatan, kebijaksanaan dan nilai-nilai keluarga diteruskan melalui anak-anaknya. Orang tua adalah rumah dan hati bagi anak anaknya. Sebagaimana Yoseph dan Maria membesarkan Yesus dengan kasih, ketaatan  dan kebijaksanaan demikan pula orang tua  dipanggil untuk gambar kasih Tuhan bagi anak-anak mereka. Pendidikan yang sejati bukanlah kekerasan, melainkan kasih yang mendisiplinkan, teladan yang membimbing dan kebijaksanaan yang mengarahkan anak kepada cinta kepada Tuhan, sesama dan seluruh ciptaan. Sebab tujuan akhir pendidikan bukan sekedar keberhasilan duniawi, melainkan terbentuknya manusia yang bijaksana, takut akan Tuhan dan hidup di dalam kasih dan kebenaran. Kebijaksanaan Sirakh tentang didikan anak memang seperti yang dikatakan oleh Yohanes Krisostomus: “Tidak ada seni yang lebih besar daripada membentuk jiwa seorang anak

 Copyright © 2026 ducksophia.com. All Rights Reserved

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply