Causalitas Dalam Metafisika

Lukisan Pierre-Auguste Renoir, Jardín en la Calle Cortot Montmartre

Satu-satunya kebenaran adalah bahwa tidak ada yang sederhana di dalam semesta yang kompleks ini.  Segala sesuatunya terkait. Segala sesuatunya berhubungan.

Johnny Rich

Causalitas merupakan aspek fundamental metafisika. Hal itu karena ada, sejauh aktual, memiliki daya operatif sehingga ada dapat bertindak sebagai causa bagi ada lain yang masih di dalam potensi. Maka, mempelajari causalitas memberikan kita suatu visi dan horizon akan keteraturan (order) di dalam semesta dan kesatuan internalnya. Terlebih, kita mengetahui causa-causa untuk keteraturan tersebut, mengklarifikasi pengalaman yang paling mendasar bahkan menemukan realitas pertama dan absolut.

 

Pengertian dan natura causa

Causalitas bukanlah melulu konstruksi konseptual tetapi suatu realitas yang terjadi di dalam hidup sehari-hari. Setiap hari kita melihat, merasakan dan mempersepsikan realitas causalitas: ada yang menyebabkan dan sesuatu menjadi aktual karena disebabkan oleh suatu causa. Sebagai contoh, benih mawar yang tumbuh menjadi mawar yang indah karena sinar matahari dan dipupuk, dirawat oleh petani mawar; seniman yang melukis sehingga menghasilkan lukisan yang menawan. Dengan demikian, kehidupan kita penuh dengan pengalaman di mana fakta causalitas diungkapkan

Penyelidikan tentang causalitas adalah penyelidikan tentang substansi. Substansi meliputi substansi yang sedang menjadi, substansi yang mengada dan bertahan dalam eksistensinya (in esse) dan substansi yang sedang beraksi terhadap substansi yang lain. Prinsip causalitas itu nyata dalam substansi yang sedang menjadi. Ketika suatu substansi sedang menjadi sesuatu hal lain pasti substansi tersebut merupakan suatu efek dari causa. Efek adalah itu yang menjadi ada sementara causa adalah itu yang membawa sesuatu sehingga menjadi ada. Oleh sebab itu, causa didefinisikan oleh scholastic sebagai principium per se influens esse vel fieri alterius in aliud secundum modum propium cuiusque causae. Artinya prinsip yang melalui dirinya sendiri mempengaruhi ada sesuatu yang lain menurut cara khas masing-masing jenis causa.

Selanjutnya, bagaimana kita mengetahui dan membentuk gagasan dan konsep causalitas?

  1. Dari pengalaman baik pengalaman external dan pengalaman internal. Contoh pengalaman external: kita melihat hal yang berubah, air yang menjadi es karena cuaca yang dingin. Contoh pengalaman internal: setiap individu memiliki kesadaran bahwa dia adalah causa untuk segala tindakannya seperti menggerakkan tangan, mengedipkan mata, dan seterusnya. Maka, sejatinya causalitas menyatakan satu dari pengalaman dasar manusia. Bahkan pengalaman dasar akan causalitas tersirat dalam linguistik yang tertuang di dalam kata kerja seperti membuat, melakukan, beraksi, menerima, menjalani. Dengan demikian causalitas adalah fakta dasar dari keaslian dan keunikan pengalaman manusia sebagai manusia[1].
  2. Thomas menyatakan bahwa ketika manusia melihat suatu efek, tentu dia berharap dari kodratnya untuk mengetahui penyebabnya[2]. Secara natural manusia mengetahui causalitas: segala ada ciptaan yang bersifat kontingen dan memiliki permulaan dalam eksistensi menuntut suatu causa karena ada tersebut tidak memiliki prinsip eksistensinya di dalam dirinya sendiri.

 

Ada dan causalitas

Prinsip causalitas berakar pada struktur ontologis ada yaitu komposisi aktus dan potensi di dalam ada. Maka dengan sendirinya causalitas menyatakan ada-being tetapi prinsip causalitas tidak identik dengan pengertian ada sebagai ada. Selain itu, terdapat being yang tidak selalu bertindak sebagai causa efficiens dalam tataran operatif, meskipun setiap being tetap berada dalam untaian causalitas secara ontologis. Misalnya, seorang pembangun rumah adalah causa efficiens untuk rumah sejauh ia melakukan tindakan membangun rumah. Namun jika ia tidak membangun rumah, eksistensinya sebagai substansi tetap ada (orang yang membangun tetap ada) dan tidak bergantung pada aktualisasi tindakan tersebut. Dengan demikian, prinsip causalitas tidak diperoleh semata-mata melalui deduksi apriori dari gagasan ada, tetapi juga dikenali secara induktif dari pengalaman meskipun berakar pada struktur ontologis aktus dan potensi dalam ada itu sendiri. Prinsip causalitas menjelaskan bahwa ada ciptaan itu tidak mengada secara niscaya melainkan secara kontingen dan partisipatif. Oleh karena itu, ada ciptaan memiliki permulaan dalam eksistensi, artinya dari potensi baru menjadi aktualitas. Dengan demikian proses menjadi dari potensi menjadi aktualitas selalu mensyaratkan  causa.

Faktanya pula, ada being yang tidak disebabkan oleh apa pun tetapi yang menyebabkan apa pun sebagai causa essendi secara niscaya bagi segala ciptaan. Being tersebut juga mencipta causa creandi secara bebas. Being itu adalah Tuhan dan Ia demikian karena Ia adalah Ipsum esse Subsistens. Masalahnya bukankah Tuhan adalah causa semesta? Ya, Tuhan adalah causa untuk semesta ini tetapi  secara bebas. Kebebasan dapat diartikan bahwa tidak ada keharusan bagi Tuhan untuk menyebabkan semesta ini. Seandainya tidak ada kehendak kreatif-Nya,  tidak akan ada causa dan efek kepada ciptaan. Tindakan penciptaan-Nya tidak mengalir secara niscaya dari esensi-Nya, melainkan  menurut kebebasan kehendak-Nya.

Argumen Thomas ini bertentangan dengan argumen Spinoza yang menerapkan causalitas baik kepada ada Tuhan dan ada ciptaan. Bagi Spinoza, Ada Tuhan adalah Causa dari dirinya sendiri (Causa sui) daripada uncaused CauseCausa sui yang digagas oleh Spinoza memiliki konsekuensi terhadap pengertian tentang Tuhan: Tuhan hanyalah dengan satu substansi ilahi yang determinatif. Satu substansi determinatif berarti segala ciptaan dan segala yang ada merupakan ciptaan yang mengalir secara niscaya dari natura substansi itu dan bekerja menurut suatu hukum yang deterministik. Konsekuensinya, Tuhan adalah satu-satunya alasan untuk eksistensinya, causa untuk dirinya sendiri (causa sui), mengada untuk dirinya sendiri dan bertujuan untuk dirinya sendiri. Di dalam koridor ini aspek personalitas dan kebebasan Tuhan ditiadakan; dunia tidak lagi kontingen melainkan mengikuti dari natura ilahi secara niscaya.

 

Hubungan causa dan efek

Relasi causa dan efek tidak terpisahkan serta bersifat asimetris. Sebabnya, efek bergantung pada causa dan bukan sebaliknya. Hubungan causa dan efek dapat dinyatakan sebagai berikut:

  1. Ketergantungan ontologis efek pada causa

Secara natura efek tergantung dan berasal dari causa.  Efek tidak ada atau tidak terjadi tanpa adanya causa yang mengaktualkannya. Dengan demikian, ada relasi ketergantungan efek kepada causa ontologis dan bukan sekedar hubungan faktual atau temporal.

  1. Distingsi nyata antara causa dan efek

Perbedaan antara causa dan efek adalah jelas dengan sendirinya karena fakta ketergantungan suatu hal kepada hal lain secara niscaya menyatakan bahwa realitas causa berbeda dengan  realitas efek. Fakta ini terungkap secara gamblang dalam causa efisien dan causa final. Patung bebek emas yang indah merupakan efek dari causa efisien dan causa final si pemahat. Distingsi antara causa dan efek juga nyata dalam materi dan forma. Efek dari causa material dan causa formal adalah eksistensi aktual substansi yang konkret. Dalam contoh patung bebek emas tersebut, causa formal adalah bentuk bebek dari patung tersebut sementara causa materialnya adalah emas, efeknya adalah patung bebek dari emas.

  1. Supremasi ontologis causa atas efek

Pada dasarnya setiap causa lebih dahulu (prius) daripada efeknya. Sebabnya, kesempurnaan yang dihasilkan di dalam efek haruslah ada pertama-tama di dalam causa secara formal, virtual atau eminent sesuai dengan kodrat causanya. Kesempurnaan itu harus ada pertama di dalam tatanan aksi dan tatanan natura. Memang benar juga bahwa ketika causa berlangsung, efek juga dapat mengada secara bersamaan tetapi selalu mengandaikan ketentuan di atas. Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa supremasi causa berlaku pertama-tama secara ontologis dan hanya secara sekunder dapat terungkap dalam urutan waktu. Misalnya, jelas causa sebagai actus primus lebih dahulu (prius) secara ontologis terhadap efek di dalam waktu. Namun juga bahwa sejauh berkaitan dengan aksi causa, causa dan efeknya bisa korelatif dan simultan dalam pelaksanaan aksi tetapi tetap di dalam koridor bahwa causa selalu prior secara ontologis terhadap efeknya. Sementara causa actus sekunder tidak berlangsung mendahului efek tetapi simultan dengan efek. Seorang dokter adalah causa efficiens principalis dalam penyembuhan pasien, sementara obat berperan sebagai causa instrumentalis. Di sini obat berperan sebagai causa instrumentalis yang bekerja bersama dengan causa principalis (dokter) dalam tindakan penyembuhan.

  1. Prinsip nemo dat quod non habet

Sebagaimana dikatakan bahwa causa adalah itu yang mana  suatu efek berasal sehingga causa haruslah memuat di dalam dirinya segala efek secara formal, virtual atau eminent.  Dasarnya adalah nemo dat quod non habet-tidak ada sesuatu yang dapat diberikan jika si subyek tidak memiliki apa yang akan ia berikan). Artinya, causa menyatakan prinsipnya bahwa tidak ada sesuatu pun yang menghasilkan efek yang melampaui kesempurnaan yang dimilikinya, kecuali dalam cara instrumental atau parsial.

  1. Kesempurnaan efek dan causa parsial atau instrumental

Dalam aspek-aspek tertentu efek dapat menjadi sebanding bahkan lebih sempurna daripada causa parsial atau instrumental. Namun kesempurnaan causa parsial atau causa instrumental bukan sebagai causa utama. Substansi material sebagai suatu keseluruhan lebih sempurna daripada causa materialnya. Jadi, di dalam konteks ini causa menjadi kurang sempurna dari efeknya atau efek lebih sempurna dari causa. Sebagai contoh terang –benda mati- yang adalah causa untuk penglihatan merupakan suatu aktivitas vital. Oleh sebab itu, terang hanyalah sebagai causa instrumental bagi penglihatan sehingga diperlukan agar penglihatan berlangsung, tetapi mata adalah causa principalis dan mata sebagai causa principalis lebih sempurna daripada terang itu sendiri.

Hal ini juga dapat dilihat dalam causa utama dan causa instrumental. Dalam causa instrumental, causa instrumental tidak lebih sempurna daripada efek karena tindakan instrumental disisipkan di dalam causa utama dan ditransposisikan kepada level yang lebih tinggi. Kuas (causa instrumental) pelukis (causa utama) yang melukis suatu lukisan tidak sempurna dari efek yang dihasilkan yaitu lukisan yang indah. Dalam kaitannya dengan causa final, prinsip kesempurnaan yang lebih tinggi dapat menjadi terbatas: manusia dapat membuat causa final menjadi lebih rendah oleh karena dia sebagai causa efficiens dari tindakannya tidak mencapai finalitasnya padahal secara natura causa finalitas lebih sempurna daripada causa efficiens.

  1. Pluralitas dan kompleksitas relasi causa

 Satu dan hal yang sama dapat memiliki banyak causa dalam tatanan yang berbeda. Sebagai contoh patung kuda perunggu. Patung kuda perunggu causanya adalah perunggu dan seniman: sang seniman adalah causa efisien sementara perunggu adalah causa material. Hal yang sama juga dapat menjadi causa yang oposisi dalam cara yang berbeda. Sebagai contoh kapten kapal adalah causa untuk keselamatan kapal sekaligus tenggelamnya kapal. Yang pertama karena kehadirannya dan yang terakhir karena ketidakhadirannya. Selain itu, hal yang sama juga dapat menjadi sebuah causa dan efek dalam relasi yang berbeda. Sebagai contoh jalan kaki adalah causa efisien untuk kesehatan, tetapi kesehatan sebagai causa efisien untuk berjalan kaki adalah causa final.

Aksioma causalitas

Dahlil causalitas menjabarkan bahwa apa yang berubah pasti disebabkan dan causa utama dari prinsip menjadi haruslah tidak terbagi atau satu. Dahlil ini dapat dijabarkan dengan dahlil yang lain:

  1. Aksioma prinsip necessary dan contingent

Segala sesuatu yang menjadi dan yang memiliki ketergantungan (contingent) pasti memiliki suatu causa. Contingent berarti sesuatu tersebut masih berada di dalam potensi dan sesuatu bergantung kepada yang aktual. Maka sesuatu yang sifatnya contingent selalu menjadi dan tidak menjadi (tetap). Menjadi dan tidak menjadi berarti ia dalam potensi. Jika suatu potensi menjadi suatu aktualitas pasti ada suatu causa untuk adanya. Jika causa itu sendiri sifatnya contingent tentu harus mencari sesuatu yang menyebabkannya. Tentu saja segala yang contingent pada akhirnya bermuara pada sesuatu ada yang pasti (necessary) yaitu Tuhan[3]. Prinsip causalitas juga berlaku untuk kesempurnaan segala ada yang memiliki suatu permulaan dalam waktu dan eksistensi. Mengapa? Tentu saja terdapat substansi yang tidak memiliki kemampuan untuk bertindak atas dirinya sendiri. Ketika substansi menjadi sesuatu yang baru atau yang lain terjadi karena substansi tersebut menerima suatu pengaruh dari sesuatu yang lain yang memiliki aksi untuk merubahnya (causa efficiens). Tembok berwarna putih kemudian menjadi tembok berwarna merah. Hal ini disebabkan adanya kekuatan aktif yang mampu mewarnai tembok putih tersebut sehingga menjadi tembok merah.

  1. Aksioma aktus dan potensi

Segala sesuatu yang digerakkan pasti digerakkan oleh sesuatu yang lain. Rumusan ini berasal  dari pemikiran Aristoteles yang menunjukkan suatu kenyataan bahwa aktus tidak mungkin direduksi kepada potensi dan ketidakmungkinan potensi untuk menjadi actus dengan usahanya sendiri.

  1. Aksioma esse dan esensi

Jika sesuatu memiliki suatu kesempurnaan yang tidak berasal dari esensinya, maka kesempurnaan tersebut pastilah berasal dari suatu causa external. Itu yang adalah sebagai causa kesempurnaan menunjukkan kesempurnaannya lebih tinggi daripada masing-masing hal yang melaluinya masing-masing hal mendapatkan kesempurnaan. Penyebab kesempurnaan adalah kesempurnaan itu sendiri dan hal-hal lain menerima kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh diri mereka sendiri. Jadi, dalam konteks ini causalitas bisa dimaknai sebagai tendensi ada untuk mengkomunikasikan kesempurnaannya kepada ada yang lain. Aksioma yang ketiga ini berkaitan dengan esse dan esensi dari sesuatu hal. Kesempurnaan yang dimiliki oleh suatu hal tidak dimiliki oleh karena esensinya tetapi terjadi oleh karena causa external. Misalnya, pengetahuan manusia walaupun merupakan kodrat manusia berasal dari causa external yang lain yaitu guru ataupun buku yang dibaca. Esse sebagai kesempurnaan tidak berasal dari esensi sebagai prinsip internal melainkan diterima oleh esensi sebagai subyek yang mengaktualkanya. Esse diterima oleh esensi dari causa ekstrinsik sehingga esse jelas berbeda dengan esensi. Esensi adalah prinsip diferensiasi di antara individual; esensi adalah itu yang menjadikan sesuatu sebagaimana adanya sekaligus menjadi berbeda di antara individu yang lain. Sementara esse adalah prinsip unitas di antara segala hal karena segala yang ada memiliki esse, segala yang ada berpartisipasi di dalam esse. Konsekuensinya, setiap esensi  pasti memiliki esse. Maka dahlil ini juga menyatakan bahwa itu yang memiliki esse secara partisipasi disebabkan oleh itu yang esse-nya adalah esensinya. Maksudnya, segala ada ciptaan memiliki causa extrinsik yang mana causa extrinsik memiliki esse dengan cara esensi. Causa extrinsik tersebut adalah Tuhan karena karena esensi-Nya adalah esse-Nya, sedangkan segala causa sekunder-ada ciptaan memiliki esse secara partisipatif.

 

Causa, prinsip, kondisi dan kesempatan: perbedaannya

Causa haruslah dibedakan dengan prinsip (asas), kondisi dan kesempatan yang merupakan realitas-realitas yang serupa dengan causa. Pada dasarnya causa adalah itu yang mengalir (mempengaruhi) menuju kepada yang lain (efek). Berikut perbedaan causa dengan prinsip, kondisi dan kesempatan:

  • Prinsip (asas)

adalah itu yang darinya hal-hal lain muncul melalui cara apa pun. Maka, prinsip dan causa adalah hal yang sama di dalam subjek tetapi berbeda makna; sebab terminologi prinsip menyatakan suatu keteraturan (order) atau permulaan dan kelanjutan, sedangkan causa menyatakan pengaruh suatu hal pada ada karena disebabkan. Konsekuensinya, setiap causa pastilah prinsip atau asas, tetapi tidak semua prinsip adalah causa. Mata air adalah prinsip atau sumber dari sungai tetapi mata air juga causa efficiens sungai. Titik adalah awal dari garis dan bukan causa garis. Causa menyatakan suatu asas (prinsip) yang sungguh mempengaruhi terjadinya ada sesuatu atau keberadaan ada sesuatu; jadi causa merupakan suatu asas yang melibatkan suatu ketergantungan efek pada asal-muasalnya. Misalnya segala sesuatu yang mempengaruhi kursi dalam proses terjadinya dan adanya: materialnya, bentuknya yang dipilih, tujuannya yang dibentuk dan tukang kayu yang membuatnya. Sementara prinsip belum tentu melibatkan pengaruh ataupun efek kepada sesuatu hal sebagaimana contoh di atas.

  • Kesempatan

Sebuah situasi yang membantu aktualisasi suatu causa tetapi situasi tersebut bukanlah causa itu sendiri. Jadi kesempatan ibarat situasi yang menguntungkan dan sifatnya membantu meskipun bukan suatu keharusan untuk terjadinya causalitas. Hari yang cerah merupakan suatu kesempatan yang baik untuk berjalan tetapi hari yang cerah bukanlah causa ataupun syarat mutlak untuk tindakan (aksi) berjalan[4].

  • Kondisi

Suatu persyaratan atau keharusan disposisi untuk memastikan terjadinya causalitas. Dalam konteks ini, kondisi merupakan suatu bantuan yang memungkinkan atau menghalangi tindakan- aksi causalitas. Kondisi yang demikian tidaklah disokong dengan causalitas. Kondisi yang lembab cocok untuk pertumbuhan jamur sehingga kelembaban bukanlah causa utama, melainkan kondisi yang memungkinkan aktualisasi causa biologis jamur. Kondisi mencakup kondisi yang mutlak (sine qua non) dan kondisi yang cocok atau sifatnya menguntungkan tetapi tidak mutlak. Contohnya, SIM merupakan kondisi mutlak agar orang boleh mengemudi di jalanan. Contoh kondisi yang cocok tetapi tidak mutlak: bulan purnama yang bersinar terang yang membantu nelayan mendapatkan ikan di laut; dalam dunia sepak bola, bermain di kandang merupakan kondisi yang menguntungkan untuk meraih kemenangan.

 

Causalitas dan waktu

Realitas causalitas tentu menyatakan waktu causalitas. Maka, dalam waktu kita mengetahui rentetan dan suksesi causa-causa yang terjadi. Ada causa yang terjadi lebih dahulu (prius), ada causa yang terjadi kemudian (posterius). Tentu saja bahwa setiap causa, causa per se pada dasarnya lebih dahulu dari causa selanjutnya. Konsekuensinya, urutan waktu terjadinya sesuatu hal dapat diketahui. Suatu hal dikatakan lebih dahulu (prius) atau kemudian (posterius) berdasarkan causa dan efeknya.

Mekanisme waktu causalitas mencakup ranah generasi-waktu dan ranah substansi-kelengkapan (kesempurnaan). Jadi, kita mengatakan bahwa sesuatu hal lebih dahulu dari yang lain berdasarkan  koridor generasi-waktu dan substansi-kelengkapan. Mekanisme natura berlangsung dari yang tidak sempurna menuju yang sempurna dan yang tidak lengkap menuju lengkap. Konsekuensinya, dari sudut generasi-waktu yang tidak sempurna lebih dahulu (prius) dari yang sempurna, tetapi dari sudut pandang ontologis yang sempurna-aktualitas lebih dahulu daripada yang tidak sempurna-potensi, sebab hanya aktualitas yang dapat mengaktualkan potensi. Contohnya, kita mengatakan bahwa orang dewasa lebih dahulu daripada anak-anak menurut substansi-kelengkapan, tetapi anak-anak lebih dahulu daripada orang dewasa dalam koridor generasi-waktu. Memang, dalam hal-hal generatif, yang tidak sempurna lebih dahulu daripada yang sempurna dan potensi lebih dahulu daripada aktus pada saat kita mempertimbangkan di dalam hal yang satu dan sama tersebut. Tetapi aktus dan kesempurnaan haruslah lebih dahulu (prior) karena itu yang ada di dalam aktualitas mengaktualkan potensi dan adalah kesempurnaan itulah yang menyempurnakan yang tidak sempurna[5].

Keempat causa dapat dikatakan di dalam banyak cara. Banyak cara itu mau mengatakan adanya suksesi waktu. Satu causa lebih dahulu dari yang lain dan causa yang lain sesudahnya; misalnya ilmu medis dan dokter adalah causa kesehatan, tetapi ilmu medis merupakan causa yang lebih dahulu sementara dokter adalah causa sesudahnya. Jadi ada suksesi causa dan suksesi causa mengantar kita untuk bertanya akan apa yang menjadi causa yang pertama. Sebagai contoh, mengapa anak ini pintar, kita akan menjawab karena guru telah mengajari dia, demikian juga bahwa mengapa guru mengajarinya? Kita akan menjawab karena ilmu pendidikan yang dimiliki oleh sang guru.

[1] Menurut  Merleau-Ponty  konsep causalitas berasal dari pengalaman manusia yang terbentuk dari relasi manusia dengan dunia (Phenomenologie de la perception, p.331).

[2] Thomas  Aquinas Summa Theologiae I q. 12. a. 1 c: “inest… enim hominim naturale desiderium cognoscendi causam, cum intuetur effectum et ex hoc admiratio in hominibus consurgit”.

[3] Ketergantungan ada kepada Tuhan menyinggung pengertian takdir. Takdir adalah suatu realitas dalam referensi kepada preordination ilahi atau suatu disposisi tertentu yang dianugerahkan kepada ada-ada contingent yang mana Tuhan melaksanakan tujuan penyelenggaran ilahi-Nya. Kaum Stoic menyangkal penyelenggaran ilahi sehingga bagi mereka takdir hanya merupakan causa-causa determinatif yang menghasilkan efek-efek secara niscaya. Para filsuf lain menilai takdir sebagai suatu keniscayaan yang di atas segalanya bahkan lebih superior daripada Tuhan sehingga tidak mungkin ada modifikasi. Dalam dua pengertian tersebut, takdir merupakan suatu absurditas. Tetapi jika takdir dimengerti sebagai predisposisi ada-ada kontingen yang diberikan Tuhan supaya ada-ada ciptaan melaksanakan kehendak-Nya maka takdir adalah realitas. Selebihnya, di dalam bingkai yang demikian predisposisi ada-ada kontingen bukanlah takdir tetapi penyelenggaran ilahi.

[4] Keberuntungan dan kesempatan secara aksiden adalah causa efisien, yaitu mereka memproduksi suatu efek yang melampaui tatanan dan intensi dari agen. Perbedaan keduanya adalah sebagai berikut: keberuntungan merupakan suatu yang unik dan dipredikatkan dari causa-causa bebas, sementara kesempatan sifatnya umum dan didasarkan causa-causa natural. Keberuntungan dapat dipahami dalam baik dalam causa sekunder dan tatanan providensial. Sebab Tuhan sebagai causa universal mengarahkan segala causa partikular sehingga tidak ada efek yang dapat mentransendensi tatanan efisiensi-Nya maupun tidak ada satu pun causa sekunder yang dapat menghalangi aksi-Nya.

[5] Thomas Aquinas, De Principiis Naturae, no. 31

Copyright © 2017 ducksophia.com. All Rights Reserved

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply