Talenta

Lukisan: Edouard Vuillard, Walking In The Vineyard,

Matius 25 :14-30

Setiap orang yang mempunyai akan diberi sampai ia berkelimpahan

 

Kesebelasan Porto secara mengejutkan menjadi juara piala champion tahun 2002. Bermaterikan pemain yang tidak dikenal, Porto mengalahkan klub-klub besar yang memiliki pemain-pemain hebat. Tentu kemenangan Porto tidak bisa lepas dari tangan dingin sang pelatih Porto, Jose Mourinho. Ia adalah sosok pribadi yang penuh dengan keyakinan dan percaya diri meskipun dia sendiri tahu bahwa pemainnya tidak sehebat pemain yang ada di klub–klub besar. Dan itu bukan masalah bagi Jose Mourinho karena rahasianya adalah bahwa ia hanya mengembangkan dan membangun segala potensi yang ada dan dimiliki di dalam kesebelasan Fc. Porto sehingga para pemain kesebelasan Porto menjadi percaya diri dan berkembang sedemikian rupa.

Yesus membandingkan kerajaan surga dengan seorang tuan yang hendak pergi ke luar negeri. Tuan tersebut memanggil ketiga hamba-hambanya demi mempercayakan hartanya dengan perincian sebagai berikut: hamba yang pertama lima talenta, hamba yang kedua dua talenta dan hamba yang ketiga satu talenta. Talenta adalah mata uang Yahudi. Lima talenta cukup untuk biaya hidup selama seratus tahun, dua talenta setara dengan biaya hidup selama empat puluh tahun, dan satu talenta sebanding dengan biaya hidup selama dua puluh tahun.  Dengan demikian harta yang dipercayakan kepada hamba-hamba oleh sang tuan begitu besar. Dengan mempercayakan talenta yang demikian besar, setiap hamba dilimpahkan pula suatu tanggung jawab. Tidak ada perintah untuk mengembangkan talenta itu tetapi dua hamba berusaha mengembangkan talenta mereka kecuali hamba yang menerima satu talenta.

Lama setelah berada di luar negeri, tuan itu pulang dan meminta pertanggung jawaban dari hamba-hambanya. Sesuatu hal yang wajar ketika sang tuan meminta pertanggung-jawaban atas talenta yang dipercayakan kepada hamba-hambanya. Juga adalah tugas hamba untuk bertanggung jawab atas kepercayaan yang dimandatkan oleh tuannya. Kedua hamba bertanggung jawab atas talenta yang dipercayakan dengan mengembangkannya. Mereka berhasil. Tentu usaha dari kedua hamba yang mengembangkan talenta yang dipercayakan dipuji oleh sang tuan: “Baik sekali perbuatanmu itu -hai hamba yang baik dan setia. Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar”.

Kemudian masuklah hamba yang ketiga yang menerima satu talenta. Hamba yang menerima satu talenta mengembalikan uang yang dipercayakan kepadanya dan tidak mengembangkan talenta yang ia miliki serta mengatakan alasannya kepada sang tuan. Menurut hamba yang ketiga, sang tuan adalah tuan yang kejam yang menuai di tempat tuan tidak menabur dan memungut di tempat tuan tidak menanam. Maka dari itu, ia menyembunyikan uangnya di tanah agar tidak mengambil resiko. Ternyata setelah mendengarnya, marahlah sang tuan. Kemarahan sang tuan terjadi selain penilaian jahat sang hamba kepada sang tuan juga karena sang hamba menyimpan di dalam tanah. Kedua hamba lain memilih mengembangkannya tetapi hamba yang ketiga justru memendamnya di dalam tanah. Ada perbedaan sikap dan pandangan yang tajam antara kedua hamba yang mengembangkan talenta dan hamba yang menyimpan talenta. Lalu diambilnya talenta dari hamba yang jahat dan malas itu dan diberikan kepada hamba yang mempunyai lima talenta itu. Mengapa? Orang yang mempunyai banyak diberi tambahan dan yang tidak mempunyai akan diambil. Hamba yang tidak berguna dibuang dalam kegelapan.

Para murid Kristus adalah hamba-hamba yang menanti kedatangan sang tuan. Setiap orang diserahi talenta tanpa terkecuali. Ada yang lima talenta, ada yang tiga talenta, dan satu talenta. Talenta yang dipercayakan kepada masing-masing orang entah itu lima, tiga atau satu talenta cukup dan berlimpah-limpah serta tidak ada yang kekurangan. Maka, talenta yang sedemikian banyak harus dikembangkan. Talenta yang dipercayakan bukan saja suatu rahmat tetapi juga suatu tugas untuk mengembangkannya. Terhadap talenta ini ada dua macam manusia yaitu manusia yang mengembangkan talentanya dan meratapi talentanya. Hamba yang mengembangkan talenta adalah manusia yang menjalani hidup ini dengan kreativitas. Tuan tidak menyuruh untuk mengembangkan talenta tetapi dengan pikiran kedua hamba ini mengembangkan talenta yang dipercayakan kepada mereka. Akibatnya, mereka menjalani hidup dengan kreativitas dan berpikir sehingga mereka berkembang, menjadi utuh, sukses dalam hidupnya. Dan semuanya adalah kehendak Tuhan bagi setiap manusia. “Baik sekali perbuatanmu itu- hai hamba yang baik dan setia. Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar”. Tetapi, sukses dan berkembang tidak serta merta diidentikkan atau disamakan dengan kaya dan uang. Sukses dan berkembang di sini maksudnya adalah orang yang mewarnai dan menjalani hidup dengan hal-hal yang membuat dia utuh, hidupnya berguna bagi sesama, ciptaan lain dan bahagia. Ia memaksimalkan potensi yang ada baik di dalam dirinya maupun segala yang ada di sekitarnya. Ia hanya menatap segala kemungkinan dan mimpi untuk diaktualkan dan dijadikan kenyataan. Pribadi yang demikian kiranya memiliki optimisme yang tinggi, percaya diri dan penuh dengan vitalitas akan setiap langkah hidupnya. Mengembangkan talenta juga berarti adanya kegigihan dan mau belajar dari segala keberhasilan, kegagalan, kekurangan, kepahitan  atau apapun yang terjadi di dalam hidup ini.

 Sementara, hamba yang tidak berbuat apa-apa terhadap talenta yang diterimanya adalah manusia yang menjalani hidup dengan meratapi nasib. Ia selalu tidak puas dengan kondisi yang ada pada dirinya. Ia membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain dan meratapi nasib. Sepanjang hari ia menyalahkan diri sendiri, sesama bahkan Tuhan. Akibatnya, berkeluh kesah dan gerutuan merupakan nyanyian hidupnya.  Ketika dia tidak mengembangkan talentanya, maka talentanya tidak berarti sama sekali. Dia memendam talentanya di dalam tanah. Dia tidak menyadari akan tanggung jawab terhadap talentanya yang telah diterima. Padahal ketika talenta dikembangkan atau segala potensi dan kemungkinan diaktualkan betapa membahagiakan baik bagi diri sendiri, orang lain, bahkan dunia. Terhadap orang yang seperti ini, segala yang ada padanya akan diambil. Mengapa? Karena hanya dengan meratapi, orang tidak berbuat dan tidak melakukan apa-apa, berhenti berpikir, mematikan daya kreativitas, dan terjebak di dalam keputusasaan. Diri pun semakin terbuang dalam kehidupan. Mengutuki nasib, menyalahkan semua mengantar diri kepada kegelapan yang paling gelap. Maka, yang berkembang dan kreatif semakin berkembang dan sukses, yang menyalahkan dan meratapi makin terseok-seok karena kesempatan, peluang mereka yang meratapi nasib diambil-alih oleh mereka yang penuh dengan kreativitas dan pantang menyerah tersebut. Akibatnya, benarlah kata injil “Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta

Tidak bisa dipungkiri bahwa hidup ini memang penuh tantangan, kesulitan bahkan tidak adil. Namun aneka macam tantangan, kesulitan dan ketidakadilan bukanlah untuk diratapi tetapi sebaliknya sebagai pemicu kita untuk semakin kreatif dan memakai otak agar hidup ini lebih hidup dan bangkit. Kesulitan, ketidakadilan sebenarnya membuat hidup lebih indah dan bermakna asalkan kita kreatif dan tidak menyerah. Memang ada saatnya dalam hidup ini kita gagal dan jatuh serta kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada diri kita sehingga kita menyalahkan nasib. Namun, itulah dusta terbesar dunia karena dengan menyalahkan nasib dan meratapi semuanya itu hanya membuat hidup makin suram.

Rahasia kesuksesan hidup adalah keyakinan, kreativitas dan mengembangkan segala sesuatu yang kita punyai, bukan melihat dan membandingkan seberapa banyak talenta yang aku miliki dengan talenta orang lain. Sebuah bunga tidak memiliki pikiran sama sekali untuk membandingkan dirinya ataupun bersaing dengan bunga lain yang ada di sekitarnya. Dia hanya sibuk untuk mekar dan berbunga (Paulo Coelho). Itu pula yang diminta Tuhan dalam hidup ini. Usaha dan kreativitas  mengantarkan diri untuk selalu bersyukur atas hidup ini. Sebab usaha dan kreativitas membantu diri menemukan dan menyadari bahwa aku selalu diberi oleh Tuhan sampai berlimpah-limpah. Di balik kesulitan, kegagalan, keterbatasan ternyata justru mengembangkan talenta yang dimiliki, justru membuat diri bertumbuh dan menjumpai kelimpahan makna dan misteri kerajaan-Nya asalkan dimaknai dengan kerja keras dan kreativitas. Tanggung jawab terhadap talenta yang dihidupi dengan kesetiaan terhadap demi dan untuk kerajaan Allah menjadikan diri bersuka-cita. Dia tahu bahwa Tuhan adalah kebaikannya dan merasakan kebaikan-Nya dan kerajaan-Nya ada di sekitarnya. Kata Tuhan “Setiap orang yang mempunyai akan diberi sampai ia berkelimpahan”.

 

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

One thought on “Talenta”

Leave a Reply