Satu & Kekayaannya

 

Lukisan Arturo Ricci, Amorous Advance

 “Ketika kita mencapai kesatuan kita menjadi diri kita sendiri

    Karl Jaspers

 

 

Setiap ada adalah satu secara definitif

Satu dapat didefinisikan sebagai tidak terbagi di dalam dirinya sendiri dan berbeda dengan segala sesuatunya yang lain (indivisum in se, et divisum a quolibet alio). Maka, penegasan bahwa setiap ada adalah satu berarti ada tidak terbagi di dalam dirinya sendiri dan berbeda dengan yang lain (unik). Jelaslah bahwa di dalam internal ada, ada kesatuan dan ketidakterbagian. Seandainya ada terbagi di dalam dirinya sendiri, kiranya di dalam ada akan terjadi multisiplitas, dengan kata lain di dalam ada, ada banyak ada sehingga ada tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu. Maka agar menjadi sesuatu, ada haruslah satu atau tak terbagi di dalam dirinya sendiri; ada yang benar dijumpai ketika ada memiliki kesatuan (unitas). Kehancuran kesatuan ada yang terjadi melalui divisi internal niscaya menjadikan ada hilang. Ketika mobil diambil bagian-bagiannya, maka hal itu tidak bisa lagi disebut mobil. Jadi, satu (unum) adalah ens, ada yang tidak terbagi, suatu individu. Selanjutnya, berkat kesatuan dan ketidakterbagian, ada menjadi berbeda satu dengan yang lainnya. Jika ada tidak berbeda maka ada akan menjadi bagian dari ada yang lain, akibatnya tidak akan dijumpai suatu ada yang berbeda dengan yang lain, tetapi hanya ada yang tunggal, sama[1].

Maka, ketika dikatakan bahwa setiap ada adalah satu, hal ini mau menegaskan bahwa suatu realitas dapat disebut sebagai ada karena memiliki suatu kesatuan yang real dan ada itu real karena satu. Sebagai contoh segerombolan batu dikatakan realitas, suatu ada karena memiliki satu kepastian meskipun tidak sempurna yaitu kesatuan atau karena memiliki ketidakterbagian di dalam dirinya sendiri (ini adalah sekumpulan batu artinya batu-batu itu disatukan) dan suatu kepastian perbedaan (kekhususan) dengan hal-hal yang lain (tanah, bunga) yang mengelilingi sekumpulan batu tersebut.

Bagaimana menjelaskan ada sebagai satu sekaligus unik? Satu pertama-tama adalah act of being yang melingkupi seluruh bagian-bagian ada dengan mengacu kepada yang lain tanpa kehilangan bagian-bagiannya. Sementara unik berarti act of essence dari suatu ada itu adalah khusus, unik, partikular sehingga act of essence masing-masing ada berbeda. Konsekuensinya, semua esensi di dalam act of being adalah satu dan ketika mengada berbeda dengan yang lain (unik).  Setiap act of being adalah satu tetapi karena act of essence menjadi berbeda satu dengan yang lainnya. Dengan demikian satu adalah bagi semuanya dan unik satu sama lainnya, maka ini adalah realitas analogis. Sekumpulan batu menunjukkan adanya kesatuan, unitas tetapi sekaligus unik. Kesatuan selalu dipahami sebagai sesuatu yang menjadi aspek, atribut atau properti ada sehingga kesatuan melindungi, menegaskan dan menyingkapkan realitas ada.

 Ens, unitas, ens unum (ada satu)

Thomas menegaskan prioritas ens (ada) atas unitas (kesatuan). Ens adalah konsep pertama yang dipahami oleh akal budi sehingga semua konsep yang lain dapat direduksi kepada ens. Satu (unum) tidak menambahkan sesuatu pun yang baru kepada ens tetapi unum hanya menyatakan ens yang tak terbagi[2]. Maka unum dan ens dapat bertukar-alih posisinya (unum et ens est convertuntur). Ada adalah satu; satu adalah ada. Konsekuensinya, segala sesuatu yang ada menjaga kesatuannya sebagaimana mempertahankan adanya.  Ada dan satu adalah realitas yang sama. Ada tiga alasan yang menjelaskan:

  1. Ada dan satu memiliki makna-makna yang bersesuaian dengan masing-masing kategori dan secara natura menjadi bagian dari semua kategori dan terikat di dalam masing-masing kategori sebagaimana ada terhubung dengan masing-masing kategori[3] sekaligus juga bukan menjadi bagian di dalam kategori-kategori baik di dalam esensi, ataupun qualitas.
  1. Alasan yang kedua dapat dilihat dari pernyataan berikut ini: ada satu manusia. Ada satu manusia tidak menyatakan kodrat yang berbeda dengan kodrat manusia pada umumnya sebagaimana ada tidak menyatakan natura yang berbeda dengan kesepuluh kategori; seandainya ada atau satu menyatakan kodrat yang berbeda yang terjadi adalah surut yang tak terhingga.
  1. Satu adalah ada sehingga ketika sesuatu itu hancur akibatnya sesuatu itu menjadi non ada. Unitas tidak menambahkan sesuatu yang positif kepada being tetapi uñitas hanya menyatakan negasi akan divisi. Inilah transendental unitas yang berarti ketidakterbagian ada.

Berkaitan dengan ada satu (ens unum) dan unitas, menurut pendapat Avicenna yang disempurnakan oleh Scholastik[4], unitas (kesatuan) berbeda dengan ens unum:

  • Unitas merupakan sebuah atribut dari incomposite being dan composite being. Yang terakhir terbentuk per se (substansi material tersusun per se dari materia dan forma) dan dari aksiden; oleh sebab itu unitas yang terjadi adalah misalnya unitas berkaitan dengan kombinasi bagian-bagian komponen, unitas karena kausalitas seperti suatu efek atau operasi yang terjadi karena causa-causa yang berlangsung secara bersamaan, unitas karena impresi suatu forma terhadap subjek seperti kesatuan konkret substansi dan aksiden-aksiden yang mengkarakterkan substansi.
  • Unitas berasal dari suatu modus unik atau forma ada. Unitas yang berasal dari modus atau forma ada dapat berupa ens rationis seperti unitas suatu genus atau species, unitas di dalam realitas, unitas forma dari hal-hal yang memiliki suatu komunitas yang khusus; unitas aksidental dari suatu aksiden dengan substansi, unitas di dalam kategori quantitas.

Ada (ens) mendahulu ada satu (ens unum) karena ada satu merupakan atribut dari ada. Ada satu merupakan ens rationis karena aspek-aspek transendental ada termasuk ada satu merupakan relasi akal budi dengan ada-ada. Kita menggunakan term satu tanpa referensi kepada hal-hal yang real, satu hanya berarti suatu negasi akan divisi sehingga ada satu adalah ens rationis. Namun, ketika satu diterapkan kepada ada, maka satu menunjukkan ada itu sendiri yang tak terbagi di dalam dirinya sendiri dan juga suatu realitas akan ada dengan absen akan divisi ada.  Konsekuensinya, ada satu bukan lagi ens rationis.

 

Kesatuan transendental dan kesatuan predikatif

Kesatuan atau unitas dapat didistingisi menjadi dua:

  1. Kesatuan predikatif atau komposisi

Kesatuan predikatif adalah kesatuan tercipta oleh kategori kuantitas. Kesatuan quantitatif berasal dari materia-forma dan merupakan asal-muasal bilangan atau jumlah yang terjadi akibat divisi materi. Ketika kita memotong buah apel, kita mendapat dua atau tiga potong buah apel. Kesatuan quantitatif ditemukan di dalam raga substansi. Jadi, kesatuan predikatif atau komposisi berarti ada itu terdiri dari bagian-bagian

  1. Kesatuan transendental

Kesatuan transendental adalah kesatuan yang menjadi karakter setiap ada. Misalnya seorang manusia tidak menunjukkan hal yang berbeda dengan manusia semuanya sebagaimana ada tidak mengada secara terpisah dengan esensi atau quantitas maupun kualitas dan menjadi satu adalah sama dengan menjadi sesuatu yang unik. Gagasan kesatuan transendental melibatkan:

  • pertama, ada adalah sebagai ukuran seperti di dalam kesatuan predikatif. Ukuran pertama-pertama masuk wilayah kategori kuantitas karena segala sesuatu yang dapat diukur kiranya terbagi di dalam quantitas. Tetapi ada juga tidak terbagi karena unitasnya; unitas tidak terbagi, baik di dalam di dalam arti yang “tak terkualifikasi” sebagai unit yang adalah dasar bilangan (numerik), atau di dalam arti yang “terkualifikasi” dalam arti bahwa unitas sebagai satu yang mana satu sebagi ukuran bagi yang lain[5]. Kesatuan transendentalnya terjadi sebagai berikut: satu sebagai prinsip bilangan (numerik) merupakan material ada dan diabstrasikan dari materi hanya di dalam ide. Tetapi satu yang dapat bertukar-alih dengan ada adalah entitas metafisik dan tidak tergantung pada materi ada. Maka kesatuan ini menunjukkan simpliciter di dalam ada yaitu bahwa ada tidak terdiri dari bagian-bagian.

 

  • Kedua, kesatuan adalah konsep universal tetapi tidak satu pun universalitas merupakan suatu substansi. Konsekuensinya kesatuan pastilah menjadi properti unik suatu hal (res) dan diidentifikasikan dengan esensi (cara mengada) kategori. Kesatuan transcendental adalah esensial jika kesatuan tersebut merupakan keniscayaan bagi esensi, apakah esensi mencakup substansi ataupun aksiden.

Kesatuan ada disebut dengan transcendental karena kesatuan tidak terbatas pada kelas-kelas ada tetapi menjadi milik ada sebagaimana adanya. Segala ada yang mengada, mengada di dalam kesatuan adanya, apapun yang memiliki eksistensi hanya karena dia mengada sebagai satu. Tentu saja konsep ada sebagai ada tentu tidak persis sama dengan konsep ada sebagai satu; ada perbedaan pikiran antara ada dan kesatuan; oleh karena itu terminologi tidaklah sinonim sempurna.

  1. Kesatuan real dan kesatuan abstrak:

Kesatuan real terjadi ketika merujuk kepada kesatuan dari suatu ada itu sendiri, bebas dan terlepas dari pandangan akal budi. Kita menyebuat kesatuan abstrak ketika kesatuan berlangsung hanya di dalam pikiran. Maria dan burung masing –masing adalah suatu ada yang nyata, satu yang real dan mempunyai kesatuan yang konkret pula, tetapi di dalam pikiran, Maria dan burung adalah satu karena mereka merupakan suatu genus yang sama yaitu binatang.

 

Tingkatan unitas

Unitas memiliki tingkatan: di antara tingkatan unitas yang berbeda kita membedakan: unitas simpliciter (incomposite): kesatuan ada yang tak memiliki sama sekali bagian-bagian (kesatuan ini hanya milik Tuhan) dan unitas compositium yang dibagi menjadi dua yaitu unitas substansial dan unitas aksidental.  Unitas substansial terjadi ketika satu hanya merupakan ada dari masing-masing bagian yang berbeda, ketika ada adalah satu untuk kebenaran itu sendiri di mana unum mengkarakterkan dan mendeterminasi ens. Manusia memiliki kesatuan substansial karena satu adalah ada dari masing-masing bagian-bagian manusia; hal ini mau mengatakan bahwa masing-masing bagian diri manusia memiliki arti, makna sebagai bagian dari ada satu yang adalah manusia[6]. Sebaliknya di dalam kesatuan sekumpulan batu, setiap batu memiliki adanya dan otonominya, oleh sebab itu kita mengatakan bahwa sekumpulan batu merupakan kesatuan aksidental[7]. Contoh lain kesatuan aksidental adalah kesatuan antara penunggang kuda dan kuda: kedua makhluk ini bersama-sama bekerja sama di dalam pergerakan, mempertahankan adanya dan otonominya masing-masing. Kesatuan aksidental juga mencakup antara kesatuan relasional, kesatuan causa dan efek.

Formasi konsep unum dan maknanya

Kesatuan ada juga mencakup pada tataran pengetahuan. Suatu hal dapat diketahui jika memiliki suatu kesatuan. Akibatnya, dalam proses terjadinya pengetahuan akal budi mencari unitas setidaknya unitas pada tatanan (order) agar realitas dapat diketahui. Bagaimana akal budi kita sampai pada konsep satu? Kata Thomas Aquinas: Primo in intellectu nostro cadit ens et deinde  divisio, et pos hoc unum,… et ultimo multitud quae ex unitatitbus constituitur[8]. Artinya pertama-tama apa dikenali dan ditangkap oleh akal budi adalah ens, ada being sebagai sesuatu (seekor kucing atau seorang manusia), kemudian kita mengubah, menterjemahkan kumpulan perbedaan yang terdapat di antara berbagai “sesuatu” yang kita tangkap sehingga kita melihat bahwa yang satu bukanlah yang lain. Dengan demikian langkah pertama akal budi untuk mendapatkan pengetahuan adalah melihat ada dan non-ada.

Kemudian akal budi kita membentuk konsep separasi dan distingsi antara ada dan non ada. Oleh karena itu, kita menyangkal bahwa divisi kiranya berada di dalam setiap ada yang kita kenali: setiap kelompok ada dibedakan dengan kelompok ada yang lain, tetapi tidak dibedakan dari dirinya sendiri sehingga ada adalah tak terbagi, satu. Selanjutnya terbentuklah konsep multiplisitas yaitu ketika akal budi memilah-milah unitas-unitas yang berbeda-beda. Multiplisitas menambahkan suatu negasi yang lebih dalam yaitu privasi (kekurangan) unitas di antara ada-ada. Ada-ada dikatakan banyak, plural meskipun terdapat kesatuan intrinsik di dalam mereka. Jadi, skema terjadinya unitas dan pluraritas yang diakses oleh akal budi dalam urutan sebagai berikut: 1. ada, 2. non-ada, 3. divisi, 4. unitas (negasi akan divisi internal), 5.  pluraritas (negasi identitas di antara individual atau komposisi unit-unit). Aquinas menegaskan bahwa konsep multiplisitas terjadi setelah (posterior) unitas, tetapi konsep akan divisi terbentuk sebelum (prior) unitas (secara konseptual), meskipun berdasarkan realitas, unitas terjadi lebih dahulu (prior) daripada divisi[9]. Dengan demikian unitas adalah kondisi subyektif dan obyektif bagi kehidupan akal budi. Kondisi subyektif karena dengan unitas manusia dengan akal budinya bisa mendapatkan bermacam-macam pengetahuan sementara kondisi obyektifnya memastikan setiap manusia dengan akal budinya mendapatkan pengetahuan.

Multiplisitas

Konsep multiplisitas terbentuk ketika akal budi mengerti bahwa satu ada bukanlah yang lain tetapi juga terpisah dari yang lain. Maka, sejatinya multiplisitas adalah suatu jenis unitas[10]. Multiplisitas tidak dapat diketahui dan tidak dapat ada jika multiplisitas tidak berada di dalam bentuk unitas. Artinya banyak hal tidak dapat membentuk multiplisitas kecuali banyak hal tersebut memiliki suatu unitas. Unitas terjadi pada saat banyak bagian membentuk kesatuan dari suatu susunan (composite) atau menciptakan kesatuan relasional antar bagian. Kolektivitas tidak meniadakan individu; malahan suatu komunitas hal adalah kelanjutan dari ada masing-masing hal.

Multiplisitas tidak lebih dulu dari unitas melainkan berasal dan berakar dari unitas. Konsekuensinya, satu disisipkan di dalam definisi multiplisitas dan bukan sebaliknya bahwa pemahaman multiplisitas disisipkan ke dalam definisi unitas. Fondasi multiplisitas pada satu membalikkan abstraksi akal budi dalam proses pemahaman akal budi yaitu dari multiplisitas menuju satu. Akal budi membentuk konsep species dan genus yang dapat dideskripsikan sebagai satu (genus) yang bersumber dari multiplisitas (spesies-spesies) dan satu (genus) yang mengaplikasikan kepada multiplisitas (spesies-spesies). Multiplisitas[11] justru semakin membuktikan kenyataan transendental unum[12]. Alasannya sebagai berikut: multiplisitas dapatlah diukur atau dihitung, multiplisitas terdiri dari angka. Dan angka didefinisikan sebagai multiplisitas yang diukur oleh satu, yaitu suatu multiplisitas yang dapat dihitung satu demi satu.

 

Gagasan-gagasan yang berasal dari unitas dan gagasan yang bertentang dengan unitas

Unitas melahirkan gagasan-gagasan atau relasi-relasi yang berasal dari unitas sekaligus juga  bertentangan dengan unitas itu sendiri (pluraritas). Gagasan- gagasan yang berasal unitas:

  1. Identitas: terjadi ketika terbentuk kesatuan di dalam substansi atau hal-hal yang ada memiliki satu substansi. Menjadi identik berarti menjadi satu; oleh sebab itu setiap ada adalah identik dengan dirinya sendiri dan identik dengan yang lain hanya ketika ada-ada itu sendiri dan ada-ada yang lain menciptakan di dalam cara yang satu, bersesuaian satu sama lainnya di dalam segala hal karena memiliki sesuatu yang umum (seperti genus atau species). Misalnya anjing mini pom dan anjing herder identik di dalam genus.
  1. Kesetaraan: ketika ada unitas dalam hubungannya dengan quantitas, maka ada kesataraan. Dua pohon tingginya setara.
  1. Kesamaan: ketika ada unitas dalam konteks qualitas yang sama, maka terjadi kesamaan. Dua orang dikatakan sama karena mereka berdua dianugerahi bakat menari yang sama.

Gagasan-gagasan yang bertentangan dengan unitas atau yang berasal dari multiplisitas[13]

  1. Lain: terjadi ketika multisiplitas yang ada menyentuh soal esensi (substansi) sehingga bertentangan dengan identitas. Dengan kata lain hal-hal itu lain ketika substansi hal-hal tersebut bukanlah satu. Misalnya kuncing dan anjing dikatakan lain karena memiliki substansi yang lain walaupun sama–sama binatang. Lain adalah suatu konsep primitif, yang sifatnya tak tereduksi. Lain juga bisa dimaknai bahwa hal-hal yang ada menunjukkan bahwa yang satu adalah yang lain (karena speciesnya ada yang satu dan yang lain memang lain).
  1. Berbeda: Berbeda juga merupakan tipe dari lain. Perbedaan itu terbentuk ketika di satu pihak hal-hal adalah lain tetapi juga berada di dalam kesesuaian satu sama lainnya. Misalnya Xavi dan Puyol sama-sama pemain FC. Barcelona tetapi Xavi pemain tengah sementara Puyol pemain belakang. Oleh sebab itu dalam perbedaan selalu memiliki yang lain dalam beberapa aspeknya sementara tidak semua hal yang lain memiliki perbedaan (karena di dalam perbedaan, selain lain, juga ada kesesuaian satu sama lainnya).
  1. Distingsi: distingsi merupakan negasi akan identitas sehingga distingsi juga merupakan perbedaan tetapi disertai dengan keunikan. Distingsi itu bisa menyentuh soal substansi atau quantitas atau relasi. Misalnya kodrat manusia berbeda dengan kodrat anjing, materi berbeda dengan quantitas. Distingsi terdiri dari dua hal yaitu distingsi real yaitu ketika kita berbicara distingsi antara manusia dan binatang, distingsi air dan api; sementara distingsi akal budi adalah distingsi yang dibuat oleh akal budi di antara aspek-aspek yang benar-benar identik (misalnya distingsi antara ada dan kebenaran; ada dengan keindahan). Maksudnya hal-hal yang terdapat di dalam realitas yang identik dianggap memilik aspek-aspek berbeda oleh akal budi yang mengenalinya atau memahaminya (ens rationis).

Unum dan keesaan Tuhan

Satu memiliki misteri dan menyingkap realitas transendental yaitu keesaan Tuhan yang paling utuh dan sempurna. Mengapa? Satu berarti ada yang tak terbagi. Satu yang sempurna menyatakan pula ada yang sempurna. Tuhan adalah keesaan yang sempurna karena ada Tuhan adalah ada yang sempurna; karena ada-Nya tidak dapat dideterminasi dan dikarakterkan oleh segala natura yang dapat disandingkan dengan ada-Nya. Ada-Nya sama dengan esensi-Nya, ada-Nya adalah Ipsum Esse Subsistens. Karena Ipsum Esse Subsistens, keesaan-Nya tidak terbagi secara aktual maupun potensial ataupun oleh segala modus divisi;  karena itu pula Tuhan memiliki satu kodrat, satu substansi dan satu esensi.

Dari mana kita bisa tahu secara rasional bahwa Tuhan adalah Tuhan yang esa?

Yang pertama dari ada Tuhan:

  • Ada Tuhan adalah simpliciter. Apa maksudnya? Simpliciter itu merujuk pada partikularitas, sesuatu yang unik dan khusus. Segala yang tunggal adalah sesuatu yang partikular, unik. Pedro Rodriguez adalah seorang manusia dengan keunikannya. Konsekuensiya, seorang Pedro Rodriguez dengan keunikannya tidak mungkin menjadi ada banyak Pedro. Hal yang sama pun berlaku kepada Tuhan. Keunikan Tuhan adalah bahwa ada Tuhan yang unik dan khusus yaitu Ipsum Esse Subsistens. Berkat keunikan-Nya, Tuhan adalah Tuhan. Pernyataan ini menegaskan keesaan Tuhan.  Tidak mungkin ada banyak Tuhan.
  • Tuhan adalah ada yang kekal, sebelum segala yang ada, dari kekal untuk kekal sehingga hanya ada satu kekekalan. Kekekalan ini menunjukkan hanya ada satu Tuhan.

 Yang kedua dari atribut-atribut Tuhan:

  • Keesaan Tuhan dapat dibuktikan dari kesempurnaan-Nya yang tak terbatas. Kesempurnaan-Nya mencakup segala kesempurnaan yang ada. Seandainya Tuhan tidak esa atau Tuhan terdiri dari banyak Tuhan, maka akan ada banyak kesempurnaan sehingga ada kesempurnaan yang dimiliki oleh satu Tuhan yang ini dan tidak dimiliki oleh Tuhan yang itu. Hal ini menunjukkan adanya kekurangan atau privasi. Jika ada privasi berarti bukan kesempurnaan. Jadi, tidak mungkin ada banyak Tuhan. Kesempurnaan yang tak terbatas justru menunjukkan keesaan Tuhan.
  • Keesaan Tuhan dapat dicermati dari kemahakuasaan-Nya yang adalah kesempurnaan-Nya. Tuhan adalah Tuhan yang maha kuasa, sekarang jelas tidak mungkin ada banyak kemahakuasaan selain satu kemahakusaan karena kemahakusaan menyangkal adanya tingkatan; tidak bisa dikatakan bahwa ada satu yang mahakusa, yang lain lebih mahakuasa, yang lain lagi paling mahakuasa. Maka hanya ada satu Tuhan yang mahakuasa yang mampu melakukan segala sesuatu.
  • Tuhan tak terbatas dan melampaui segala yang ada dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dia tak terselami. Seandainya ada dua infinitas maka yang terjadi adalah infinitas yang satu mencakup infinitas yang lain sehingga infinitas dapat dipahami, terselami. Yang terselami dan terpahami berarti bukan infinitas dan itu berarti bukan Tuhan. Jelaslah tidak mungkin ada banyak infinitas. Infinitas hanya satu. Akibatnya hanya ada satu Tuhan.
  • Tuhan adalah kebaikan, sumber dan puncak segala kebaikan. Dia adalah summum bonum (kebaikan tertinggi), dan ini adalah satu, oleh karena itu hanya ada satu Tuhan.

Yang ketiga, keesaan Tuhan dibuktikan dari causa-efek:

  • Tuhan adalah causa segala yang ada, dia adalah causa pertama dan tujuan akhir dari segala yang ada. Sebagai causa pertama, Tuhan membimbing manusia melalui efek-efek agar sampai pada causa yang satu sampai ke causa yang berikutnya dan yang terakhir yaitu kepada causa pertama yang tanpa causa. Oleh karena hanya ada satu causa yang tanpa causa, satu causa yang adalah causa pertama sekaligus causa finalitas, maka hanya ada Tuhan.
  • Tuhan sebagai causa pertama yang tanpa causa adalah causa segala yang ada artinya eksistensi segala yang ada tergantung kepada Tuhan demi keberlangsungan, preservasi ada-ada mereka; semua hidup dan bergerak dan memiliki ada di dalam Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan tidak tergantung dan tidak menerima dari apapun maupun siapapun untuk ada-Nya. Hanya ada satu Ada yang bebas; oleh karena itu hanya ada satu Tuhan.

 Yang keempat, dari unitas yang ada di semesta.

  • Segala yang ada di semesta menciptakan keharmonian satu sama lain karena yang satu terkait dengan yang lain dan saling menopang. Tetapi hal-hal yang berbeda dan distingtif tidak akan harmoni di dalam keteraturan yang sama, kecual hal-hal yang berbeda dan distingtif diatur oleh satu. Multiplisitas ditata menjadi satu keteraturan oleh satu dan pelaku satu yang menciptakan keharmonian tentu lebih baik dari pelaku banyak. Mengapa? Karena satu adalah penyebab satu dari dirinya sendiri, sementara banyak merupakan causa aksidental dari satu. Jadi, satu adalah hal yang paling sempurna dan mahakuasa karena menata, mengatur multiplisitas menjadi satu tatanan. Satu mentransendensi multiplisitas sekaligus satu sumber multiplitisitas itu sendiri. Dan satu tersebut adalah Tuhan.

Jadi, keesaan Tuhan bukan berarti keesaan yang terbatas; bukan satu yang terbatas malahan keeseaan Tuhan membuktikan infinitas diri-Nya karena keesaan-Nya menunjukkan kesempurnaan-Nya, actus purus, causa pertama dan causa segala yang ada serta ipsum esse subsistens.

[1] Vanni Rovighi, Elementi Di Filosofia (Brescia: Editrice La Scuola,1999) hal 25-26

[2] Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.11, a. 1, ad 1

[3]  Aristoteles dalam Thomas Aquinas X Metaphysics, lec.3 no. 832

[4] Leo J. Elder, The Metaphysics of Thomas Aquinas In A Historical Perspective (Leiden: E.J Brill, 1993) hal 85-86

[5]  Thomas Aquinas dalam X Metaphysics, lec. 2, no. 1960

[6] Vanni Rovighi, op.cit., hal 26

[7] Ibid

[8] Thomas Aquinas dalam X Metaphysics, lec. 4, no. 1998

[9] Ibid., no. 1991

[10]  Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.11, a.2, ad 1

[11] Karena berasal dari unitas, maka multiplisitas pun terdiri dari dua jenis: multiplisitas transendental dan multiplisitas predikatif. Thomas menyebut multiplisitas transendental sebagai bilangan transendental yang berarti multiplisitas ada-ada immaterial, suatu multiplisitas yang tidak berdasarkan pada materi dan quantitas. Summa Theologiae, I, q.30, ad 3

[12] Paul P.Gilbert, Corso Di Metafisica (Roma: Piemmae Theologica, 1997) hal 219

[13] Thomas Aquinas membedakan pluraritas menjadi tiga hal hal: perbedaan, ketidaksamaan dan ketidaksetaraan. Perbedaan terjadi karena hal-hal yang berbeda tersebut tidak memiliki satu substansi, sementara ketidaksamaan disebabkan karena tidak memiliki satu kualitas dan ketidaksetaraan karena tidak memiliki satu quantitas. Thomas Aquinas dalam X Metaphysics, lec. 4, no. 2000

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply