Sang Misioner

 

Lukisan: Joey Agbahayani, Quiapo Church

Supaya Bertambahnya Kemuliaan Allah

Ad Majorem Dei Gloriam

Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh kudus”. Kata-kata Yesus yang dicatat dalam Injil Matius menjadi eforia bagi para pengikutnya semenjak  peristiwa naiknya Yesus ke surga. Eforia itu melesat kuat dalam benak para pengikut Kristus untuk meninggalkan kampung halaman dan segala sesuatu yang dimiliki serta berlayar jauh ke ujung bumi demi mewartakan Kristus itu. Suksesi telah berlangsung selama dua ribu tahun. Eforia itu masih berlanjut dan kekal. Sang misioner tidak pernah surut dan hilang dari peredaran zaman semenjak peristiwa naiknya Yesus ke surga di Yerusalem. Tanpa upah, tanpa bekal, tanpa apa-apa, hanya bermodalkan janji ilahi yang dicatat dalam Injil, sang misioner menerjang bahaya demi sebuah misi ilahi. Misi harus disampaikan ke segala penjuru dunia. Akhirnya tak mengherankan kalau misi dan eforia akan Kristus membuat agama Kristen dianut oleh sebagian besar penduduk bumi. Tak heran pula misi dan eforia itu melahirkan sang misioner baru yang terus bergerak ke segala penjuru; ke tempat-tempat yang secara logis orang tak mau ke sana.

Sigfried Paul Zahnweh, dia adalah seorang pastor Jesuit asal Jerman. Dia telah menjadi warga negara Indonesia dan misioner kurang lebih selama 56 tahun. Padahal Indonesia kalah jauh dibanding Jerman. Lebih nyaman tinggal di Jerman yang mana masyarakatnya sudah maju, tatanan sosial terbentuk dengan rapi. Tidak seperti Indonesia yang amburadul sana-sini. Tak disangka dia lebih memilih Indonesia untuk dihidupi dan sepanjang 56 tahun itu hidup dibaktikan dan dicurahkan pada eforia Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa. Eforia ternyata membangkitkan decak kagum akan pastor Zahnweh itu: semangat beliau dalam menyampaikan kabar gembira-Injil-. Kabar gembira diwartakan bukan dengan konsep-konsep teologis yang indah yang hanya memuaskan intelektual namun dengan tindakan dan aksi. Atau dibahasakan secara positif konsep-konsep teologis itu diwujudkan dalam praksis. Injil menjadi tindakan yang melekat dalam dirinya. Saat Injil dan teologi itu menjadi aksi dan tindakan, Injil itu sungguh menjadi keselamatan bagi yang melihat, mendengar dan menerimanya. Sebab pelihat, penerima dan pendengar tahu bahwa teologi itu bukan antrophologi, Tuhan bukan sekedar proyeksi manusia yang tak mampu mengaktualkan diri sehingga memunculkan bayangan Tuhan-seperti yang diklaim oleh Feurbach.

Sekarang para misioner ada di dalam zaman teknologi dan globalisasi. Dengan begitu, tantangan misioner sekarang ini bukanlah pergi ke tempat yang jauh yang tak mampu dijangkau oleh siapa pun karena para misioner awal telah menebarkan benih-benih di tempat-tempat itu. Tantangannya lebih daripada itu. Sudah terjadi pergeseran dalam misi para misioner di milenium yang baru ini: menempa kata-kata Yesus  “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh kudus” dalam kualitas hidup si penerima, pendengar dan pelihatnya. Mengapa? Tak bisa dipungkiri bahwa millenium baru ini semakin semarak dengan teknologi dan globalisasi. Sayangnya teknologi itu hanya bisa diminum oleh sebagian kecil orang; lebih banyak orang yang buta akan teknologi sementara globalisasi hanya memperkukuh mereka yang telah mampu eksis. Bahkan ironisnya teknologi dan globalisasi justru menciptakan jurang antara mereka yang bisa eksis dan yang tak eksis itu. Teknologi dan globalisasi merenggut yang tak eksis untuk dipatrikan secara permanen dalam struktur lekat. Maka dari itu, sang misioner punya tugas yang lebih berat daripada para misioner awal. Perjuangan para misioner bukan lagi membaptis dalam jumlah quantitas melainkan membaptis dengan memberdayakan mereka yang tak eksis; menjadikan yang tak eksis itu menjadi eksis. Dari sebab itu, sang misioner tak cukup hanya bermodal teologi dan kitab suci. Sang misioner tak cukup hanya mengandalkan iman tanpa ilmu-ilmu profan lain. Teknologi dan globalisasi harus dilawan dan dibarengi dengan ilmu dan disemangati Injil. Ilmu-ilmu profan membantu untuk menyisipkan teologi dan Injil dalam dunia sehingga keselamatan itu sungguh nyata, keselamatan itu bukan di seberang sana namun keselamatan itu ada di dalam dunia. Seorang misioner milenium butuh melatih diri dalam ilmu-ilmu profan itu. Para misioner yang hanya mendegung-degungkan Injil lepas dari realitas dan kebutuhan para pendengarnya bisa dikatakan sebagai pembual. Ya pembual yang meniup seruling di tengah-tengah petani yang sibuk menebar benih di tengah kemiskinan yang penat; yang berceloteh di hadapan para buruh yang sibuk mengangkat barang-barang di hadapan jurang ekonomi yang menganga.

Tetap harus ada modal klasik dari para misioner yaitu tindakan dan aksi mereka harus memiliki keutamaan. Keutamaan di sini bukan soal melulu hidup yang baik, etika dan moral yang benar tetapi keutamaan Kristus sendiri. Keutamaan sang misioner adalah hidup Kristus. Modal klasik ini tidak bisa dianulir dan dijungkirbalikkan menjadi nomer dua setelah ilmu-ilmu profan. Jika dijungkirbalikkan sang misioner akan berubah menjadi humanis. Humanis itu sendiri membaktikan diri sepenuhnya untuk kemanusian tanpa harus berkiblat pada Kristus. Modal klasik itu-keutamaan Kristus- tetap tidak bisa dipisahkan dari esensi seorang misioner. Justru dari modal klasik itu para misioner itu bersaksi bahwa Kristus itu hadir dan bersama dunia. Modal klasik itu bersuara lantang bahwa ternyata masih ada orang-orang yang menghidupi keutamaan Kristus di mana kegemerlapan dunia yang menyangsikan keutamaan Kristus semakin bergeming dan santer. Memang berat tetapi bukan mission impossible. Sebab eforia itu tak pernah mati, suksesi masih selalu diturunkan dari generasi yang satu ke generasi yang lain; dan yang jelas the mission is still continuing dalam semboyan para misionaris  Jesuit:

Supaya Bertambahnya Kemuliaan Allah

Ad Majorem Dei Gloriam

 

 

 

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply