Rumor

LIX

Rumor

Francis Bacon

Lukisan Antoine-Jean Gros, Bonaparte visitant les pestiférés de Jaffa, 1804

antoine-jean_gros_-_bonaparte_visitant_les_pestiferes_de_jaffa

Sebuah Fragmen

Para penyair menggambarkan Rumor sebagai seorang raksasa. Mereka melukiskan Rumor satu sisi dengan baik dan menawan tetapi di sisi lain dengan singkat dan menakutkan. Mereka mengatakan, lihat betapa lebatnya rambut si raksasa, ada begitu banyak mata yang dia miliki di bawah rambutnya, begitu banyak lidah, begitu banyak suara sehingga dia memekakkan banyak telinga. Kiranya ini merupakan tulisan hiasan. Di dalam tulisan hiasan itu, terdapat perumpamaan yang indah, seperti si raksasa mengumpulkan kekuatan di dalam pengembaraannya, berjalan di atas tanah tetapi menyembunyikan kepalanya di awan-gemawan, di siang hari ia duduk di menara jaga dan di malam hari terbang mengangkasa, dia menyatukan benda-benda yang tidak sama dengan benda-benda yang sama, dia adalah teror bagi kota-kota besar. Tetapi pada akhir cerita para penyair menceritakan bahwa Bumi, ibu dari para raksasa, berperang dengan Jupiter sehingga ibu Bumi dilumat oleh Jupiter[1]. Oleh sebab itu, timbullah kemarahan para raksasa yang menciptakan Rumor. Tentu saja bahwa pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan para raksasa terhadap Jupiter, dan rumor-rumor yang sifatnya menghasut dan menfitnah sebenarnya adalah bagai saudara dan saudari, laki-laki dan perempuan[2]. Tetapi sekarang, jika seorang manusia dapat menjinakkan si raksasa yang dengan sayapnya membunuh unggas, dengan memberinya makan dengan tangan dan menguasainya, maka hebatlah orang itu. Sayangnya kita telah terinfeksi dengan gaya para penyair. Sekarang mari kita berbicara dengan serius dan menyedihkan: bahwa tidak ada suatu tempat di dalam politik yang kurang diurus dan lebih berharga untuk diurus selain daripada rumor. Dari sebab itu, kita akan berbicara tentang poin-poin berikut ini: apa itu rumor-rumor yang keliru; apa itu rumor-rumor yang benar; bagaimana rumor-rumor itu dilihat dengan bijaksana; bagaimana rumor-rumor ditaburkan dan ditumbuhkan; bagaimana rumor-rumor itu disebarkan dan digandakan; dan bagaimana rumor-rumor diperiksa dan dipadamkan. Dan hal-hal lain yang berkaitan dengan natura rumor. Rumor adalah tentang suatu kekuatan, tetapi  di dalam kekuatan itu hampir tidak ada tindakan yang benar karena tidak ada hal yang benar, khususnya di dalam  peperangan. Mucianus[3] menghancurkan Vitellius[4] dengan rumor yang ia sebarkan: bahwa Vitellius bermaksud untuk memindahkan legion Siria ke Jerman dan legion Jerman ke Siria; yang mana legion Siria terluka. Julius Caesar[5] mengalahkan Pompeius[6] tanpa syarat dan sambil berbaring mengantuk lewat rumor ia sebarkan dengan cerdik: Tentara-tentara Caesar tidaklah mencintai jenderal mereka (Caesar) dan mereka lelah karena perang dan sedang memuat barang jarahan Galilea, mereka akan meninggalkan Caesar ketika Caesar datang ke Italia. Livia[7] membereskan semua hal yang berkaitan suksesi Tiberius anaknya dengan memproklamasikan terus-menerus bahwa suaminya Augustus[8] sedang memulihkan diri dan adanya amandemen. Hal yang lazim bagi pasha[9] adalah untuk menyembunyikan kematian Sultan Turki dari para janizaries[10] dan para tentara sebagai cara mereka demi menyelamatkan Konstantinopel dan kota-kota lainnya dari kegamangan. Themistocles[11] membuat Xerxes[12], raja Persia, dengan gesit keluar dari Yunani dengan menebarkan rumor bahwa orang-orang Yunani hendak menghancurkan jembatan kapal-kapalnya yang dia buat melintang di Hellespont[13]. Ada ribuan contoh rumor yang seperti itu; dan semakin banyak contoh rumor, justru semakin sedikit untuk harus diceritakan; karena seseorang menjumpai contoh-contoh segala rumor di mana saja. Jadi, hendaknya penguasa-penguasa yang bijaksana waspada dan berhati-hati terhadap rumor-rumor ketika mereka bertindak dan memproklamasikan diri mereka.

(Essai ini tidak selesai)

[1] Tentang Jupiter lihat essai XV; no. 18

[2] Bandingkan essai Rumor dengan essai Hasutan dan Kerusuhan (essai XV).

[3] Tentang Mucianus lihat essai VI; no. 5

[4] Tentang Vitellius lihat essai VI; no. 7

[5] Tentang Julius Caesar lihat essai IV; no. 5

[6] Tentang Pompeius lihat essai XXIII; no. 3

[7] Tentang Livia lihat essai II; no. 5

[8] Tentang Kaisar Augustus lihat essai II; no. 4

[9] Pasha atau Pascha adalah kedudukan tertinggi dalam sistem politik Ottoman Turki; pada umumnya gelar Pasha diberikan para kepada gubernur, jenderal dan orang-orang yang dianggap oleh Sultan layak mendapat gelar tersebut. Sebagai gelar kehormatan, Pasha sama dengan gelar Lord dalam kerajaan Inggris.

[10] Janizaries adalah nama pengawal khusus Sultan Turki.

[11] Tentang Themistocles lihat essai XXVII; no. 30

[12] Xerxes I (519 SM-465 SM) adalah raja IV kemaharajaan Persia.  Xerxes I dikenang oleh sejarah atas usahanya untuk menginvasi Yunani dengan jumlah pasukan yang besar tetapi mendapat perlawanan yang hebat dari Yunani sehingga memaksanya pulang kembali ke Persia. Salah satu pertempuran yang terdasyat antara Yunani dan Persia adalah pertempuran Thermopylae, di mana Yunani dipimpin oleh Raja Sparta –Leonidas- dengan jumlah pasukan yang jauh tak seimbang melawan pasukan Persia dengan jumlah yang sangat besar. Xerxes begitu kewalahan dalam mengalahkan pasukan Yunani yang berjumlah kecil meskipun akhirnya berhasil memenangkan pertempuran lewat pengkhianatan yang dibuat oleh Ephialtes. Setelah kemenangan ini, Persia berhasil masuk ke Yunani. Sayangnya Xerxes harus pulang kembali ke Persia karena adanya kerusuhan di negerinya sehingga tongkat komando diserahkan kepada jenderalnya. Tanpa komando Xerxes, tentara Persia dihajar oleh Yunani sehingga terpaksa mereka mundur. Xerxes sendiri di Persia menyelesaikan proyek-proyek ayahnya yang belum rampung misalnya seperti menyelesaikan pembagunan istana Apadana, istana di Susa. Xerxes I mati dibunuh dan digantikan oleh anaknya Artaxerxes I (tentang Artaxerxes lihat essai XXVII; no. 31)

[13] Hellespont atau Dardanelles adalah selat kecil di barat laut Turki yang menghubungkan laut Aegean dengan laut Marmara. Bersama dengan selat Bosphorus, selat Dardanelles juga menghubungkan laut Hitam dengan laut Mediterrania. Pada zaman kuno, selat Dardanelles dipakai para raja untuk menyerang dan menginvasi negara dan bangsa lain. Misalnya Xerxes dan Alexander Agung. Xerxes sendiri membangun dua jembatan sesuai dengan lebarnya Dardanelles di Abydos agar pasukan Persia dengan jumlah yang besar dapat menyeberang dari Persia ke Yunani. Jembatan penyeberangan ini diberi nama Aeschylus.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply