Roda Kehidupan

LVIII

Roda Kehidupan

Francis Bacon

Lukisan John Linnell, Noah, The Eve of the Deluge, 1848

noah_the_eve_of_the_deluge_by_john_linnell_1848

Salomo[1] berkata, tidak ada hal baru di atas bumi[2]. Sama seperti imajinasi Plato[3], semua pengetahuan hanyalah ingatan; sehingga Salomo bernubuat, semua kebaharuan adalah  pelupaan[4]. Kenyataan tersebut seperti yang anda lihat pada sungai Lethe[5] yang mengalir sama indahnya entah di atas tanah ataupun di bawah tanah.

Ada seorang ahli bintang yang sukar dipahami pendapatnya: “Seandainya dua hal tidaklah konstan (yang satu adalah bintang-bintang[6] yang kiranya berada di dalam kejauhan antara satu dengan yang lain, dan tak pernah mendekat bersama, ataupun pergi menjauh dan hancur; yang lainnya adalah suatu pergerakan harian yang menjaga waktu secara kekal) maka tak ada satu pun individu yang akan dapat bertahan hidup sedetik pun”. Yang pasti, segala materi senantiasa berada dalam perubahan dan tidak pernah berhenti.”

Kain kafan besar yang mengubur segala sesuatunya di dalam pelupaan adalah dua hal: banjir dan gempa bumi. Berkaitan dengan kebakaran yang hebat dan kekeringan yang panjang, kedua bencana tersebut tidaklah sepenuhnya membinasakan seluruh penduduk dan menghancurkan segala sesuatunya. Kereta Phaeton hanya pergi dalam sehari[7]. Tentang kekeringan tiga tahun di zaman nabi Elias[8] memanglah sebuah peristiwa yang unik tetapi orang-orang tetaplah hidup. Sedangkan kebakaran yang hebat yang disebabkan oleh halilintar, yang sering terjadi di Hindia Barat[9] hanya berlangsung di dalam lingkup yang kecil. Tetapi mengenai dua jenis kehancuran yang lain, yakni banjir dan gempa bumi, perlu diperhatikan lebih lanjut. Sebab orang-orang yang kebetulan selamat biasanya adalah orang-orang yang tidak berpengetahuan dan tinggal di daerah pegunungan, yang tidak dapat memberikan keterangan mengenai masa lampau. Akibatnya, segala sesuatu jatuh ke dalam pelupaan, seolah-olah tidak seorang pun pernah tersisa.

Jika anda memperhatikan orang-orang Hindia Barat dengan seksama, tampaknya mereka lebih baru dan lebih muda daripada dengan orang-orang Dunia Lama[10]. Dan kemungkinan besar kehancuran yang ada di sana disebabkan bukan karena gempa bumi (seperti yang dikatakan oleh imam Mesir kepada Solon[11] berkaitan dengan Atlantis, bahwa Atlantis ditelan oleh gempa bumi) melainkan oleh banjir setempat. Sebab gempa bumi jaranglah terjadi di Hindia Barat. Tetapi di sisi yang lain, Hindia Barat memiliki sungai-sungai besar yang deras seperti sungai-sungai Asia, Afrika dan Eropa. Bagi mereka sungai-sungai yang besar dan deras hanyalah seperti sungai-sungai kecil. Demikian juga gunung Andes atau gunung-gunung mereka jauh lebih tinggi daripada gunung-gunung kita. Akibatnya sisa generasi yang terselamatkan dari banjir bandang disebabkan karena gunung-gunung yang tinggi itu.

Pengamatan Machiavelli [12] menyatakan bahwa kecemburuan di antara sekte-sekte menghapus ingatan akan hal-hal dari masa lampau. Maka Machiavelli membuktikannya dengan cara memfitnah Paus Gregorius Agung[13] bahwa Paus Gregorius sedapat mungkin memusnahkan semua peninggalan dunia yang kafir; tetapi saya tidak menemukan bahwa fitnahan mempunyai efek yang hebat ataupun berlangsung lama; karena Paus Sabinianus[14] penerus Gregorius Agung menghidupkan lagi sekte-sekte kuno.

Perubahan sebagai akibat dari perubahan-perubahan di langit tidaklah cocok dengan argumen yang kita bahas sekarang ini. Kiranya terjadi tahun agung yang digagas Plato[15], andaikata dunia berlangsung selamanya, akan memiliki suatu pengaruh; bukan memperbaharui keadaan individu-individu satu per satu namun secara keseluruhan (sebab anggapan demikian hanyalah khayalan orang-orang yang mengira bahwa benda-benda langit mempunyai pengaruh yang lebih dahsyat atas segala sesuatu yang berada di bawah daripada yang sesungguhnya mereka miliki.”). Tidak diragukan lagi bahwa komet-komet memiliki kekuatan dan pengaruh atas keseluruhan dan massa benda. Sayangnya komet-komet tersebut hanya diamati dan dinantikan kedatangannya, daripada diobservasi efek-efeknya dengan teliti; khususnya efek-efeknya yang partikular; misalnya jenis komet, besarnya, warnanya, versi cahaya-cahayanya, komet-komet tersebut yang berada di alam semesta apakah untuk selamanya, menghasilkan efek-efek yang seperti apa.

Ada suatu pendapat yang pernah saya dengar, dan saya tidak ingin mengesampingkannya begitu saja, melainkan mengamatinya sedikit lebih lama.Orang-orang mengatakan bahwa pendapat tersebut didasarkan pada observasi di Negara-Negara Bawah[16] (saya tidak tahu di  mana) bahwa setiap lima tahun dan tiga puluh tahun, ada semacam kesamaan dan kecocokan di dalam tahun-tahun tersebut dan cuaca-cuaca tertentu berlangsung lagi; seperti es yang besar, hujan yang besar, kekeringan yang panjang, musim dingin yang hangat, musim panas dengan panas yang kecil dan yang seperti itu; dan mereka menyebut semuanya itu sebagai Puncak. Pendapat tersebut menjadi diskusi saya karena dengan menghitung mundur tahun-tahun yang ada, saya pun menjumpai hal yang sama.

Tetapi marilah kita mengesampingkan diskusi kita mengenai alam dan mari kita membahas tentang manusia. Perubahan mendadak yang terbesar yang terjadi dalam hidup manusia adalah perubahan tentang sekte-sekte dan agama-agama. Sebab agama dan sekte adalah hal yang paling mempengaruhi pemikiran manusia. Agama yang benar dibangun di atas dasar batu karang[17], sementara agama yang salah akan disapu di atas gelombang waktu. Oleh karena itu, berbicara mengenai penyebab munculnya sekte-sekte baru dan beropini tentang sekte-sekte itu, adalah berbicara dan beropini sejauh mana penilaian manusia yang lemah dapat menahan diri terhadap terhadap revolusi-revolusi yang begitu dasyat.

Ketika agama yang sebelumnya diterima terpecah oleh berbagai pertentangan; dan ketika kesucian para pengajar agama ternoda dan penuh dengan skandal, disertai zaman yang dipenuhi dengan kebodohan, kekerasan dan kebiadaban; barangkali anda akan takut akan munculnya suatu sekte baru.

Akibatnya akan muncul seseorang yang mendeklarasikan diri sebagai pemimpin sekte tersebut dengan semangat yang berapi-api dan memukau. Fakta ini terjadi ketika pemimpin sekte mempublikasikan hukumnya. Jika suatu sekte baru tidak mempunyai dua jalan berikut ini, janganlah takut karena sekte baru itu tidak akan berkembang. Jalan yang pertama adalah sekte itu entah mendukung atau melawan otoritas yang sedang berkuasa karena tidak ada hal yang lebih popular selain daripada kedua aksi tersebut. Jalan yang kedua adalah bahwa sekte itu memberikan kebebasan untuk mengejar kenikmatan dan kehidupan sensual. Sebab berkaitan dengan bidaah-bidaah spekulatif (seperti Arianisme[18] dan sekarang orang-orang Arminian[19]), meskipun beroperasi di wilayah intelektual, tetapi bidaah-bidaah tersebut tidak menghasilkan perubahan-perubahan besar di dalam negara-negara, kecuali mereka mendapat dukungan dari masyarakat. Setidaknya ada tiga cara yang membuat sekte-sekte baru itu berkembang: dengan kekuatan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat; dengan kefasihan dan kebijaksanaan kata dan persuasi; dan dengan pedang.

Tentang kemartiran, saya menganggapnya sebagai suatu mukjizat, karena hal kemartiran itu tampaknya melampaui kekuatan kodrat manusia: dan saya amat memuji kesucian hidup yang mengagumkan dan hebat itu.

Tentu saja tidaklah ada cara yang lebih baik untuk menghentikan perkembangan suatu sekte baru dan skisma-skisma selain daripada menghentikan penghinaan terhadap mereka; tidak mentoleransi perbedaan-perbedaan yang kecil; melaksanakannya dengan cara yang lembut dan bukan dengan penyiksaan yang berdarah; mengendalikan para pemimpin utama mereka dengan memikat hati mereka dan memberi mereka jabatan dan bukannya membuat mereka marah dengan kekerasan dan kepahitan.

Perubahan-perubahan dalam peperangan begitu banyak, namun pada dasarnya ada dalam ketiga hal berikut ini; di dalam arena atau fase perang; dalam senjata-senjata; dan dalam cara memimpin. Peperangan pada zaman kuno, tampaknya lebih menyoal pengelanaan dari timur ke barat. Sebab bangsa Persia, bangsa Asyur, orang-orang Arab dan Mongol (yang adalah penyerbu) adalah orang-orang-orang Timur. Benarlah bahwa bangsa Gaul adalah orang-orang barat, tetapi kita telah membaca tentang adanya dua penyerbuan saja yang dibuat mereka terhadap bangsa lain: yang pertama serbuan kepada Gallo-Grecia, yang lain serbuan kepada Roma. Tetapi berdasarkan kepastian observasi, baik timur dan barat tidaklah punya kepastian pendapat tentang surga sehingga tidak ada lagi peperangan baik dari timur maupun dari barat. Tetapi dari utara dan selatan tetaplah berperang, dan jaranglah atau hampir tidak pernah terlihat bahwa orang-orang selatan menginvasi daerah utara, tetapi selalu yang sebaliknya. Hal itu disebabkan struktur wilayah utara secara alamiah menghasilkan bangsa-bangsa yang lebih suka perang: mungkin karena berhubungan dengan bintang-bintang yang ada di belahan bumi utara; atau keyakinan bahwa benua-benua yang hebat terletak di utara. Sedangkan yang diketahui di belahan bumi selatan adalah hampir seluruhnya lautan. Alasan lain adalah (yang sering tampak) tentang kondisi dingin di bagian utara yang mau tak mau membuat tubuh-tubuh lebih kuat dan membuat keberanian lebih menyala.

Mengenai suatu negara dan kemaharajaan yang sedang bergejolak dan kacau, anda haruslah yakin bahwa akan terjadi peperangan. Bagi imperium-imperium besar, pada saat mereka berjaya, mereka melemahkan dan menghancurkan kekuatan-kekuatan bangsa-bangsa yang telah mereka tundukkan dengan mengandalkan kekuatan-kekuatan mereka yang sifatnya protektif. Ketika imperium runtuh, segala sesuatunya menjadi keporak-porandaan dan mereka pun menjadi mangsa. Itulah yang terjadi dengan keruntuhan kemaharajaan Romawi[20]; demikian juga dengan kemaharajaan Jerman[21] sesudah Charles Yang Agung[22], setiap burung memungut bulu-bulunya, tidak berbeda dengan keruntuhan kemaharajaan Spanyol[23], jika memang kemaharajaan sekiranya runtuh.

Pencapaian besar dan persatuan kerajaan-kerajaan juga membangkitkan peperangan. Karena ketika suatu bangsa maju sehingga memiliki kekuatan yang dasyat, maka bangsa tersebut bagai banjir bandang yang tentu saja akan meluapi segala sesuatunya. Fakta ini seperti yang telah terlihat pada kekaisaran Romawi[24], Turki[25], Spanyol[26] dan yang lain. Lihatlah ketika dunia memiliki sedikit orang-orang barbar, pada umumnya mereka tidak akan menikah atau memiliki keturunan. Maka tidak ada bahaya banjir manusia kecuali orang-orang barbar tersebut mengerti bagaimana untuk hidup (seperti yang hampir terjadi di mana-mana sekarang ini, kecuali orang-orang Mongol). Namun ketika kiranya ada kumpulan manusia yang terus berpopulasi, tanpa mempedulikan sarana-sarana untuk hidup dan makanan, niscaya bahwa pada suatu waktu kumpulan orang tersebut demi memenuhi porsi kebutuhan mereka akan mencaplok bangsa lain. Itulah yang terjadi atas orang-orang utara awali yang mana mereka bergabung satu sama lain menjadi kelompok lalu menaklukkan bangsa lain dengan cara sebagian kelompok tinggal di tanah air sementara kelompok yang lain mencari keberuntungan.

Ketika suatu negara yang suka berperang menjadi lunak dan kehilangan sifat keperkasaannya, maka dapat dipastikan bahwa perang akan mengancamnya. Sebab negara-negara semacam itu biasanya menjadi kaya ketika kekuatan mereka sedang merosot; kekayaan mereka mengundang pihak lain untuk menjadikannya mangsa, sementara kemerosotan keberanian mereka mendorong terjadinya perang oleh pihak lawan.

Berkaitan dengan persenjataan, tampaknya persenjataan hampir luput dari aturan dan pengamatan. Meskipun demikian kita telah melihat bahwa persenjataan memiliki keuntungan sekaligus membawa perubahan. Tentu saja bahwa meriam telah dikenal di kota Oxidrakes di India, yang mana bangsa Macedonia menyebutnya sebagai halilintar dan kilat serta sihir. Bahkan meriam yang telah digunakan di Cina dua ribu tahun yang lalu telah dikenal dengan baik. Manfaat senjata-senjata dan kemajuannya adalah; yang pertama membinasakan musuh dari jarak jauh sehingga mengusir bahaya seperti meriam dan senapan musket[27]. Yang kedua kekuatannya untuk mengalahkan musuh; kecanggihan meriam melampui alat pelantak dan senjata-senjata kuno. Yang ketiga kegunaannya yang luas, seperti dapat digunakan di segala cuaca, tidak berat sehingga gerobak pengangkut menjadi ringan dan dapat diatur dan lain sebagainya.

Untuk cara memimpin dalam peperangan: yang pertama, manusia sangat mengandalkan pada jumlah: mereka juga mengandalkan kekuatan dan keberanian, menentukan hari untuk pertempuran terbuka dan dengan demikian menguji kekuatan dalam pertarungan yang seimbang dan akibatnya mereka menjadi lebih bodoh dalam menyusun dan mengatur batalion-batalion mereka.

Namun, sesudah mereka mengandalkan akan kompetensi daripada jumlah, mereka menjadi ahli dalam perihal melihat keuntungan sebuah tempat, lewat pengalihan yang cerdik dan yang semacam itu sehingga mereka semakin ahli dalam mengatur batalion mereka.

Pada masa muda suatu negara, kekuatan militer berkembang; pada masa pertengahan suatu negara, ilmu pengetahuan berkembang; dan kemudian, untuk suatu waktu, keduanya berkembang bersama-sama. Pada masa kemunduran suatu negara, seni mekanis dan perdaganganlah yang berkembang. Ilmu pengetahuan mempunyai masa kanak-kanaknya, ketika ia baru mulai berkembang dan masih hampir kekanak-kanakan; kemudian masa mudanya, ketika ia berkembang dengan subur dan penuh semangat kemudaan; kemudian masa dewasanya, ketika ia menjadi kokoh dan tertata; dan akhirnya masa tuanya, ketika ia menjadi kering dan kehabisan daya.

Namun, tidaklah baik memandang terlalu lama roda perubahan yang terus berputar ini, supaya kita tidak menjadi pusing. Adapun sejarah mengenai perubahan-perubahan tersebut hanyalah sebuah lingkaran kisah, dan karena itu tidak sesuai untuk tulisan ini.”

 

Refleksi Personal

Dalam esai Roda Kehidupan, Bacon mengawalinya dengan kutipan kebijaksanaan Salomo, tidak ada hal baru di atas bumi. Dengan kutipan tersebut ia tampaknya menyadari bahwa sebagian yang terjadi hanyalah suatu pengulangan termasuk perihal kebaharuan. Apa yang tampak baru mungkin hanya sesuatu yang pernah berlangsung tetapi tidak diingat, tidak disadari lagi atau dilupakan sehingga seolah-olah baru. Dalam konteks itu, sejarah seolah-olah berjalan maju tetapi di dalam gerak majunya hanya dalam pengulangan. Yang berubah adalah mungkin bentuknya, sementara dinamikanya sering tetap sama karena pengulangan. Akibatnya, tidak ada yang baru.

Salah satu ancaman eksistensial bagi kehidupan bukan hanya kematian tetapi pelupaan. Sesuatu yang dilupakan dan yang tidak ingat akan hilang berlalu begitu saja tanpa makna. Ia menjadi “mati”. Pelupaan bersifat netral. Artinya, pelupaan sebenarnya membawa baik petaka dan keberuntungan, tergantung subyek dan sikap yang hendak diambil. Pelupaan menunggu segala sesuatunya  untuk membantu kita  supaya kita dapat melepaskan diri dari penderitaan dan dari perubahan yang tiba-tiba. Sebagai contoh, dalam untaian waktu sebuah kemenangan dan sebuah tragedi akan tenggelam di dalam pelupaan yan membuat kita kembali menjadi netral.

Maka, metafora sungai Lethe yang dipakai oleh Bacon menjadi indah. Sejarah merupakan perjuangan manusia melawan Lethe. Kita menulis, memfoto, membuat seni, membangun monumen, mendokumentasikan dan menceritakan kembali pengalaman karena tidak ingin hilang begitu saja dalam arti menolak pelupaan. Tapi Bacon mengingatkan bahwa memori, usaha dan tindakan manusia berada di bawah kekuasaan waktu yang terus mengalir ke depan tanpa ada batasnya. Pengalaman dan momen itu akan menjadi sedimen yang terkubur selama dilupakan walaupun telah disejarahkan.

Jelas bahwa pelupaan mempunyai hubungan dengan perubahan. Seru Bacon “segala materi senantiasa berada dalam perubahan dan tidak pernah berhenti.” Semesta ini adalah jaringan perubahan yang meliputi kosmologi, alam, bahkan kehidupan termasuk manusia. Perubahan sebagaimana juga pelupaan adalah hal berguna tetapi juga menyakitkan. Ada yang didapat, ada yang hilang, ada yang lahir ada yang mati, dan seterusnya. Segalanya ditempatkan dalam roda perubahan. Sejarah pun menjadi penuh dengan obyek perubahan. Suatu kerajaan bangkit, jaya, kemudian hancur, bangsa berperang, teknik perang yang berubah, peristiwa alam yang mengubah segala sesuatunya seperti gempa bumi, banjir dan kekeringan. Hamparan luas berubah menjadi kota kemudian hilang dan seterusnya. Manusia sendiri adalah subyek dan obyek perubahan itu sehingga hidup sendiri adalah sebuah roda perubahan yang begitu mendadak. Ia adalah subyek karena ia memiliki kuasa untuk mengubah segala sesuatunya karena ia diberi rasionalitas yang membuat dia bebas untuk bertindak. Manusia adalah obyek perubahan karena ia sendiri juga tidak bebas dari perubahan yang disebabkan oleh keterbatasan dirinya. Ia dapat mengubah tetapi juga ia dapat berubah entah lewat natura, pemikiran, dan seterusnya.

Heraklitus melihat roda perubahan dengan tajam pada saat ia menggambarkan perubahan sebagai aliran sungai. Manusia tidak dapat masuk ke sungai yang sama untuk kedua kalinya. Sebab ketika kita masuk ke dalam aliran sungai yang sekarang ternyata air telah mengalir. Dan itu berarti bukan aliran air yang sama. Akibatnya kita sendiri yang masuk ke dalamnya pun telah berubah. Jadi, perubahan merupakan cara realitas mempresentasikan keberadaannya di dalam waktu.

Walaupun demikian, ada kontinuitas di tengah perubahan. Maka perubahan secara paradoks membutuhkan permanensi seperti yang diungkapkan oleh Parmenides. Ia menjelaskan bahwa kita hanya dapat mengetahui bahwa segala sesuatu berubah apabila ada sesuatu yang tetap yang dapat kita kenali sebagai subyek perubahan. Tanpa permanensi, perubahan tidak akan ditemukan. Yang ada hanyalah rangkaian kejadian yang tidak memiliki hubungan satu dengan yang lainnya.

Nyatanya, manusia hidup di dalam roda perubahan sayangnya manusia selalu ingin kepastian. Manusia ingin mempertahankan semua yang baik: kesehatan, relasi, cinta, kekayaan namun tidak akan dapat. Maka, roda kehidupan dapat diartikan sebagai pergerakan kehidupan yang konstan dan tak terprediksi, suatu ketidakkekalan dari tindakan. Fakta roda kehidupan menjelaskan bahwa tidak ada bentuk historis yang punya hak istimewa untuk mengekalkannya. Manusia tidak berada di luar roda perubahan sambil menyaksikan berputar.

Memang, roda kehidupan berputar tetapi manusia tidak harus menjadi roda. Manusia dapat mengingat, memahami, memilih, mencintai di tengah segala sesuatu yang berlalu.

Terhadap roda kehidupan itu, Bacon mengingatkan agar kita tidak menjadi pusing. Perubahan bukan berarti segalanya adalah relativitas dan tanpa makna. Justru karena kehidupan berubah dan terbatas, setiap saat mempunyai bobotnya asalkan kita mampu memaknai. Pemaknaan membuat roda kehidupan berputar dengan penuh arti dan tidak berputar melulu seperti mekanik yang menakutkan.

Lalu di dalam roda kehidupan itu justru pelupaan adalah ketenangan yang paling akhir karena memori, bentuk dan waktu perlahan-lahan terhapus. Pelupaan barangkali merupakan tujuan tenang yang menunggu di akhir setiap perubahan. Sebab kebaruan dapat lahir dari pelupaan, dan setiap perubahan perlahan membawa sebagian dari yang pernah ada menuju pelupaan.

Maka, di dalam pelupaan dan perubahan, kebijaksanaan manusia menemukan relevansinya. Kebijaksanaan bukanlah suatu kemampuan untuk menghentikan roda yang berputar melainkan kemampuan hidup tanpa kehilangan diri ketika roda berputar. Kebijaksanaan  menyoal bagaimana manusia menempatkan dirinya dan bersikap di dalam pelupaan dan perubahan.

Sayangnya, manusia membuang begitu banyak waktu mengejar kekuasaan, kekayaan, status dan sungguh melupakan bahwa waktu akan mencuci segala sesuatunya menjadi pelupaan. Tujuan terakhir filsafat adalah membangun pikiran yang berakar kokoh pada keutamaan. Tujuannya agar membuat diri kuat dan tegap terhadap apa pun tanpa memperdulikan apakah keberuntungan akan meninggikan kita ataupun waktu yang justru menghapus dan menyapu kita. Kekayaan dan ketenaran, kesehatan merupakan suatu pinjaman yang berasal dari semesta. Kita harus siap untuk mengembalikan pinjaman itu kepada semesta melalui perubahan dan pelupaan tanpa keluh kesah. Dengan demikian, kebijaksanaan menolong manusia membedakan apa yang harus dilepaskan karena perubahan dan apa yang tetap layak dipertahankan di tengah perubahan.”

[1] Tentang Salomo lihat essai IV; no. 1

[2] Bdk. Pengkhotbah 1: 10; Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: “Lihatlah, ini baru!”? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.

[3] Tentang Plato lihat XVI; no. 9

[4] Bdk Pengkhotbah 2:16; Pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan.

[5] Sungai Lethe dalam mitologi Yunani merupakan salah satu sungai dari kelima sungai yang ada di dalam Hades (dunia bawah). Lethe sendiri berarti pelupaan; maka barang siapa yang meminum air dari sungai Lethe akan menjadi lupa sama sekali. Sungai Limia yang terletak di utara Portugal dan Galicia (Spanyol) konon dianggap sebagai sungai Lethe sehingga barang siapa yang melewati sungai tersebut akan menjadi lupa. Maka, Jenderal Romawi Decimus Junius Brutus mematahkan legenda tersebut dengan cara menyebut nama prajuritnya satu per satu sebelum menyeberangi sungai tersebut. Setelah menyeberangi sungai tersebut, sang jenderal masih ingat nama prajuritnya sehingga para prajuritnya menyeberangi sungai tanpa ketakutan lagi. Jadi, sungai Lethe yang mengalir di atas dimaksud oleh Bacon adalah sungai Limia dan sungai Lethe yang mengalir di bawah adalah sungai Lethe dalam mitologi Yunani.

[6] Nama latinnya stellae fixae atau fixed stars adalah adalah benda-benda di angkasa yang tampaknya tidak bergerak dalam hubungannya dengan bintang-bintang lainnya yang nampak di malam hari. Oleh karena itu, fixed stars adalah setiap bintang kecuali matahari.

[7] Berikut legenda Phaeton yang diceritakan oleh Ovid: Phaeton bertanya kepada Clymene –ibunya- tentang siapa ayahnya. Clymenene menjawab bahwa ayahnya adalah Helios –sang dewa matahari-. Maka, Phaeton pergi ke kayangan ke rumah bapanya di mana Helios telah berjanji kepada Phaeton untuk melakukan apa pun keinginan Phaeton demi membuktikan bahwa dirinya adalah sungguh bapa Phaeton. Setelah tiba di kayangan, Phaeton ingin mengendarai kereta matahari milik ayahnya hanya satu hari saja. Helios mengatakan bahwa tak seorang pun yang berani mengendarai kereta ini termasuk Zeus sekalipun karena kereta sungguh panas dan kuda-kudanya bernafaskan api. Tetapi Phaeton bersikukuh untuk mengendarai kereta matahari ini. Supaya dapat mengendarai kereta, Helios melumuri kepala Phaeton dengan minyak ajaib supaya kereta tidak membakar dirinya ketika ia berada di atas kereta. Lalu naiklah Phaeton ke kereta matahari dan mulai mengendarai. Segera Phaeton tidak dapat mengendalikan kereta dengan baik karena tangannya berbeda dengan tangan Helios. Akibatnya, kereta matahari itu berjalan tidak karuan di atas langit. Pertama, kereta itu membelok terlalu tinggi sehingga bumi menjadi terlalu dingin, kemudian menukik ke bawah terlalu tajam sehingga mengeringkan dan menghanguskan sayur-sayuran. Bahkan kebanyakan tempat di Afrika berubah menjadi padang gurun dan membuat kulit orang-orang Ethiopia berwarna hitam. Percikan-percikan kereta matahari jatuh ke bawah sehingga membakar kota-kota menjadi abu; sungai dan danau menjadi kering sehingga memaksa Poseidon (dewa laut) keluar dari tempatnya dan marah kepada dewa matahari. Tetapi karena terlalu panas Poseidon pun bersembunyi di dasar samudra. Akhirnya, demi menghentikan kereta matahari, Zeus terpaksa mengirim kilat sehingga membuat Phaeton jatuh tenggelam di sungai Eridanos. Bumi pun menjadi gelap untuk beberapa hari karena kereta matahari berada di langit tinggi yang jauh. Helios karena sedihnya akibat kematian Phaeton tidak mau mengendarai kereta matahari dan membiarkan kereta itu di langit yang jauh. Para dewa membujuk Helios supaya tidak meninggalkan bumi dengan kegelapan. Helios menyalahkan Zeus karena telah membunuh anaknya, tetapi Zeus mengatakan tidak ada cara lain lagi untuk menghentikan Phaeton.

[8] Tentang kekeringan pada zaman nabi Elias baca I Raja-Raja 17:24.

[9] Tentang Hindia Barat lihat essai XXIX; no 36.

[10] Istilah Dunia Lama digunakan sebagai kontras Dunia Baru; Dunia Lama mengacu kepada Asia, Afrika dan Eropa, sementara Dunia Baru adalah penemuan benua Amerika.

[11] Tentang Solon lihat essai XXIX; no. 7

[12] Tentang Machiavelli lihat essai Tentang Machiavelli lihat essai XIII; no. 2

[13] Paus Gregorius I yang lebih dikenal sebagai Gregorius Agung menduduki kursi kepausan dari 3 September 590 sampai 12 Maret 604. Gregorius I berasal dari latar belakang rahib. Dia kondang karena tulisan-tulisannya sehingga mendapat gelar Doktor Gereja; mereformasi liturgi gereja dan menciptakan nyanyian “Gregorian”. Setelah kematiannya dia pun dijadikan orang kudus. Gregorius I adalah pelindung para musisi, aktris, murid dan guru. Salah satu perkataan Gregorius yang terkenal Non Angli, sed angeli dikatakan oleh Gregorius ketika bertemu seorang bocah Inggris yang pucat di pasar budak. Menurutnya, anak–anak memiliki wajah malaikat dan harus menjadi rekan pewaris para malaikat di surga.

[14] Sabinianus menduduki kursi kepausan tahun 604 sampai tahun 606. Dia digantikan oleh Bonifasius III.

[15] Tahun Agung atau Tahun Plato (Latin: annus platonicus) adalah pemikiran Plato dalam dialognya Timaeus yang didefinisikan sebagai kembalinya benda-benda langit (planet-planet) dan bintang-bintang tertentu atau fixed stars (lihat no. 6) kepada posisi mereka yang asli. Jadi, menurut Plato ketika lingkaran besar yang terdiri dari pergerakan-pergerakan langit selesai maka akan terjadi tahun yang agung.

[16] Tentang Negara-Negara Bawah lihat essai XIV; no. 1

[17] Kata Yesus kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak menguasainya” (Matius 16:18). Rasul Petrus (Petrus berarti batu karang) adalah Paus pertama. Sampai sekarang gereja Katolik telah dipimpin oleh 265 Paus.

[18] Arianisme adalah bidaah yang digagas oleh Arius di Mesir berkaitan dengan perihal Allah Tritunggal (Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus). Menurut Arius, Allah Putera (Yesus Kristus) tidak sehakikat dengan Allah Bapa dan di bawah Allah Bapa karena Yesus Kristus adalah ciptaan dan diciptakan oleh kehendak Allah Bapa. Dasar pemikiran Arius adalah Yohanes 14:28: “Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku”. Akibatnya, gereja mengadakan konsili Nicea tahun 325 untuk melawan bidaah Arianisme.  Gereja  menegaskan keilahian Kristus bahwa Putera sehakikat dengan bapa (homoousios), bahwa Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus tidak diciptakan. Konsili Nicea menghasilkan credo Nicea. Berikut petikan singkat credo Nicea untuk menegaskan keilahian Kristus dan bahwa Kristus sehakikat dengan Allah Bapa:… “Aku percaya akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal. Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya”.

[19] Arminianism adalah semacam bidaah yang ada di dalam gereja Protestan yang digagas oleh Jacobus Arminius (1560-1609).

[20] Ada beberapa faktor penyebab keruntuhan kemaharajaan Romawi. Yang pertama adalah serangan suku-suku barbar dari Jerman sekitar tahun 200. Yang kedua, kesulitan bagi seorang kaisar mempertahankan dan mengatur seluruh wilayah kemaharajaan yang begitu luas. Maka tidak mengherankan kalau tahun 285, Kaisar Diocletianus menunjuk 4 orang sebagai kaisar Romawi (Tetrachy) untuk mengatur dan memimpin kemaharajaan.  Kepimpinan 4 orang kaisar membuat Romawi terpecah tetapi tersatukan lagi pada tahun 324 oleh Konstantinus Agung, tetapi terpecah lagi tahun 364. Tahun 394 sampai 395 kemaharajaan Romawi tersatukan kembali di bawah pimpinan Kaisar Theodosius I, tetapi kemudian terpecah lagi untuk selamanya. Yang ketiga, suksesi kaisar-kaisar yang lemah yang memerintah Romawi Barat, misalnya Kaisar Honorius yang disetir oleh, Stilicho, seorang jenderal dari suku Vandal. Yang keempat, karena merasa terancam oleh suku Visigoth dan suku-suku barbar lainnya, orang-orang Romawi mulai meninggalkan wilayah kemaharajaan yang dimulai di provinsi Inggris tahun 407. Tahun 410 suku Visigoth di bawah pimpinan Alaric menyerang Roma, tetapi Roma berhasil mematahkan. Kemudian tahun 451 Roma berperang melawan Attila dari suku Hun. Tahun 455 suku Vandal menyerang dan menggoncang Roma. Dan semenjak itu banyak suku barbar yang tinggal di Itali. Kaisar terakhir dari Romawi Barat, Romulus Augustus digulingkan tahun 476. Kemaharajaan Romawi Timur berlanjut dengan nama Byzantinum dan berlangsung selama seribu tahun lebih. Kemaharajaan Byzantinum runtuh ketika diserang dan dihancurkan oleh Ottoman Turki tahun 1453.

[21] Memang setelah Charlemagne mangkat, tidak ada pengganti yang sehebat dan secermelang Charlemagne. Tetapi keruntuhan definifif kemaharajaan Romawi Suci adalah ketika Napoleon menculik Kaisar Francis II dan menghancurkan militernya pada tanggal 6 Agustus 1806. Napoleon mengubah kemaharajaan Romawi Suci menjadi Konfederasi Rhine, semacam boneka Perancis. Tentang kemaharajaan Romawi Suci selengkapnya lihat essai XXIX; no. 23

[22] Charlemagne atau Charles Yang Agung (742 – 28 Januari 814) adalah raja suku Frank (Kerajaan Carolingian) dari tahun 768 dan “Kaisar Romawi” dari tahun 800. Dia memperluas Kerajan Carolingian dan menjadikan kemaharajaan sehingga kekuasaan Frankish meliputi Eropa Barat dan Eropa tengah. Atas permintaan Paus, Charlemagne menaklukkan Lombardy, dan juga menaklukkan Spanyol Utara untuk mencegah orang-orang Moor masuk lebih jauh ke utara. Pada tanggal 25 December 800 di Roma, Charles dimahkotai oleh Paus Leo III sebagai “Kaisar Barat”. Charles berusaha mengembalikan lagi kejayaan kemaharajaan Romawi sehingga Charles dianggap sebagai pendiri kemaharajaan Romawi Suci meskipun secara definitif baru berdiri zaman Kaisar Otto I. Semasa pemerintahannya, Charles banyak melakukan reformasi di berbagai bidang: militer, politik, ekonomi, pendidikan (membangun akademi di Aachens) bahkan gereja. Charles juga dikenal seorang religius dan penuh dengan intergritas. Paus Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai Pater Europae (Bapa Eropa) karena kerajaannya menyatukan Eropa barat dan membentuk identitas Eropa secara umum.

[23] Keruntuhan kemaharajaan Spanyol adalah ketika Spanyol ditaklukkan oleh Napoleon Bonaparte tahun 1808 sehingga menghalangi kemaharajaan Spanyol untuk berkomunikasi, memantau dan mengontrol semua koloninya. Kemudian di Spanyol sendiri terjadi kekacauan akibat perang sipil dan korupsi; ditambah pula gerakan anti-kolonialisme yang melanda Eropa. Akibatnya, koloni-koloni tersebut memberontak dan menjadi merdeka. Hanya dalam kurun waktu 20 tahun, Spanyol telah kehilangan sebagian besar koloni mereka yang dimulai di beberapa negara bagian Amerika Serikat menyusul Amerika Selatan dan Amerika tengah; kemudian menyusul Filipina dan terakhir koloni di Afrika Utara. Tentang Kemaharajaan Spanyol lihat essai lihat essai XXIX; no. 28

[24] Kekaisaran Romawi dimulai oleh Kaisar Augustus tahun 27 SM sampai dengan kaisar yang terakhir Romulus Augustus tahun 476 M. Kekaisaran Romawi merupakan kelanjutan dari Republik Romawi yang telah berdiri selama 500 tahun. Ekspansi dan perluasan kekaisaran Romawi sebenarnya telah dimulai sejak Romawi masih berbentuk Republik kemudian dilanjutkan oleh para kaisar Romawi. Kekaisaran Romawi dan perjalanannya mempengaruhi dan mewarnai peradaban manusia di semua bidang kehidupan (bahasa, militer, politik, agama, budaya, seni, sistem kenegaraan dan lain-lain) bahkan sampai sekarang ini.

[25] Tentang kemaharajaan Turki lihat essai XXIX; no. 27

[26] Tentang kemaharajaan Spanyol lihat essai XXIX; no. 28

[27] Tentang senapan lontak lihat essai XXVII; no. 36

 

Copyright © 2016 ducksophia.com. All Rights Reserved

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply