Persatuan Di Dalam Agama

III

Persatuan Di Dalam Agama

Francis Bacon

Lukisan El Greco, Crucifixion of Mary and Saint John, 1603-1605

LAT_FOCUS041209_63381a_8col

Agama yang menjadi kelompok kesatuan manusia yang utama, adalah hal yang membahagiakan ketika di dalam agama itu sendiri terbentuk dari kelompok persatuan yang sejati. Pertikaian dan perpecahan dalam agama adalah iblis yang tidak diketahui oleh para kafir. Alasannya adalah agama para kafir itu hanya terdiri dari ritus-ritus dan upacara-upacara daripada iman yang kokoh. Mungkin anda membayangkan tentang iman macam apakah yang mereka memiliki, ketika rasul-rasul dan bapa-bapa dari agama mereka hanyalah para penyair. Tetapi Allah yang benar memiliki sifat ini, bahwa Dia adalah Allah pencemburu [1] sehingga para pengikutnya dan para pemeluk agama berkeyakinan bahwa agama harus berjalan terus secara murni tanpa ada percampuran atau sahabat yang lain. Oleh karena itu, kita akan membahas sedikit tentang kesatuan gereja; dan buah-buah apakah hasil dari kesatuan gereja; apa saja ikatan-ikatan dan sarana-sarananya untuk mencapai persatuan gereja.

Buah-buah persatuan (di samping karena kesukaan Tuhan yang utama, yang adalah semua di dalam semua) ada dua: yang pertama, mencakup mereka yang tanpa gereja, yang kedua mencakup mereka yang ada di dalam gereja. Untuk yang pertama; pastilah bahwa bidaah-bidaah dan skisma-skisma adalah skandal yang terbesar dari semua skandal yang lain; betul, skisma dan bidaah melebihi kebusukan tingkah laku. Sebab sebagaimana dalam tubuh yang normal adanya sebuah luka atau ketergantungan kepada obat adalah lebih buruk daripada humor[2](cairan tubuh) yang korup; demikian juga di dalam hal spiritual. Akibatnya, tidak ada alasan apa pun yang dapat mencegah orang untuk masuk ke dalam gereja atau mengusir orang dari gereja sebagai cabang persatuan. Maka, kapan pun, kenyataan tersebut bisa terjadi, bahwa yang satu akan berkata: Ecce in deserto (Lihat, dia ada di dalam padang gurun), yang lain berkata: Ecce in penetralibus (Lihat, dia ada di dalam tempat maha kudus); yang pertama yaitu ketika orang-orang mencari Kristus di dalam konven bidaah-bidaah, dan yang kedua adalah mereka yang mencari Kristus di dalam wajah luar gereja, sehingga terhadap dua kelompok ini ada suara yang harus bergema terus-menerus di dalam telinga mereka: Nolite exireJanganlah pergi ke situ[3]. Rasul segala bangsa yaitu St. Paulus[4] (yang keunikan panggilannya menarik dirinya untuk berkarya kepada mereka yang tak beriman) mengatakan, Jadi kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah mereka akan katakan, bahwa kamu gila.[5] Dan tentu saja hal tersebut sedikit lebih baik daripada ketika orang-orang ateis dan orang-orang duniawi mendengar tentang begitu banyaknya ketidakrukunan dan perpecahan dalam agama; ketidakrukunan dan perpecahan di dalam agama membuat mereka memalingkan diri dari gereja dan membuat mereka duduk di dalam kumpulan pencemooh[6]. Sebenarnya, ketidakrukunan dan perpecahan hanyalah persoalan sepele yang dijadikan  sebuah masalah yang begitu serius, meskipun ketidakrukunan dan perpecahan mencerminkan suatu kecacatan dengan jelas. Ada seorang guru ahli mengejek[7] yang dalam katalog buku-bukunya dari sebuah perpustakaan tiruan menuliskan judul suatu buku, The Morris-Dance of Heretics[8]. Sebab sungguhlah bahwa setiap sekte yang ada di dalam agama mempunyai suatu postur yang bermacam-macam atau yang mengerikan yang dibuat oleh mereka sendiri sehingga sungguh menjadi celaan oleh para politikus yang korup dan duniawi yang memang cenderung untuk mengejek hal-hal suci.

Mengenai buah-buah persatuan agama yang berasal dari dalam; hal ini adalah suatu perdamaian, yang terdiri dari berkat yang melimpah ruah. Persatuan agama yang berasal dari dalam membangun iman; menyalakan api kasih; bahkan damai lahiriah gereja termurnikan ke dalam kedamaian suara hati dan mengubah karya-karya tulisan dan bacaan yang kontroversial menjadi risalat-risalat mortifikasi dan devosi.

Berkaitan dengan ikatan-ikatan persatuan di dalam agama; membentuk ikatan-ikatan persatuan agama yang benar sungguh merupakan suatu usaha yang luar biasa.  Muncullah dua kelompok yang ekstrim. Yang pertama, kaum Zelot[9], bagi mereka, segala perkataan tentang usaha menciptakan perdamaian adalah kejijikan: apakah ini kabar damai, Yehu? Damai? Bukan urusanmu! Baliklah, ikutlah aku[10]. Bagi kaum Zelot, perdamaian bukanlah inti persoalannya tetapi perdamaian adalah suatu pengikutan (loyalitas) dan hanya ada sebuah partai. Yang kedua yaitu kelompok Laodicea[11] dan orang-orang yang suam-suam kuku, mereka berpikir bahwa mereka kiranya mendamaikan masalah keagamaan dengan jalan tengah dan mengambil posisi netral bagi kedua belah pihak sekaligus menciptakan rekonsiliasi-rekonsiliasi cerdik, seolah-olah mereka menjadi wasit antara Tuhan dan manusia. Kedua kelompok yang ekstrim ini haruslah dihindari; yang akan terjadi adalah, sekiranya liga Kristiani yang dititahkan oleh Sang Juru Selamat kita sendiri saling berseberangan, maka akan dijelaskan secara rinci oleh Penyelamat kita sendiri lewat sabda-Nya yang tegas dan gamblang: Dia yang tidak bersama kita melawan kita; dan sekali lagi, Dia yang tidak melawan kita bersama kita[12]; artinya bahwa semestinya nilai-nilai fundamental dan hal-hal substansial di dalam agama benar-benar dilihat dan dibedakan dari nilai-nilai tidak melulu dari perihal iman, tetapi juga dari perihal opini, perihal perintah dan perihal intensi yang baik. Hal ini nampaknya bagi kebanyakan orang adalah suatu hal yang umum dan sudah dilakukan. Sebenarnya, seandainya semuanya itu dikerjakan sedikit dan sebagian saja, maka kiranya memberikan hasil yang lebih banyak lagi.

Tentang cara untuk mencapai hal tersebut di atas, saya sekiranya hanya memberikan nasihat ini, menurut model mini saya. Dalam usaha mempertahankan Gereja Tuhan, manusia haruslah memperhatikan dua jenis kontroversi ini. Yang pertama, ketika pokok ajaran yang dipertentangkan itu adalah hal yang sepele dan kecil yang tidak berharga untuk diseriusi dan diperjuangkan, yang dikobarkan melulu hanya dengan perbantahan. Terhadap kontroversi ini, solusinya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu bapa gereja yaitu St. Agustinus[13], jubah Kristus sungguh tidak punya pelipit, tetapi pakaian gereja terbuat dari berbagai macam warna, oleh sebab itu katanya, In veste variestas sit, scissura non sit (biarkanlah adanya variasi di di dalam pakaian, tetapi semoga tidak ada perpecahan); semoga semuanya hanya menjadi dua hal yaitu persatuan dan keserasian. Kontroversi yang kedua, ketika inti ajaran agama itu dipertentangkan begitu sengit, namun pertentangannya diarahkan menuju kepada suatu kelembutan yang begitu tenang dan dalam kerahasiaan; sehingga pertentangan itu tampaknya menjadi suatu hal yang sepele daripada menjadi hal yang substansial. Seorang yang memiliki penilaian dan pemahaman, suatu waktu, sebaiknya mendengarkan orang-orang tolol yang bermacam-macam itu, dan mengetahui dengan baik dalam dirinya sendiri bahwa mereka yang begitu berbeda sebenarnya adalah satu hal yang sama, dan di antara mereka sendiri tidak akan pernah mencapai kesepakatan. Dan jika perbedaan memang harus terjadi di dalam wilayah penilaian antara seorang manusia dan seorang manusia, tidakkah kita seharusnya berpikir bahwa Allah yang di atas, yang menyelidiki setiap hati, melihat bahwa kegagalan manusia yang berwujud dalam semua pertentangan mereka memiliki tujuan yang sama; sehingga tidakkah Allah menerima kedua manusia tersebut? Keaslian dari kontroversi-kontroversi yang seperti itu telah dinyatakan oleh St. Paulus[14] dalam bentuk peringatan dan aturan yang dia berikan berkaitan dengan persoalan yang sama, Devita profanes vocum novitiates, et oppositiones falsi nominis scientiae (Hindarilah omongan yang kosong dan tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal apa yang disebut dengan pengetahuan)[15]. Manusia menciptakan pertentangan-pertentangan yang sebenarnya tidak ada pertentangan; dan menempatkan pertentangan-pertentangan itu dalam istilah-istilah baru yang begitu baku, sementara seharusnya makna menguasai istilah, tetapi dalam kenyataannya yang terjadi malah istilah menguasai makna[16]. Nampaknya juga ada dua kedamaian atau persatuan yang keliru: yang pertama, ketika perdamaian difondasikan di atas suatu kebodohan yang rumit; karena semua warna akan bersatu menjadi sama dalam kegelapan: yang kedua, ketika perdamaian didasarkan atas suatu pengakuan langsung kepada pertentangan-pertentangan yang terjadi di dalam nilai-nilai yang fundamental. Sebab kebenaran dan kesalahan, dalam kedua hal tersebut, ibarat besi dan lumpur dalam kaki sebuah patung yang ada di dalam mimpi Nebukadnezar[17]; lumpur dan besi selalu berdikari sendiri-sendiri, dan besi dan lumpur tidak akan bersatu satu sama lainnya.

Berkaitan dengan sarana-sarana yang menciptakan persatuan, manusia haruslah sadar bahwa dalam menciptakan atau memperkokoh persatuan agama, manusia tidak bisa meniadakan dan menodai hukum kasih dan hukum manusia. Kiranya ada dua pedang yang ada di antara orang-orang Kristiani, pedang spiritual dan pedang temporal; dan keduanya memiliki tugas dan fungsinya masing-masing dalam mempertahankan agama. Tetapi kiranya kita tidak boleh mengangkat pedang yang ketiga yaitu pedang kekerasan atau yang semacamnya, yang menyebarkan agama dengan perang atau dengan pembantaian berdarah untuk menindas suara hati; kecuali pedang tersebut digunakan atas skandal yang tersembunyi, penghojatan, atau perencanaan melawan negara yang berkedok dalam agama; menciptakan provokasi; mengotorisasikan konspirasi-konspirasi dan pemberontakan-pemberontakan, memberi pedang kepada tangan rakyat; dan yang semacamnya; yang mengarah kepada subversi melawan segala pemerintahan yang adalah pewahyuan Allah. Sebab semuanya ini menghancurkan perintah-Nya yang pertama[18] dan melawan perintah-Nya yang kedua[19]; dan dengan mempertimbangkan para pembuat onar tersebut sebagai orang-orang Kristiani, tampaknya kita juga melupakan bahwa mereka adalah tetap manusia. Lucretius[20] -sang penyair Romawi-, ketika melihat aksi Agamemnon[21], yang dapat tahan melihat kurban persembahan dengan mengkorbankan anak perempuan sendiri, berseru:

                                                Tantum Religio potuit suadere malorum

                                (Terhadap tindakan jahat yang seperti itu Agama dapat menyakinkan seseorang).

Apa yang sekiranya Lucretius katakan, seandainya dia tahu peristiwa pembantaian di Perancis[22], atau pemberontakan bubuk mesiu di Inggris?[23] Dia kiranya akan menjadi tujuh kali lebih Epikurus daripada Epikurus itu sendiri dan lebih ateis daripada sebelumnya. Karena sebagaimana pedang temporal dikeluarkan dengan penuh kehati-hatian dalam kaitannya dengan persoalan agama; maka adalah hal yang mencekam menaruh pedang temporal ke tangan rakyat. Semoga prinsip tersebut juga diterapkan kepada persoalan Anabaptist[24], dan kemarahan-kemarahan lainnya. Adalah penghojatan yang seram ketika setan mengatakan, Aku akan naik dan menjadi seperti yang Maha Tinggi; tetapi penghojatan yang lebih seram lagi adalah dengan mengatakan, Aku akan turun dan menjadi seperti pangeran Kegelapan: manakah yang lebih baik, membuat agama longsor menjadi kekejaman dan aksi-aksi pembunuhan sadis yang dilakukan para raja; tukang jagal manusia serta pemerintahan dan negara-negara yang sifatnya subversif? Tentu saja hal ini akan membuat Roh Kudus datang turun, bukan dalam rupa merpati, tetapi dalam rupa burung nazar atau burung pemakan bangkai sekaligus menunjukkan tiang kayu bendera gereja Kristiani sebagai tiang kayu perompak dan pembunuh. Maka, hal yang paling penting adalah bahwa gereja melalui doktrin dan aturan, para raja dengan pedangnya dan semua para pelajar, baik pelajar Kristiani maupun pelajar yang bermoral, ibarat dengan sambuk dewa Merkuri[25], mereka sungguh menghukum dan mengirim ke neraka selamanya perbuatan-perbuatan dan fakta-fakta yang terdisposisikan mendukung kekejaman; seperti yang sebagian telah dilaksanakan dengan baik. Tentu saja nasihat-nasihat yang berkaitan dengan agama, nasihat rasul Yakobus kiranya dapat dikedepankan, Ira hominis non implet justitiam Dei [26](Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah). Sebuah pengamatan yang penting dari seorang bapa gereja yang bijaksana, dan tidak sedikit yang mengakuinya dengan jujur; mereka yang dipaksa dan diyakinkan dengan paksaan kepada suara hati, pada umumnya akan berkutat dengan diri mereka sendiri karena demi keselamatan diri mereka sendiri.

[1] Bdk. Keluaran 20:5: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu”.

[2] Menurut kedokteran dan psikologi kuno, tubuh manusia terdiri dari empat humor (cairan) yaitu blood (darah), black bile (empedu hitam), yellow bile (empedu kuning), phlegm (riak) yang membentuk watak, karakter (sehingga ada 4 jenis karakter manusia) dan mempengaruhi kesehatan manusia. Teori Humorism dikemukakan oleh Hippocrates dan dipakai oleh dunia psikologi dan kedokteran Barat sampai abad ke 19. Keempat humor ini berkiblat dan sesuai dengan musim, elemen, organ tubuh manusia.

Humor Musim Elemen Organ Qualitas Istilah Dalam Psikologi Kuno Karakter
Blood

Darah

Musim semi Udara Liver Hangat dan lembab Sanguinis Penuh semangat, optimis
Yellow Bile

Empedu Kuning

Musim panas Api Limpa Hangat dan kering Koleris Pemberani, gampang marah
Black Bile

Empedu Hitam

Musim gugur Bumi Empedu Dingin dan kering Melankolis Peka, penuh perasaan
Phlegm

Riak

Musim dingin Air Paru-paru Dingin dan lembab Phlegmatis Tenang, tidak emosional

[3] Bdk. Matius 24: 26: “Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, ia ada di padang gurun, janganlah kamu  pergi ke situ; atau: Lihat, ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya”.

[4] Paulus adalah rasul Yesus Kristus yang sebelum pertobatannya bernama Saulus. Ia berasal dari golongan Farisi dan turut menganiaya jemaat Kristen. Setelah pertobatannya, ia menjadi rasul Yesus Kristus dan menyebarkan iman Kristiani terutama kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi sehingga ia disebut sebagai rasul segala bangsa. Ia melakukan perjalanan-perjalanan misi untuk menyebarkan Injil dan mendirikan jemaat-jemaat. Untuk memelihara jemaat-jemaat itu ia menulis surat-suratnya (ada 13 surat): surat kepada jemaat di Roma; surat kepada jemaat di Korintus yang pertama; surat kepada jemaat Korintus yang kedua; surat kepada jemaat di Galatia; surat kepada jemaat di Efesus; surat kepada jemaat di Filipi; surat kepada jemaat di Kolose; surat kepada jemaat di Tesalonika yang pertama; surat kepada jemaat di Tesalonika yang kedua; surat kepada Timotius yang pertama; surat kepada Timoteus yang kedua; surat kepada Titus dan surat kepada Filemon. Dalam Alkitab, semua surat Paulus ini termasuk dalam Perjanjian Baru.

[5] 1 Korintus 14: 23

[6] Mazmur 1:1

[7] François Rabelais adalah penulis Renaissance Perancis, dokter dan mantan rahib serta ahli sastra Yunani. Dia lebih dikenal sebagai penulis fantasi yang aneh dan satir serta pembuat gurauan dan lagu yang kasar. Dua karya terkenalnya adalah Gargantua dan Pantagruel.

[8] Morris Dance adalah tarian tradisional Inggris di mana kostum para penari dihiasi dengan pita dan bel serta mereka saling memukul satu sama lain dengan tongkat.

[9] Kata Zelot berasal dari bahasa Yunani Zelotes yang arti literernya adalah pemuji, pengikut, loyalis. Pada zaman Yahudi kuno, masyarakat Yahudi terdiri dari 4 kelompok agamawi: Farisi, Sadukki, Esseni dan Zelot. Kelompok Zelot ini bergerak secara rahasia bahkan mereka tak segan-segan menggunakan kekerasan demi mempertahankan kemurnian agama Yahudi dan melawan penjajahan Romawi.

[10] 2 Raja 9: 19

[11] Istilah Laodicea berasal dari jemaat gereja perdana Laodicea yang dikritik karena netralitas mereka bahkan terkesan tidak ada kegairahan dan semangat (suam-suam kuku) terhadap segala persoalan iman. Kitab Wahyu 3: 15-16 mengatakan: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin atau tidak panas. Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau tidak panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulutku. Konsekuensinya, istilah Laodicea digunakan untuk orang-orang yang suam-suam kuku dalam persoalan agamawi.

[12] Lukas 11:23, Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.

[13] St. Agustinus lahir di Tagaste, ayahnya bernama Patricius dan ibunya Monika (St. Monika). St. Agustinus adalah pujangga gereja dan dijuluki Doktor de Gratia (Doktor Rahmat). Ia menulis banyak buku dan pemikirannya sangat mempengaruhi gereja bahkan sampai sekarang.

[14] Lihat no. 4

[15] 1Timotius 6:20

[16] Pada abad pertengahan muncullah filsafat nominalisme. Nominalisme adalah suatu filsafat yang memandang bahwa konsep-konsep abstrak, istilah-istilah umum, hal-hal yang universal itu tidak bereksistensi secara bebas tetapi hanya sebagai nama. Muncullah istilah vocis flatus (letupan bunyi) artinya istilah-istilah itu hanyalah sekedar letupan bunyi yang indah tetapi tak bermakna apa-apa. Nominalisme juga mengklaim bahwa objek-objek individu yang bervariasi yang dimaknai sebagai pola dan terminologi yang sama tidak memiliki kesamaan kecuali hanya nama melulu. Maka, bagi nominalisme, hal-hal partikular yang aktual itulah yang real, yang eksis dan universalitas adalah bagian dari yang partikularitas. Francis Bacon sendiri termasuk aliran nominalisme karena metode induksi yang diagungkannya.

[17] Nebukadnezar adalah Raja Babel (tahun 604-562 SM) yang pada tahun 586 merebut kota Yerusalem, memusnahkan Bait Allah orang Yahudi dan membuang orang-orang Yahudi ke Babel. Ia juga membangun Taman Gantung Babilonia yang tersohor karena keindahannya itu. Tentang mimpi Nebukadnezar baca Daniel 2:1-49.

[18] Perintah Allah yang pertama: Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.

[19] Perintah Allah yang kedua: Jangan menyebut Nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat.

[20] Tentang Lucretius lihat essai I; no. 7

[21] Dalam mitologi Yunani, Agamemnon adalah anak dari Raja Atreus dan Ratu Aerope dari Mycenae, saudara Menelaus, suami dari Clytemnestra, dan bapak dari Electra dan Orestes. Ia kemudian menjadi raja Aerope. Ketika Helen -istri dari saudaranya Manelaus- diculik oleh Paris dari Troya, Agamemnon  memerintahkan persatuan tentara seluruh Yunani untuk berperang melawan Troya yang dikenal dengan perang Troya.

[22] Terjadi pada pesta St. Bartolomeus 23 Agustus 1572. Pembunuhan di hari St. Bartolomeus adalah pembunuhan masal terhadap kelompok Huguenot (kelompok agama Protestan Calvinis Perancis) di Paris oleh Raja Perancis Charles IX yang kemudian disusul dengan gelombang kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang Katolik kepada kelompok Huguenot. Pembunuhan ini lalu menjalar ke provinsi dan kota lainnya. Pemicunya adalah perkawinan adik raja Charles IX, Margaret, dengan seorang bangsawan Perancis yang beragama Protestan Henry III Navarre. Ada suatu ketakutan bahwa perkawinan itu akan menjadi kudeta kepada Charles IX oleh Henry III Navarre sekaligus ancaman bagi agama Katolik. Lalu berkedok agama yang memang sudah menjadi konflik berdarah pada waktu itu sekaligus ditunggangi tujuan politik dijadikan alasan untuk membunuh dan membantai. Pembunuhan itu berlangsung selama 7 hari. Pembantaian St. Bartolomeus merupakan puncak perang agama Perancis (antara Katolik dan Protestan Calvinis) yang berlangsung dari tahun 1562-1598. Para ahli sejarah memperkirakan korban pembunuhan itu antara 3 ribu orang sampai 50 ribu orang. Sejak pembantaian itu, orang-orang Protestan seluruh Eropa menganggap agama Katolik sebagai agama berdarah dan berbahaya.

[23] Pemberontakan Bubuk Mesiu adalah sebuah usaha pembunuhan terhadap Raja Inggris James I yang dipimpin oleh provinsial Jesuit  (tentang Jesuit lihat essai XXII; no. 1) yaitu Robert Catesby sehingga pemberontakan bubuk mesiu juga dikenal nama “Pengkhianatan Jesuit”. Rencana pembunuhan itu adalah meledakkan House of the Lord dengan bubuk mesiu yang akan dilakukan pada tanggal 5 November 1605 tapi gagal. Latar belakang dari pemberontakan ini karena umat Katolik Inggris berada dalam himpitan agama Protestan Inggris (Anglikan) yang tidak mengakui Paus sebagai kepala tertinggi gereja dan sebagai gantinya adalah Ratu Elizabeth I. Umat Katolik ditekan sedemikian rupa dengan kebijaksanaan Sang Ratu sehingga umat Katolik mengalami deskriminasi. Misalnya denda yang amat tinggi bagi kaum Katolik, harus bersumpah mengakui sang ratu sebagai kepala Gereja dan jika tidak, akan dihukum berat. Ratu Elisabeth sendiri tidak menikah dan tidak mempunyai anak. Sepupu sang ratu, Mary ratu Skotlandia yang beragama Katolik kiranya akan menggantikan Elizabeth I. Sayangnya, Mary dihukum mati karena rencana pemberontakan terhadap sang ratu. Pada saat takhta Inggris mengalami kekosongan karena mangkatnya sang ratu, dipilihlah anak Mary ratu Skotlandia, James IV untuk menjadi Raja Inggris yang kemudian bergelar James I. Ia beragama Protestan dan banyak orang Katolik berharap ia menjadi Katolik karena teladan ibunya Mary ratu Skotlandia itu. Sayangnya harapan ini tidak terjadi. Maka demi memperjuangkan toleransi dan kebebasan terjadilah rencana dan usaha pembunuhan Bubuk Mesiu. Setelah rencana pembunuhan itu terungkap, parlemen Inggris semakin menyudutkan umat Katolik dengan aturan yang keras bahkan muncul kebijakan anti-Katolik.

[24] Anabaptist adalah gerakan Protestan dengan gaya reformasi yang radikal yang terjadi pada abad 16. Nama Anabaptist berasal dari bahasa Latin anabaptista yang berarti dibaptis kembali. Mereka menolak pembaptisan balita karena pembaptisan balita adalah kosong dan tak berguna dan karena itu perlu dibaptis kembali. Pemerintah Eropa pada waktu itu amat tidak menyukai bahkan mengutuk dan menghukum gerakan Anabaptist karena menganggap gerakan ini sebagai gerakan yang subversif yang menggangu kestabilan negara. Karena dikejar di Eropa, gerakan Anabaptist yang merupakan moyang kaum Amish, Hutteris, Mennonites hijrah ke Amerika Utara.

[25] Dengan sambuknya, dewa Merkuri (dewa orang Romawi) mengirim jiwa-jiwa ke dunia lain.

[26] Yakobus 1: 20

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

1 thought on “Persatuan Di Dalam Agama”

  1. Terima kasih untuk tulisan yang bisa dinikmati. Dan untuk lebih jelasnya ternyata harus dibaca beberapa kali hingga bisa ditangkap makna dari judulnya. Tetapi saya ingin mengucapkan terima kasih dari hati yang dalam. Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply