Pasar Malam Agama

Lukisan: Ferdinand Georg Waldmüller, Soap blowing children

 

 

 

 

 

 

 

Matius 5: 17-33

                                                                                                                Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup  keagamaan ahli –ahli  taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga

 

Aku dan temanku pergi ke pasar malam agama. Bukan pasar dagang tapi pasar Agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya, propagandanya pun sama hebatnya.

Di kios yahudi, kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihannya. Ya bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang terpilih seperti bangsa Yahudi.

Di kios Islam kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang dan Mohammad adalah nabinya. Keselamatan diperoleh dengan mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.

Di Kios Kristen kami menemukan bahwa Tuhan adalah Cinta dan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Silahkan mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil resiko masuk neraka.

Di pintu keluar aku bertanya kepada temanku: Apakah pendapatmu tentang Tuhan? Jawabnya: Rupanya Tuhan itu penipu, fanatik dan bengis.

Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: Bagaimana Engkau bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah engkau tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan jelek kepada-Mu?

Tuhan berkata: Bukan Aku yang mengadakan pasar malam agama itu. Aku bahkan terlalu malu untuk mengunjunginya. [1]

Kata Kristus: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli –ahli taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga.  Dengan mengatakan hal itu Yesus mau mengajarkan tentang agama yang benar dan mengkritisi bahaya agama. Kenyataanya agama bisa berbahaya karena agama memiliki dua wajah. Wajah agama yang satu adalah agama memang tempat dan cara manusia berjumpa dengan Tuhan. Dengan agama orang sampai kepada pemahaman hidup yang lebih baik bahkan kedamaian. Namun ironisnya demi nama agama orang saling membenci, saling menista bahkan saling membunuh. Inilah wajah agama yang lain. Wajah agama yang menyeramkan dan menakutkan selalu mewarnai sejarah dan menghantui masa depan setiap bangsa. Seharusnya kehadiran agama membawa kepada kerukunan dan saling mencinta. Yesus mengkritik dengan keras wajah seram agama.

Yesus, dalam Injil Matius 5: 17-23, menunjukkan dan membuktikan bahwa agama sering digoda dan terjerumus dalam kemarahan yang mengarah kepada pembunuhan, dalam nafsu birahi yang mengantar kepada perzinahan, dan kemunafikan kepada kebohongan. Dari situlah akar dan penyebab kekerasan agama.

Kekerasan agama sudah dimulai kalau kita marah, mencaci maki dan mengatakan sesama yang beragama lain jahil (bdk Bertold Anton Pareira). Kemarahan itu disebabkan karena fanatisme. Fanatisme adalah suatu sikap yang mengganggap agamanya sendiri lebih hebat, lebih benar daripada agama yang lain. Hannah Arent mengingatkan bahaya fanatisme: “Kita tergoda untuk mengubah dan menyalahgunakan agama menjadi ideologi, dan menodai usaha yang telah kita perjuangkan melawan totalitarisme dengan suatu fanatisme. Padahal fanatisme adalah musuh besar kebebasan”(dikutip dari Haryatmoko). Menurut Haryatmoko: “Lahan subur fanatisme bukan pertama-tama orang bodoh yang mudah dipengaruhi, tetapi mungkin lebih dekat dengan yang disebut Hannah Arendt  “individu massa” yang tak berkepribadian itu”: orang yang tidak bisa membedakan kenyataan dari makna apa yang terjadi; orang yang tidak mempertanyakan lagi perbedaan antara kebenaran dan makna wacana; orang yang terlepas dari pijakan realitas. Kelemahan mendasar seorang fanatik adalah tidak mampu mengambil jarak terhadap keyakinannya, tidak kritis terhadap keyakinan dan tindakannya, dan menerima mentah-mentah ajaran agama tanpa adanya sikap mempertanyakan . Jadi intelektual pun rentan terhadap fanatisme”. Fanatisme selalu menimbulkan masalah: konflik dan kekerasan yang berujung pada pembunuhan.

Perzinahan mudah sekali menghinggapi hidup keagamaan karena tampilan hidup keagamaan menarik (biasanya pemimpin agama) sehingga membuat jemaat kagum dan tertarik. Anehnya pula, semakin orang mendalami hidup keagamaan semakin hebat pula godaan yang menyertainya. Ketertarikan dan  godaan yang selalu mengintai dan rapuh bagi semua orang adalah perzinahan. Perzinahan membutakan mata dan kata hati sehingga membawa orang kepada penyesatan. Artinya  perzinahan menghancurkan diri sendiri dan hidup perkawinan keluarga karena perzinahan mengundang konflik sehingga perzinahan sebenarnya juga suatu kekerasan. Seperti halnya kesetiaan terhadap istri dan suami dimulai dari hati, demikian pula perzinahan dimulai dari hati. Jadi, orang yang memandang perempuan atau laki-laki lain dengan nafsu artinya dengan pikiran dan keinginan yang kuat untuk berbuat serong, dia sudah melakukan zinah di dalam hatinya (Bertold Anton Pareira).

Godaan yang tidak kalah hebatnya lagi dalam hidup keagamaan adalah kemunafikan. Dalam kemunafikan orang jatuh ke dalam legalisme dan aturan agama yang harus dilaksanakan dan ditaati sedemikian rupa sehingga melanggar aturan agama tersebut membuat orang menuntut dan menghakimi kesalahan saudaranya. Ironisnya pula mereka pun melakukan dosa yang sama atau yang lain namun menyembunyikannya. Demi nama agama, orang melempari batu kepada sesamanya yang dianggap kafir, jahat; demi nama agama orang menjadi hakim atas saudaranya padahal hanya ada satu hakim yang Maha Tinggi yaitu Allah. Dan hakim Allah adalah hakim yang penuh belas kasihan. Maka, kemunafikan seperti kuburan putih yang di dalamnya mengandung tulang-belulang. Tuntutan dan penghakiman agama menyulut kekerasan. Agama pun berubah menjadi agama kekerasan, bukan agama yang penuh kasih. Demikianlah bahaya agama dan hal-hal itulah yang dikritik Yesus.

Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat. Penggenapan hukum Taurat yang dilakukan Yesus adalah: yang pertama bahwa doa dan ibadat keagamaan tidak boleh dipisahkan dari kasih dan persaudaraan  (Bertold Anton Pareira). Ibadat tanpa kasih tidak ada gunanya. Hidup keagamaan harus membawa orang kepada kedamaian dan saling mencinta bahkan menerima kekayaan iman yang ada di dalam setiap agama. Perselisihan, kekerasan membuat doa dan ibadat keagamaan tidak berguna karena doa dan ibadat sejati adalah kasih dan kedamaian yang tumbuh di hati setiap pemeluk agama. Tuhan menjadi lebih kaya karena terungkap oleh beragamnya agama dari pada oleh satu tradisi agama saja (Haryatmoko).

Yang kedua kesetiaan terhadap perkawinan dan kemurnian hidup. Orang tidak bisa menceraikan suaminya atau istrinya karena apa yang disatukan oleh Allah tidak bisa dihancurkan oleh manusia. Hidup perkawinan harus diwarnai dengan kesetiaan pasangan. Kesetiaan terhadap pasangan membuat orang mengerti ajaran agama dengan indah bahkan kesetiaan perkawinan mengantar setiap pribadi untuk berjumpa dengan Tuhan yang penuh cinta lewat pasangannya. Pasangan suami-istri adalah rahmat yang diberikan Allah supaya mereka hidup di dalam keagungan cinta Allah. Itu berarti bahwa sexualitas merupakan partisipasi manusia dalam keagungan cinta Allah sehingga meminta kesetiaan dan kemurnian manusia dan bukan sebuah permainan dan pengumbaran kesenangan.

Melalui hidup agama, orang harus belajar hidup dengan tulus agar dapat memegang sumpahnya. Menjadi orang beragama sebenarnya telah mengambil sumpah untuk hidup di dalam Tuhan. Hidup di dalam Tuhan itu memuat ketulusan, kelurusan dan ketegakan hati dan pikiran di hadapan Tuhan. Semuanya itu membuat agama dan kehidupan sejalan dan selaras. Terang iman menjadi konkrit dalam kehidupan yang nyata. Pengertian agama yang benar mengantar orang kepada kemurnian agama dan kemurnian agama membuat Tuhan selalu tinggal di hati. Sebaliknya kepalsuan agama dengan kekerasan, perzinahan, kemunafikan membuat Tuhan malu untuk mengunjungi hati orang yang menyebut dirinya orang beragama. Jadi agama yang benar adalah agama yang membawa kepada kedamaian, kesetiaan, cinta, ketulusan. Kata Yesus “segeralah berdamai dengan lawanmu”.

 Kedamaian, kesetiaan dan ketulusan membuat kita melihat wajah agama yang penuh kasih, yang berseri bukan wajah agama yang menyeramkan. Maka seruan berilah aku pengertian maka aku akan mentaati hukummu dan aku akan menepatinya dengan segenap hati harus menjadi seruan orang beriman.

Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut kepada-Nya, dan segenap pekerjaan manusia ia kenal. Tuhan tidak memerintahkan siapa pun untuk berdosa. Akhirnya dengan hidup keagamaan yang penuh kasih, tulus, dan damai membuat kerajaan surga telah terbuka dan kita tinggal di dalamnya.

 

[1]  Dikutip dari A. De Mello, Burung Berkicau, (Cipta Loka karya: Jakarta, 1999) halaman 179

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply