Manusia dan Representasi Simbolisnya (Bagian II)

Lukisan Maurice de Vlaminck, Personnages dans La Rue

Simbol dan ritus

Salah satu ekspresi istimewa dari bahasa simbolis manusia ternyata dihadirkan oleh ritus. Maka, aksi ritus, dari bentuk yang paling dasar sampai kepada bentuk yang kompleks, memiliki suatu karakter simbolis. Konsekuensinya, arti atau makna ritus tidaklah bersumber dari kata-kata yang terucapkan secara harafiah maupun dari gerak-kelakuan atau realitas ritus itu sendiri, tetapi dari fakta bahwa secara bersamaan bahasa ini -baca ritus- melibatkan makna simbol di dalam keyakinan ( mitos, tradisi, kepercayaan) kelompok di mana makna simbol diterapkan.

Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan yang dapat dimunculkan dari situasi ini dapat disingkat sebagai berikut: mengapa ritus ada di dalam hidup manusia? Bagaimana ciri-ciri tingkah laku ritual? Manakah yang menjadi keistimewaan ritus agama?

 

  1. Ritus: asal dan deskripsi umumnya

Fenomena ritus didasarkan pada realitas ada manusia sendiri sebagai aku spiritual-tubuh dan ada manusia yang terpanggil untuk memposisikan dirinya pada relasi bersama dengan orang lain dalam kelompok sosial. Dipelajari dari sudut pandang cerita budaya, maka tidak ada bangsa atau kelompok manusia mana pun yang budayanya kiranya tidak ditemukan ritus. Tingkah laku ritual, meskipun berbeda isi dan modalitas yang diekspresikan, tetaplah menghadirkan suatu fakta universal yang diambil dari manusia segala tempat dan waktu. Benarlah fakta berikut ini bagi peradaban kuno maupun peradaban modern: ritus sebagai suatu kebutuhan konstitutif manusia yang disebabkan oleh kodrat sosial manusia. Antroplog Mary Douglas menulis:

“adalah suatu kesalahan berpikir bahwa kita kiranya memiliki sebuah agama yang segala interioritasnya yang bersumber dari keadaan batin tersebut tanpa aturan, tanpa liturgi, tanpa tanda-tanda external. Sebagaimana untuk masyarakat, maka demikian juga untuk agama, bentuk eksternal (lahiriah) adalah kondisi eksistensinya {…}. Sebagai binatang sosial maka manusia pun adalah binatang ritual. Menekan ritus dalam sebuah bentuk berakibat bahwa ritus akan muncul kembali dalam bentuk yang lain yang lebih kuat juga yang lebih intens yaitu dalam interaksi sosial. Tanpa pernyataan bela sungkawa, telegram akan ucapan selamat, bahkan tanpa kartu untuk momen tertentu, persahabatan dua orang yang sahabat yang berada di tempat yang jauh tidak akan menjadi suatu realitas sosial: persahabatan tidak dapat bertahan tanpa ritus-ritus persahabatan. Ritus-ritus sosial menciptakan suatu realitas yang mana realitas hasil ciptaan ritus-ritus sosial tersebut tidak akan eksis tanpa ritus-ritus tersebut”.

Eriksson menjumpai fakta bahwa bagaimana kelahiran dan perkembangan ritual pada manusia kiranya dikenali lewat proses sosialisasi itu sendiri yang terlihat dari masa bayi sampai sejak tahun pertama dari kehidupan. Hubungan ibu-anak, sebagai pertukaran di antara dua orang yang mengulangi tindakan-tindakan pada jarak waktu yang reguler, telah menyatakan, dalam sebuah benih, suatu tingkah laku yang sifatnya ritual yang mendahului apa yang kita jumpai pada pertukaran antar subyek yang terlihat pada diri orang-orang dewasa dalam konteks grup sosial mereka. Kata E.Erikson:

“Banyak hal bersesuaian pada pemikiran bahwa manusia lahir dengan suatu keharusan natural akan keamanan dan afirmasi yang teratur dan berulang-ulang: dalam segala hal kita tahu bahwa kekurangan realitas ini dapat menyebabkan gangguan yang berbahaya bagi seorang bayi yang baru lahir, sebuah kekurangan yang mengkerdilkan atau menghalangi lingkaran aktif kesan yang menguatkan data-data penangkapan seorang bayi itu sendiri. Tetapi di dalam suatu waktu yang disadari, kebutuhan ini diteguhkan dalam setiap tahapan kehidupan, di bawah bentuk kelaparan akan ritualisasi dan bentuk akan ritus-ritus yang selalu diperbaharui, yang selalu makin diformalkan dan yang selalu makin dibagikan secara luas, bahkan ritus-ritus memberikan pengetahuan yang diharapkan secara baru. Ritualisasi-ritualisasi ini membuat seseorang mengerti pertukaran sapaan-sapaan yang terjadi sehari-hari, yang menguatkan ikatan emosi, sampai pada peleburan individu dengan objek cintanya, inspirasi atau karisma pemikirannya. Oleh karena itu, saya menyarankan bahwa keamanan tahap yang pertama dan gelap ini, perasaan akan kehadiran suci ini kiranya membawa suatu elemen yang tersebar dalam semua ritualisasi manusia dan apa yang kita sebut sebagai numinasi”.

Deskripsi ontologi ritus yang diberikan oleh para ahli memberikan suatu konotasi spekulatif pertama akan ritus sehingga konotasi spekulatif tersebut pada suatu waktu telah mengesampingkan suatu kenyataan bahwa ritus setidaknya memiliki realitas religius: ritus adalah suatu tindakan simbolis terbangun dari aksi-aksi, hal-hal dan kata-kata, yang diulang pada interval yang berulang dan penting; suatu tindakan yang mengarahkan kepada suatu bentuk komunikasi di antara manusia di dalam sistem konvensional tanda-tanda yang mana dengan tanda-tanda manusia mengekspresikan diri dan terlibat dalam suatu komunikasi meskipun dengan tingkat yang berbeda.

  1. Suatu tindakan simbolis terbangun dari aksi-aksi, hal-hal dan kata-kata, yang diulang pada interval yang berulang dan penting

Terminologi ritus, menurut etimologi yang kiranya berasal dari bahasa sansekerta Rita yang berarti menggambarkan sesuatu yang bersesuaian dengan keteraturan. Di bawah pemahaman yang demikian, ritus mempresentasikan suatu tindakan stereotip secara sosial dan tunduk kepada aturan yang tetap. Jadi, ritus adalah suatu aksi mengulangi dirinya sendiri menurut aturan yang tidak berubah. Dalam refleksi kontemporer, kenyataan ini telah digaris-bawahi sebagai suatu bentuk pengulangan yang sesuai dengan kebutuhan relasi manusia dan di sini ritus kiranya berfungsi sebagai suatu pertukaran simbolis yang mana tanpa pertukaran simbolis manusia tidak dapat berkomunikasi. Selain itu ritus juga membuat manusia menempatkan dirinya dalam suatu cara yang penuh manusiawi pada lingkup grup di mana ia menjadi anggota grup tersebut. Ritus adalah suatu tindakan simbolis yang bersesuaian dengan tatanan melakukan sebelum mengatakan, artinya ritus tidak mengatakan suatu hal secara sederhana, tetapi justru melakukan apa yang dikatakan; dengan demikian ritus adalah tindakan yang melampaui atas apa yang dikatakan. Justru di dalam konteks inilah tingkah laku, objek dan kata-kata dalam bahasa yang bermakna ritual tercakup.

2. suatu tindakan yang mengarahkan kepada suatu bentuk komunikasi di antara manusia di dalam sistem konvensional tanda-tanda yang mana dengan tanda-tanda manusia mengekspresikan diri dan terlibat dalam suatu komunikasi meskipun dengan tingkat yang berbeda.

Ritus terletak di dalam kategori ekspresi simbolis dan menghadirkan suatu aksi bahasa sehingga ritus dapat dikatakan sebagai suatu proses komunikasi interpersonal. Ritualisasi -menurut S. Maggiani- di dalam suatu sistem budaya, menciptakan suatu ranah simbolis yang menempatkan seseorang di hadapan orang lain, membangun relasi-relasi, mengenal kembali nilai-nilai. Menurutnya pula bahwa pengenalan diri satu sama lain terjadi karena kehadiran di mana-mana dari ritualisasi. Ritualisasi, pada satu sisi, menyebabkan manusia untuk memposisikan dirinya dengan cara mengharmonisasikan realitas emosinya dalam referensi kepada suatu situasi-situasi konkret-praktis; di sisi lainnya untuk membangun kontak-kontak dalam tingkah-laku ritual yang dapat memposisikan dirinya sekaligus dan menemukan dirinya.

 

Morfologia

Klasifikasi atau morfologi ritus menghadirkan suatu kinerja yang amat kompleks sehingga di dalam morfologi ritus pereduksian yang berubah-rubah rentan terjadi. Sebagaimana kita lihat, kiranya cukuplah untuk mempertimbangkan ritus menurut tiga asal-usul fundamental yang berasal dari struktur formalnya masing-masing: ritus obsesif, ritus interaktif, ritus instituitif.

Ritus obsesif

Adalah ritus-ritus dalam tataran neurotik, ritus-ritus tipe individual yang lebih terikat pada sesuatu yang disebabkan oleh rasa takut atau frustasi yang tidak disadari yang mana manusia menghidupinya atau  yang memberikan pergerakan secara emosional (sebagai contoh mencuci tangan terus-menerus setelah memegang besi). Menurut interpretasi psikoanalisis Sigmund Freud, sumber tipe perilaku-perilaku ini berasal dari ritualitas umum dan secara khusus dari ritualitas religius. Maka, interpretasi Freud yang seperti itu seluruhnya dapat dipertanyakan, alasannya tidak lain karena pendapat yang demikian mengabaikan secara total ontologi ritus dan yang paling penting karakter sosial ritus.

Ritus interaksi

Adalah segala bentuk ritual-ritual interpersonal yang menempatkan subyek manusia di hadapan kehadiran orang lain, yang tujuannya untuk memanifestasikan dirinya atau berkomunikasi dengan orang lain (dari berjabat tangan ketika melakukan suatu pembukaan, sampai dengan aturan-aturan akan tingkah laku publik). Bentuk-bentuk ritus yang demikian terikat pada situasi-situasi budaya dan berubah (atau dapat berubah) dalam kaitannya dengan evolusi  budaya dan waktu. Ritus-ritus interaksi membangun aksi-aksi ritual yang mengekspresikan, mengkarakterkan, dan menguatkan hidup sosial manusia.

Ritus-ritus institusi

Adalah ritus-ritus yang terstruktur sebagai rentetan otonomi yang dirayakan dan dipenuhi di dalam  hidup suatu grup sosial. Ritus-ritus institusi antara lain: ritus-ritus perjalanan, ritus-ritus inisiasi, ritus-ritus pengorbanan, ritus-ritus pengilahian. Semua ritus-ritus ini meminta kembali, pada gilirannya, suatu tipologi diversifikasi yang luas (sebagai contoh, ritus-ritus tahun baru, ritus-ritus pertahanan, ritus-ritus penyerangan, persembahan-persembahan awali). Timbulnya banyak persoalan akan ritus disebabkan karena ritus-ritus ini dikaitkan dengan ilmu gaib dan juga hubungannya dengan sakramen gereja, terlebih dengan dogma ritualitas Kristiani dan secara khusus keefektivan sakramen.

Elemen-elemen yang mengkarakterkan ritus

Ritus-ritus institusi dalam setiap pernik-perniknya membangkitkan ketertarikan untuk mempelajari ritualitas dalam tataran religius terutama agama Kristiani. Natura ritus-ritus institusi dapat dispesifikasikan menjadi 3 elemen yang mengkarakterkan ritus-ritus dalam cara yang tepat:

  • Karakternya sebagai dalam-utilisitas (bebas)
  • Peranan kata dalam tindakan ritus
  • Hubungan dengan sang pencipta mitos atau cerita yang diasumsikan

Konotasi pertama ritus institusi terletak pertama-tama pada kenyataan bahwa ritus ini bukanlah menjadi bagian dari keteraturan utilitas atau teknik, kalkulasi atau logika, tetapi selalu menjadi bagian dari dalam-utilisitas, dari yang bebas. Mengkorbankan binatang untuk yang ilahi di waktu kelaparan menyatakan dengan pasti suatu sikap dalam-utilisitas, maka tindakan ini bukanlah tidak logis dilihat dari mentalitas keefektifan. Pertimbangan yang serupa juga dapat diacukan kepada ritus-ritus yang dilakukan kelompok kuno seperti ritus penyiksaan diri, ritus tato bahkan juga pada ritus modern seperti acara peluncuruan kapal yang menggunakan botol sampanye, ritus yang memberikan makhota penghormatan kepada prajurit yang tidak dikenal.

Memang, ritus menurut Cazevenue tampaknya merupakan tindakan yang diulang sesuai dengan aturan yang tidak berubah dan yang pelaksanaannya tampaknya tidak menghasilkan efek yang bermanfaat. Namun sanggahan ini tidak berarti bahwa antara ritus dan keinginan manusia untuk mendapatkan hasil tidak ada kebetulan dan konvergensi. Alasannya keinginan akan hasil-hasil ini tidak terpenuhi dalam teknik fungsional, tetapi di dalam suatu gambaran keteraturan simbol, yang dikarakterkan oleh pemberian dan juga oleh kegratisan.

Ritus institusi memuat sikap tubuh dan realitas material yang disertai dengan kata; kata memiliki tugas menginterpretasi ritus dan pada saat yang sama mengaktualkan peristiwa ritual. Dari sudut pandang ini, kata –dalam ritus tidak hanya menghadirkan suatu catatan informatif; sebaliknya kata membangun suatu kata-tindakan. Menurut L.Bouyer pemahaman primodial kata didapat kembali dan diteguhkan:

Pada dasarnya kata adalah suatu kehidupan melalui tindakan. Kata cenderung kepada tindakan. Melalui suatu cara lewat manusia kata adalah tindakan primordial. Di sisi yang lain kata adalah tindakan oleh  karena manusia mengafirmasikannya secara demikian. Dia yang berbicara, lewat kata-katanya, melakukan intervensi ekistensi originalnya, eksistensi personalnya, pada level natura hal-hal.

Ritus adalah aksi simbolis yang melalui aksi simbolis ini bahasa mengekspresikan dirinya dan membuat dirinya menjadi tindakan. Dari peristiwa yang mana kata mensyaratkan “yang lain” (adalah suatu ekspresi struktur relasional ada manusia), maka ritus memiliki suatu karakter intersubyektif secara radikal dan –yang pasti –religius. Sebab, yang lain sungguh tidak hanya melulu sang kamu manusia yang berdiri di hadapanku, tetapi juga menguak –setidaknya di dalam ritus-ritus budaya yang amat kuno- Sang Kamu Ilahi yang membangun pula makna aksi ritual dan aksi ritual itu tersendiri memiliki  berbagai berbentuk. Oleh sebab itu, jika kata adalah suatu tindakan non aktif, kata pada saat yang sama adalah suatu tindakan yang membuat manusia keluar dari aku sendiri dengan membuka diriku kepada yang lain/Yang lain; dengan cara yang demikian, maka bahasa ritual menyatkan suatu penyerahan diri dan memanggil penerimaan suatu hadiah.

Ada kaitan antara ritus dan mitos karena pemaknaan nilai ritus bersumber dari mitos yang membangun eksistensi suatu kelompok. Mitos dan ritus adalah ekspresi-ekspresi yang saling melengkapi: mitos sebagai suatu sejarah yang bersumber dari keilahian dan dari para pahlawan pada zaman primodial sementara ritus mengekspresikan aktualisasi liturginya. Akibatnya, ritus institusi dispesifikasikan dengan mengacu kepada arketip mitos sehingga ritus institusi memiliki kemampuan untuk menetapkan mitos fundamen atau menjelaskan mitos naratif yang menjadi kebenaran bagi identitasnya sendiri atau hidup suatu kelompok. Dalam konteks ini, ritus memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali arktetip mitos di sini dan sekarang dengan cara membuat anggota-anggota komunitas berpartisipasi pada  makna ritus atau ritus itu sendiri. Anamnesis ritual dalam pengertian ini mampu untuk mengoperasikan kelahiran kembali suatu kelompok secara terus-menerus. Jadi, dengan menghubungkan pada zaman-zaman primordial, ritus merobek masa lalu mengantar masa lau kepada keteraturan temporalitas atau faktualitas murni dan membuat masa lalu hadir saat ini dalam kelompok, membuka masa lalu kepada masa depan yang diproklamasikan dan disiapkan oleh ritus

Ritus agama

Segala yang telah dikatakan berlaku pula pada ritus agama. Ritus agama ditafsirkan dari kata.  Ritus agama menampilkan dirinya sebagai tindakan simbolis yang membuat realitas saat ini mempunyai makna sekaligus menghidupkan kembali pemaknaan akan realitas di masa sekarang ini. Ada ikatan yang begitu mendalam antara aksi ritual, isi yang diekspresikan dan yang dibuat oleh tindakan ritual. Maka, ritus agama, di bawah aspek ini, menjadi bagian keteraturan simbol yang mana tanpa suatu penanda (peristiwa primordial keilahian yang memberikan asal-usul semesta, sebagai contoh) tetapi kemudian keteraturan simbol dihadirkan oleh penanda ritus. Pada aksi penanda itu sendiri, ritus agama memproduksi suatu pembangkitan yang menciptakan kesatuan antara peristiwa yang diingat dan aksi simbolis, yaitu ketika ritus agama mengenalkan manusia dalam kehadiran yang absen tersebut.

 

Arti

Dalam term-term umum dapat dikatakan bahwa arti denotatif/konotatif ritus agama terkait dengan persepsi manusia (kelompok) akan suatu kehadiran suci (suatu numinasi) yang melampaui kondisi yang melulu material atau fisika dari eksistensinya dan ia menafsirkannya. Tindak–tanduk ritual agama memancar dari kesadarannya akan suatu misteri kosmos dan misteri kehidupannya. Fenomen-fenomen kosmik seperti ritme-ritme musim, fase-fase bulan, pembenihan dan pemanenan, hujan dan guntur, gempa bumi dan gerhana menempatkan ada manusia primitif di hadapan suatu fenomen akan tanda-tanda transendental yang membuat dia merasakan suatu yang melampaui dirinya dan tergantung kepada yang transendental itu. Fenomena–fenomena biologis seperti kelahiran, reproduksi, penyakit dan kematian termasuk juga perasaan takut dan misteri-misteri yang terbatas pada eksistensinya menciptakan dorongan untuk bertanya. Mengritualkan peristiwa-peristiwa tersebut berarti membawa kembali kepada asal-muasal diri atau kepada tujuan diri. Jadi, humus vital ritus agama adalah tentang pencarian akan sesuatu yang melampui realitas fisika kosmos dan pencarian akan kehidupan yang dikenali sebagai kehadiran suci yang mana segala sesuatunya berasal dan kembali.

 

Isi latar belakang

Dalam ranah ini, dapatlah dikarakteristikan setidaknya tiga isi esensial dari ritus agama: keterbukaan kepada keilahian, keagungan “mengapa” eksistensi manusia, identitas suatu kelompok.

 

  1. Keterbukaan kepada sang ilahi

Pancaran setiap ritus agama terletak pada keyakinan bahwa, dimediasikan dengan suatu bahasa simbolis yang ada, individu dan kelompok dapat menyatakan dan menghidupi pencarian dan keterbukaanya kepada sang ilahi (sering kali disebut sebagai Sui, Fascinosum dan tremendum, Sang Misteri, Yang Lain). Dengan ritus, manusia religius memanifestasikan kesadaran akan ketergantungannya kepada suatu Kedaulatan, suatu Yang Lain Secara Total; manusia religius mengenalnya sebagai yang demikian dan mencarinya untuk mencintainya, bersyukur kepadanya, dan menyelaminya. Andai kata perujukan yang semacam itu tidak terjadi, akibatnya ritus hanyalah suatu fakta yang dikosongkan dari isi esensialnya dan berubah secara pasti menjadi ritualisme. Jadi dalam ritualisme, ritus direduksi menjadi suatu pemenuhan yang formal melulu, seandainya pun tidak terjadi seperti yang demikian akibat lainnya adalah bahwa ritus direduksi menjadi suatu situasi pengasingan.

Ritus-ritus religius memaafkan makna-maknanya –menurut penyelidikan J. Gevaert- ketika ritus-ritus religius tidak berfungsi lebih sebagai bahasa yang mana lewat bahasa orang-orang yang hidup dan percaya menyatakan komunikasi mereka kepada Tuhan (…) Ketika ritus-ritus tidak dapat mempertemukan manusia dengan Tuhan yang hidup, maka ritus-ritus berubah menjadi instrumen-instrumen pengasingan secara mutlak. Bentuk-bentuk nyata dari ritus religius yang seperti itu cenderung untuk mengurung diri sendiri padahal Yang Absolut harus diartikan dalam aktivitas mendengarkan dan penerimaan. Dampaknya, ritus berubah menjadi sebagai contoh sakralisasi sosial, ekonomi dan politik yang terasing: ritus hanya merupakan suatu instrumen pelayanan akan pemeliharaan tatanan yang ada, padahal ritus harus memperbaharui tatanan secara kreatif. Juga di dalam hal yang lain, ritus berubah menjadi formalisme yang mengasingkan manusia dari perjumpaan nyata dengan Tuhan dalam eksistensi yang dialami. Atau sekarang ritus berubah menjadi suatu kata estetika melulu yang ditumbuhkan dari para ahli sehingga tidak dapat diakses oleh dia yang tidak memulai dari suatu pengetahuan sejarah dan arkeolog yang luas.

  1. Keagungan akan “mengapa” eksistensi manusia

Isi yang baru saja dikatakan terkait dengan data kedua dari antropologi ritus agama: keterbukaan dan penjumpaan dengan Tuhan tidaklah akan terjadi jika tidak di dalam konteks kesadaran manusia akan hidup eksistensinya yang merupakan suatu pertanyaan definitif yang terus-menerus: mengapa dunia? dari mana kita berasal, ke mana kita selanjutnya, siapakah sumber kehidupan, apakah yang menunggu kita di dunia bawah? Apakah artinya penyakit dan kematian (GS 10). Ritus agama mengatakan tentang suatu referensi yang terus-menerus kepada problem-problem eksistensi besar tersebut. Referensi tersebut merupakan hal menentukan karena menunjukkan bagaimana ritus agama melibatkan suatu karakter manusiawi secara radikal (ritus menyatakan kehidupan manusia di dalam sejarah konkret manusia dan di hadapan Tuhan) dan bagaimana ritus religius memperbaiki makna tingkah-laku manusia yang mana dengan tingkah lakunya manusia menghadirkan dirinya sendiri dan adanya bersama dengan orang lain.

Ketika ritus agama tidak memperbaiki tingkah laku manusia, maka kiranya terjadi bahaya bahwa ritus agama mendegradasikan atau beresiko untuk mendegradasikan segala sesuatunya menjadi ketakhayulan melulu. Akibatnya, yang terjadi pada kenyataannya bukanlah ada manusia di hadapan Tuhan, hidup yang direfleksikan, makna manusia dari segala tingkah-lakunya yang diamsumsikan di dalam simbolisasi ritus keagamaan, tetapi hanya aksi-aksi ritual yang mekanistik, objek-objek yang diambil secara material, rumusan-rumusan verbal dalam bunyinya, pengulangan-pengulangan ritus yang terlalu mencekik dan obsesif. Dan jelaslah pula bahwa suatu bahaya yang sejenis adalah bahwa  tentang zaman ini semuanya hanyalah soal yang sifatnya realis. Ritus agama haruslah dibebaskan dari bahaya tersebut karena ritus agama merupakan ada ekspresif hidup manusia. Sekiranya ritus dipisahkan dari kehidupan, maka kehidupan pun terpisah dari ritus, dan tingkah-laku ritual pun ditransformasikan seolah-olah seperti dalam sejenis mantra sihir atau ketakhayulan religius.

  1. Identitas kelompok

Isi terakhir latar belakang ritus agama berasal dari fakta bahwa ritus menyatakan atau menyalakan api identitas suatu kelompok. Dalam ekspresi iman komunal, ritus adalah mata air regenerasi yang terus-menerus dan konsolidasi akan hidup sosial dari sebuah kelompok yang membuatnya. Dimensi komunal ritus tidak terpisahkan dari keefektivan simbolnya: hanya dengan berpartisipasi di dalam ritus, seseorang berpartisipasi di dalam kehidupan suatu kelompok; hanya ketika dia anggota suatu kelompok, maka  dia dapat mengambil keuntungan dari hadiah-hadiah yang dibawa dari pelaksanaan ritus. Maka, fungsi ritus tidak hanya sebatas menterjemahkan ide-ide tetapi juga merealisasikan suatu komunikasi vital, suatu commnunio di dalam identitas suatu kelompok yang dipahami sebagai suatu entitas unik.

Ritus agama adalah suatu forma bahasa yang sifatnya komunitas: ritus adalah buah dari komunitas yang percaya dan menyatakan imannya. Maka, iman suatu kelompok adalah suatu kolektivitas yang membangun makna ritus, jadi bukan secara individu; artinya individu berbagi dalam iman kelompok  sehingga dalam ranah kolektivitas yang demikian, mempersepsikan fungsi real ritus dan menikmati buah-buah ritus terjadi. Jadi ritus mengatakan komunitas dan membangun komunitas.

 4. Keefektivan

Apa yang baru saja dikatakan mengingatkan kembali keefektivan ritus. Keefektivan ritus berfungsi sebagai suatu aksi bahasa yang, dengan menghubungkan ritus pada tradisi, membuat keotentikan suatu kelompok hidup kembali atau memberikan pemahaman akan subsistensi suatu kelompok. Jadi, dalam ingatan kepada tradisi lewat ritus suatu kelompok lahir kembali karena ingatan kepada tradisi mengatasi jurang waktu yang memisahkan hari ini dari arktetip mitos sekaligus menghadirkan kembali arketip mitos. Dengan membenamkan kembali suatu kelompok secara simbolis ke dalam waktu primordial dan di dalam apa yang disebut “waktu itu” yang diwarnai dengan ingatan kepada sang ilahi dan para pahlawan, suatu kelompok berkelana kembali kepada eksistensi otentiknya bahkan memproklamasikan kebenaran adanya dalam tindakan. Ritus, dalam cara yang demikian, tidak hanya memanifestasikan identitas kelompok, tetapi juga mematri identitas kelompok dalam adanya. Sebabnya, di dalam peristiwa yang mana suatu kelompok mengatakan ritus, maka ritus pun berkata tentang kelompok tersebut. Lewat aktualisasi yang demikian, memori kolektif kelompok memuat afermasi/simbol dari pengetahuan dan pengakuan akan iman di dalam tindakan. Dengan demikian terteguhkanlah keefektivan ritus, menurut isi-isinya dan finalitas yang memotivasinya, tetapi selalu di dalam kacamata makna yang dimiliki oleh kelompok.

Ritus adalah ekspresi iman kelompok entah itu ritus yang terkait dengan alam ataupun ritus yang terkait dengan kehidupan manusia. Maka ritus-ritus melakukan apa yang dimaknai dengan cara berpartisipasi pada masa sekarang melalui apa yang dibangkitkan oleh ritus sendiri. Dalam ritus manusia tahu bahwa dia tidak sendiri karena dia mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang hadir di dalam ritus dan dia mendapat manfaat dari apa yang dipercayai oleh kelompok dan dari kelompok yang hidup.

Penutup

Kayanya realitas mengundang keterpersonaan kita untuk mengerti dan memaknainya. Untuk itu  simbol diperlukan oleh kita demi pemaknaan dan pemahaman akan realitas. Bahkan realitas memanifestasikan dirinya dan berada di dalam simbol. Bukankah konsep-konsep yang kita bentuk, mimpi, bahasa, tulisan, cara kita berkomunikasi dan mengisi mengisi hidup sebenarnya adalah simbol? Dunia hidup dari dunia ekonomi, politik, budaya, seni, agama adalah bagian dari dunia simbol dan dibentuk oleh simbol. Tarian pada masa panen menyimbolkan rasa syukur; pemberian cincin kepada kekasih sebagai simbol kesetiaan. Perusahaan-perusahaan membuat merk dagang dengan simbol-simbol, misalnya youtube dengan simbol tulisan youtube, mobil BMW dengan simbol bulat dengan warna biru, dan seterusnya.

Kodrat kita juga niscaya mengada di dalam simbol universal. Kita disebut sebagai binatang sosial, binatang rasional, binatang simbol, dan seterusnya. Maka dunia atau semesta ini disebut sebagai jaringan simbol oleh Ernst Cassirer karena semesta merajut simbol-simbol dan terdiri dari simbol-simbol. Di dalam dunia simbol itulah yang memampukan kita memahami dan menginterpretasi, mengartikulasikan dan mengoraganisir, mensisthesiskan dan menguniversalkan pengalaman manusiawi. Dengan representasi simbol, kita membangun, menstrukturkan dan menangkap dunia kita. Memang segala yang ada dapat berfungsi sebagai simbol asalkan diangkat ke dalam proyek manusia. Tetapi, kesadaran kita akan simbol dan kemampuan kita untuk menciptakan dan memaknai simbol memiliki peran vital karena tanpa kedua fakultas tersebut simbol tidak memiliki nilainya sama sekali: ia menjadi simbol yang mati. Simbol salib bagi orang Kristiani yang percaya adalah simbol kasih Allah tetapi bagi atheist salib hanyalah sekedar tanda yang menunjukkan bangunan atau agama seseorang.

Menurut Paul Ricoeur simbol adalah arti yang ditangguhkan, makna yang intensionalitasnya ganda yang terdiri dari intensionalitas literal dan intensionalitas simbolisnya (yang sebenarnya). Misalnya: pohon (makna literalnya); di dalam konteks simbol Kristiani sebuah pohon secara simbolis mengacu kepada salib Yesus; dalam budaya pohon adalah simbol kehidupan. Simbol memuat intensi ganda yaitu intensi harafiah dan intensi simbolisnya yang saling bersatu sama lain. Intensi makna ganda membuat arti literal suatu simbol menjadi absurd tetapi anehnya justru membuat arti simbolisnya melampaui dan menangguhkan makna literalnya; sesuatu yang tak terkatakan sehingga makna sejatinya berada di tempat lain. Jadi, di dalam simbol hubungan di antara makna literal dan makna simbolis itu selalu equivox, buram, penuh misteri. Berbeda dengan tanda yang mana selalu mengandalkan kejelasan, logika dan kepastian. Tanda selalu bersifat rasional-deliberatif sementara simbol evokatif-interpretatif. Setiap simbol adalah suatu tanda atau bahasa khusus yang mengekspresikan, mengatakan dan mengkomunikasikan makna. Sementara setiap simbol adalah tanda tetapi tidak semua tanda adalah simbol. Jadi, sesuatu hal atau suatu image tidak dapat dikategorisasikan sebagai simbol atau tanda secara obyektif karena tergantung dari individu atau komunitas yang menginterpretasinya. Walaupun demikian baik simbol dan tanda saling melengkapi dalam komunikasi. Tetapi, justru dengan keunikannya yang alami tersebut, simbol memberikan akses untuk masuk ke dalam lapisan realitas yang lebih dalam yang tak dapat diakses oleh pengamatan inderawi. Artinya, tidak semuanya dapat dikomunikasikan dengan kejernihan rasional tetapi justru simbol memungkinkan kita mengungkapkan dan mengintegrasikan isi yang paling mendalam dalam kehidupan sosial kita.

Karena segala yang ada bisa merupakan jaringan simbol maupun manifestasi dari simbol maka bisa jadi suatu simbol kiranya memiliki lebih dari suatu makna bahkan memiliki makna yang multiple. Simbol kaya dan sarat dengan makna; ia memiliki kelimpahan makna. Dengan maknanya yang berlimpah-limpah, simbol mengarahkan dan membangkitkan kepada suatu pemikiran dan permenungan karena simbol adalah pergerakan pertama yang membuat kita terbenam dan berpartisipasi di dalam arti yang tersembunyi sekaligus mengasimilasikan ada kita kepada sesuatu yang tersimbolkan yang mana ada kita tidak mampu menangkapnya. Di satu sisi, simbol memberikan pemahaman dan simbol menjadi kendaraan konsep untuk membentuk pengetahuan. Tetapi di sisi lainnya, simbol juga membuat manusia hidup secara manusiawi karena simbol mengeluarkan realitas yang tersembunyi, buram lalu menempatkannya pada sebuah struktur ekspresi/komunikasi intersubjektif dan mengerjakan suatu pertukaran linguistik yang tidak terekspresikan bagi dirinya, sesamanya dan dunia hidupnya.  Di sini terjadi momen komunikasi: manusia berdialog dengan realitas bersama dan melalui simbol. Ia adalah simbol utama di antara subyek dan partner yang berkomunikasi. Terciptanya momen komunikasi berarti ada momen bahasa karena komunikasi dan pengetahuan bersumber dari bahasa. Karena maknanya yang berlimpah dan bersatu, mengada di dalam bahasa, simbol dalam perspektif bahasa dapat dikatakan sebagai suatu kekayaan bahasa yang melimpah-ruah.

Manusia adalah ada bahasa, ada linguistik. Bahasa manusia bukan sekedar bunyi acak tetapi mencerminkan dan memuat pola yang menciptakan pengalaman komunikasi sehingga bahasa adalah suatu sistem simbol yang membuat dirinya mengaktualkan eksistensinya dan hidup secara manusiawi. Bahasa adalah simbol karena bahasa terbentuk dan ada karena simbol. Tetapi jelas pula bahwa bahasa memiliki struktur. Strukturnya berasal dari identitas relasional manusia yaitu bahwa adanya dan eksistensinya selalu bersama dengan orang lain dan dari konstitusi tubuh (jiwa, raga dan roh) yang mana ada manusia berada dan direalisasikan. Struktur bahasa yang esensial itu direalisasikan oleh simbol. Realisasi oleh simbol minimal memuat dua dunia yaitu subyek dan patner dengan dunianya sendiri-sendiri yang saling berinteraksi bukan secara langsung tetapi dengan perantaraan simbol. Kedua dunia bertemu dan bersatu di dalam simbol. Itu bisa terjadi sebab dunia simbol bersatu dengan kedua dunia masing-masing subyek dan partner. Simbol mengikat dua lingkaran lain dalam lingkaran simbol sendiri menjadi satu lingkaran konkret dan khusus, tanpa memisahkannya dari lingkaran utuh.[1]

Tetapi, simbol tidak bisa terlepas dari tubuh manusia karena tubuh berfungsi memberikan kehadiran manusia di dalam dunia dan eksistensi simbol tergantung kepada eksistensi manusia. Tubuh manusia adalah simbol unik dan bukti konkret eksistensi manusia. Buktinya tubuh mengkomunikasikan intensi, perasaan, keadaan batin, menerima dan menguraikan informasi melalui dan di dalam simbol. Tubuh juga bertindak: dengan tubuh manusia mampu memecahkan dan menghadapi menghidupi situasi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi sehari-hari di dalam hidupnya. Dengan tubuhnya ia bergerak dan pergerakan dapat dimengerti sebagai kapasitasnya untuk melaksanakan aksi, mempresentasikan suatu modalitas yang dengannya ia mempresentasikan intensi, keinginan, kapasitasnya, kemampuannya. Tubuh manusia pun bukan sekedar mekanisme suatu organ-organ biologis maupun ide-ide melulu maupun materialitas murnitetapi tubuh membangun suatu jembatan antara manusia dan segala yang mengilinginya, antara kesadaran yang berpikir dan kosmos dunia. Tubuh dipahami sebagai sesuatu yang darinya manusia tidak dapat menolak, yang menempatkan manusia untuk berkontak dengan dunia eksternal. Berkontak dengan dunia eksternal menemukan tempat utamanya di dalam kebersamaannya dengan orang lain melalui dan bersama dengan simbol.

Dalam konteks linguistik karena tubuh, bahasa ada; karena tubuh, bahasa memanifestasikan dirinya dan eksistensinya. Struktrur tubuh manusia memproduksi bahasa. Manusia sebagai ada bahasa dihadirkan dan direpresentasikan oleh tubuh. Berkat tubuh, bahasa termuat di dalam kodrat eksistensi manusia Tetapi juga bahwa karena bahasa, tubuh berbahasa (bahasa tubuh). Setiap bagian tubuh berkata dan berbahasa, tubuh adalah simbol dan manifestasi dari kerohanianku, batiniahku, ideku, keinginanku. Pikiran itu sendiri terbuka kepada simbolisasi dan tubuh menjadi suatu ranah bagi suatu bahasa sehari[2]. Karena tubuhnya yang mengaktualkan bahasa, maka bentuk kehidupan manusia adalah kehidupan bahasa. Karena tubuh adalah simbol maka bahasa manusia pada dasarnya adalah suatu realitas simbolis.

Ada manusia juga adalah suatu ada simbolis; secara hakiki manusia adalah simbol atau manusia adalah animal symbolicum (Ernst Cassirer). Dan animal symbolicum itulah yang membedakan manusia dengan ciptaan lain. Sebagai animal symbolicum manusia dan representasi dirinya tidaklah tunggal dan suatu interpretasi yang tak kunjung selesai. Dirinya dan tindakannya itu kaya makna; dirinya dan tindakannya berkaitan dengan makna sehingga simbol melekat kuat pada tindakan dan tingkah lakunya. Dirinya dan tindakannya menciptakan dan membentuk simbol. Tetapi pada saat yang sama pula ia adalah ada kata. Artinya, manusia sebagai subyek yang bertindak dan sebagai bahasa berkolaborasi bersama melalui simbol. Manusia membangun dirinya sebagai subjek di dalam bahasa dan dengan perantaraan bahasa sementara bahasa adalah suatu simbol. Adanya, bahasanya, tindakannya dan representasinya menjadikan dirinya sebagai suatu simbol yang hidup. Dengan demikan sebagai simbol yang hidup, ia adalah puncak segala simbol. Hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Ia adalah simbol paling konkret[3]. Sebabnya, obyektivitas, pemahaman oleh akal budinya dan representasi dirinya terjadi melalui suatu proses dalam konstruksi simbolis. Maka obyektivitasnya dan pemahaman akal budi selalu mengandalkan kemampuan reflektif karena simbol menuntut daya reflektif bukan kemampuan rasional dan logis. Semakin konkret dirinya, semakin pula reflektif dirinya tetapi juga semakin simbolis pula. Bahkan eksistensi dirinya mengukir dan mereflektifkan kekonkretan simbol. Dengan hadir saja ia sudah mengkomunikasian kepada orang lain, ia memancarkan cinta atau permusuhan[4]. Keberadaaanya dan eksistensinya maupun adanya sudah mengkomunikasikan di antara dua orang. Dengan demikan seluruh perilaku dan tingkah lakunya menjadi berciri simbolis secara langsung juga. Realitasnya yang konkret itu jauh lebih kaya daripada semua substansi dengan banyak segi dan aspek. Ia menjadi simbol dengan seluruh kenyataannya jasmani-rohani, dengan seluruh perilakunya, dengan kehadirannya yang human[5]. Kehadiran Nelson Mandela menjadi simbol harapan Afrika Selatan bahkan dunia ketika ia berjuang melawan apartheid. Mahatma Gandi adalah simbol perjuangan tanpa kekerasan yang menginspirasi banyak orang.

  • Manusia adalah simbol yang paling natural[6]. Ia mampu mendengarkan simbol, keterbukaannya kepada simbol dan menterjemahkan simbol karena simbol mengatakan sesuatu yang bermakna, yang benar, bernilai. Hal itu terjadi simbol adalah bagian dari hidupnya, bagian dari adanya. Simbol adalah naturanya. Maka ia mengkomunikasikan dan menyampaikan arti simbol kepada patner komunikasinya. Misalnya miss universes yang peranannya sebagai duta perdamaian, ia menyampaikan pesan-pesan perdamaian dengan melakukan kegiatan sosial di suatu wilayah bangsa. Dalam kegiatan itu manusia tidak hanya dihias akan tetapi ia akan bertindakan simbolis sendiri, dengan menari, dengan berlutut, memeluk, merangkul[7]. Jadi dunia diberi makna olehnya dengan simbol dan dengan simbol pula ia merawat dunia. Ia mengungkapkan pemahaman dirinya dan memahami realitas di luar dirinya dengan simbol-simbol. Ia mengkomunikasikan intensi dan maksudnya kepada sesamanya melalui simbol karena ia adalah binatang simbol sehingga komunikasinya, tingkah lakunya, dirinya yang simbol membuktikan bahwa dia simbol yang paling natural.

  • Manusia adalah simbol yang paling formal. Keformalannya terjadi karena di dalam simbol ia membangun persekutuan dengan sesamanya dalam kebebasannya. Dengan kata lain, sebagai manusia dialah yang dengan paling intim bersatu dengan orang lain yang menjadi subyek komunikasi. Dari lain pihak ia tetap otonom dan berdistingsi dengan subyek. Maka dia bisa mempresentasikan subyek secara paling otentik, dengan seluruh realitasnya yang unik, sehingga subyek dari satu pihak hadir dengan seluruh kekayaannya, tetapi dari lain pihak juga terselubung. Di dalam manusia simbol itu subyek komunikasi sekaligus bisa dimiliki dan tidak dimiliki, bisa dekat dan jauh[8]. Jadi dalam keunikan simbol manusia membangun persekutuan dan manifestasi dari persekutuan itu sendiri sebagai subyek yang berdikari, bebas. Dia menjadi dirinya sendiri tetapi juga terlebur di dalam persekutuan tersebut. Paus menjadi simbol persatuan umat Kristiani di seluruh dunia walaupun ia tinggal di Vatikan Roma, Presiden ataupun raja merupakan simbol yang merekatkan dan mempersatukan serta mempersekutukan antara warga negara.

  • Manusia adalah simbol yang paling transformatif[9]. Peran dan tugas manusia adalah mengubah dan memperbaiki tetapi juga ia dapat merusak dan menghancurkan. Jadi ia adalah sosok yang paling menentukan. Dengan hadir pada partner ia telah mengubahkan seluruh situasinya. Hadir pada orang sakit, sudah membuat dia terhibur. Komunikasinya menuntut jawaban dan pengambilan posisi secara sadar dan human. Manusia simbol langsung memancing akibat, walaupun mungkin diberi jawaban negatif[10]. Kehadirannya dan tindakannya yang simbolis mengantar kepada tranformasi penting di dalam relasinya, komunikasinya dan tingkah lakunya.

  • Manusia adalah simbol yang paling kreatif. Adanya sebagai ada simbolis melahirkan suatu dunia simbolis yang di dalamnya ia dapat memproyekkan pikirannya, yang di dalamnya ia dapat hidup secara manusiawi. Ia menjadi kreatif karena simbol. Maka segala sistem yang dibuatnya merupakan hasil aktivitas kreatifnya, kerjanya juga bagian dari kreativitasnya, selalu bagian dari kreativitasnya. Dan semuanya itu tercermin dan dimanifestasikan di dalam simbol. Dengan merenungkan sungai, Heraklitus membangun pemikiran filsafatnya.

Manusia sebagai puncak simbol menunjukkan bahwa apa yang dikatakan oleh simbol dan apa yang dikatakan oleh ada manusia (ada bersama dengan) menemukan kesatuannya di dalam simbol yaitu bahwa simbol dan ada manusia membentuk tindakan linguistik. Sebabnya apa yang dikatakan baik oleh simbol dan ada manusia meminta dipenuhi dan dilaksanakan sekaligus diaktualkan sehingga terbentuk tindakan linguistik: mengatakan berarti melakukan. Ketika kita berkata tentang simbol maupun mempresentasikan diri secara simbolis maka simbol sebenarnya juga dikatakan dan dihadirkan kepada kita; simbol itu menjadi dia yang membuat kita berbicara, simbol membuat kita bertindak dan pada saat yang sama simbol berbicara, mempresentasikan diri kepada kita dan melalui diri kita. Di dalam simbol ada suatu hasrat dan suatu jawaban secara simultan. Antara simbol dan tindakan, antara simbol dan kata-kata, terdapat komitmen yang vital dan kuat. Dan fakta ini merupakan mekanisme simbol karena isi itu dihadirkan dalam simbol secara dekat dan utuh, tetapi sekaligus dengan kekayaanya mengatasi keyataan fisik simbol dan tinggal terselubung[11]. Jadi simbol begitu kuat dan kekuatannya ada di dalam keefektivannya, transendensinya, kecerdikannya, dan bukan dalam kekuatan yang penuh otoritas atau dominasi yang memaksa maupun yang menekan.

Representasi manusia sebagai simbol yang hidup membuktikan bahwa manusia adalah surplus arti: makna yang berlimpah-limpah. Makna seseorang manusia tidak pernah dapat diuraikan secara definitf sempurna. Setiap kali manusia direfleksikan, dimaknai selalu ada makna yang baru; misalnya dalam konteks relasi sosial setiap kali manusia bertemu dengan manusia selalu menghasilkan ada  penemuan baru, makna dan arti yang baru, wawasan baru. Tidak ada makna tunggal dan jelas dalam simbol manusia yang hidup karena ia sebuah misteri, pewahyuan dan revelasi. Makna tunggal dan jelas justru menjadikan manusia sebagai simbol yang mati: surplus maknanya terbendung sehingga kekayaan tentang manusia hanya stagnan lalu stagnansi membuat hilangnya kegairahan yang berujung kepada makna yang mati: ia menjadi simbol yang mati. Sebaliknya, justru dalam kebebasannya dan kebenarannya ia menjadi simbol hidup karena ia memiliki banyak arti daripada tanpa arti; ia adalah surplus meaning.

Surplus meaning berlangsung karena ia sebagai simbol yang hidup mengaktualkan self-creation. Makna self-creation adalah suatu proses yang mengaktualkan segala potensi yang dimiliki sekaligus merealisakan ada, being secara terus-menerus bersama dan melalui simbol. Maka self-creation adalah kehidupan dari self itu sendiri karena berkat self-creation, self menjadi self yang menjadi maupun direalisasikan terus-menerus. Self-creation menyingkap keterbukaan kepada self yang lebih jauh, di dalam self itu sendiri agar menjadi manusia yang lebih manusiawi. Self-creation mematri have a self yaitu suatu dinamika yang bergerak menuju, dari dan sesudah self itu sendiri. Self-creation membiarkan diri menemukan ekspresi yang membutuhkan komitmen tanpa syarat kepada self itu sendiri: self yang membuka dan self yang membutuhkan pengenalan, pemahaman dan pengetahuan oleh dan dari yang lain / Yang Lain karena self bukanlah self monade Leibniz, tetapi self adalah ada bersama dengan sesama, ciptaan lain dan Tuhan.

Simbol terkait dengan ritus karena salah satu ekspresi istimewa dari simbol berlangsung di dalam ritus. Aksi ritus, dari bentuk yang paling dasar sampai kepada bentuk yang kompleks, memiliki suatu karakter simbolis. Ritus sebenarnya merupakan ungkapan dari kodrat sosial manusia karena sebagai binatang sosial maka manusia pun adalah binatang ritual. Akibatnya, ritus merupakan suatu kebutuhan konstitutif manusia yang disebabkan oleh kodrat sosialnya. Salah satu kebutuhan konsitutif manusia membentuk, mempertahankan dan memperkuat peristiwa komunikasi. Dan ritus memenuhi kebutuhan konsitutif ini. Misalnya ritus memberi ucapan selamat ulang tahun, ritus berjabat tangan dengan kenalan baru. Tanpa adanya ritus, tak mungkin pula ada hidup sosial maupun kelanggengan interaksi-relasi sosial.

Salah satu ritus yang memiliki peran penting dalam hidup manusia adalah ritus agama karena di dalam ritus agama simbol diformalisasi dalam pola ritual dan diantar oleh mitos. Di dalam ritus agama, simbol-simbol mempersatukan manusia dengan sesamanya dan Tuhan karena yang lain sungguh tidak hanya melulu sang kamu manusia yang berdiri di hadapanku, tetapi juga menguak Sang Kamu Ilahi. Dalam hubungannya dengan waktu, ritus agama mengidentifikasi waktu sekarang dan masa lalu secara simultan karena ritus agama membawa diri kembali pada masa lalu untuk kembali kepada masa sekarang dalam suatu kepercayaan kepada yang transendental yang mana kepercayaan tersebut sifatnya komunal. Ritus agama memberi tempat kepada masa lalu dalam arti bahwa waktu eksistensial manusia dibentuk oleh konfigurasi temporal yaitu masa lalu dan masa sekarang bersama-sama mengada. Ritus agama menembus waktu. Manusia segala zaman bertemu melalui iman yang diekspresikan di dalam ritus agama sekaligus dilahirkan kembali karena adanya sukesi iman dan wahyu. Identitas dan jati dirinya diperbaharui dan diperkuat di dalam ritus agama.  Simbol melalui bahasa dan kata–kata ritus agama mengekspresikan iman dan wahyu. Ritus agama adalah warisan bahasa dari simbol yang hidup; suatu bahasa yang berbicara tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan kepada sang ilahi sejak pada mulanya; tentang pergulatannya kepada yang lain dan mengenali, mencintai realitas di luar dirinya dalam bahasa yang hidup. Di sini terjadi fungsi ritus agama: ritus agama harus memperbaiki tingkah laku manusia dalam relasinya dengan sesama, dunianya dan ciptaan lain, ritus agama juga harus mempertemukan manusia dengan Tuhan yang hidup dan bukan Tuhan yang mati. Ritus agama harus memperbaharui tatanan yang ada secara kreatif supaya menjadi tatanan yang lebih benar, lebih baik yang merangkul segala yang ada dalam persaudaraan secara manusiawi. Ketika ritus agama tidak berfungsi demikian maka ritus kehilangan artinya dan berubah hanya menjadi formalisme yang mengasingkan manusia dengan sesamanya, dengan Tuhan, dengan ciptaan lain bahkan dengan dirinya sendiri. Ritus hanya sekedar suatu kewajiban obsesif yang mencekik maupun suatu estetika dan romantisme yang mengasingkan diri dan tanpa menyentuh realitas. Bahkan ritus justru merusak tatanan ada karena ritus agama yang posesif menjebak diri pada fundamentalisme. Itu dimulai ketika manusia kehilangan kontak dengan misteri iman sehingga ritus agama menjadi ritus yang mekanik, ritus mati.

Manusia dan representasi simbolisnya mengukir suatu perjalanan akan pencarian kebenaran yang hidup. Simbol yang hidup mencintai kehidupan dalam kontemplasi kepada Tuhan  lewat diri dan sesama serta  segala ciptaan. Simbol yang hidup sekarang menjadi simbol untuk dirinya, untuk hidupnya, untuk dunianya dan segala ciptaan yang berkontak dan berelasi dengannya untuk menebus masa lalu, mengisi masa sekarang, mewarnai masa depan dalam kebaikan, keindahan melalui dan di dalam simbol.

[1] Anton Baker, Kosmologi dan Ekologi (Kanisus: Yogyakarta, 1995). Hal 250

[2] F.Castellana & A. Donfrancesco, (2005). Sandplay In Jungian Analysis: Matter and Symbolic Integration. Journal of Analytical Psychology50(3), 367-382.

[3] Ibid. Hal 252

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Ibid. Hal 245

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

2 thoughts on “Manusia dan Representasi Simbolisnya (Bagian II)”

Leave a Reply