Kemasyuran Kerajaan-Kerajaan Dan Bangsa-Bangsa Yang Sejati

XXIX

Kemasyuran Kerajaan-Kerajaan Dan Bangsa-Bangsa Yang Sejati

Francis Bacon

Lukisan Andries van Eertvelt, The Battle of Lepanto of 1571

the_battle_of_lepanto_painting_by_andries_van_eertvelt

Perkataan Themistocles orang Athena[1] dalam memuji dirinya sendiri yang begitu tinggi dan arogan, telah menjadi suatu penilaian yang penting dan bijaksana sekaligus suatu kecaman bagi para negarawan. Dalam perjamuan, selagi bernafsu untuk memainkan kecapi, Themistocles berkata, memang benar aku tidak dapat memainkan kecapi, namun aku dapat memajukan kota kecil menjadi kota besar yang hebat. Perkataan ini (disisipi dengan metafora) memang mengekspresikan dua kemampuan yang berbeda (memainkan kecapi dan memajukan kota) dalam hubungannya dengan urusan kenegaraan. Sebab seandainya suatu jejak pendapat diambil dari para konsul dan para negarawan, kiranya akan ditemukan (meskipun jarang) para konsul dan negarawan yang dapat memajukan negara kecil menjadi negara makmur tetapi tidak dapat memainkan alat musik; juga sebagaimana kebalikannya, dijumpai banyak konsul dan negarawan yang begitu mahir dalam memainkan musik dengan indah, tetapi tidak dapat memajukan bangsa yang kecil menjadi bangsa yang makmur, sepertinya bakat mereka ada di tempat lain; bahkan malah membawa bangsa kepada kehancuran dan keruntuhan daripada kemakmuran dan kemasyuran. Akibatnya, tentu saja jejak pendapat malah mencela seni dan keahlian seni yang meskipun melalui seni dan keahlian seni, banyak konsul dan gubernur mendapatkan baik bantuan dari tuan-tuan mereka dan pujian dari lawan-lawan mereka yang kasar. Dengan demikian para konsul dan negawaran tersebut layak mendapatkan nama yang tidak lebih baik daripada si ahli memainkan musik; karena mereka malah menghabiskan waktu dengan kesenangan dan mengembangkan diri mereka sendiri daripada berjuang menyejahterakan dan memajukan negara yang mereka abdi. Ada juga (tidak ragu lagi) para konsul dan para gubernur yang mungkin menggalakkan negotiis pares (kesetaraan dalam hal pekerjaan), cakap dalam menangani persoalan-persoalan; dan bahkan mampu menjaga diri mereka dari tebing yang curam dan segala gangguan yang nyata, tetapi walaupun demikian, sangat jauh dari kecakapan untuk membangkitkan dan memajukan negara dalam kekuatan, sarana-sarana, dan kekayaan. Tetapi, biarkanlah mereka hanya menjadi para pekerja saja, apa pun yang mereka maui; sekarang marilah kita berbicara tentang pekerjaan; yaitu kemasyuran kerajaan-kerajaan dan bangsa-bangsa yang sejati dan sarana-sarana untuk mencapainya. Sebuah argumen yang cocok untuk para raja besar dan berkuasa yang menggenggam kedigdayaan; yang menjadi akhir bukanlah dengan mengukur secara berlebihan kekuatan-kekuatan militer mereka yang pada akhirnya pun mereka sendiri kalah dalam keberanian yang sia-sia; di sisi lain, bukan pula dengan meremehkan kekuatan-kekuatan militer mereka, tetapi dengan melihat kenyataan akhir yaitu bahwa para raja berpaling kepada para penasihat yang penuh dengan ketakutan dan kecut hati.

Kemasyuran sebuah negara karena memiliki wilayah yang luas ada dalam pengukuran; dan kejayaan negara karena keuangan dan pendapatan termuat dalam perhitungan. Populasi kiranya terlihat dengan sensus; dan jumlah kota-kota besar dan kota-kota kecil tercatat dengan grafik dan peta. Meskipun demikian, tidak ada sesuatu usaha di antara urusan-urusan sipil yang menjadi sasaran kesalahan selain daripada usaha untuk membuat penafsiran yang tepat dan penilaian yang benar berkaitan dengan kekuatan dan kedigdayaan sebuah bangsa. Kerajaan surga diumpakan bukan dengan biji yang besar atau biji kacang-kacangan tetapi dengan benih yang paling kecil yaitu biji sesawi[2], yang mempunyai suatu properti dan kekuatan untuk tumbuh dan berkembang dengan cepat. Maka, demikian juga bahwa ada bangsa-bangsa yang mempunyai wilayah yang luas namun tidak berhasrat untuk memperluas atau menguasai bangsa-bangsa lain; dan ada beberapa bangsa yang memiliki dimensi tangkai yang kecil tetapi memiliki hasrat untuk memperluas dan menguasai sekaligus menjadi fondasi-fondasi untuk nantinya menjadi kerajaan-kerajaan besar.

Kota-kota berbenteng, gudang-gudang persenjataan dan pabrik senjata, pacuan-pacuan kuda yang baik, kereta-kereta perang, gajah-gajah, meriam, artileri, dan yang semacamnya; semuanya ini adalah ibarat seekor domba berbulu singa, kecuali asuhan dan disposisi warga negaranya gagah berani dan suka berperang.  Ah tidak, jumlah tentara itu sama sekali tidak penting, ketika warga negara hanya pengecut; karena (seperti yang dikatakan oleh Virgil[3]) seberapa banyaknya domba tidak akan pernah menyulitkan seekor serigala. Tentara Persia yang ada di dataran Arbela[4] ibarat sebuah samudera manusia, tampaknya jumlah tentara Persia yang demikian banyak itu agak mengejutkan para perwira Alexander, sehingga datang menghadap Alexander[5] dan berharap bahwa Alexander menyerang tentara Persia pada malam hari; tetapi jawab Alexander, aku tidak akan menyerobot kemenangan. Dan penaklukkan terjadi begitu mudah. Ketika Tigranes[6], raja Armenia, berkemah di bawah suatu bukit dengan empat ratus ribu prajuritnya, menjumpai pasukan Romawi yang jumlahnya tidak lebih dari empat belas ribu orang yang sedang berbaris menuju kepadanya, dia bergembira karena hal ini, dan mengatakan orang–orang di sebelah sana terlalu banyak untuk menjadi seorang duta, dan terlalu sedikit untuk berperang. Tetapi sebelum matahari tenggelam, Tigranes mendapati pasukan Romawi cukup kesempatan untuk melakukan pengejaran kepada tentaranya dengan pembantaian besar-besaran. Banyaklah contoh-contoh yang luar biasa aneh berkaitan dengan jumlah tentara dan semangat tentara, sehingga; mendorong kita untuk membuat suatu penilaian, bahwa poin utama kemasyuran sebuah bangsa adalah bangsa yang mempunyai ras prajurit. Jelas bahwa bukanlah uang sebagai otot perang (seperti yang dikatakan pada umumnya), tetapi otot tangan-tangan manusia yang lemah dan banci itulah yang menjadi penyebab kegagalan. Sebab Solon[7] mengatakan dengan baik kepada Croesus[8] (ketika Croesus sedang menunjukkan emas-emasnya kepada Solon dengan sombongnya), Tuan, jika siapa pun yang datang dan memiliki besi yang lebih baik daripada anda, dia akan menjadi raja atas segala emas ini. Oleh karena itu, semoga para raja atau para negarawan memikirkan dengan serius tentang militer, kecuali milisi asing mereka adalah tentara-tentara yang tangguh dan gagah berani. Semoga para raja, di sisi lainnya, memiliki orang-orangnya sendiri yang mempunyai disposisi untuk berperang, mengetahui kekuatan diri mereka sendiri, kecuali mereka tidak menginginkannya. Berkaitan dengan prajurit upahan (yang merupakan bantuan dalam hal ini), semua contoh menunjukkan bahwa para negarawan atau para pemimpin mana pun sungguh mengandalkan para prajurit upahan, kucing kiranya mengembangkan bulu-bulunya, tetapi kucing akan mengeong kepada mereka segera sesudahnya[9].

Berkat  Yehuda[10] dan berkat Isakhar[11] tidak akan pernah bertemu, bahwa masyarakat atau bangsa yang sama kiranya akan menjadi baik anak singa dan keledai di antara tanggungan; bahkan berkat Yudea dan berkat Isakhar tidak akan pernah terjadi, bahwa suatu masyarakat yang dibebani dengan berbagai macam pajak justru akan menjadi masyarakat yang beringas dan masyarakat yang suka perang (berkat Yehuda)[12]. Di sisi lain, benar juga bahwa pajak-pajak yang dipungut lewat undang-undang negara sungguh melemahkan semangat warga negara (berkat Isakhar)[13]: yang prakteknya terjadi Negara-Negara Bawah[14]; dan beberapa contoh di dalam wilayah Inggris yang mendapat subsidi. Sebab anda harus memperhatikan bahwa kita sekarang ini berbicara tentang perihal hati bukan tentang perihal dompet. Akibatnya, meskipun upeti dan pajak yang sama dipungut dari persetujuan ataupun paksaan, kiranya semuanya bermuara pada dompet negara, meskipun kedua cara pemungutan pajak akan berpengaruh secara berbeda terhadap hati rakyat. Akibatnya, anda kiranya dapat menyimpulkan bahwa  kerajaan yang membebani rakyatnya dengan upeti tidak cocok untuk kemaharajaan.

Semoga bangsa-bangsa yang menatap kepada kemasyuran memperhatikan bagaimana para ksatria  mereka dan pertambahan penduduk yang terlalu pesat. Sebab pertambahan penduduk yang terlalu pesat itulah yang membuat rakyat jelata bertumbuh hanya menjadi petani dan pemuda yang biadab, yang digerakkan dari hati sehingga efeknya mereka hanya menjadi para buruh untuk tuan-tuan. Bahkan seperti yang anda lihat dalam kayu-kayu dari pohon-pohon kecil, jika anda menyisakan begitu banyak pohon-pohon muda yang terlalu rapuh, anda tidak akan pernah memiliki kayu-kayu yang baik, melainkan hanya semak belukar. Demikian juga di dalam bangsa-bangsa, jika jumlah penduduk menjadi terlalu banyak, hanya akan menjadi rakyat biasa, dan akan membawa mereka kepada suatu fakta bahwa ribuan kepala tidak cocok untuk sebuah helm, khususnya untuk helm infantri yang adalah otot angkatan darat; sehingga yang terjadi adalah populasi yang besar tetapi dengan kekuatan yang rapuh. Kenyataan yang saya bicarakan ini tidak terlihat di mana pun selain dengan membandingkan antara Inggris dan Perancis; di mana Inggris, meskipun wilayah dan populasinya jauh lebih kecil, tetapi telah menjadi suatu keunggulan; karena rakyat jelata Inggris telah menjadi tentara-tentara yang tangguh, sementara para petani Perancis tidaklah demikian. Dan keunggulan Inggris disebabkan oleh perangkat Raja Henry VII[15] (yang tentang dia saya berbicara panjang lebar dalam History of his Life) yang begitu hebat dan patut dipuji; membuat perkebunan dan rumah-rumah peternakan sesuai dengan standar; yaitu, misalnya, suatu proporsi tanah digarap dengan sedemikian rupa yang cocok untuk peternakan dan perkebunan, sehingga kiranya membuat para peternak dapat hidup dengan nyaman dan bukan dalam kondisi seperti budak; yang lain yaitu mempertahankan kewajiban pembajakan ada di tangan para pemilik dan tidak melulu kepada para penyewa. Hal itu semua sungguh membuat anda akan mencapai harapan Virgil yang dia tujukan kepada orang-orang Italia kuno:

                                                Terra potens armis atque ubere glebae

                                (Tanah yang digdaya karena diolah oleh tangan dan karena produktivitas tanah)

Juga bukanlah suatu negara yang kacau ( yang, untuk segala sesuatu yang saya ketahui, nyaris asing bagi kerajaan Inggris dan hampir tidak ditemukan di mana-mana, kecuali mungkin di Polandia); yang saya maksudkan adalah negara di mana budak-budak dan pembantu-pembantu yang kedudukannya di atas para bangsawan dan para tuan-tuan; yang bagaimana pun juga mereka tetap lebih rendah daripada perwira yang terendah sekalipun dalam kemiliteran. Oleh karena itu, di luar semua pertanyaan, kesemarakan, kehebatan dan rombongan yang besar serta keramahtamahan dari para ningrat dan militer, yang dipraktekkan dalam adat-istiadat mengantarkan kepada kehebatan sikap berperang. Sedangkan, sebaliknya, ketertutupan dan sikap tak ramah dari para ningrat dan militer menyebabkan suatu kemiskinan kekuatan militer.

Untuk meningkatkan kemampuan militer dapat dilakukan dengan berbagai cara, bahwa batang pohon kerajaan Nebukadnezar[16] kiranya cukup kuat untuk menahan semua cabang dan dahannya; yaitu, warga negara asli kerajaan atau negara mendukung suatu proporsi yang layak untuk warga negara asing yang mereka perintah. Dengan demikian, semua  bangsa yang menganut asas naturalisasi yang bebas untuk orang-orang asing begitu cocok untuk kemaharajaan. Sebab dasar pemikirannya adalah bahwa sekalipun dengan semangat yang hebat dan kebijakan di dunia yang paling istimewa, tetapi hanya segenggam orang yang dapat merangkul cakupan dominasi yang terlalu luas, memang kemaharajaan akan berlangsung untuk sementara waktu, tetapi sayangnya akan segera hancur. Buktinya adalah orang-orang Sparta yang begitu pilih-pilih dalam memberikan naturalisasi; dengan jalan itu, selagi wilayah mereka kecil, mereka berdiri dengan kokoh, tetapi ketika mereka berkembang menjadi lebih banyak sehingga cabang-cabang mereka menjadi terlalu besar bagi tangkai mereka, mereka mendadak menjadi buah yang jatuh dengan segera. Dalam hal naturalisasi, tak pernah ada bangsa yang begitu terbuka untuk menerima orang-orang asing ke dalam tubuh bangsa selain Romawi. Oleh karena itu kenyataan ini mengistimewakan mereka, karena membuat mereka bertumbuh menjadi kerajaan yang terbesar. Cara mereka adalah menganugerahkan naturalisasi (yang mereka sebut jus civitatis (hak kewarganegaraan) dan menganugerahkan naturalisasi dalam tingakatan yang tertinggi; yaitu tidak hanya jus commercii (hak untuk perdagangan komersial), jus connubii (hak untuk kawin campur), jus haereditatis (hak warisan); tetapi juga jus suffragii (hak untuk memilih), dan jus honorum (hak untuk duduk di dalam pemerintahan). Dan semua hak tersebut tidak hanya dianugerahkan bagi satu individu saja, tetapi juga bagi seluruh keluarganya; bahkan bagi semua kota dan kadang kala juga bagi bangsa-bangsa. Tambahan juga akan kebiasaan mereka untuk menanamkan kolonisasi; dengan kolonisasi pohon Romawi ditanam di atas tanah bangsa-bangsa lain. Dan dengan memberlakukan segala konstitusi Romawi bersama di koloni-koloni, anda akan mengatakan bahwa bukan Romawi yang menyebar ke seluruh dunia, tetapi dunialah yang menyebar atas Romawi; dan realitas ini adalah jalan yang pasti kepada kemasyuran. Suatu waktu saya mengunjungi Spanyol dan begitu kagum akan Spanyol, karena menyaksikan bagaimana mereka mendekap dan memiliki dominasi yang begitu luas tetapi diatur oleh sedikit orang–orang Spanyol asli; namun tentu saja bahwa seluruh wilayah Spanyol sungguh suatu batang besar sebuah pohon; jauh melampaui Romawi dan Sparta yang merupakan kemaharajaan pada permulaan. Di samping itu, meskipun Spanyol tidak menerapkan naturalisasi dengan bebas, tetapi mereka memiliki kebijakan yang lebih unggul daripada kebijakan naturalisasi, yaitu, memperkerjakan hampir semua orang yang berasal dari berbagai bangsa tanpa memandang asal-usul sebagai tentara umum mereka, dan kadang kala juga sebagai komando tertinggi militer mereka. Ah tidak, tampaknya melalui kenyataan ini terlihat bahwa Spanyol begitu peka terhadap keinginan orang-orang asing ini; seperti Pragmatic Sanction[17] yang dipublikasikan sekarang ini, berlaku.

Pastilah bahwa kebijakan menetap dan hanya berada di dalam pintu serta manufaktur-manufaktur yang lemah (yang mensyaratkan jari tangan daripada tangan) secara alamiah melemahkan disposisi akan kemiliteran. Dan pada umumnya, semua suku yang suka perang memang cenderung malas dan mencintai bahaya daripada kesukaran. Kiranya mereka tidak harus terlalu patah hati terhadap kesukaran, seandainya mereka dijaga di dalam kedigdayaan. Oleh karena itu, adalah keuntungan yang luar biasa bagi polis awali Sparta, Athena, Romawi dan yang lain, bahwa mereka mempergunakan budak, yang pada umumnya sungguh mengatasi persoalan manufaktur-manufaktur yang lemah itu. Namun perbudakan sebagian besar dihapus oleh hukum Kristiani. Segala pekerjaan yang sejenis dengan manufaktur yang rapuh itu pada prinsipnya diserahkan kepada orang-orang asing (yang demi tujuan tersebut lebih mudah diterima oleh orang-orang asing tersebut) dan sebagian besar dari mereka yaitu orang-orang asing yang kasar dipekerjakan di dalam tiga jenis bidang yaitu petani; budak-budak yang bebas; tukang-tukang untuk pekerjaan yang keras dan kuat seperti pandai besi, tukang batu, tukang kayu, dan seterusnya; namun di luar profesi sebagai tentara.

Yang terpenting dari semuanya itu, untuk kemaharajaan dan kemasyurannya, adalah bahwa suatu bangsa mengikrarkan militernya sebagai kehormatan tertingginya, studi dan pekerjaan utama bangsa tersebut. Untuk hal-hal yang telah kita bicarakan sebelumnya adalah reformasi menuju kepada kemiliteran, dan apakah gunanya reformasi tanpa tujuan dan aksi? Romulus[18], sesudah kematiannya (seperti yang mereka laporkan ataupun hanya sebuah kepura-puraan[19]), mengirimkan hadiah kepada Roma, bahwa yang terpenting dari semuanya itu, orang-orang Roma harus menaruh perhatian kepada militer; dan kemudian mereka harus membuktikan Roma sebagai kemaharajaan yang terhebat di muka bumi ini. Struktur negara Sparta seluruhnya (meskipun tidak bijaksana) terbingkai dan tersusun untuk bidang dan tujuan militer dan kemarahajaan. Persia[20] dan Macedonia[21] mencapainya dengan sekejap. Gaul[22], Jerman[23], Goth[24], Saxon[25], Norman[26] dan yang lain mencapainya dengan proses. Turki[27] telah mencapainya sekarang ini walaupun sedang dalam kemunduran yang hebat. Tentang orang-orang Kristiani Eropa yang telah mencapai kemaharajaan hanyalah orang-orang Spanyol[28]. Tetapi begitu jelaslah bahwa setiap orang akan memperoleh keuntungan dari apa yang dia paling inginkan, bahwa kebenaran ini tidak perlu diragukan. Cukuplah untuk menatap kepada peribahasa itu; artinya bahwa  bangsa mana pun yang tidak mengikrarkan kepada militernya secara langsung kelihatannya akan mendapatkan kemasyuran, tetapi hanya ada di dalam mulut mereka. Dan di sisi lain, suatu nubuat tentang waktu yang sungguh pasti bahwa negara-negara yang terus-menerus bertekun dalam profesi militernya (seperti Romawi dan Turki yang pada prinsipnya telah melakukan) sungguh mengagumkan. Dan negara-negara yang bertekun akan kekuatan akan militernya untuk suatu waktu tertentu, pada umumnya telah mencapai kemasyurannya di mana kemasyuran tersebut mempertahankan mereka untuk beberapa waktu kemudian, ketika profesi dan kemampuan militernya telah berjalan menuju kepada keruntuhan.

Contoh peristiwa untuk kenyataan ini, adalah suatu negara yang memiliki hukum-hukum atau adat-istiadat kemiliteran yang untuk ke depannya hanya demi kesempatan-kesempatan perang yang adil (seperti yang kiranya dimaksudkan). Penyebabnya adalah ada keadilan yang telah ditanamkan di dalam kodrat manusia, janganlah berperang (dengan berperang akan ada banyak malapetaka yang ditimbulkannya) kecuali untuk alasan yang mendesak, mendasar dan karena pertikaian. Demi menyebarkan hukum-hukum atau pengaruh mereka, orang-orang Turki suka berperang dengan menciptakan suatu pertikaian yang kiranya selalu diperintahkan oleh para sultan mereka. Kemaharajaan Romawi yang menjunjung tinggi eskpansi demi perluasan batas-batas kemaharajaan mereka, amat menghormati para jenderal mereka yang berhasil melakukan perluasan batas-batas kemaharajaan, tetapi walaupun telah berhasil, mereka tak pernah berhenti untuk berperang lagi. Oleh karena itu, semoga bangsa-bangsa yang berhasrat akan kemasyuran memiliki kebijaksanaan ini, yang pertama yaitu bahwa semoga mereka peka akan kesalahan-kesalahan, baik yang berkaitan dengan perbatasan-perbatasan, pedagang-pedagang atau pejabat-pejabat politik; dan bahwa mereka segera menindak segala hasutan. Yang kedua, semoga mereka sungguh siap dan sigap untuk memberikan bantuan dan pertolongan kepada negara sekutu mereka; seperti yang pernah dilakukan oleh Romawi, karena seolah-olah konfederasi tersebut membentuk liga difensif demi melawan segala infiltrasi negara-negara lain, dan, atas invasi yang mengancam, maka sungguh memohon bantuan dan pertolongan negara sekutu mereka dengan mendesak ketika ada bahaya yang besar, sehingga Romawi kiranya akan menjadi yang terdepan untuk menjadi penolong mereka dan tidak akan membiarkan negara mana pun untuk mendapatkan kehormatan tersebut. Berkaitan dengan peperangan yang mana orang-orang kuno melakukannya demi nama suatu partai, atau yang disebabkan oleh kebijaksanaan rahasia negara, saya tidak melihat bagaimana peperangan tersebut dapat dibenarkan dengan adil: seperti ketika Romawi berperang untuk kebebasan Yunani; atau ketika Lacedaemonia[29] dan Athena berperang untuk mendirikan atau meruntuhkan demokrasi dan oligarkhi; atau invasi yang dilakukan oleh negara asing, dengan dalih keadilan dan proteksi, untuk membebaskan suatu bangsa lain dari tirani dan penindasan; dan semacamnya. Semoga cukuplah semuanya ini, bahwa tidak ada negara yang mengharapkan kemasyuran, jika tidak memiliki kesadaran akan segala kesempatan yang baik untuk memperkuat militer.

Tak seorang pun dapat menjadi sehat tanpa olahraga; baik untuk tubuh maupun politik; dan demikian juga bagi kerajaan atau negara, bahwa suatu perang yang adil dan penuh kehormatan merupakan suatu latihan yang benar. Suatu perang sipil, sungguh, seperti penyakit demam panas; tetapi suatu perang dengan bangsa asing adalah ibarat latihan yang panas, dan membuat tubuh menjadi sehat; karena suatu perdamaian yang lamban justru membuat semangat berperang berubah menjadi semangat yang keperempuan-keperempuanan dan menjadi sarana yang korup. Tetapi, bagaimana pun juga kiranya untuk kebahagiaan, tanpa segala pertanyaan, yang diciptakan oleh kemasyuran, yang sebagian besar dikerjakan oleh militer, dan kekuatan seorang veteran tentara (meskipun fakta ini merupakan suatu beban) yang selalu tetap tangguh pada umumnya melahirkan suatu undang-undang, atau setidaknya reputasi bagi kerajaan yang bersangkutan, di antara semua kerajaan tetangganya, seperti yang dapat dilihat dengan baik di Spanyol, yang di dalam undang-undangnya ada satu bagian atau yang lain, menyatakan bahwa seorang tentara veteran Spanyol sekarang ini dapat melanjutkan kemiliterannya dengan jangka waktu enam tahun.

Menjadi pengusa maritim adalah sama dengan menjadi suatu miniatur monarki dari suatu monarki. Cicero[30], yang menulis surat kepada Atticus[31] tentang Pompeius[32] dalam persiapan Pompeius melawan Caesar, mengatakan, Consilium Pompeii plane Themistocleum est; putat enim, qui mari potitur, eum rerum potiri (Pompeius akan melesat tinggi melampaui kebijakan Themistocles;  karena  berpandangan bahwa dia yang menguasai laut akan menguasai segalanya) dan tanpa keraguan sedikit pun, Pompeius akan sungguh memusingkan Julius Caesar, seandainya Pompeius tidak meninggalkan jalan tersebut (menguasai lautan)[33] atas dasar kepercayaan diri yang keliru. Kita melihat pengaruh-pengaruh peperangan yang luar biasa demi menguasai kelautan. Pertempuran Actium[34] menentukan kemaharajan dunia. Pertempuran Lepanto[35] menghadang kemasyuran Turki. Kiranya ada banyak contoh di mana peperangan laut telah menjadi perang yang paling menentukan; namun kenyataan ini terjadi ketika para raja atau negarawan mengandalkan kekuatan mereka demi pertempuran laut. Hal yang paling niscaya adalah bahwa dia yang menguasai laut akan memiliki kebebasan yang luar biasa, dan kiranya dia berperang sebanyak mungkin atau sedikit mungkin seperti yang dia kehendaki. Negara-negara yang kiranya terkuat di daratan sering kali juga terkuat di selat-selat yang besar. Tentu saja, pada zaman sekarang ini, kitalah sebagai orang Eropa yang terkuat di daratan maupun di selat-selat besar, karena kecanggihan angkatan laut Inggris (yang merupakan salah satu mas kawin utama dari Kerajaan Inggris Raya ini) begitu hebat, baik karena kerajaan-kerajaan Eropa tidak melulu terdiri dari pedalaman, tetapi dikelilingi dengan laut yang sebagian besar merupakan wilayah mereka; dan karena kekayaan kedua Hindia[36] tampaknya merupakan suatu wilayah yang hebat tetapi sebenarnya hanya merupakan suatu aksesori biasa jika dibandingkan dengan komando kelautan.

Peperangan di zaman selanjutnya tampaknya dilakukan tanpa tahu-menahu, demi mencapai kemasyuran dan kehormatan seperti yang tercermin dalam diri ksatria-ksatria yang gagah berani zaman kuno. Sekarang ini demi menyemangati para tentara, ada beberapa tingkatan dan urutan ketentaraan; walaupun dianugerahkan tanpa membedakan prajurit dan non- prajurit; dan beberapa tanda jasa yang dilekatkan atas perisai; dan beberapa rumah sakit yang dibangun demi kesejahteraan tentara; dan hal yang semacam itu. Tetapi pada zaman kuno, usaha untuk menyemangati para prajurit dilakukan dengan: tugu-tugu yang didirikan di atas tempat kemenangan; pemakaman yang penuh kehormatan dan monumen untuk mereka yang gugur di medan pertempuran; mahkota-mahkota dan karangan bunga personal; gaya kaisar yang diadopsi dari raja-raja besar; kemenangan para jenderal atas kembalinya mereka dari medan pertempuran; donasi besar dan kemurahan hati atas pembubaran tentara; merupakan segala hal yang mampu membakar semangat manusia. Tetapi yang terpenting berkaitan dengan segala kemenangan pertempuran yang dicapai oleh Romawi, bukanlah suatu pawai sejarah atau pawai untuk pamer, tetapi merupakan salah satu institusi yang paling bijaksana dan paling agung yang pernah ada. Sebab ada tiga alasan yang menjelaskan: pertama, penghormatan kepada jenderal; kedua, kekayaan akan harta negara yang tidak diboroskan; dan ketiga, donasi yang melimpah kepada militer. Tetapi tentang kehormatan-kehormatan yang semacam itu tidak cocok untuk kerajaan-kerajaan; kecuali penghormatan yang demikian dikerjakan oleh raja sendiri atau anak-anaknya, seperti yang terjadi pada zaman kaisar-kaisar Romawi, yang meskipun mendapatkan kemenangan yang tak pantas bagi mereka maupun bagi anak-anak mereka, tetapi mereka berperang dengan usaha mereka sendiri; dan ketika kemenangan-kemenangan perang yang lain berhasil diraih oleh pribadi-pribadi tertentu, maka pribadi-pribadi tersebut diberi jubah kemenangan dan pangkat jenderal.

Sebagai kesimpulan: tak ada seorang manusia pun yang karena kekuatirannya (seperti yang dikatakan oleh kitab suci) dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya[37]; tetapi bingkai kemasyuran kerajaan-kerajaan dan persekutuan-persekutuan berada dalam kekuatan para raja atau para negarawan dalam hasrat untuk membawa keluasan dan kemasyuran kerajaan-kerajaan mereka; sebab dengan menjalankan keteraturan-keteraturan, konstitusi-konstitusi dan adat-istiadat yang mengarah kepada keluasan dan kemasyuran, seperti yang telah kita bahas, kiranya mereka akan menuai kemasyuran bagi anak cucu dan para penerus mereka. Namun pada umumnya kenyataan-kenyataan ini tidak diindahkan, namun terwariskan hanya sebagai kesempatan yang harus diambil.

[1] Tentang Themistocles lihat essai XXVII; no. 30

[2] Kata Yesus: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi bila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung datang bersarang pada cabang-cabangnya”. Matius 13:31-32.

[3] Tentang Virgil lihat essai XV; no. 2

[4] Perang Arbela yang juga dikenal dengan Perang Gaugamela terjadi pada tahun 331 SM antara Alexander Agung dari Macedonia melawan Darius III dari Persia. Kemenangan Macedonia atas Persia ini mengakhiri kemaharajaan Persia. Dalam perang Gaugamela, perwira Alexander yang mengusulkan Alexander untuk menyerang Persia di malam hari dan ditolak oleh Alexander bernama Parmenion. Sementara Darius III memerintahkan tentaranya berjaga semalam suntuk untuk waspada terhadap serangan Alexander, Alexander sendiri tertidur pulas di tendanya bahkan jenderalnya membangunkannya. Setelah bangun, Alexander mengatakan bahwa peperangan telah dimenangkan. Dan memang betul Alexander berhasil mengalahkan Darius III dengan taktiknya yang begitu hebat.

[5] Tentang Alexander Agung lihat XIX; no. 6

[6] Tigranes Yang Agung adalah kaisar Armenia yang di bawah kepimpinannya menjadikan Armenia sebagai kerajaan yang terkuat yang berada di sebelah Timur Romawi. Tigranes memimpin peperangan melawan kerajaan Parthian, kerajaan Seleucid dan republik Romawi. Pada akhirnya, Tigranes ditundukkan oleh jenderal Romawi Pompeius (tentang Pompeius lihat essai XXIII; no. 3) sehingga Tigranes bersekutu dengan Romawi.

[7] Solon adalah negarawan Athena, pembuat hukum dan penyair. Dia dikenang secara istimewa atas usahanya memperbaiki keadaan politik dan ekonomi Athena yang kolot.

[8] Croesus adalah raja kerajaan Lydia sampai kerajaan Lydia dihempaskan oleh kemaharajaan Persia. Dia dikenal sebagai Raja yang amat kaya. Ia juga membuat koin emas yang pertama. Percakapan Solon dan Croesus dicatat oleh Herodotus dan dalam percakapan tersebut mereka berdua membahas siapakah manusia yang paling berbahagia. Croesus begitu yakin bahwa Solon akan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling berbahagia karena memiliki kekayaan yang berlimpah. Namun di luar dugaan, Solon mengatakan bahwa ada tiga orang yang lebih bahagia daripada Croesus, yang pertama adalah Tellus, yang mati membela negaranya dan yang kedua dan ketiga adalah Kleobis dan Biton bersaudara, yang menunjukkan belas kasih kepada ibunya dengan mengantar sang ibu ke suatu festival persembahan di bukit Olimpus dengan gerobak sapi sehingga mereka berdua mati kelelahan; bukan Croesus yang kaya raya itu. Dalam perjalanan waktu Croesus yang sombong itu meratap karena kematian anaknya  (kecelakaan) dan kemudian bunuh diri sang istri.

[9] Artinya: memang kucing akan mengembangkan bulunya pertama kalinya, tetapi kucing akan mengeong –tanda manja- setelah dibelai-belai.

[10] Berkat kepada Yehuda dan berkat kepada Isakhar adalah berkat dari Yakub (ayah mereka). Yakub memiliki 12 anak termasuk Yehuda dan Isakhar. Ke-12 anak Yakub menjadi 12 suku Israel. Berkat Yakub kepada Yehuda dapat dilihat dalam Kejadian 49: 9-11 di mana dikatakan bahwa Yehuda adalah ibarat anak singa.

[11]  Berkat Yakub kepada Isakhar lihat Kejadian 49: 14 di mana dikatakan bahwa Isakhar ibarat keledai.

[12] Tambahan penerjemah.

[13] Tambahan penerjemah.

[14] Tentang Negara-Negara bawah lihat essai XIV; no. 1

[15]  Tentang Henry VII lihat essai XIX; no. 40

[16] Pohon ini adalah penglihatan Nebukadnezar dalam Daniel 4:10-12: “Adapun penglihatan yang kudapat di tempat tidurku itu, demikian: di tengah-tengah bumi ada sebatang pohon yang sangat tinggi; pohon itu bertambah besar dan kuat, tingginya sampai ke langit dan dapat dilihat sampai ke ujung bumi. Daun-daunnya indah, buahnya berlimpah-limpah, padanya ada makanan bagi semua yang hidup; di bawahnya binatang-binatang mencari tempat bernaung dan di dahan-dahannya bersarang burung-burung di udara, dan segala makhluk mendapat makanan daripadanya”. Penglihatan ini menunjukkan bahwa Nebukadnezar, raja Babilonia, akan membawa Babilonia menjadi kemaharajaan yang begitu kokoh. Tahun 572 SM, Nebukadnezar menguasai Asyur, Phoenicia, Israel, Philistinia, Arab Utara dan sebagian Asia Kecil.

[17] Pragmatical Sanction 1549 adalah suatu dekrit yang dipromulgasikan oleh kaisar Romawi Suci Charles V untuk mengatur dan menata 17 Provinsi (pada waktu itu ke-17 Provinsi adalah Negara-Negara bawah). Salah satu isinya adalah memberikan priviligi khusus kepada orang-orang yang telah menikah dan kebebasan bagi mereka yang mempunyai enam anak. Tujuan Charles mengeluarkan Pragmatical Sanction adalah menyatukan dan menyeragamkan ke-17 provinsi tersebut. Sayangnya dalam perjalanan waktu kebijakan tersebut menyulut pemberontakan Belanda yang pertama. Penyebabnya adalah kebijakan Pragmatical Sanction merusak dan mengintervasi hukum, adat-istiadat, budaya yang berlaku di  17 Provinsi tersebut.

[18] Romulus dan Remus adalah kakak-adik pendiri Romawi. Mereka adalah cucu Numitor, seorang raja yang lurus kerajaan Alba Longa keturunan dari pengeran Aeneas dari Troya. Ibu mereka bernama Rhea Silva dan menurut legenda ayah mereka adalah Dewa Mars. Amulius -saudara laki-laki Rhea Silva- ketika tahu bahwa Romulus dan Remus telah lahir menyuruh pelayannya untuk membunuh Romulus dan Remus dengan dihanyutkan di sungai Tiberis. Dihanyutkanlah Romulus dan Remus di sungai Tiberis. Namun air sungai Tiberis membawa kedua bayi ini terdampar di suatu tebing. Seorang gembala menemukan kedua bocah ini sedang disusui oleh seekor srigala. Si gembala kemudian merawat, mengasuh dan membesarkan Romulus dan Remus. Setelah berhasil membalas dendam dan membebaskan ibu mereka dari Rhea Silva, Romulus membangun suatu kota baru di atas bukit Palatius sementara Remus di atas bukit Aventinus (Palatius dan Aventinus merupakan nama dua bukit dari ketujuh bukit di kota Roma). Kemudian Remus dibunuh karena suatu pertikaian dengan Romulus. Kota baru yang dibangun oleh Romulus diberi nama Roma dan ia membentuk legion Romawi dan senat Romawi.

[19] Menurut legenda kuno, Romulus secara misterius hilang dalam suatu badai selagi mempersembahkan kurban untuk publik di bukit Quirina sehingga orang Romawi mendewakannya dan disembah menjadi dewa Quirinus.

[20] Kemaharajaan Persia dibangun oleh Cyrus Agung. Pada mulanya Persia berada di bawah penaklukkan kemaharajaan Asyur. Cyrus Agung bangkit memberontak dan mengalahkan Asyur. Kemudian Cyrus mulai melaksanakan perluasan Persia. Di bawah Cyrus Agung kemaharajaan Persia meliputi Asia Kecil, Babilonia, Syria, Palestina. Anaknya yaitu Cambysess menaklukkan Mesir sehingga wilayah kemaharajaan Persia mencakup sampai dengan perbatasan India di Timur dan Laut Mediterania di Barat. Kemaharajaan Persia dihancurkan oleh Macedonia di bawah Alexander Agung.

[21] Macedonia menjadi kemaharajaan di bawah pimpinan Alexander Agung. Lihat catatan kaki no. 5

[22] Bangsa Gaul ditaklukan oleh Julius Caesar dan menjadi bagian wilayah terpenting bagi kemaharajaan Romawi. Penaklukkan Gaul ditulis oleh Caesar dalam buku yang terkenal De Bello Gallico.

[23] Kemaharajaan Jerman atau yang lebih dikenal sebagai kemaharajaan Romawi Suci adalah suatu federasi bebas negara-negara Eropa tengah. Wilayah kerajaan Jerman atau kemaharajaan Romawi Suci ini meliputi Jerman, Austria, Swiss dan Italia selatan tetapi batas-batas wilayahnya sangat luas dan berubah-berubah dalam perjalanan waktu (batas-batas wilayahnya antara lain termasuk Belanda, Belgia, Luxemburg, Slovenia, Perancis timur, Ceko, Slovenia, Polandia). Kemaharajaan Jerman ini sebenarnya berasal dari Kerajaan Carolingian. Kejayaan kerajaan Carolingian berlangsung ketika dipimpin oleh Charles Yang Agung (Charlemagne) di mana ia berambisi untuk mengembalikan kejayaan kemaharajaan Romawi. Namun, kemaharajaan Romawi Suci baru didirikan secara definitif oleh Otto I pada saat Otto I dimahkotai sebagai kaisar Romawi Suci tahun 962 (dengan sebutan “Kaisar Augustus”) meskipun sebenarnya sudah dimulai oleh Charles Yang Agung ketika Charles Yang Agung dimahkotai oleh Paus Leo III sebagai “Kaisar Barat” tahun 800. Voltaire menyindir kemaharajaan Romawi Suci bahwa kemaharajaan Romawi Suci tidaklah suci, maupun Romawi, maupun sebuah kemaharajaan.

[24] Bangsa Goth adalah suku dari Jerman Timur keturunan Skandinavia dan menjadi moyang dari suku Visigoth dan Ostrogoth. Bangsa Goths memiliki peran yang penting dalam kehancuran kemaharajaan Romawi. Tahun 410 Goth menyerang kota Roma.

[25] Bangsa Saxon adalah suatu konfederasi suku-suku Jerman di dataran Jerman Utara. Bangsa Saxon dikenal bangsa yang tangguh dan kuat. Bangsa Saxons ini ditaklukkan oleh Charlemagne (tentang Charlemagne akan dibahas pada essai LVIII; no. 21).

[26] Bangsa Normandy adalah sebuah bangsa yang berasal dari utara Perancis dan keturunan bangsa Norse Viking. Mereka menaklukkan Inggris (di bawah pimpinan William sang penakluk), Italia, Wales, Irlandia, Byzantinum. Bangsa Normandy memiliki pengaruh politik, militer, dan agama Kristiani yang besar bagi Eropa.

[27] Kemaharajaan Ottoman Turki dimulai pada 27 Juli 1299 sampai dengan 29 October 1923. Ottoman Turki dibangun oleh Osman I. Sultan Mehmed II merebut Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 sehingga mengakhiri kemaharajaan Byzantinum sekaligus menjadi akhir abad pertengahan. Pada abad 16 dan 17, teristimewa di bawah pimpinan Sulaiman Agung, Ottoman Turki berhasil mencapai masa keemasannya dan merupakan salah satu kemaharajaan yang terkuat pada zaman itu (yang lain adalah kemaharajaan Spanyol). Wilayah Ottoman Turki pada waktu itu terbentang dari perbatasan selatan kemarahajaan Romawi Suci sampai dengan pinggiran Slovakia dan Polish-Lithuanian Commonwealth di utara sampai dengan Yaman dan Eritera di selatan, dari Algeria di barat sampai dengan Azerbaijan di Timur. Mereka juga mengontrol Eropa Selatan, Asia Barat dan Afrika Utara. Pada zaman Sulaiman yang Agung, armada laut Turki merupakan armada yang tangguh dan penguasa lautan Mediterania di bawah pimpinan laksamana Barbarossa Hayreddin Pasha. 29 October 1923 kemaharajaan Turki berubah menjadi republik Turki.

[28] Kemaharajaan Spanyol (Imperio Español) diawali dengan persatuan mahkota kerajaan Aragon dan kerajaan Castile yaitu perkawinan Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella dari Castile tahun 1469. Kemudian kerajaan Spanyol itu menjadi kemaharajaan yang terkuat di Eropa pada abad 16 dan abad 17. Spanyol mencapai keemasan pada pemerintahan Charles I dari Spanyol atau yang dikenal juga nama Charles V  raja kemaharajaan Romawi Suci (1516-1556) dan anak Charles I yaitu Philip II (1556-1598) dari wangsa Spanish Hasburgs. Kemaharajaan Spanyol dijuluki dengan Matahari yang tak pernah tenggelam. Kemaharajaan Spanyol berlangsung selama 6 abad dari tahun 1492 yaitu sejak penemuan benua Amerika oleh Columbus sampai dengan kemerdekaan koloni-koloni Spanyol di Afrika tahun 1970. Wilayah kemaharajaan Spanyol membentang dari sebagian besar di benua Amerika, pulau-pulau di Asia Pasifik, Afrika Utara, sampai Eropa (beberapa wilayah Italia, Jerman, Belgia, Luxembourg dan Belanda). Ekspedisi Spanyol dimulai oleh Christopher Columbus, Ferdinand Magellan, Juan Sebastian Elcano, Miguel Lopez de Legazpi. Penakluk Spanyol antara lain Hernando Cortez, Fransico Pizarro, Vasco Nunez de Balboa, dan Hernando De Soto. Sekarang ini, akibat dari kemaharajaan Spanyol, bahasa Spanyol menjadi bahasa kedua yang paling dipakai di seluruh bumi dan agama Katolik tersebar ke seluruh dunia.

[29] Lacedaemonia disebut juga dengan Sparta.

[30] Tentang Cicero lihat essai XVI; no. 18

[31] Atticus adalah nama samaran Pomponius, sahabat Cicero.

[32] Tentang Pompeius lihat essai XXIII; no. 3

[33] Tambahan dari penerjemah.

[34] Perang Actium adalah perang laut yang amat menentukan masa depan Romawi dalam perang terakhir periode Republik Romawi. Perang Actium melibatkan armada Octavius (Kaisar Augustus) yang dipimpin oleh Marcus Vipsanius Agrippa melawan armada Markus Antonius yang disokong Ratu Cleopatra dari Mesir. Pertempuran terjadi pada tanggal 2 September 31 SM di laut Ionian dekat kota Actium, Yunani. Dengan kemenangan Octavius maka Romawi berubah dari republik menjadi kemaharajan Romawi dan Octavius menjadi kaisar pertama.

[35] Perang Lepanto terjadi pada 7 Oktober 1571, ketika Liga Suci yaitu koalisi negara-negara maritim Katolik Eropa Selatan mengalahkan armada kemaharajaan Turki yang pada waktu itu begitu kuat dan tangguh selama lima jam pertempuran di teluk Patras, Barat Yunani. Armada Turki datang dari pelabuhan Lepanto bertemu dengan armada Liga Suci yang datang dari Messina. Kemenangan Liga Suci mencegah Laut Mediterania menjadi jalan masuk bagi invasi Turki ke Eropa terutama ke Italia.

[36] Yang dimaksud dengan kedua Hindia adalah Hindia Timur dan Hindia Barat. Hindia Timur melingkupi Asia tenggara seperti India, Indonesia, Srilangka, dst; sementara Hindia Barat meliputi benua Amerika. Hindia Timur dan Hindia Barat merupakan pemetaan wilayah yang dilakukan oleh para pelaut Eropa untuk mencari rempah-rempah di benua-benua baru. Belanda mendirikan kamar dagang yang dikenal dengan nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), Inggris dengan nama EIC (East Indies Company); Perancis dengan nama La Compagnie française des Indes orientales.

[37] Matius 6: 27

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply