Kemarahan

LVII

Kemarahan

Francis Bacon

 Lukisan François Bruneri,The Kiss

the-kiss

Memadamkan kemarahan adalah prinsip Stoa[1]. Namun kita, lewat kitab suci, mempunyai revelasi yang lebih baik: Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu[2]. Kemarahan haruslah dikuasai dan dikendalikan baik dalam kejadian maupun dalam waktu. Pertama kita akan berbicara bagaimana kecenderungan dan kebiasaan marah diredakan dan ditenangkan. Yang kedua, aksi marah yang meledak-ledak dicegah atau setidaknya ditahan supaya terhindar dari melakukan kejahatan. Yang ketiga, bagaimana membangkitkan kemarahan atau sebaliknya yaitu meredakan kemarahan.

Untuk yang pertama (cara untuk meredakan kemarahan); tidak ada cara lain selain merefleksikan dan mempertimbangkan dengan baik akibat-akibat kemarahan dan bagaimana kemarahan itu sungguh mengganggu hidup manusia. Saat yang tepat untuk melakukan refleksi adalah menengok kembali atas kejadian yang membuat kita marah setelah ledakan amarah benar-benar reda. Seneca[3] telah mengatakan dengan baik, “kemarahan itu seperti reruntuhan, yang menghancurkan dirinya sendiri di atas tempat di mana dia jatuh”. Kitab suci pun mendorong kita agar memiliki kesabaran di dalam jiwa kita[4]. Siapa pun yang keluar dari kesabaran, keluar pula dari penguasaan jiwanya. Manusia tidak boleh berubah menjadi lebah;

                … animasque in vulnere ponunt

(yang mengandalkan sengatan dalam hidupnya)

Tentu saja kemarahan adalah keburukan; seperti yang muncul dengan jelas dalam kelemahan diri orang-orang yang dikuasai olehnya: anak-anak, wanita-wanita, para lansia, orang-orang sakit. Setiap orang haruslah sadar bahwa kemarahan mereka selalu disertai dengan celaan daripada ketakutan sehingga orang-orang yang marah adalah pembuat luka. Padahal mencegah diri sebagai pembuat luka pada saat ia marah adalah suatu hal yang mudah dilakukan sekiranya manusia memberlakukan hukum kepada dirinya sendiri.

Untuk hal yang kedua (menekan atau menahan aksi marah yang meledak-ledak), penyebab dan motif-motif kemarahan pada dasarnya mencakup tiga hal. Yang pertama: terlalu sensitif; sebab tak seorang pun akan marah jika dirinya tidak merasa tersakiti; oleh karena itu pribadi-pribadi yang halus dan penuh perasaan pastilah lebih sering marah karena ada banyak hal yang mengganggu mereka sementara mereka yang cuek dan keras lebih sabar. Yang kedua, semua keadaan yang meresahkan dan yang menciptakan luka pasti penuh dengan kekejian sebab kekejian adalah kemarahan yang dibawa kepada puncaknya yang melampaui daripada rasa sakit itu sendiri. Oleh karena itu, ketika seseorang sedang marah dan kemarahannya bersumber dari kekejian, tentu ia menyulut kemarahannya dengan lebih dasyat lagi. Yang terakhir, opini tentang reputasi seseorang menggandakan dan memperdalam kemarahan. Maka, solusinya bahwa seperti yang dikatakan oleh Consalvo, seseorang seharusnya memiliki telam honoris crassiorem (suatu kehormatan dari suatu jaringan yang kokoh). Tetapi segala upaya untuk menahan kemarahan, tidak ada yang lebih baik selain memenangkan waktu; dan menyakinkan diri sendiri bahwa kesempatan untuk balas dendam[5] belumlah tiba; sebaliknya melihat bahwa akan tiba saatnya untuk balas dendam sehingga hal ini memenangkan diri untuk sementara waktu dan mengesampingkan amarah.

Demi mengontrol kemarahan supaya tidak berubah menjadi kejahatan, meskipun kemarahan telah menguasai diri, anda harus memiliki kebijaksanaan yang jeli terhadap dua hal berikut ini: yang pertama, berkaitan dengan kata-kata yang sangat pahit yaitu kata-kata yang sungguh menyakiti dan yang sifatnya personal; sebenarnya cummunia maledicta (cercaan yang umum) adalah begitu kosong dan sekali lagi, bahwa di dalam kemarahan seorang mengatakan semuanya secara terbuka tanpa ada kerahasiaan; sehingga membuat dia tidak diterima di dalam masyarakat. Yang kedua, ketika anda tidak dapat memutuskan secara pasti, apa pun persoalannya, dan dalam keadaan marah; bahkan anda sendiri menunjukkan suatu kepahitan maka janganlah berbuat apa pun yang tidak dapat diubah lagi.

Untuk yang ketiga yaitu membangkitkan kemarahan atau sebaliknya meredakan kemarahan, pertama dilakukan dengan memilih waktu: ketika seseorang begitu penat dan dalam disposisi yang buruk, tepatlah untuk membangkitkan kemarahan. Yang kedua yaitu dengan mengumpulkan (seperti yang sudah disinggung sebelumnya) segala sesuatunya yang dapat kamu temukan untuk menyulut kekejian. Dan dua solusi menjadi kebalikannya. Untuk yang pertama adalah dengan mengambil waktu yang tepat untuk menenangkan diri ketika ada masalah yang membuat marah; sebab kesan pertama itu begitu mempengaruhi. Untuk yang kedua adalah memotong sebanyak mungkin penyebab-penyebab luka yang berasal dari kekejian dengan menganggapnya sebagai kesalahpahaman, ketakutan, nafsu, atau apa pun yang kamu mau.

[1] Tentang Stoa lihat essai II; no. 11. Kata Marcus Aurellius (tentang Marcus Aurellius lihat essai XXVII; no. 23) dalam bukunya Meditations: Ternyata, kemarahan dan frustasi lebih menyakiti diri kita daripada hal-hal yang mengusik dan persoalan yang menyakiti diri kita (buku ke-11). Buanglah semua kemarahan dan frustasi, buatlah suatu keputusan untuk berhenti memikirkan hal-hal itu semua sebagai penghinaan, maka kemarahan segera lenyap (buku-3). Jadi, apa pun yang orang lain katakan atau lakukan, aku haruslah tetap menjadi orang yang baik, seperti emas atau zamrud atau kecubung yang kiranya mengatakan ini, apa pun yang yang dikatakan dan dilakukan, aku tetaplah menjadi batu zamrud yang selalu memamerkan keindahanku (buku ke-7)

[2] Efesus 4: 26

[3] Tentang Seneca lihat essai II; no. 1

[4] Bacon menggunakan kitab suci versi King James Bible; “In your patience possess ye your souls” (Lukas 21: 19). Terjemahan Alkitab Indonesia: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu”.

[5] Bandingkan dengan essai Balas Dendam (essai IV)

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

1 thought on “Kemarahan”

Leave a Reply