Keindahan

Lukisan John Constable,Judge's Walk, Hampstead, 1820

                                                                                       

                                          Kemanusiaan dapat hidup tanpa ilmu pengetahuan, dapat hidup tanpa roti, tetapi kiranya tidak pernah dapat hidup tanpa  keindahan karena tanpa keindahan tidak ada motivasi untuk hidup di dunia. Semua rahasia ada di sini, segala sejarah terbaring di sini”.

                                                                                                                                                          Dostoievsky

 

Definisi keindahan

Ketika kita melihat sebuah lukisan yang menarik, kita mengagumi akan keindahannya; ketika kita menyaksikan pemandangan alam yang menakjubkan, kita berkata betapa indahnya. Keindahan juga ditemukan di dalam tindakan moral dan aktivitas intelektual. Kata David Hume: “Tidak ada pemandangan yang begitu cantik dan indah seperti sebuah tindakan agung dan murah hati”. Keindahan mengisi, mewarnai kehidupan dan ditemukan di mana-mana. Ada kesenangan yang muncul ketika menyaksikan keindahan. Maka, Agustinus melontarkan pertanyaan: “apakah hal-hal itu indah karena menyenangkan atau hal-hal itu menyenangkan karena indah? Tentu saja, tanpa ragu hal-hal itu menyenangkan diriku karena mereka indah”[1]. Lalu apa itu keindahan?

Albertus Magnus mengartikan keindahan sebagai kecermelangan forma subtansial atau aksidental dalam bagian-bagian materi yang proporsional dan terbatas. Pengertian Albertus Magnus menyiratkan bahwa esensi keindahan disebabkan adanya harmoni yang terjadi di antara pluraritas bagian. Proporsionalitas mengukir elemen materi keindahan sementara kecermelangan menjadi unsur formal keindahan.

Dipengaruhi dan sejalan dengan Albertus Magnus, Thomas mendefinisikan keindahan sebagai berikut: Pulchrum es quod visum placet[2]; keindahan adalah apa yang menyenangkan untuk dilihat; pelihat karena keindahan pertama-tama dipredikatkan kepada obyek yang dilihat. Definisi Thomas Aquinas tentang keindahan yang demikian bukan berarti bahwa keindahan merupakan melulu apa yang menyenangkan dan bukan pula bahwa keindahan bersifat relatif sehingga tidak ada fundamen objektifnya[3]. Sebab tidak setiap kesenangan adalah keindahan. Kesenangan makan pada saat lapar bukanlah kesenangan yang berkaitan dengan keindahan. Dengan kata lain keindahan bukanlah kesenangan simple tetapi kesenangan tertentu dan definitif yaitu kesenangan estetika.

Lalu apa itu kesenangan estetika? Kesenangan estetika kiranya kesenangan akan pengetahuan atau pemahaman yang membuat kita yang menjadi utuh, obyektif (disinterest). Keutuhan disebabkan tidak adanya usaha, keinginan untuk menguasai dan sifatnya posesif, tetapi yang ada hanya visi, kontemplasi. Untuk mengertinya baiklah membandingkannya dengan dengan cinta yang terpecah yang disebut dengan concupiscencia, cinta yang demikian mendorong diri untuk menguasai hal yang dicintai, menjadikan milikku sehingga menghancurkan natura yang dicintai. Penguasaan jelas menghancurkan natura hal sehingga membuat diri tidak lagi mengenali natura. Konsekuensi dari concupiscencia adalah tidak ada kesenangan, kegembiraan. Sebaliknya, pencapaian estetika membawa kita untuk menghormati keindahan natura hal dan menghasratkan sesuatunya sebagaimana adanya dengan ketulusan, tanpa pamrih[4].

Thomas menspesifikasikan arti keindahan bahwa esensi keindahan memiliki karakter berikut ini: di dalam visi atau pengetahuan akan keindahan terpuaskanlah hasrat; oleh karena itu keindahan dimengerti sebagai itu yang menyenangkan pemahaman[5]. Keindahan berkaitan dengan pengetahuan.

 

Natura keindahan

Natura keindahan dijelaskan oleh ada dan aspek-aspek transendental ada karena ada dan aspek-aspek transendental ada membentuk dan memancarkan keindahan.

  • Ada dan keindahan

Tidak ada keindahan tanpa ada. Seandainya, keindahan meninggalkan ada, ada kehilangan sesuatu dari esensinya. Ada diinginkan karena ada identik dengan keindahan; keindahan dicintai karena ada. Agar dapat mengada, ada haruslah berpartisipasi dalam keindahan. Karena ada, keindahan adalah kesempurnaan yang nyata.

Keindahan dapat didistingsi menjadi intelligible beauty dan sense-perceptible beauty. Intelligible beauty berkaitan kehidupan rohani sehingga mencakup keutamaan dan moralitas (baca: keindahan moral). Sense-perceptible beauty melingkupi keindahan materi atau keindahan yang ditangkap oleh persepsi dan indra kita. Lalu juga ada natural beauty yang bersumber dari natura hal dan artificial beauty yang ditemukan di dalam karya-karya seni manusia (baca: keindahan seni).

  • Hubungannya dengan aspek-aspek transendental ada yang lain

Segala keindahan membentuk unitas[6] karena bagian-bagian hal-hal yang indah tersusun dan tersatukan satu sama lain dalam keharmonian atau keteraturan. Jadi keindahan adalah kemasyuran unitas dan kemasyuran keteraturan ada.

Keindahan berkaitan pertama-tama dengan pengetahuan sehingga aktivitas estetika pada dasarnya melibatkan aktivitas pemahaman. Aktivitas estetika memberikan kesenangan akan pengetahuan yang bersumber kepada pengetahuan itu sendiri. Maka, keindahan tergantung kepada kontemplasi atau pengetahuan akan objek. Dengan demikian keindahan adalah kecermelangan dan mahkota bagi kebenaran; keindahan adalah terang kebenaran (splendor veri). Kata penyair Inggris John keats: “Keindahan adalah kebenaran, kebenaran adalah keindahan. Itulah fakta yang diketahui di muka bumi dan yang harus diketahui”.

Keindahan juga dapat dimaknai sebagai suatu tipe kebaikan yang unik karena keindahan merupakan objek dari tendensi natural tertentu yaitu menikmati keindahan lewat kontemplasi. Segala yang baik adalah indah. Jelaslah bahwa keindahan menambahkan sesuatu kepada kebaikan yaitu suatu harmoni unik yang terhubung dengan intelek yang mana harmoni berasal dari kejelasan dan keteraturan hal-hal. Kebaikan dan keindahan adalah hal yang berbeda secara logika karena kebaikan berkaitan dengan tendensi sementara keindahan dengan fakultas kognitif. Namun di antara tendensi dan fakultas kognitif timbullah kesenangan. Sebab di dalam persepsi akan keindahan, ada pemahaman yang membangkitkan kesenangan dan kesenangan  mencelupkan tendensi ke dalam kesenangan itu sendiri. Keindahan walaupun berhubungan langsung dengan fakultas kognitif memiliki ketertarikan secara tak langsung terhadap fakultas appetif melalui esensinya. Dalam keindahan ada integritas antara pemahaman (fakultas kognitif) dan kehendak (fakultas appetif). Apa yang indah menyenangkan kehendak sejauh diketahui. Jadi, kesatuan antara kebenaran dan kebaikan menciptakan keindahan; keindahan merupakan unitas antara kebenaran dan kebaikan.

 

Karakter keindahan

Sesuatu itu indah karena diketahui, segala sesuatu diketahui karena memiliki determinasi. Prinsip determinasi dari setiap ada adalah forma. Forma keindahan dimanifestasikan oleh karakter-karakternya yang nantinya menghasilkan kesenangan estetika. Tiga karakter keindahan:

  1. Harmoni atau proporsionalitas. Harmoni tercipta baik di dalam objek itu sendiri maupun dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Harmoni berarti kesatuan di dalam perbedaan sehingga harmoni tidak mengeleminasi variasi maupun perbedaan. Proporsi setiap bagian-bagian dari objek haruslah sesuai forma sehingga menjadikan forma jelas pada materi.
  1. Integritas atau kelengkapan sebuah objek meliputi kesempurnaan yang disyaratkan forma substansial atau forma aksidentalnya. Integritas menjadikan forma objek menjadi transparan.
  1. Kejelasan atau claritas. Bagi intelek kejelasan berarti intelegibiltas, kebenaran,  nyata.

Ketiga karakter keindahan mengada di dalam setiap ada sehingga setiap ada adalah indah tetapi juga tidak berarti bahwa secara otomatis memuaskan semua hasrat estetika dan juga berarti pula bahwa tidak setiap ada yang kita ketahui memuat keindahan.

 

Persepsi manusia akan keindahan: intuisi estetika

Akal budi menjumpai dan menemukan keindahan pertama-tama pada objek-objek indrawi karena pengetahuan manusia dimulai pada tataran indrawi. Tataran indrawi menyiratkan bahwa keindahan memukau kita di dalam objek-objek yang kita dengar dan kita lihat. Maka, penglihatan dan pendengaran merupakan pengetahuan yang tertinggi dan yang paling dekat dengan akal budi karena dengan penglihatan dan pendengaran membuat kita merasakan kehadiran obyek. Penglihatan dan pendengaran tentu lebih tinggi dari rasa, rabaan, bau yang merupakan indra-indra inferior. Memang, indra-indra inferior terkait dengan kondisi organik tetapi mereka pun dapat mempersepsikan keindahan suatu objek secara sekunder dan secara tidak langsung. Ekspresi estetika memuat sintesis antara penglihatan dan pendengaran yang terjadi secara langsung dan indra-indra inferior yang tidak langsung; tidak mungkin membedakan antara yang langsung dan tidak langsung. Jadi, sensasi indrawi merupakan titik tolak yang dapat membantu kita mempersepsikan keindahan dan kesenangan akan keindahan.

Keindahan yang ditangkap oleh indra-indra menghasilkan pengetahuan estetika yang merujuk pula kepada intuisi estetika. Manusia diagunerahi intuisi estetika. Apakah intuisi estetika hanya berkaitan dengan pengalaman indrawi saja karena berasal dari indra-indra? Pengetahuan estetika dan intuisi estetika tidak bisa direduksi menjadi aktivitas indrawi biasa walaupun aktivitas indrawi merupakan titik awal menuju kepada keindahan. Seandainya itu terjadi, maka keindahan tidak pernah ditemukan dan aktivitas estetika kiranya menjadi sama dengan aktivitas indrawi padahal aktivitas estetika menyertakan akal budi. Binatang mampu mendengar dan melihat serta merasakan segala sesuatu yang berasal dari indra-indranya tetapi tidak dapat memahami keindahan karena tidak memiliki akal budi. Di dalam akal budi ditemukan pula claritas dan proporsionalitas sehingga akal budi memiliki intuisi yang disebut sebagai intuisi abstraktif, intuisi universal[7]. Konsekuensinya, persepsi indrawi tidak akan menjadi intuisi estetika jika tidak diresapi dengan konsep universal- produk akal budi. Untuk mengatakan bahwa bulan itu indah kita harus mengetahui hal itu sebagai demikian dan kita tidak dapat menyatakan itu sebagai adanya tanpa adanya konsep universal yang merupakan produk akal budi. Dengan akal budi, manusia dapat mencapai infinitas: ia mampu menstransendensi untuk mengkontemplasikan keindahan. Di sini, intuisi estetika menemukan karakternya: melihat dan mengkontemplasikan sesuatu pada hal-hal indrawi sehingga sampai kepada keindahan sejati.

Pengetahuan terjadi melalui asimilasi dan kesamaaan yang diasosiasikan dengan causa formal[8], maka keindahan berkaitan dengan apa yang kita pahami lewat forma. Cahaya forma yang ada di dalam obyek keindahan tidak dihadirkan oleh konsep ataupun ide tetapi oleh ada di dalam obyek indrawi yang ditangkap secara intuitif oleh akal budi. Forma tersingkap dari materi. Mengkontemplasikan obyek melalui intuisi indrawi, akal budi mendapat kesenangan akan suatu kehadiran terang dari suatu intelegibilitas yang tidak direvelasikan kepada mata intelegibilitas itu sendiri sebagaimana adanya tetapi justru kepada manusia.

 

Tuhan, keindahan dan seni

Tuhan adalah keindahan, dia menciptakan segala sesuatunya bersumber dari keindahan cinta-Nya sehingga ciptaan memancarkan dan berbagi keindahan-Nya. Tuhan adalah pulchrum simpliciter karena Tuhan memiliki tiga karakter keindahan secara sempurna dan tak terbatas: harmoni yang terjelas; kelengkapan yang paling utuh karena kesempurnaan ada-Nya; kejelasan yang paling terang sebagai aktualitas yang sempurna karena semakin mengaktual semakin memiliki intelegibilitas. Keindahan Tuhan memukau dan menarik akal budi manusia di mana kapasitas manusia untuk mengerti keindahan ilahi tergantung kepada intensitas cinta: cintaku adalah mataku seperi yang dikatakan Thomas Aquinas[9].

Cintaku adalah mataku menyatakan bahwa pengalaman akan keindahan yang otentik bukanlah suatu  aksesoris atau hal yang sekunder di dalam pengelanaan kehidupan karena pengalaman keindahan tidak mengasingkan diri dari realitas tetapi justru membawa diri kepada suatu konfontrasi terbuka akan kehidupan, merubah rupa kehidupan menjadi indah dan terang benderang sehingga memberikan kepenuhan, kebahagiaan dan kegairahan kepada kesetiaan sehari-hari. Ada cinta dalam mengarungi kehidupan karena cinta adalah keindahan jiwa. Hubungan cinta dengan keindahan dikatakan dengan indah oleh St. Agustinus: “karena cinta tumbuh di dalam dirimu, maka keindahan pun ikut berkembang karena cinta adalah keindahan jiwa. Keindahan tumbuh di dalam dirimu dalam arti cinta berkembang di dalam dirimu karena kasih itu sendiri adalah keindahan jiwa”.

Keindahan memaniskan cinta: cinta kepada sesama, cinta kepada natura, cinta kepada segala yang ada, cinta kepada Tuhan, cinta akan kehidupan. Semakin cinta tumbuh berkembang di dalam aneka kehidupan maka keindahan pun berkembang pula di dalam kehidupan. Keindahan dalam cinta membuka hati-pikiran manusia dan melahirkan kesucian sehingga keindahan dan cinta, sebagai buah estetika dan mistik membangun dua kutub akan sebuah realitas unik yang mendorong diri untuk menghasratkan kebahagiaan dalam kontemplasi akan kemuliaan Tuhan. Kemuliaan Tuhan adalah suatu kesempurnaan yang sejati dan benar sehingga kesempurnaan yang sejati dan benar adalah keindahan yang sejati yang benar. Semakin sempurna ada semakin indah dia karena semakin menyenangkan pelihatnya. Tuhan adalah keindahan tiada tara dan seandainya Tuhan tidak menyenangkan kita akan segala ada yang diciptakan-Nya, itu terjadi karena kita tidak mengenal-Nya secara sempurna. Jadi, keindahan adalah kunci kepada misteri dan panggilan kepada transendental. Kata St. Agustinus: “Sahabat, kita akan bersukacita akan suatu visi yang mata tak pernah mengkontemplasikan, yang telinga tak pernah mendengar, yang fantasi tak pernah membayangkan: suatu visi yang melampaui segala keindahan duniawi, seperti keidahan emas dan perak, keindahan pohon–pohon dan ladang, keindahan laut dan langit, keindahan matahari dan bulan, keindahan bintang-bintang dan malaikat-malaikat; alasannya adalah sebagai berikut: keindahan ini adalah air mancur untuk segala keindahan yang lain”. Oleh karena itu, siapa yang mempertahankan kemampuan untuk selalu melihat dan mengkontemplasikan keindahan, ia tidak akan menua.

Seni adalah suatu ladang di mana keindahan memanifestasikan dirinya secara partikular dan seni juga adalah sesuatu revelasi sehingga melalui seni kita mempersepsikan keindahan segala yang ada. Tidak mengherankan kalau seni membentuk kesaksian yang paling sempurna dari fakta bahwa manusia memiliki intuisi akan keindahan. Sebab, ketika manusia memiliki suatu intuisi unik akan keindahan yaitu intuisi estetika hiduplah keindahan dan manusia menuangkannya di dalam karya seni. Jadi, seni menyatakan naluri manusia untuk membuat segala sesuatu menjadi indah sekaligus memunculkan pengalaman keindahan dalam arti menyenangkan indrawi dan menggembirakan batin. Tentu saja, pengalaman keindahan melalui seni melibatkan permainan akal budi, pengalaman, instuisi dan inspirasi melalui unitas dalam absen akan konsep yang determinatif. Artinya, lewat pengalamannya, seni tahu dengan baik bagaimana mengekspresikan segala sesuatunya karena seni kiranya melihat lebih daripada yang kita lihat, mendengar daripada yang kita dengar, merasa lebih dari kita yang kita rasa. Seni mengungkapkan indahnya realitas yang demikian luas dalam kontemplasi sehingga ia tidak bisa dibatasi konsep-konsep yang determinatif.

Maka, seni pada dasarnya mengekspresikan kebebasan, keutuhan (disinterest). Itu dimulai ketika seni membebaskan diri dari materi, ideologi dan segala kepentingan. Seni yang mementingkan interest tertentu sebenarnya hanya memberikan atau memenui emosinya sendiri. Justru ketika seni bebas dari kepentingan apa pun, seni menggores sakralitas. Alasannya, seni lahir dari kebebasan dan dalam kebebasan seni membangkitkan kesadaran kritis untuk memaknai dunia dengan mata berbeda: seni memalingkan pikiran kepada kebenaran; menyebabkan manusia menghasratkan kebaikan dengan cinta; membuat manusia belajar merasakan kemurnian keindahan. Jadi, seni membawa manusia dari interest kepada disinterest. Maka, seni itu bersifat universal, abadi, berlaku untuk segala tempat dan waktu karena seni menciptakan rasa akan keindahan segala ciptaan melalui kebaikan-kebaikan mereka. Rasa akan keindahan dapat diindikasikan dalam konstalasi sebagai berikut: semakin seni menciptakan keindahan yang memenuhi batin, semakin meluap pula rasa senang. Di dalamnya orang merasakan kebenaran yang paling dalam, kebaikan yang termanis dan keindahan yang paling puncak.

Seni itu membebaskan karena seni membebaskan diri dari pengalaman biasa sehari-hari dan menarik diri kepada kontemplasi akan keindahan. Di dalam kontemplasi akan keindahan, seni membuat manusia menjadi sempurna sebagai manusia karena diri ditatapkan, disatukan dan dikembalikan kepada keindahan dan sang Keindahan. Pada saat itu, seni menaburkan kebahagiaan dalam batin melalui cinta kita kepada keindahan; kita tenggelam di dalam horizon baru, dunia baru dan wawasan baru yang menyegarkan dan memperbaharui pikiran, semangat bahkan roh. Seni membuat manusia menyelami keindahan dalam misterinya sehingga manusia terpukau dan meninggalkan pergulatannya yang dangkal dan kuno, melucuti diri dari kebosanan yang beku dan membawa kepada realitas baru yang penuh dengan kekayaan makna. Seni mengantar manusia dari yang profan menuju yang suci.

Maka, seni adalah jalan manusia menuju Tuhan dalam keindahan karena seni mengantar diri kepada purifikasi batin (pertobatan), mengenal, memperdalam dan mencintai misteri ilahi. Seni menggambarkan, mengingatkan, mengatakan peristiwa-peristiwa iman sekaligus membenamkan diri kepada dunia iman: penciptaan, penebusan dan kebangkitan. Jadi, seni menciptakan jalan keindahan yang mengantar kita untuk mengenal keutuhan di dalam fragmen, infinitas dalam finitas, Tuhan dalam sejarah kemanusiaan. Kata Jeff Koons “Seni adalah aktivitas metafisika yang sedemikan rupa. Ia adalah sesuatu yang memperkaya parameter hidupmu, kemungkinan-kemungkinan dari ada, oleh karena seni kamu menyentuh transcendental dan karenanya, kamu mengubah hidupmu. Oleh karena itu pula kamu berhasrat juga mengubah hidup sesamamu. Itulah mengapa manusia bergulat dengan seni”.

[1] Agustinus, De Vera Religione, ch.32

[2] Thomas Aquinas, Summa Theologiae,  I, q.5, a.4

[3] Vanni Rovighi, Elementi Di Filosofia (Brescia: Editrice La Scuola,1999) hal 202

[4] Ibid.,  hal 203

[5] Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I-II, q. 26, a. I, ad 3

[6] St. Agustinus, Epistola, 18, 2

[7] Vanni Rovighi., op.cit., hal 205

[8] Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I , q. 5, a. 4 , ad 1

[9] Joseph M. de Torre, Christian Philosophy (Manila: Vera Reyes, 1980) hal 125

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply