Kecacatan

XLIV

Kecacatan

Francis Bacon

Lukisan Pablo Picasso, Buste de Demoiselle d'Avignon, 1907  

Orang-orang yang cacat pada umumnya setara dengan natura, karena sebagaimana natura telah berbuat keburukan melalui mereka, demikian juga mereka melakukan keburukan melalui natura; menjadi orang yang tidak penyayang[1] seperti yang dikatakan oleh kitab suci, jadi mereka mempunyai balas dendam yang bersumber dari natura. Tentu saja ada persesuaian antara akal dan raga; dan di mana natura keliru pada salah satu bagian (entah akal ataupun raga)[2], maka natura akan membahayakan yang lain. Ubi peccat in uno, periclitatur in altero. Tetapi karena di dalam diri manusia, terdapat sebuah pemilihan yang bersentuhan dengan bingkai akalnya dan suatu kebutuhan dengan bingkai raganya, maka bintang-bintang inklinasi natural sering kali dikaburkan oleh matahari disiplin dan keutamaan. Oleh karena itu, adalah baik untuk menilai kecacatan bukan sebagai pertanda karena menilai kecacatan sebagai pertanda adalah hal yang menipu; tetapi sebagai suatu penyebab, yang jarang sekali gagal akibatnya. Siapa pun yang mempunyai kecacatan yang menyebabkan dirinya terhina, maka dia pun pasti memiliki taji abadi dalam dirinya untuk menyelamatkan dan membebaskan dirinya dari hinaan. Dari sebab itu, orang-orang cacat adalah orang-orang yang sungguh amat berani. Pertama, sebagaimana di dalam pertahanan mereka, yaitu ketika mereka menjadi bual-bualan hinaan, mereka sungguh-sungguh menjadi orang yang berani dalam proses waktu melalui suatu kebiasaan yang umum. Hal ini juga merangsang mereka untuk memiliki suatu kemahiran khusus, terutama kemahiran untuk mengamat-amati dan memperhatikan kelemahan orang-orang lain sehingga mereka dapat membalas. Sekali lagi, dalam superioritas mereka, superioritas mereka memuaskan iri hati mereka yang tertuju kepada orang-orang lain, seperti pribadi-pribadi yang berpikir bahwa mereka kiranya mempunyai kesenangan untuk mengolok: hal ini menidurkan para pesaing dan orang-orang yang ingin menyamai mereka; sehingga para pesaing dan orang-orang yang ingin menyamai mereka tak pernah mempercayai bahwa mereka kiranya dapat sukses, sampai para pesaing tersebut benar-benar melihat bahwa mereka sungguh telah sukses. Jadi, secara keseluruhan, dengan kecerdasan yang luar biasa, kecacatan justru merupakan suatu keuntungan untuk bangkit. Raja-raja pada zaman dahulu (dan sampai sekarang ini di beberapa negara) berjaya karena menaruh kepercayaan kepada para sida-sida; karena sida-sida itu iri hati kepada orang-orang yang patuh dan benci kepada orang-orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Kepercayaan kepada para sida-sida menjadikan para sida-sida sebagai mata-mata yang handal dan pembisik yang ulung daripada menjadi pegawai-pegawai dan pejabat-pejabat yang baik. Dan masih ada banyak lagi alasan untuk mempercayai kepada orang-orang cacat. Dasarnya masih tetap sama, mereka akan berusaha untuk membebaskan diri mereka dari hinaan entah dengan jalan keutamaan atau kejahatan jika mereka memiliki semangat, oleh karena itu janganlah kaget jika pada suatu waktu mereka membuktikan dirinya sebagai orang-orang yang sempurna, seperti Agesilaus[3], Zanger anak Sulaiman[4], Aesop[5], Gasca[6] President Peru, dan Sokrates[7] pun dapat ditempatkan di antara mereka; dengan yang lain.

[1] Roma 1:31

[2] Tambahan dari penerjemah.

[3] Agesilaus adalah raja Sparta yang cemerlang tapi cacat. Selengkapnya tentang Agesilaus lihat essai IX; no. 2

[4] Cihangir (Zanger) adalah anak Sulaiman Agung, Sultan Turki (tentang Sulaiman Agung lihat essai XIX; no. 18) Dilaporkan bahwan Cihangir bunuh diri setelah tahu kakak tirinya, Mustapha, dieksekusi oleh ayahnya sendiri tahun 1553 (tentang Mustapha lihat essai XIX; no. 22). Cihangir dikenal sebagai Si Bengkok karena dia cacat. Hukum Ottoman Turki melarang seorang anak yang cacat untuk menjadi Sultan.

[5] Aesop adalah seorang Yunani penulis fabel dan buruk rupa. Tentang Aesop lihat essai XIII; no. 5

[6] Pedro de la Gasca (Juni 1485 – 13 November 1567) adalah seorang uskup Spanyol, diplomat dan raja muda Spanyol (semacam perwakilan) untuk Peru dari 10 April 1547 sampai 27 Januari 1550. Pedro de la Gasca dikenal sebagai seorang intelektual yang brilian.

[7] Sokrates adalah seorang filsuf Yunani dan dianggap sebagai bapa Filsafat Barat. Sokrates secara fisik jelek tetapi ia tidak cacat. Salah satu perkataan Socrates yang terkenal adalah “Yang saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa”. Di balik perkataannya, terkandung kebijaksanaan sehingga Sokrates dijuluki orang yang paling bijaksana. Sebab dengan perkataannya tersebut, Socrates mengajak setiap orang untuk bertanya tentang segala sesuatunya entah dirinya, pemahamannya, kepercayaannya supaya dengan bertanya seseorang bisa mengkritisi kesalahan, kebodohan dan mengantarnya kepada kebenaran, pengetahuan yang sejati. Selanjutnya, Socrates yakin bahwa seseorang melakukan kejahatan karena konsekuensi dari kebodohannya dan ketidaktahuannya. Maka, kebodohan dapat diatasi ketika orang mendapatkan pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang benar itu selalu didapatkan dengan bertanya. Kata Socrates: “Saya tahu bahwa kamu tidak akan mempercayai aku, tetapi bentuk tertinggi dari Kesempurnaan Manusia adalah bertanya tentang diri sendiri dan orang lain”. Kesimpulannya, usaha untuk mencari dan menemukan pengetahuan yang sejati berarti dia adalah seorang pecinta kebijaksanaan karena kebijaksanaan bersumber dan berasal dari usaha dan pencarian untuk menemukan pengetahuan yang sejati, dan seorang pecinta kebijaksanaan pastilah seorang seorang filsuf karena seorang filsuf selalu mencintai kebijaksanaan. Sokrates dihukum mati atas filsafatnya karena dituduh merusak moral Athena.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply