Kebahagiaan Manusia Yang Beretika

Lukisan William Raymond Dommersen,Italian Coastal

dg0556.5L

 

 

 

Longa est vita si plena est
Hidup akan terasa panjang apabila penuh dengan perbuatan bermakna
(Seneca, Epistola, 93)

Perkembangan zaman telah mengakibatkan perubahan di segala lini kehidupan manusia. Di tengah situasi yang semakin deras dengan perubahan, sandaran pada etika semakin mutlak. Lalu bisa dipertanyakan mengapa tuntutan etika semakin penting? Kepentingan etika tak lain adalah mengantarkan manusia kepada kebahagiaan.

Maka, etika mengklaim bahwa kebahagiaan diraih jika manusia hidup selaras dengan kebaikan. Kebaikan-menurut Aristoles- haruslah menjadi tiang dan arahan, hasrat sekaligus finalitas dari segala sesuatu yang manusia kehendaki dan lakukan. Kata Aristoteles dalam pembukaan bukunya Nichomacean Ethic: Setiap kesenian dan segala penyelidikan dan setiap tindakan dan tujuan dapat dikatakan untuk mencapai kebaikan. Jadi pada dasarnya- menurut etika- kebahagiaan menyoal hidup yang baik (to live well)[1]. Hidup yang baik mensyaratkan tindakan yang baik karena dari kodratnya manusia itu selalu menginginkan dan merindukan untuk berbuat baik (to act well)

Supaya terciptanya tindakan baik maka tidak hanya mengandaikan tindakan secara in se baik tetapi juga harus merujuk pada modus yang menghasilkan tindakan baik tersebut. Artinya tindakan dikatakan baik jika berasal dan bersumber pilihan dan keputusan yang benar dan bukan melulu dari desakan nafsu yang sifatnya emosional belaka. Untuk itu, dibutuhkanlah rasionalitas. Tanpa adanya rasionalitas hidup yang baik tidak mungkin terjadi; sebaliknya yang ada hanyalah hidup dalam keamburadulan (living in chaos). Tidak mengherankan kalau Dionisius berkata “Kebaikan kita adalah hidup berdasarkan rasio dan kejahatan kita adalah hidup yang menyimpang dari rasio”. Di sini jelaslah bahwa rasionalitas merupakan fondasi demi terciptanya hidup yang baik.

Manusia yang hidup selaras dengan rasionalitas adalah manusia yang mengedepankan keutamaan (virtue). Keutamaan dimengerti Thomas Aquinas sebagai kualitas rasio yang cemerlang yang dengannya kita hidup secara benar dan tak mungkin mengarahkan kita pada hal yang buruk (Thomas Aquinas, Ia2ae.55.4). Mekanisme rasio selalu memilihkan, mengarahkan apa yang terbaik dan apa yang benar bagi dirinya. Manusia yang baik adalah dia yang memilih memprioritaskan rasionya untuk mengendalikan nafsu-nafsunya. Manusia yang demikian pantas menyandang gelar manusia yang berbahagia karena kebahagiaan adalah kinerja sekaligus buah karya keutamaan yang mana keutamaan sendiri merupakan cetusan rasionalitas.

Manusia keutamaan

Keutamaan adalah suatu habitus yang membawa dan mengarahkan manusia untuk mengarahkan dan menciptakan kebaikan dan tindakan yang baik (Bdk. Ibid, Ia2ae.55.4). Habitus bukanlah sesuatu yang sifatnya statis dan terpola, tetapi suatu tendensi dinamis untuk bertindak dalam suatu cara yang determinatif (Peter Kreeft; 1990). Dengan demikian tendensi dinamis dalam habitus mengandung self-constancy. Self constancy menunjukkan adanya kekuatan kehendak. Buktinya bahwa orang yang memiliki self-constancy itu kokoh tak tergoyahkan menghadapi tantangan apa pun. Bahkan saat dia harus menderita, diancam atau menghadapi kematian dia akan selalu berpegang apa yang menjadi komitmennya. Jadi, diri manusia keutamaan diresapi dan ditopang dengan self-constancy. Sudah barang tentu manusia keutamaan akan selalu mencintai, menjaga dan mempertahankan keutamaan sepanjang hidupnya. Orang yang demikian, menurut Ricoeur, dapat diandalkan dan dijadikan panutan karena dia dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tentu orang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya adalah orang yang baik. Oleh sebab itu Theognis berkata: “Dari orang baiklah kita belajar kehidupan yang baik pula” (Aristoteles, Nicomachean Ethics).

Self-constancy juga menyiratkan suatu kesadaran. Kesadaran itu memampukan manusia memaknai hidupnya dan berefleksi. Konsekuensinya, aktivitas refleksi sebagai buah kesadaran membuat konstanitas keutamaan itu lebih permanen dari segalanya. Lebih mudah melupakan kebenaran ilmu pengetahuan setelah pengetahuan telah dipelajari daripada menghilangkan keutamaan. Akhirnya keutamaan itu telah terpatri dan mengendap menjadi karakter karena menurut Aristoteles keutamaan diperoleh melalui pembiasaan dan kebiasaan daripada melalui ajaran. Kita menilai, memuji sesuatu hal karena hal itu memiliki suatu karakter. Manusia keutamaan dipuji dan dikenang karena karakter keutamaannya. Sejarah telah mencatat hal itu. Lihat saja Sokrates, Mahatma Gandhi bahkan Karol Wojtyla yang merupakan kebenaran realitas itu. Memang seperti pepatah Latin keutamaan itu meluhurkan (virtus nobilitas)

Jiwa manusia keutamaan

Menurut Sokrates keutamaan manusia ada pada jiwanya karena jiwa adalah diri manusia yang sejati. Seperti halnya tubuh, jiwa itu dapat sehat atau sakit. Kejahatan membuat jiwa menjadi sakit dan mengkorupsi jiwa. Jiwa yang terkorupsi pasti membenci keutamaan. Lantas dia tidak lagi memiliki kejelasan visi moral dan tidak lagi memikirkan apakah perbuatan benar atau salah. Itulah yang disebut dengan kematian suara hati. Yang menjadi fokus jiwa yang sakit ialah bagaimana memenuhi emosi dan nafsu. Berakibat penilaiannya hanya didasarkan pada emosi dan nafsu. Tak ada lagi kualitas pikiran yang cemerlang. Dapat disimpulkan bahwa kejahatan telah menumpulkan intelek dan kehendak seorang manusia. Jiwa yang sakit merupakan representasi dan buah dari manusia yang tak berkeutamaan.

Sebaliknya yang membuat jiwa menjadi sehat adalah keutamaan. Keutamaan itu nutrisi bagi jiwa. Mengapa? Tindakan keutamaan (virtuous act) menciptakan kenikmatan (pleasure). Kenikmatan yang dimaksud tentu bukan kenikmatan sensual atau kenikmatan yang berdasarkan nafsu. Kenikmatan adalah aktivitas dari keadaan natural yang bersumber dari ada (being) seseorang (Aristotle: 245). Kenikmatan yang demikian memurnikan manusia untuk menjadi diri yang sepenuhnya sekaligus membawa kepada kebahagiaan. Manisnya keutamaan selalu mendorong manusia untuk terpikat dan jatuh cinta kepada keutamaan.

Maka, jiwa makin sehat jika berbuat keutamaan. Jiwa yang sehat itu berarti memiliki visi moral yang jelas dan pikiran cemerlang. Dengan jiwa yang sehat visinya tidak dikendalikan kecemasan, ketakutan atau nafsu. Dan juga penilaiannya menjadi obyektif, tidak didasarkan pada self-interest. Jiwa yang sehat pasti merupakan kebahagiaan bagi setiap orang yang memilikinya. Dalam jiwa yang sehat ada seruan seperti yang dikumandangkan oleh Karol Wojtyla: “Jiwaku adalah keagungan Tuhan”. Jiwa yang sehat berdiam secara definitif dalam diri manusia keutamaan. Maka, manusia keutamaan sebenarnya merupakan cetusan keagungan Tuhan sendiri. Etikalah yang membuat semuanya itu dan seperti kata Plautus:

Virtus praemium est optimum
Keluhuran budi adalah anugrah tertinggi

Daftar pustaka

Aristotle. The Nichomachean Ethics, translated by J.E.C Welldon .New York: Prometheus Book, 1997

Aquinas, Thomas. Summa Theologiae, translated by Fathers English Dominican Province. New York: Westminster Maryland, 1981

Davies, Brian. The Thought of Thomas Aquinas. New York: Oxford University Press, 1993

Sutadi, Laurensius. Faith, Revelation and Man. Roma: Urbaniana University Press, 2003

Wite, Thomas. Discovering Philosophy. New Jersey: Prentice Hall, 1991

In Memory of Karol Wojtyla

[1]

Ada yang mendefinisikan dan mengerti kebahagiaan dengan uang, kehormatan, popularitas, kenikmatan.Epikurus mengatakan bahwa kebaikan tertinggi adalah nafsu kenikmatan. Katanya: Makanlah, minumlah, bermainlah; karena sesudah mati tidak ada lagi keinginan apa-apa.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply