Jubah Merah Maria: Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Jubah Merah Maria: Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Icon: Theotokos Of Pochayiv Mary Our Lady Of Kazan Theotokos Of Tikhvin Skoroposlushnitsa

 

Sebuah Apresiasi Terhadap Lukisan Bunda Sang Penebus karya Joko Lelono

 “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak Itu “ Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Lukas 2:35)

Memandang lukisan Maria Bunda Sang Penyelamat membangkitkan imaginasi dan iman. Imaginasi yang dimaksud sini bukan suata pola yang acak, chaos tetapi sebuah keterpesonaan dan kekaguman akan misteri iman. Imaginasi melontarkan berbagai macam pertanyaan iman: mengapa Maria berdandankan jubah merah?; Mengapa Maria memandang ke depan sementara si kecil Yesus menatap ibunya? Apa artinya semuanya ini?

 Di sini, sang pelukis terampil dalam mengacak-ngacak iman pelihatnya untuk menyelami misteri iman dengan lebih dalam. Pengacakan itu menerbitkan suatu wawasan dan keteguhan iman. Dan hal itu dimulai dengan suatu keterpesonaan pelihatnya akan jubah merah Maria.

Jubah merah Maria mencelupkan pelihatnya dalam misteri penebusan Kristus. Penebusan Kristus dilakukan dengan darah-Nya. Sebab hanya Darah-Nya yang dapat mencuci, menebus dan menguduskan hidup pendosa. Nah, melalui lukisan tersebut muncullah horizon iman: darah Puteranya menembus hati Maria sehingga Maria berdandankan jubah merah. Darah Kristus melekat dan bersatu dengan jubah merah Maria. Akibatnya jubah merah Maria dapat dimaknai sebagai sebuah tanda. Tanda itu memiliki arti bahwa sudah sejak semula Maria terlibat dalam karya penebusan Kristus demi manusia. Tidak itu saja, jubah merah Maria itu sendiri menjadi lambang kesetiaan Maria dalam menemani Sang Putera menusuri jalan berduri Sang Mesias. Dengan demikian jubah merah itu bukan kain satir yang anggun ataupun sutra mahal tenunan Libanon. Jubah merah itu tak lain adalah darah Maria yang mengumandangkan kepada jagad raya bahwa ia juga merasakan penderitaan, kekosongan, kesakitan, kepedihan Penebus di kayu salib. Ketika cambuk membeset kulit Sang Mesias, paku merobek daging, duri menancap di kepala, tombak menghujam lambung, dan darah mengalir dari sekujur tubuh Penebus, tubuh Maria pun terkoyak-koyak dan tenggelam dalam darah sang Penebus. Tak ada kedekatan yang begitu erat dengan Sang Penebus selain Sang Bunda Penebus itu sendiri. Jadi jubah Merah Maria: sebuah cinta yang tersembunyi, suatu penderitaan yang terbungkam dan suatu kepedihan yang tak terselami seorang Maria. Dan hal itu membenarkan ramalan tersohor Simeon “Sebilah pedang akan menembus jiwamu”.

Tatapan Maria yang memandang ke depan juga memiliki sebuah penguatan bagi pelihatnya. Tatapan Maria itu seolah-olah berseru kepada pelihatnya: “Jangan takut anakku, aku selalu mendampingimu. Ketika kamu dalam kegundahan dan kegetiran hidup, kelelahan dan kepenatan, kuambil dan kutanggung semuanya. Sebab aku ibumu. Tak akan pernah aku membiarkan dirimu sendiri menanggung semuanya. Cintaku kepadamu tak akan pernah hilang. Aku akan selalu berdoa kepada Sang Penebus untukmu”. Tidak ada seorang pun yang pernah ditinggalkan Maria. Cintanya selalu merengkuh anak-anaknya. Layaknya sayap sang induk rajawali yang menudungi rajawali-rajawali kecil. Tidak salah jika ada adegium iman yang berkata: Per Mariam ad Jesum

         Tentu sebuah ucapan syukur dan terima kasih harus dilambungkan kepada sang pelukis, Joko Lelono. Sang pelukis mampu menampilkan sedemikian hidup keanggunan, kesemarakan bahkan kelembutan Maria sehingga pelihatnya masuk ke dalam realitas dan horizon iman yang baru. Itu berarti Joko Lelono dengan guratan-guratannya di kanvas telah menjadi pewarta iman Kristen. Salut juga ditujukan kepada Yon Wahyuono. Lukisan abstraknya mencerminkan perpaduan antara intelektualitas, kepekaan, iman, cinta dan seni menjadi sebuah harmoni warna.

Akhirnya untuk mereka berdua, semoga tak lelah dan tak padam menjadi bintang-bintang iman dalam mewartakan Kristus Sang Penebus dunia.

Per picturam ad fides:

Jesus Homines Salvatores

 

 

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply