Esensi

 Lukisan Vincent Van Gogh, Houses with Thatched Roofs, Cordeville, 1890

“Demi memiliki pengetahuan yang benar, kita harus mengerti esensi hal-hal, bukan hanya manifestasi-manifestasi mereka”

David Barenboim

Pengertian esensi

Sebagaimana dikatakan bahwa esensi adalah cara mengada ada. Secara lahiriah, esensi berasal dari esse: jika esse adalah to be (adalah) maka esensi adalah suatu cara ada. Memang, segala yang ada memiliki esse dan berkat esse kita menyebut ada-ada (entia)[1]. Tetapi juga bahwa segala yang ada memiki esensi dan berkat esensi masing-masing ada berbeda satu sama lainnya. Anggur adalah anggur, api adalah api. Jadi karena esensi, esse memiliki suatu natura yang definitif dan tetap (habet esse ratum et fixum in natura).

Maka, esensi menyatakan apa itu dari ada: apa yang mengidentifikasikan ada dan terlepas dari perubahan dan qualitas yang dimiliki oleh ada tersebut. Tepatnya esensi merujuk pada substansi: itu yang ada di dalam dirinya sendiri. Esensi diartikan dan diterjemahkan oleh pikiran lewat definisi. Ketika kita mendefinisikan sesuatu hal misalnya siapakah manusia itu kita mengeksplorasi esensi manusia. Itu berarti bahwa ketika kita berbicara esensi kita mengacu kepada esensi substansi suatu hal. Tetapi juga bahwa esensi mengacu kepada esensi suatu aksiden dalam cara tertentu dan dari suatu sudut pandang tertentu. Maka, esensi di dalam substansi adalah yang benar dan sesuai sementara esensi yang ada di dalam aksiden terjadi dengan suatu qualifikasi. Dan karena esensi, aksiden-aksiden memiliki esensi pula sehingga aksiden memiliki definisi. Tetapi aksiden memiliki definisi tak sempurna karena mereka tak bisa didefinisikan kecuali suatu substansi dimasukkan ke dalam definisi mereka. Akibatnya aksiden-aksiden tidak memiliki eksistensi di dalam diri mereka sendiri ketika mereka sebagai subyek yang lepas dari substansi atau subyek. Dengan demikian, dalam arti yang luas, esensi merujuk kepada segala sesuatunya, baik itu substansi, properti ataupun aksiden, karena segala sesuatunya memiliki gagasan yang membuat itu sebagaimana adanya. Dan berkat esensi terhadap segala sesuatunya kita dapat bertanya, apa itu, apa warnanya, apa bentuknya, dan seterusnya. Tetapi di dalam makna yang ketat, esensi hanya menyangkut substansi saja dan mengekspresikan species yang menjadi bagian substansi saja, sebagai contoh esensi manusia adalah binatang berakal budi atau suatu ada yang tersusun dari tubuh dan jiwa.

Tentu, esensi selalu mengkonkretkan dan mengunikkan ada. Mengapa? Esensi sesuatu hal adalah apa yang menjadi hal itu sendiri sehingga memiliki esensi berarti menjadi hal yang unik. Faktanya segala yang ada dibedakan satu sama lain oleh karena esensi yang menspesifikasikannya. Dalam kalimat interogatif esensi dirumuskan dalam pertanyaan apa itu. Kita pun menjawab: ini buku, ini apel, dan seterusnya.

 

Esensi mencakup genus dan spesies

Esensi dapat didefinisikan sebagai itu yang membuat sesuatu hal menjadi ini-itu sehingga melalui esensi, segala yang ada dipayungi di bawah genus dan spesies yang merupakan modus ada universal secara logika. Misalnya kuda, badak, zebra merupakan genus dari binatang dan spesies mereka adalah mamalia. Genus dan spesies selalu menjadi ranah esensi karena genus dan spesies menyatakan esensi secara keseluruhan yaitu itu yang ada di dalam individu walaupun genus dan spesies mengekspresikan esensi di dalam cara yang berbeda: genus menunjukkan esensi dalam cara yang tak terdeterminasi  sementera species dalam cara yang sudah terdeterminasi. Dengan demikian, genus dan spesies membuktikan bahwa esensi menyatakan suatu modus atau cara ada, suatu cara unik ada dari sesuatu hal.

 

 

Esensi dan Esse

Agar semakin jelas apa itu esensi, maka kita harus mengkaitkannya dengan esse karena esensi selalu terkait dengan esse di dalam kesatuan. Ada ciptaan adalah suatu realitas dan kesempurnaan karena ada adalah ada dari esse yang merealisasikan esensi. Konsekuensinya, esensi itu sendiri bukan suatu ada ataupun ada ciptaan hanya melulu terdiri dari esse tanpa esensi. Di sini kita berbicara esensi dan esse sebagai dua elemen ada yang terkait satu sama lain sebagai potensi dan aktus. Thomas menyimpulkan bahwa esse adalah actus essential dan esensi diciptakan bersamaan dengan adanya[2]. Tentu saja esse menyesuaikan diri secara tepat kepada esensi, sebaliknya pula bahwa esensi disebut sebagai esensi sejauh hal memiliki esse di dalamnya dan melaluinya. Esensi dibawa kepada realitas oleh esse sehingga esensi memiliki realitasnya hanya di dalam ada yang bergantung kepada kekuatan dari realisasi esse.

Walaupun demikian, karena esse dan esensi merupakan kesatuan yang serempak di dalam ada, esensi juga memberikan causalitasnya terhadap ada: memang di satu sisi esensi direaliasikan dan dijadikan aktual oleh esse sebagaimana potensi diaktualkan oleh aktualitas, tetapi esensi juga mengunikkan dan memiliki fungsi determinatif  dalam koridor bahwa esse yang diterima, dibatasi, dan dideterminasi oleh esensi sehingga esse menjadi realisasi dari esensi yaitu hal yang konkret, hal yang mengada. Ketika terdapat hal konkret, hal yang mengada pasti memilik modus ada yang partikular. Disebut esensi dari fakta bahwa melalui dan di dalam esensi suatu ada real memiliki eksistensi yang unik[3].

Jadi, perbedaan penting esensi dan esse adalah bahwa sebagaimana materi tidak menetapkan forma substansial (kecuali dalam tataran bahwa materi membatasi forma) maka esensi membatasi dan menetapkan esse dalam arti esse menyesuaikan kepada esensi. Esse diterima, dibatasi dan dideterminasi oleh esensi tetapi bukan berarti bahwa esse menerima kesempurnaan dari esensi. Realisasi  esensi oleh esse adalah hal-hal yang mengada. Esensi yang direalisasikan oleh esse disebut esse essentiae[4] .

 

 

Properti-properti esensi

Sebagai modus ada, esensi memiliki properti-properti yang mengacu kepada realitas yang satu dan sama. Berikut ini adalah properti-properti dari esensi yang kiranya semakin membantu kita memahami esensi:

  • Natura

Esensi disebut juga natura karena natura adalah prinsip operasi dan aktivitas ada walaupun sering kali natura dipahami sebagai esensi tanpa bersangkut-paut dengan aktivitas. Berdasarkan naturanya, manusia adalah makhluk sosial sehingga manusia bersahabat (aksi) dengan sesamanya. Aktivitas bersahabat mengalir dari natura manusia atau dari esensi manusia. Selanjutnya, apapun yang bisa ditangkap oleh intelek disebut juga suatu natura karena suatu ada real dapat ditangkap dan dimengerti oleh intelek karena esensi atau definisinya. Karena ada dapat dibagi ke dalam kesepuluh kategori, maka terminologi esensi menunjukkan sesuatu yang umum bagi segala natura sehingga natura ada yang berbeda diklasifikasikan ke dalam genus dan spesies yang berbeda sebagai contoh kemanusiaan adalah esensi manusia[5]. Kuda adalah binatang (genus) berkaki empat (spesies).

  • Definisi

Esensi disebut konsep di dalam logika. Ketika ekspresi esensi diekplisitkan di dalam pikiran maka disebut definisi. Definisi menyatakan formula interogatif yaitu apa itu (quod quid est) sehingga definisi sesuatu hal membedakan satu hal dengan hal yang lain. Misalnya kita mendefinisikan manusia sebagai makhuk sosial sementara kucing sebagai binatang yang tidak memiliki rasionalitas. Definisi dikatakan juga sebagai quidditas. Ada real tidak akan dipahami dan tidak bersifat inteligibel kecuali melalui definisi- quidditas[6]. Namun, esensi tidak menjadi milik segala tipe konsep tetapi esensi menjelaskan nama-nama hal yang adalah suatu definisi[7]. Jadi tidak setiap konsep adalah suatu definisi. Misalnya: apa ini? Ini adalah sebuah buku, sebuah rumah, dan seterusnya. Nama-nama itu mengekspresikan suatu definisi, menyatakan sesuatu esensi dan juga hal yang pokok yang kita sebut substansi. Sebaliknya konsep yang tidak menyatakan esensi sebagai berikut: apa ini? Ini merah; ini kg, ini cepat. Pikiran kita tidak menangkap konsep kg, cepat, merah.  Dengan demikian definisi suatu hal selalu terkait dengan esensi  secara general.

  • Forma

 

Esensi juga dikatakan sebagai forma dalam arti tertentu dan ketat sebab apa yang menetapkan sesuatu hal menjadi unik atau itu yang melaluinya setiap hal adalah demikian secara unik dan bukan yang lain adalah forma. Manusia adalah manusia, bebek adalah bebek. Esensi disebut forma dalam tatanan bahwa forma menunjukkan determinasi utuh dari masing-masing ada real[8]. Yang patut diingat bahwa forma di dalam ada komposisi selalu membutuhkan materi, tak pernah ada forma tanpa materi di dalam ada komposisi.

 

 

 

Esensi ada ciptaan (substansi komposisi)

 

Ada material atau substansi komposisi bersifat generatif dan koruptif. Hal ini disebabkan oleh esensinya yang terdiri dari materi dan forma sebagai satu kesatuan. Konsekuensinya, definisi ada-ada material selalu menyangkut materi dan forma sehingga mereka tidak bisa didefinisikan oleh forma saja atau materi saja walaupun forma yang memberikan bentuk determinatif. Akan terjadi kekeliruan misalnya mendifinisikan manusia hanya sebagai jiwa saja tanpa menyangkut pula materinya yaitu tubuhnya.

Materi melulu bukanlah esensi dari suatu ada komposisi karena melalui materi dan forma ada real dapat diketahui dan berada di dalam suatu spesies atau genus. Akibatya, materi saja bukanlah suatu prinsip pengetahuan atau bukanlah itu yang membuat sesuatu di bawah genus atau spesies, tetapi materi hanyalah sesuatu yang ditegaskan di dalam spesies atau genus oleh adanya yang aktual[9].

Demikian juga bahwa forma saja bukanlah esensi dari komposisi substansi. Misalnya menurut Averroes esensi sesuatu hal adalah forma saja tanpa ada materi. Pendapat Averroes sejalan dengan Plato bahwa esensi adalah forma murni. Sebab jelas bahwa esensi adalah apa yang diartikan oleh definisi dari suatu hal real[10] sementara hal real selalu terdiri dari materi dan forma. Definitif bahwa esensi substansi komposisi selalu terdiri dari materi dan forma. Natura yang dimiliki spesies atau genus di dalam hal-hal generatif adalah komposisi materi dan forma[11].

Maka esensi suatu substansi dapat dipandang di dalam dua cara:

  1. Esensi real atau fisik

Adalah esensi yang eksis di dalam substansi dan bebas dari cara pandang kita. Kita mengerti esensi fisik ketika kita memahami suatu ada sebagai suatu komposisi dari elemen-elemen yang berbeda di dalam ada itu sendiri. Kita mengekspresikan dan menyatakan esensi fisik dengan menyebutkan bagian-bagian yang sungguh berbeda seperti tubuh dan jiwa di dalam manusia.

  1. Esensi metafisika

Adalah esensi yang dipahami sebagai yang terbentuk dari bagian-bagian yang tidak real dan berbeda secara logika. Esensi metafisika diekspresikan dengan menyebutkan qualitas-qualitas yang tidak berkorespondensi dengan bagian-bagian distingtif dari suatu ada. Misalnya kita menyebut manusia sebagai binatang berakal budi. Tentu saja kita tidak bisa mengasumsikan bahwa binatang dan akal budi merupakan dua elemen distingtif yang membentuk manusia seperti halnya tubuh dan jiwa. Binatang itu sendiri berakal budi tetapi ketika akal budi dieleminasi yang tinggal adalah tubuh yang tak bernyawa bukan binatang. Dalam eksistensi fisik, esensi tidak kekal karena diciptakan di dalam waktu, tetapi esensi di dalam eksistensi metafisika kiranya tetap (tidak berubah) karena esensi selalu tetap selagi substansi tetap ada karena hanya aksiden saja yang berubah, bukan substansi. Di dalam entitas logika, esensi selalu kekal dan tetap karena hal selalu demikian dan benar misalnya suatu bagian selalu lebih kecil daripada keseluruhan, ada selalu indah, benar, baik dan satu, manusia adalah binatang rasional

 

 

Esensi dan eksistensi

Essensi kiranya dideskripsikan sebagai apa dari sesuatu hal. Dengan kata lain, essensi adalah qudditas sesuatu hal, itu yang diketahui tentangnya dengan cara membentuk suatu konsep. Esensi mencakup prinsip formal bagi realitas komposisi sehingga esensi diabstraksikan oleh intelek manusia. Esensi menyiratkan prinsip universal yang menjadikan materi-materi individual menjadi sama dan juga berbeda satu sama lain (keunikan). Misalnya api adalah api, air adalah air. Jadi esensi mewarnai eksistensi sehingga eksistensi di satu sisi menjadi sama karena forma determinatif di dalam individu yang sama (materi yang sama) dan di sisi lain berbeda  karena forma determinatif yang berbeda antara individu (materi yang berbeda).

Eksistensi adalah itu yang faktual, itu yang membuat sesuatu menjadi real sehingga eksistensi membuat esensi menjadi ada atau real. Dengan menerima eksistensi, suatu ada posibilis menjadi aktual, misalnya pohon mawar mungkin tumbuh di taman kota dan menjadi aktual. Eksistensi memiliki peran yang demikian karena eksistensi adalah act of esse.

Maka dalam konteks ada ciptaan (ens commune) eksistensi dan esensi suatu ada merupakan hal yang berbeda. Esensi disebut sebagai esensi karena melalui esensi dan di dalam esensi suatu ada real memiliki eksistensi yang unik, khas, determinatif. Akibatnya esensi adalah itu yang dapat mendefinisikan suatu hal yang memiliki eksistensi. Memang esensi adalah itu yang mendefinisikan eksistensi tetapi esensi bukanlah eksistensi. Sementara eksistensi adalah itu yang membuat esensi dalam aktualitas sehingga dengan adanya eksistensi esensi bukan lagi suatu potensi tetapi sungguh sesuatu yang mengada. Dengan eksistensi, esensi mengada di dalam dunial aktual. Jadi bukti aktualitas ada dengan esensinya adalah eksistensinya[12].

Selanjutnya, kalau esensi dapat dibagi menjadi potensi dan aktual, maka eksistensi selalu aktual dan tak mungkin potensial. Konsekuensinya, memang kita tidak dapat mengerti suatu esensi tanpa memahami bagian-bagian dari esensi. Namun kita bisa memahami esensi sesuatu hal tanpa mengetahui eksistensinya. Misalnya kita dapat memahami esensi manusia atau esensi pegasus tanpa perlu memahami eksistensi keduanya.

Dalam konteks ada ciptaan, esensi ada tidak dapat dan tidak mungkin menjadi causa untuk eksistensi-nya. Segala sesuatu yang memiliki esensi yang berbeda dengan eksistensinya pasti disebabkan oleh yang lain. Segala ada ciptaan, segala eksistensi yang tak sempurna berpartisipasi hanya di dalam eksistensi sempurna yaitu Ipsum esse Subsistens. Itulah hakikat dari ada ciptaan. Akhirnya hubungan esensi dan eksistensi dikatakan dengan indah oleh Maritain:

Esensi dipusatkan pada eksistensi sehingga akan menjadi kontemplasi yang menatap kepada kedalaman ontologis dari ada-ada di mana ke-apa-an atau esensi hal-hal menunjukkan kedalaman wajahnya yang adalah eksistensi. Dan esensi yang mengada ini, yang mengada ini, menarik kita lebih jauh ke dalam pusat misteri ada di mana Tuhan tinggal”.

 

[1] Dalam bahasa Latin, entia adalah bentuk plural dari ens

[2] Thomas Aquinas, De Potentia, q.3, a.5 ad 2: “Ipsa quidditas creatur simul cum esse … Deus dans esse simul producit id quod esse recipit”.

[3] Ibid., De Ente et essentia, no. 11

[4] Ibid., I Sententiarum, d.33, q.l, a.l ad 1.

[5] Ibid., De ente et essentia no. 6

[6] Ibid., no. 9

[7] Ibid, VII Metaphysiscs, lect. 3, no. 1324

[8] Thomas Aquinas, De Ente et Essentia no. 8

[9] Ibid., no.15

[10] Ibid., no. 16

[11] Ibid., no.19

[12] Heiddeger menyebut eksistensi sebagai habitat dari kebenaran ada

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply