Dunia & Dinamikanya Dalam Penyelenggaraan Ilahi

 

Lukisan: Paul ELie Ranson, Apple Tree With Red Fruit

Hal-hal yang paling manis dan terindah yang ada di dunia tidaklah dapat dilihat ataupun disentuh.  Mereka  harus dirasakan dengan hati.

                                                                                                     Helen Keller

Dunia mempresentasikan ritmenya, ruang dan waktunya. Di balik representasinya, dunia adala suatu misteri yang suci. Sebagai misteri yang suci dunia bukanlah satu entitas yang terbangun dari totalitas fakta, yang dapat diinterpretasikan secara subyektif lepas dari makna sakralnya. Interpretasi subyektif yang demikian menjadikan dunia sebagai finalitas yang absolut, dunia menjadi nilai yang absolut  lalu malah kehilangan nilai-nilainya karena hanya di dalam Tuhan ditemukanlah nilai segalanya termasuk dunia. Dunia bermakna karena dunia adalah suatu sakramen kehadiran Tuhan. Cendela penyingkapan dunia tentu melalui manusia karena peran dan kiprahnya terhadap dunia. Namun ia tidak mengada sendiri tetapi mengada bersama ciptaan lain. Ia, ciptaan lain dan segala yang ada terangkai di dalam satu tempat yang disebut dunia dan membangun dunia. Karena eksistensi segala ciptaan, dunia berdinamika dalam kebaikannya. Demi kebaikannya, dunia tidak akan pernah berhenti bahkan untuk sesaat pun. Dalam dunia, kebaikan mengikuti kebaikan dan kebaikan akan selalu datang oleh karena penyelenggaraan ilahi

  

Peran causa sekunder untuk dunia

Dunia merupakan suatu hirarki ada dengan segala modusnya. Hirarki ada berarti bahwa di dalam tatanannya terdapat ada yang lebih sempurna dan ada yang kurang sempurna, ada yang lebih mengaktual dan ada yang kurang mengaktual, ada yang memiliki kebebasan secara utuh dan ada yang kurang utuh tetapi semuanya berada di dalam kesatuan dan keharmonian dengan perannya masing-masing. Ada yang lebih tinggi mengatur dan menata ada yang lebih rendah tetapi juga ada yang lebih rendah menopang dan menguatkan ada yang lebih tinggi dan lebih sempurna. Peran masing-masing ada membawa kepada kebaikan baik untuk dirinya, ada yang lain dan dunia secara keseluruhan. Modus ada sendiri dapat dibagi menjadi modus ada niscaya dan modus ada kontingen[1]. Ada niscaya tentu adalah Tuhan sendiri dan ada kontingen adalah ciptaan, natura. Tetapi juga bahwa ada kontingen ciptaan dapat dibagi menjadi ada niscaya yang adalah benda-benda langit dan ada kontingen yang terdiri segala sesuatu yang di bawah langit. Benda -benda langit itu niscaya karena tidak berubah di dalam substansi mereka dan hanya menjadi subyek pergerakan lokal. Karena itu, mereka memiliki kekuatan yang sifatnya lebih universal daripada benda-benda di bawah mereka. Dalam kekuatan universal, mereka menggerakkan dan mempengaruhi benda-benda yang partikular[2]. Akibatnya, benda-benda langit lebih berdaya-guna dan lebih kuat daripada benda-benda yang di bawahnya karena mereka menentukan dan mengatur segala yang ada di bawah mereka. Misalnya, sinar matahari memampukan natura yang di bawah langit untuk melakukan generasi dan memberikan kehidupan, pemeliharaan dan pertumbuhan. Gravitasi bulan mempengaruhi pasang surut air laut. Perputaran bumi pada porosnya menghasilkan siang dan malam yang menentukan kehidupan dunia. Sementara, natura-natura yang ada di bawah mereka menjadi subyek perubahan baik generasi dan korupsi. Tanpa ada sinar matahari, bunga tidak akan tumbuh tetapi juga dengan sinar matahari benih menjadi tumbuh. Ada kontingen benda-benda langit meneguhkan hirarki ada karena perannya di dalam dunia. Peran benda-benda langit yang demikan dapat disimpulkan bahwa mereka merupakan causalitas bagi benda-benda yang di bawah langit dalam garis pergerakannya. Maka, efek-efek fisik yang dihasilkan oleh benda-benda langit merujuk kepada penyelenggaraan ilahi yang bekerja melalui mereka. Causalitas mereka bagi ada-ada yang di bawahnya merevelasikan bahwa mereka adalah instrumen untuk mengatur dan menata dunia; mereka merupakan instrumen yang dengannya penyelenggaraan ilahi dijalankan dan dilaksanakan[3]. Namun mereka bukan sebagai instrumen untuk karya penciptaan karena mereka tetap ada kontingen dengan keterbatasannya karena ibarat seni yang tidak dikomunikasikan kepada palu karena palu hanyalah instrumen seni itu sendiri[4]. Jadi, dalam penyelenggaraan-Nya, Tuhan menata, membimbing mengatur ada yang lebih rendah melalui ada yang lebih tinggi karena hirarki ada dan pilar bimbingan-Nya bukan berdasarkan kepentingan tetapi dari kebaikan-Nya yang direvelasikan kepada ciptaan-Nya dan martabat ciptaan untuk bercausalitas di dalam hirarki ada.

Bisa dipastikan bahwa kehidupan dunia berlangsung demikian adanya karena tatanan keragaman ada, relasinya satu sama lain dalam hirarkinya. Karena terdapat keragaman ada di dalam hirarkinya maka pasti juga memuat keragaman tatanan causalitas. Sungguh suatu keunikan yang mana ada dengan causalitasnya saling mempengaruhi satu sama lain secara timbal balik. Pengaruh causalitas ada saling bekerja sedemikian rupa sehingga di dalam dunia kita dapat menemukan hubungan konstan yang tak terhitung jumlahnya yang terjalin dengan diam-diam. Dalam hubungan yang demikian, keragaman tatanan causalitas mengacu kepada adanya berbagai tipe causalitas sekaligus menyatakan fakta analogis causalitas. Analogi causalitas mengungkap terdapatnya ketergantungan suatu ada kepada ada yang lain tetapi juga kemandiriannya terhadap ada yang lain. Selain itu, segala tipe causalitas akan berbagi sesuatu yang sama yaitu menyoal hubungan ketergantungan efeknya kepada causanya tetapi juga berbeda satu sama lain yaitu menyoal cara causalitasnya[5]. Fungsi analogi causalitas ini sangat relevan untuk mempertimbangkan tindakan kreatif sang Pencipta dan penyelenggaraan-Nya.

Tindakan kreatif-Nya mengusung causalitas-Nya dan causalitas ciptaan di dalam dunia dan dinamikanya. Tuhan menyediakan causa niscaya dan causa kontingen yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek niscaya dan efek kontingen demi kebaikan dunia dan kedua efek tersebut membuat segala ciptaan bergerak menuju kepada Tuhan sang Pencipta sebagai finalitas mereka. Ada keterhubungan yang intim antara Tuhan dan segala yang ada bahkan Tuhan adalah segalanya. Dalam hubungan yang intim tersebut, terukir pula kerja sama yang demikian intim antara causalitas sang Pencipta yang niscaya dan causalitas ciptaan yang kontingen. Kerja sama tersebut dapat diartikan secara lebih mendalam bahwa sang Pencipta sebagai causa pertama bekerja melalui causalitas sekunder yaitu dalam dan melalui ciptaan bagi keberlangsungan dunia. Bagaimana kerja sama causa ilahi -causa primer-  dengan causa ciptaan -causa sekunder- diartikan dalam keberlangsungan dunia?

Causalitas sekunder bersifat kontingen karena naturanya yang kontingen. Kontingen bermakna bahwa ia bersifat sementara, temporal, tak pasti, ia dapat mengada suatu waktu tetapi juga suatu waktu tidak mengada atau binasa. Akibatnya, causalitas ada kontingen tidak bisa menjadi causalitas segala ada yang ada karena naturanya yang koruptif. Misterinya, walaupun dengan natura ciptaan yang demikian, penyelenggaraan ilahi sebagai causa primer justru diefektifkan dan diaktualkan melalui causa sekunder lewat tindakan maupun operasi ciptaan; penyelenggaraan ilahi berlangsung dan bekerja karena causa kontingen ciptaan dalam arti causa kontingen sebagai eksekutor penyelenggaraan ilahi[6]. Penyelenggaraan ilahi yang bekerja melalui causa sekunder menegaskan martabat ciptaan bahwa Tuhan yang mahakuasa memperkenankan causa sekunder menjadi causa yang real sehingga causa sekunder menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penyelenggaran-Nya. Sebagai contoh, bunga tumbuh mekar karena adanya causalitas ciptaan yang saling bersinergi yaitu sinar matahari yang cukup, kelembaban yang baik, ada penyertaan kumbang, tanah yang subur, manusia yang menanam dan merawat. Kemajuan ilmu pengetahuan seperti penemuan listrik, teknologi komunikasi yang semakin memajukan peradaban menunjukkan peran causa sekunder bagi kebaikan dunia.

Kemudian, karena Tuhan bekerja di dalam causa sekunder, maka tindakan causa sekunder adalah tindakan-Nya sendiri. Setiap pelaksanaan sesuatu yang terjadi di dunia melalui tindakan, kegiatan ciptaan dapat dikaitkan pula dengan Tuhan sebagai causalitasnya. Tuhan dikatakan sebagai causa tindakan ciptaan karena Tuhan memberikan ada dan menopang kekuatan causalitas di dalam eksistensi mereka. Melalui penyelenggaraan-Nya, Tuhan mempengaruhi jalannya natura dengan kehendak dan alasan-Nya, dengan menggerakkan causa sekunder untuk bercausalitas demi mencapai tujuan yang dia kehendaki untuk dunia. Ide dasarnya adalah bahwa ketika Tuhan menyebabkan setiap tindakan natura dan manusia, agen-agen tersebut sungguh bergantung dalam aktivitas mereka dan dalam kapasitas causalitas mereka, yang mampu merealisasikan efek yang ditentukan dari natura mereka maupun juga gagal dalam melaksanakan causalitas mereka. Setiap ada ciptaan, gerakannya, operasinya berlangsung dalam penyelenggaran-Nya dan juga bahwa apa yang berasal dari operasi causa sekunder tunduk pada penyelenggaraan ilahi[7]. Jadi apa pun yang dilakukan oleh individu-individu baik kegiatannya, operasinya mengacu kepada pekerjaan dan karya-Nya sendiri. Causa sekunder dan efeknya melacak kembali Tuhan yang berkarya melalui ciptaan untuk mencapai tujuan-Nya: kebaikan setiap ada ciptaan.  Tuhan secara per se adalah causalitas segala causalitas -termasuk causalitas kontingen- yang mengatur dunia dan dinamikanya. Segala yang baik yang ada di dalam ciptaan dan yang ada di dalam pengalaman dunia ditemukan di dalam Tuhan. Segala kesempurnaan adalah Tuhan karena segala kesempurnaan disatukan oleh Tuhan sendiri[8]. Tentu saja, penyelenggaraan ilahi yang berkerja dengan dan bersama causa sekunder menyuarakan bahwa Tuhan berkarya melalui kehendak-Nya dan pengetahuan-Nya, bukan dengan keniscayaan natura-Nya. Peran causa contingen sebagai eksekutor penyelenggaraan ilahi juga menggemakan keindahan dunia: Tuhan yang bertindak dan berkarya terus-menerus di dalam dunia, bahwa ia begitu dekat dan intim dengan ciptaan-Nya dan penyelenggaraan-Nya bekerja di dalam dan melalui setiap aktivitas agen ciptaan yang sepenuhnya terlibat dalam perkembangan sejarah dan kemanusiaan. Tetapi juga bahwa setiap ciptaan mencerminkan diri-Nya dan mengabarkan suatu pesan cinta-Nya kepada dunia. Dalam cinta-Nya berarti tidak ada satu pun ciptaan yang berada di luar manifestasi-Nya: “Dari pemandangan panorama terluas hingga bentuk kehidupan terkecil, natura selalu menjadi sumber keajaiban dan kekaguman[9]. Justru karena causalitas-Nya, ada ciptaan dan dunia dipenuhi dengan kata-kata cinta (paus Fransiskus). Tuhan menulis sebuah buku yang indah “yang huruf-hurufnya direpresentasikan oleh segala makhluk yang ada di alam semesta.” Buku yang indah itu mengungkapkan hubungan antara Tuhan Sang Pencipta dengan ciptaan dan antar ciptaan dan dunia bukanlah suatu entitas yang terpisah, tertutup dan menyangkal kesatuan hirarki ada tetapi di antara segala yang ada di dunia menciptakan suatu persekutuan universal antara satu sama lain[10].

Persekutuan universal segala yang ada dan peran causa sekunder ciptaan dalam operasi dan karyanya sebagai eksekutor dari penyelenggaraan ilahi membuktikan pula bahwa kemahakusaan sang Pencipta tidak mengkerdilkan dan menentang peran ciptaan tetapi justru mengafirmasi otonomi ciptaan dalam perannya di dunia ini. Bahkan, otonomi tindakan ciptaan dijamin oleh causalitas kreatif-Nya yang terus-menerus. Artinya, penyelenggaraan-Nya menjangkau segala ciptaan tetapi  bukan berarti bahwa segala ciptaan ditentukan atau dideterminasi oleh-Nya. Ciptaan tetap diberi kebebasan yang sesuai dengan kapasitas naturanya untuk bertindak, beroperasi, berkarya dalam dirinya sendiri maupun dalam relasinya dengan ciptaan lain. Kebebasan itu nyata karena causa sekunder disebabkan oleh causa pertama sehingga causa sekunder sebagai efek causa pertama memiliki kekuatan untuk menciptakan causalitasnya sendiri, bertindak sesuai dengan kapasitas dirinya sebagai anugerah dari causa pertama. Anugerah menggarisbahwai bahwa causalitas primer menjadi kekuatan causalitas sekunder dalam tindakannya dan kebebasannya. Kekuatan yang dianugerahkan kepada ciptaan juga membuktikan pemeliharaan dan penjagaan-Nya kepada ciptaan karena melalui semuanya itu Tuhan menjaga, hadir terus-menerus dan penyelenggaraan-Nya bekerja secara aktif di dunia. Kebebasan yang dianugerahkan kepada ciptaan semakin membuka dan menjelaskan causalitas ciptaan dalam hubungannya dengan causalitas-Nya: ia bebas tetapi juga sekaligus tergantung[11]. Kebebasan tidak meniadakan ketergantungannya kepada sang pencipta. Artinya, Tuhan adalah causa pertama dari segala yang ada karena causalitas-Nya adalah eksistensi segala yang ada tetapi juga bahwa tanpa causalitas-Nya segala yang ada tidak akan ada.

Maka, indahnya dunia dalam dinamikanya adalah eksistensi perantara sebagai eksekutor penyelenggaraan ilahi dan momen penyelenggaran-Nya yang bertindak di dalam dan melalui agen ciptaan (perantara). Jelas, kesempurnaan penyelenggaran ilahi dimanifestasikan oleh causa pertama dengan lebih baik. Sebabnya, tatanan causa lebih agung dan lebih baik daripada tatanan efek. Namun, jika tidak ada perantara yang melaksanakan penyelenggaraan ilahi, tidak akan ada pula tatanan causa dalam kenyataannya sehingga yang ada hanyalah tatanan akibat-efek[12]. Oleh karena itu, kesempurnaan penyelenggaraan ilahi menuntut adanya realitas perantara sebagai pelaksana penyelenggaraan ilahi. Dengan peran ciptaan sebagai causa sekunder, dunia menjadi dunia yang sempurna. Sebaliknya, dunia akan menjadi tidak sempurna jika causalitas kontingen dan causa sekunder tidak disisipkan ke dalamnya[13]. Tanpa adanya kontingensi, jelas generasi dan korupsi akan hilang tetapi juga bahwa segala pergerakan dan perubahan yang menjadi bagian dari dinamika dunia lenyap[14]. Terhadap peran causa sekunder dalam penyelenggaraan ilahi, Bernard Lonergan mengatakan dengan indah: “karena Tuhan adalah causa universal, maka penyelenggaran-Nya haruslah pasti; tetapi karena Dia adalah causa transcendental, tak mungkin ada ketidakcocokan antara kontingensi ada ciptaan dan kepastian causalitas penyelenggaraan-Nya”. Keserasian causalitas penyelenggaran ilahi dan dan ada ciptaan membuat dunia terbentang di hadapan-Nya dan Ia memenuhinya dengan kebaikan secara menyeluruh[15] melalui causalitas-Nya dan causalitas kontingen.

Peranan causa sekunder atau pengantara di dalam penyelenggaraan ilahi membantah penjelasan pandangan occasionalisme yang menyatakan bahwa segala sesuatunya yang terjadi di semesta disebabkan oleh Tuhan secara langsung dan bukan oleh causa ciptaan. Tuhan melakukan dan berkarya tanpa perlu adanya peran serta kekuatan ciptaan sehingga Tuhan sama sekali tidak membutuhkan causa sekunder. Misalnya, bukanlah api yang menyebabkan panas tetapi Tuhan sendiri. Meniadakan peran ciptaan di dalam penyelenggaran ilahi sebenarnya tidaklah mungkin. Ada dua alasan yang dapat membuktikannya:

  1. Meniadakan peran ciptaan di dalam penyelenggaraan ilahi mencabut rahmat ciptaan akan causalitasnya sehingga membuat tidak berdayanya sang agen karena kekuatan agen adalah memberikan suatu efek melalui kapasitas causalitasnya. Tuhan pun menjadi kerdil di dalam aktivitas dan penyelenggaraan-Nya karena kemampuan ciptaan untuk berkausalitas secara nyata walaupun dalam keterbatasannya sebagai ciptaan justru mencerminkan kekuatan dan kemahakuasaan diri-Nya.
  2. Jika causalitas ciptaan tidak berarti apa-apa dalam arti semua dikerjakan langsung oleh Tuhan, maka tidak ada gunanya Tuhan menciptakan ciptaan dan sia-sia memberikan kepada ciptaan kekuatan operatifnya dalam naturanya. Bahkan jika ciptaan sama sekali tak berdaya dalam causalitasnya, maka eksistensi mereka pun juga sia-sia. Dengan demikian tidak perlu ada penciptaan dengan perannya masing-masing. Justru dengan fakta ada kontingen yang bekerja dalam dan sebagai penyelenggaraan ilahi maka kehendak manusia dan natura diberi tempat.

Tetapi, eksistensi dan peran causa sekunder bukan merehmenkan kemahakuasaan Tuhan dalam arti bahwa Tuhan tidak dapat berkarya tanpa perantara. Tuhan tetap dapat berkarya tanpa perantaraan ciptaan tetapi Tuhan juga menghormati tatanan ada, naturanya dan hukum-hukumnya. Segala sesuatunya melayani tujuan final-Nya, suatu tujuan yang tidak dapat digagalkan, tanpa kekerasan dan selaras dengan dinamika dunia karena tidak melanggar hukum natura, tetapi malah mengefektifkan dan mengaktualkan tujuan-Nya melalui hukum natural tersebut. Jadi, Tuhan menciptakan dunia dengan menuliskan di dalamnya suatu tatanan dan dinamisme yang melukiskan keindahan dunia dan ciptaan[16]. Dunia diciptakan untuk memproklamasikan kemuliaan TUhan, untuk menolong kita menemukan TUhan di dalam keindahannya (Paus Fransiskus). Dalam terang penyelenggaraan ilahi dunia menuntun kita kembali kepada-Nya dan pada saat yang sama dunia diselamatkan dan dikuduskan oleh peran causa sekunder karena causa sekunder adalah instrumen-Nya sendiri untuk dan demi kebaikan dunia. Selalu ada orang-orang yang bertindak dalam cinta yang tak bersyarat bagi ciptaan dan dunia.

 

Kebetulan dalam terang penyelenggaraan ilahi

Realitas penyelenggaraan ilahi menegaskan bahwa segala sesuatunya yang berlangsung di dunia juga melibatkan kemungkinan. Kemungkinan itu bisa berupa kebetulan, keberuntungan, ketidaksengajaan. Dalam kasus hal-hal yang jarang terjadi membuktikan bahwa mereka adalah realitas yang tak bisa disangkal. Di dalam mereka peristiwanya yang tercipta tidak ditentukan oleh causalitas secara determinatif, tanpa kepastian dari causalitas atau acak. Misalnya seorang petani menggali tanah untuk menanam sayur tetapi tak sengaja pula ia menemukan koin emas peninggalan kerajaan kuno.

Pertanyaannya apakah kebetulan bagian dari peristiwa penyelenggaraan ilahi? Jika ya, bagaimana memahaminya dalam kaitannya dengan penyelenggaraan ilahi?

Fisika modern menyatakan bahwa ada proses natural yang sifatnya acak dan sungguh tanpa causalitas. Jadi bagi fisika modern kebetulan dan ketidaksengajaan hanyalah peristiwa begitu saja tanpa ada maknanya. Sebaliknya, menurut Thomas kebetulan, keberuntungan tetap memiliki causa; ia bukanlah tanpa causa, ia tetap merupakan efek dari causalitas dan bukan berasal dari ketiadaan. Bahkan bagi Thomas, kebetulan tidak mungkin menjadi realitas atau menjadi peristiwa tanpa keterlibatan aktivitas causal penyelenggaraan ilahi[17]. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: secara natural ada bertindak sesuai dengan kepastian dan determinatif tertentu yaitu mengikuti adanya dan keunikannya sendiri maupun menurut kapasitas eksistensinya; itulah mengapa ada juga disebut dengan natura. Akibatnya, natura memiliki causalitasnya yang determinatif: efek dihasilkan secara teratur dan pasti selama ada kondisi yang menguntungkan untuk menghasilkan efek tersebut. Namun karena natura sifatnya yang kontingen dan terbatas, ia juga memuat kemungkinan kegagalan causalitasnya[18] yaitu produk causalitasnya tidak memastikan bahwa efek akan selalu mengikuti ataupun natura tidak menghasilkan efek sebagaimana mestinya dan tidak membuahkan hasil. Kemungkinan kegagalan selalu menyertai tindakan, operasi maupun kinerjanya. Sebagai contoh air yang dipanaskan oleh api secara natural akan menghasilkan air panas. Namun karena udara terlalu dingin, air yang beku dan api yang kecil, air panas diharapkan pun tidak terjadi. Pada prinsipnya, kegagalan causalitas ciptaan untuk menghasilkan efek yang seharusnya disebabkan oleh tiga hal:

  1. Perjumpaan dari banyak agen

Untuk mencapai finalitasnya, agen-agen memiliki causalitasnya sendiri-sendiri dalam tindakan atau operasinya karena mereka memang memiliki kekuatan untuk menghasilkan causalitasnya yang berasal dari causa pertama. Causalitas agen bersifat independen dan karena adanya pluraritas agen tentu juga terdapat pluraritas causalitas. Kemudian pluraritas causalitas bersinggungan atau bertepatan satu sama lain tanpa ditentukan atau tidak dimaksudkan secara sengaja untuk bertemu satu sama lain. Efek yang terjadi karena persinggungan antar causalitas yang tidak dikehendaki disebut aksiden. Dikatakan aksiden karena causalitas tersebut tidak memiliki causalitas determinatif dan tidak disengaja, terjadi begitu saja tanpa adanya intensi ataupun tidak diharapkan untuk terjadinya efek lain dalam causalitas ciptaan yang determinatif[19]. Ada keserempakan causa yang dibuat oleh ada-ada ketika ada-ada sedang berusaha mencapai tujuannya yang dikehendaki. Akibatnya, efek yang berlangsung adalah kebetulan, ketidaksengajaan dan keberuntungan  dan membawa hubungan material dari causa-causa yang terjadi.

Materi itu sendiri adalah potensi yang memiliki kemungkinan yang luas untuk dideterminasi oleh keragaman causalitas ada. Dan ketika materi terkena persinggungan keragaman causalitas maka efek lain yang tidak disengaja memungkinkan terjadi karena potensi bersifat tak determinatif. Efek lain inilah juga disebut kebetulan, ketidaksengajaan, keberuntungan. Melihat alur dan proses terjadinya kebetulan, jelas kebetulan tetap memiliki causalitasnya. Causalitasnya merujuk kepada penyelenggaraan ilahi karena penyelenggaraan ilahi berkerja melalui causa sekunder dan menghasilkan efek yang sifatnya kebetulan, keberuntungan. Karena itu, keberuntungan menjadi bagian dari penyelenggaraan ilahi. Benih jagung disebarkan tak jauh dari ladang gandum. Benih jagung tertiup dan terbawa angin sehingga jatuh ke ladang gandum. Dan ketika panen gandum ternyata juga ada panen jagung di ladang gandum.

  1. Kelemahan dari causa efisien- pelaku

Kelemahan agen dalam causalitasnya dikarenakan adanya realitas potensi yang dijumpai dalam dirinya. Potensi mau mengatakan bahwa ada kekurangan di dalam diri agen; belum ada aktualitas sehingga ia gagal menghasilkan causalitasnya. Misalnya seorang pasutri belum punya anak karena sang suami mengalami sakit. Meskipun agen bertindak berdasarkan keniscayaan yang ditentukan oleh naturanya untuk menghasilkan efek tertentu tetapi  mereka pun terlilit oleh akar kontingensi yang ada di dalam komposisi internal mereka yaitu causa material. Causa material ini masih berupa potensi yang terbuka kepada berbagai kemungkinan baru. Pasangan suami istri mengadopsi anak dan karena bersukacita akan anak adopsi, hormon-hormon suami menjadi sehat dan normal sehingga mereka berhasil mempunyai anak.

  1. Disposisi lemah si penerima yang kepadanya agen akan melakukan causalitasnya

Yang ketiga ini berkaitan dengan materi yang belum terdeterminasi dari pihak «penderita». Materi yang belum terdeterminasi siap menerima causalitas dari agen dan kesiapan materi disebut prinsip pasif. Karena prinsip pasif dari materi, agen terkadang gagal menghasilkan efek yang ditentukan. Causa material yang adalah pasif potensi menghindari atau melarikan diri dari aktif potensi yang akan menentukan materi tersebut. Posisi materi yang melarikan diri dan menghindari dari potensi aktif disebut dengan kelemahan disposisi. Disposisi materi yang demikian menegaskan bahwa meskipun agen dapat bertindak tanpa hambatan yang bersumber baik dari pertemuan causa eksternal maupun kekurangannya sendiri, masih ada kemungkinan bahwa efek tidak akan dihasilkan karena disposisi yang akan menerima tindakan agen tersebut. Karena disposisi materi rentan akibat kelemahannya maka efek tak terduga pun menjadi mungkin. Kaca pecah belah yang sudah tidak mungkin lagi diproses di dalam manufaktur ternyata dapat disusun lagi menjadi kaca mosaic yang indah bagi untuk dekorasi rumah ataupun gedung.

Jadi dari ketiga penyebab kegagalan causalitas ada menghasilkan efeknya berpusat pada materi. Materi adalah potensi maka ia adalah arena segala kemungkinan. Thomas Aquinas menegaskan bahwa dunia yang disusun oleh materi selalu mencakup tempat untuk kemungkinan dan ketidaktentuan karena sumbernya adalah materi. Dalam kemungkinan materi, peristiwa kebetulan, ketidaksengajaan, keberuntungan tetap menyempurnakan ciptaan walaupun terjadi melalui aksidens. Logikanya sebagai berikut: ternyata subyek memiliki banyak aksiden misalnya Benyamin Paraya pandai bermain musik sekaligus ia orang yang bijaksana. Dalam konteks tersebut ia dapat dikatakan sebagai ada aksiden karena suatu subyek dan suatu aksiden dan bahkan dua aksiden dalam satu substansi sebagai satu kesatuan. Aksiden-aksiden justru menyempurnakan subyek. Benyamin sebagai substansi (baca: manusia) disempurnakan oleh aksiden-aksidennya yaitu pandai bermain music dan bijaksana. Kesempurnaan ada juga terjadi karena causa aksidennya. Jadi hal-hal  yang merupakan sebuah efek yang berasal dari aksiden  segala causa terjadi oleh karena keberuntungan[20].

Karena materi, dunia berdinamika secara kontingen dan tidak pasti serta dunia tidak bersifat melulu deterministik dalam perkembangannya tetapi selalu mencakup kegagalannya sehingga kebetulan, keberuntungan pun adalah realitas yang tidak terpisahkan di dalam dunia. Ada ciptaan dapat gagal di dalam causalitasnya karena natura ciptaannya dan kegagalan itu adalah apa adanya dan justru menjadi ranah untuk keberuntungan, kesempatan. Bagaimana itu mungkin?

Prinsipnya, jika hal-hal langka-istimewa tidak terjadi maka segala sesuatunya akan terjadi oleh karena keniscayaan. Namun faktanya ada hal-hal yang istimewa dan langka yang terjadi. Hal itu disebabkan karena causa kontingen dan karena itu segala yang terjadi tidak mungkin melulu disebabkan oleh keniscayaan dan itu berarti bahwa realitas kegagalan tidak mungkin dinegasi. Justru indahnya adalah bahwa penyelenggaraan ilahi memeluk kegagalan ciptaan dalam causalitasnya. Konsekuensinya, kegagalan pun tetap bagian dari penyelenggaraan ilahi dan aspek tertentu dikehendaki oleh-Nya. Dari causa kontingen, yang tak beraturan, acak, Tuhan dapat mencapai sesuatu dengan lebih baik untuk dan di dunia ini. Dalam pelukan penyelenggaraan ilahi, kegagalan, kekacauan itu malah memungkinkan terjadinya peristiwa yang tidak sengaja, kebetulan, karena kegagalan yang memuat efek-efek kontingen disusun untuk menghasilkan kebaikan baru di dunia ini. Penyelenggaraan ilahi bersifat universal yang berarti Tuhan menjaga, memelihara segala kebaikan daripada hanya satu kebaikan. Artinya, dalam penyelenggaraan-Nya, Tuhan menanggung kegagalan causa sekunder dan Tuhan sendiri menghasilkan kebaikan dari situasi yang paling buruk yang diakibatkan kegagalan ciptaan bahkan sekalipun dunia kolap.

Maka, jikalau tidak ada kebetulan maka hal itu justru bertentangan dengan penyelenggaraan ilahi karena penyelenggaraan-Nya mencakup segala kemungkinan dan  di dalam penyelenggaraan ilahi tidak ada yang tak mungkin. Causalitas ilahi menyediakan causa niscaya dan causa kontingen sebagaimana dikatakan. Kebetulan tetap berada di dalam pengetahuan-Nya; bukan di luar pengetahuan-Nya. Dengan kata lain, peristiwa acak, kebetulan, ketidaksengajaan juga dipandu oleh penyelenggaraan ilahi karena disebabkan oleh Tuhan sebagai causa pertamanya melalui causa sekunder[21].

Tidak ada yang sia-sia, segala sesuatunya dengan dinamikanya sebagai ciptaan berjalan kepada kebaikannya dan finalitasnya. Jelas, di hati dunia ini, Tuhan sang kehidupan yang sangat mencintai segala sesuatunya, terus hadir dan berkarya. Dia tidak meninggalkan dunia, dia tidak meninggalkan kita sendirian, karena dia telah bersatu dengan tanah kita, segala ciptaan, dan cintanya selalu menuntun dunia dan ciptaan-Nya untuk menemukan jalan baru[22]. Karena itu pula, dunia memuliakan Tuhan dan karya-karya agung-Nya di dalam ciptaan, lewat tindakan manusia. Dalam penyelenggaraan ilahi dunia terus menari dalam iramanya tanpa pernah berhenti dengan cinta yang baru saja lahir, dengan cinta yang baru saja selesai, bersama dengan keberhasilan dan kegagalan, diperbaharui dengan sukacita dan penderitaan ciptaan.

 

Kehidupan dunia

Dunia bukan suatu entitas yang netral, jahat dan yang bermusuhan dengan sang Pencipta dan iman Kristian tetapi dunia merupakan suatu hadiah yang berasal dari cinta TUhan. Dunia diciptakan untuk mengkomunikasikan kemuliaan Tuhan. Maka, dunia harus dimaknai dalam terang Kristus dan dicintai oleh para murid Kristus atau siapa saja yang menyebut dirinya pengikut Kristus. Bahkan dunia merupakan ruang  dan tempat bagi para murid Kristus untuk memuji TUhan dan bertindak demi dan untuk kemuliaan Tuhan. Tugas perutusan para murid bekerja di dalam dunia dan bukan melarikan diri dari dunia. Untuk sampai kepada kemuliaan-Nya, dunia tidak bisa dikontemplasikan dari exterioritasnya tetapi justru dari interioritasnya, dengan cara mengenali segala keterhubungannya yang dengannya Tuhan telah mempersatukan kita dengan semua ciptaan[23] yang ada di dunia. Bersumber dari keterhubungan tersebut, dunia menghasilkan keindahan dan salah satu bentuk keindahan dunia nyata di dalam peran ciptaan bagi dunia. Bahkan keindahan dunia membangkitkan cinta kepada segala ciptaan dan persaudaraan dengan segala yang ada di dalam dunia. Cinta dan persaudaraan yang terajut baik di antara segala ciptaan di dalam kehidupan mendekorasi dunia yang mengantar kepada kekudusannya dalam terang penyelenggaraan ilahi.

 

[1] Thomas Aquinas, Summa Contra Gentile, III, 72, a.3

[2]  Ibid., Summa Contra Gentile, III, 82, a. 3

[3] Ibid., De Veritate, Q. 5, a.9

[4]  Ibid.

[5] Keragaman causalitas membedah makna causalitas sehingga dapat diuraikan: Causalitas Tuhan adalah causalitas penciptaan dan perubahan  tetapi causalitas ciptaan hanyalah causalitas perubahan. Causalitas ada menjadi mutlak milik penyebab universal pertama, Tuhan dalam tindakan kreatifnya; sedangkan causalitas tambahan atau sampingan yaitu ciptaan menjadi ranah causa sekunder yang bertindak berdasarkan model tertentu, informasi tertentu yaitu dengan memberikan bentuk pada akibat bukan pada being, dengan menghasilkan hanya gerakan atau perubahan.

[6][6] Ibid., Summa Contra Gentile, III, 77, a.2

[7] Ibid., Summa Contra Gentile, III, 77, a. 2

[8] Laudato Si, no. 234

[9] Laudato Si, no. 85

[10] Laudato Si, no. 220

[11] Pemeliharaan dan penjagaan oleh-Nya dapat dimaknai bahwa ciptaan yang kontingen memiliki otonomi causalitasnya dan bekerja menurut naturanya tetapi pada saat yang bersamaan juga tetap tergantung kepada causalitas sang pencipta.

[12] Thomas Aquinas, Summa Contra Gentile, III, 77, a.6

[13] Ibid., Summa Contra Gentile, III, 72, a.5

[14] Ibid., Summa Contra Gentile, III, 72, a.6

[15] Laudato Si, no. 233

[16]  Bdk Laudato Si, no. 221

[17] Thomas Aquinas, Summa Contra Gentile, III, 74, a.4

[18] Ibid., Summa Contra Gentile, III, 74, a.2

[19] Ibid., Summa Contra Gentile, III, 74, a.6

[20] Ibid., Summa Contra Gentile, III, 74, a.5

[21] Bdk., Ibid., Summa Contra Gentile III, 72, 74

[22] Laudato Si, no.245

[23] Laudato Si, no. 220

[24] Ibid.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply