Aktus-Potensi

 

Lukisan Juan Pablo Salinas Teruel,The Game of Chess,1871-1946

“A posse ad esse”

Dari potensi menuju aktualitas

 

Gagasan aktus-potensi

Ternyata, ada komposisi dapat dianalisis dan dibagi secara variatif sehingga memampukan kita mengetahui ada secara lebih mendalam. Pembagian itu meliputi: pertama, pembagian ada yang didasarkan pada substansi-aksiden yang merupakan kesepuluh kategori; kedua, pembagian ada dalam aktus-potensi[1]. Pembagian filosofis ada komposisi (ens commune) menjadi aktus-potensi menyatakan bahwa aktus-potensi adalah prinsip, faktor atau komponen dari satu ada komposisi yang tersatukan secara mutual. Kesatuan mutualisme menjelaskan bahwa aktus-potensi dijumpai di dalam semua predikat atau kategori[2]. Maka, aktus-potensi mengukir pula struktur ada komposisi. Sebagai struktur ada, prinsip aktus-potensi adalah suatu bangunan dan manifestasi dinamis ada baik di dalam eksistensi maupun di dalam aksi. Lalu pertanyaannya adalah dari mana kita mengetahui prinsip aktus-potensi ini?

Prinsip aktus-potensi yang terdapat di dalam ada dapat disimak dari realitas perubahan yang terjadi di dalam hidup kita sehari-hari sekaligus sebagai evidensi yang paling jelas. Misalnya, kita melihat marmer yang hanya batu kemudian dipahat menjadi patung yang indah; benih sawi yang tumbuh menjadi sayuran sawi. Perubahan ada terjadi karena adanya prinsip aktus-potensi.

Setidaknya, perubahan mencakup dua hal:

  • suatu perubahan dari suatu subyek menjadi yang lain: perubahan suatu substansi; suatu substansi yang berubah menjadi substansi lain; suatu subtansi baru dilahirkan sebagaimana juga substansi lain binasa.
  • suatu perubahan yang terjadi di dalam subyek itu sendiri: perubahan–perubahan subyek menyangkut kategori, misalnya dari air panas menjadi dingin (qualitas), volume air yang bertambah (quantitas)

Akibatnya, dalam perihal kesempurnaan, perubahan lebih sempurna daripada potensi, karena dengan perubahan sesuatu dapat menjadi lebih baik tetapi perubahan kurang sempurna dibandingkan dengan aktualitas [3]. Di sini terungkaplah bahwa perubahan tidak terpisah dari ada bahkan merupakan suatu keadaan-kondisi ada dalam kategori predikat (substansi –aksiden).

Tentu saja hal yang pertama yang kita lihat di dalam perubahan adalah aktualitas karena aktualitas adalah realitas, sesuatu yang demikian adanya dan real. Tidak mengherankan kalau aktualitas merupakan konsep pertama yang kita pahami. Walaupun demikian, aktualitas bukanlah aktualitas yang sempurna secara definitif karena seandainya sempurna secara definitif maka tidak akan ada lagi perubahan. Alasan lainnya bahwa suatu aksi-operasi (aktus) sedang berlangsung untuk menuju kepenuhan, menyempurnakan dan menetapkan suatu ada (belajar, membangun suatu rumah, mengasuh anak). Ada real memiliki potensi real untuk menjadi aktual di dalam suatu perubahan. Kesimpulannya, perubahan menunjukkan aktualisasi berturut-turut dari potensi atau juga merupakan suatu transisi dari ada yang berupa potensi menjadi ada di dalam aktus.

Selain dari realitas perubahan, prinsip aktus- potensi dapat disimak dari fakta multiplikasi, misalnya ada banyak orang, banyak kebaikan, banyak keindahan. Multiplikasi menyatakan bahwa aktus (aktualitas) digandakan melalui potensi sehingga potensi adalah alasan mengapa dan bagaimana terjadinya multiplikasi ada.

 

Pengertian aktus-potensi

                             

                              Potensi

Berubah- menjadi menyiratkan suatu potensi. Misalnya ayam berasal dari telur: hal ini mau mengatakan bahwa di dalam telur ada kapasitas untuk melahirkan ayam, bahwa ayam pada mulanya ada di dalam telur sebagai potensi. Konsekuensinya, ada dan non ada dari sesuatu hal tak pernah dapat bersama-sama tetapi dapat berdiri bersama: adanya sebagai aktus dan non adanya sebagai potensi. Sesuatu hal yang mulai menjadi ada belumlah dapat dikatakan sebagai aktus dan juga bukan pula ketiadaan murni tetapi adalah suatu potensi untuk menjadi ada.

                              Aktus

Potensi adalah kapasitas untuk mengada tetapi aktus adalah ada, realitas, kesempurnaan, aktualitas, aksi, operasi. Aktus adalah eksistensi yang sama dari sebuah objek sehingga aktus tidak bisa dikatakan bahwa itu berada di dalam potensi. Tetapi juga di dalam aktus terkandung potensi sehingga aktus sendiri berada di dalam potensi ibarat sang pembangun yang tahu cara membangun atau seperti  penjaga menutup matanya meskipun memiliki mata[4]. Namun hal ini bukan berarti bahwa aktus dan potensi berlangsung di dalam waktu yang sama karena aktus adalah aktual dan potensi adalah non ada.Karena potensi, gagasan aktus tidak bisa menjadi ada secara definitif.

Aktus dan potensi bukanlah hal, res, tetapi suatu prinsip, kondisi ada. Jadi selama ada menjadi, selama ada berubah maka ada potensi. Segala ada adalah dirinya sendiri, terdeterminasi di dalam aktus tetapi juga dapat menjadi yang lain, tak terdeterminasi sebagai potensi sehingga prinsip menjadi mengukir suatu perjalanan, lawatan dari potensi menuju aktus. Oleh sebab itu, ada di dalam potensi berarti masih belum ada, ada di dalam aktus berarti telah ada, konsekuensinya, suatu hal tidak dapat berada di dalam potensi dan aktus dalam makna yang sama. Apa yang ada aktual misalnya panas, tidak dapat menjadi ada secara potensial panas secara bersamaan tetapi dapat menjadi dingin secara potensial. Dengan demikian suatu hal yang berubah dalam proses perubahannya tidak bertentangan dengan prinsip identitas: ada adalah selalu sesuatu hal terdeterminasi yang dapat menjadi ada yang lain pada suatu waktu. Misalnya suatu pohon memiliki hal yang terdeterminasi: daunnya yang hijau, tingginya yang sedemikian rupa tetapi juga pohon ini dapat berubah: warna daunnya menjadi kuning, bertumbuh menjadi lebih tinggi.

 

Tipe aktus-potensi

Secara umum yang dimaksudkan aktus adalah aktivitas atau operasi, tetapi juga faktanya bahwa segala aktivitas muncul dari suatu natura determinatif sehingga aktus bisa dikatakan juga sebagai setiap determinasi, setiap kesempurnaan. Maka kita membedakan aktus pertama dan aktus kedua:

  • aktus pertama adalah forma atau itu yang mana ada ditetapkan dan mengada
  • aktus kedua adalah operasi

Pada saat manusia-suatu natura dengan akal budi- tertidur tentu dia adalah aktus pertama karena memiliki suatu natura akal budi, tetapi tidak berada di dalam aktus yang kedua tentu karena dia tidak menggunakan aktivitas akal budinya pada saat tidur. Aktus pertama juga disebut sebagai substansi sedangkan aktus yang kedua adalah aksiden.

Maka ada tipe-tipe aktus misalnya, forma substansial dan forma aksidental bahkan perubahan itu sendiri bisa dikatakan sebagai aktus yang tak sempurna jika dibandingkan dengan terminus aktus itu sendiri. Lalu ada aktus purus yang adalah murni aktus. Juga aktus non purus yaitus aktus yang tersatukan dengan potensi dan dengan potensi tersebut ada tersebut memiliki kapasitas untuk menerima.

Dari pembagian aktus tersebut dapat diketahui pula tipe potensi karena potensi tidak mungkin diketahui secara langsung dari dirinya sendiri tetapi melalui aktus. Aktus melibatkan pasif potensi dan aktif potensi :

  • Pasif potensi adalah kapasitas untuk menjadi, kapasitas untuk menerima kesempurnaan. Aristoteles mengatakan sebagaimana dikutip Thomas bahwa meskipun sesuatu hal dapat “menderita”, menerima dari diri sendirinya, tetapi segala sesuatunya tidak pernah dapat memberikan atau menerima di bawah aspek yang sama tetapi selalu menurut sesuatu yang lain.
  • Aktif potensi adalah potensi yang bersesuaian dengan operasi (aksi yang kedua) sehingga aktif potensi memiliki kapasitas untuk beraksi.

Maka, substansi dan materi utama merupakan potensi tetapi di dalam cara yang berbeda: substansi adalah subyek yang telah di dalam aktus (aksi) yang menerima aksi-aksi aksidental sementara materi utama merupakan potensi murni di mana nantinya forma substansial disatukan sebagai aksi pertama.

Ketika kita berbicara tentang potensi sebagai oposisi dari aktus, tentu potensi mengacu kepada aktif potensi karena aktif potensi pasti menegaskan aktus dan itu berarti sudah ada manifestasi. Sebabnya: pertama haruslah ada, dan kemudian memiliki kapasitas untuk membuat sesuatu yang lain. Berbicara tentang potensi Tuhan, tentu hal itu dimaksudkan selalu sebagai aktif potensi karena pasif potensi tidak ada definitif di dalam Tuhan karena Tuhan adalah Ipsum esse subsistens.

  • Pasif potensi dan aktus pertama

Tentu pasif potensi menyataka prinsip perubahan yang sifatnya pasif artinya sesuatu berkat pasif potensi memiliki kapasitas untuk mengalami perubahan yang disebabkan oleh hal lain. Sebagai contoh potensi untuk menjadi suatu substansi, potensi untuk terbakar. Jelas bahwa pasif potensi sifatnya menerima (receptive) dan subyek disebut pasien karena menerima perubahan sehingga pasif potensi menyatakan sumber perubahan. Pasif potensi mengkonsitusikan dan menetapkan aksi pertama yaitu forma. Pasif potensi dan aksi-aktus pertama dapat dilihat dalam hal berikut ini:

  1. Materi utama-forma substansial

Materi utama adalah sebagai pasif potensi sementara forma substansial adalah aksi pertama. Forma substansial menetapkan materi utama sehingga terbentuklah substansi komposisi seperti tembaga, emas. Jadi materi utama murni merupakan suatu subyek yang menerima aktualitas dan tak mungkin mengaktualkan dirinya sendiri[5].

  1. Substansi-aksiden

Substansi tentu berbeda dengan materi utama karena substansi adalah subyek yang sudah menjadi aktus melalui forma. Walaupun demikian, substansi tetap menjadi potensi dalam kaitannya dengan aksiden karena aksiden-aksiden menyempurnakan substansi misalnya relasi, qualitas, tempat dan sebagainya[6].

  1. Esensi dan esse

Esse adalah aksi pertama dan esensi adalah pasif potensi sehingga esse selalu dibatasi oleh esensi. Karena aksi pertama adalah forma, tentu forma tak lain merupakan suatu ukuran determinatif akan partisipasi di dalam esse. Esensi manusia, batu, kucing tak lain merupakan cara partisipasi yang berbeda-beda di dalam dalam esse.[7]

  • Aktif potensi dan aktus yang kedua

Aktus yang kedua adalah operasi atau aktivitas. Jelaslah bahwa aktus yang kedua yang berlangsung di dalam subyek terjadi karena aktus pertama. Akibatnya, aktif potensi sebagai bagian dari aktus yang kedua merupakan sumber aksi dan prinsip perubahan. Dasarnya bahwa aktif potensi memiliki natura aksi karena segala beraksi sejauh memiliki aktualitas dan sebaliknya juga bahwa segala sesuatu itu potensi sejauh penerima. Aktif potensi juga dapat disebut aktus sejauh dia memiliki kesempurnaan karena tanpa memiliki kesempurnaan tak mungkin dia dapat menyempurnakan ataupun beraktivitas. Maka, aktif potensi membawa efek kepada subyek dan efek itu tak lain adalah menghasilkan atau memberikan kesempurnaan. Panas terjadi sejauh ada yang memberikan panas misalnya lilin yang menyala. Lilin menyala di sini sebagai aktif potensi yang memberi kehangatan di keadaan sekitarnya. Dengan demikian aktif potensi memiliki kapasitas untuk self -determination tetapi juga adalah suatu kapasitas untuk menghasilkan atau memberikan kesempurnaan. Mengapa potensi yang demikian disebut dengan aktif potensi?

Memang di dalam ciptaan manifestasi-manifestasi potensi dapat ditemukan di dalam semua fakultas aktus seperti indra, akal budi, kehendak, dan lain-lain. Tetapi aktif potensi ciptaan memiliki suatu keterbatasan sehingga disebut dengan potensi (aktif) dan bukan simple act (actus purus). Keterbatasannya adalah sebagai demikian: tidak ada ciptaan apa pun yang dapat menetapkan dirinya di dalam aksi (aktus) oleh dirinya sendiri tanpa pengaruh dari sesuatu yang di luar dirinya. Selain itu, fakultas-fakultas operatif yang dimiliki oleh ciptaan tidak selalu di dalam aktus. Ada perbedaan antara fakultas operatif dengan aktus. Misalnya fakultas pemahaman; fakultas pemahaman atau akal budi bukanlah aktus aksi yang menghasilkan tetapi hanya merupakan suatu power-kapasitas untuk menghasilkan pemahaman yang benar. Maka,operasi-aksi (aktus kedua) dan aktif potensi dari ciptaan hanyalah aksiden di dalam kategori kualitas dan aksi. Maksudnya, tidak ada substansi ciptaan yang identik dengan operasinya tetapi hanya sebagai causa. Misalnya, jika aksi yang menghasilkan efek eksternal (membajak sawah, bermain bola, membuat kue) merupakan aksiden di dalam kategori aksi. Aktivitas yang disebut operasi seperti berpikir, melihat, mencintai tentu merupakan aksiden di dalam kategori qualitas[8]. Aktif potensi selalu ada di dalam agen, seperti lilin yang memanaskan ruangan atau seni membangun yang ada di dalam sang pembangun.   

 

Supremasi aktus di dalam konsep maupun realitas[9]:

Suatu pertanyaan: bagaimana terjadinya suatu ada berubah dari potensi menuju aktus atau dari non ada ke ada?  Tidak mungkin dikatakan bahwa suatu ada berada di dalam aktus dan potensi di dalam waktu yang sama. Seandainya sesuatu ada di dalam aktus dan pada saat yang sama pula berada di dalam potensi maka yang terjadi adalah ada dan non ada berlangsung secara bersamaan di dalam suatu subyek sehingga terjadi kontradiksi karena sebagaimana dikatakan bahwa potensi adalah masih belum ada sementara aktus adalah sudah ada. Jawabannya adalah agar menjadi aktus atau perubahan dari potensi menjadi aktus membutuhkan adanya determinasi dari suatu ada yang telah menjadi aktus. Proses menjadi membutuhkan ada yang telah menjadi aktus. Tanpa adanya ada yang telah menjadi aktus, prinsip menjadi tidak akan berlangsung. Fakta ini menunjukkan supremasi aktus baik di dalam konsep maupun di dalam realitas:

  1. Di dalam konsep
  • Secara konseptual atau secara logika, aktus lebih dahulu daripada potensi. Setiap hal dapat diketahui karena telah menjadi aktus. Potensi itu sendiri dapat dikenali hanya karena aktus, dalam fungsi aktus. Hal itu dapat disimak berdasarkan fakta hal dan secara universal. Secara universal yaitu bahwa potensi adalah yang dapat menjadi ada dan aktus adalah yang telah mengada. Di dalam universalitas, di dalam totalitas ada, yang pertama adalah aktus kemudian potensi, karena sebagaimana telah dikatakan bahwa potensi tidak dapat menjadi aktus jika tanpa digerakkan oleh ada yang telah berada di dalam aktus. Tanpa ada yang telah menjadi aktus, potensi tetaplah potensi.
  1. Di dalam realitas[10]

Supremasi aktus di dalam realitas dapat dijelajahi sebagai berikut:

  • Secara waktu dan generatif yang ada pertama dalam setiap individu adalah potensi: yang pertama adalah telur kemudian ayam, yang pertama adalah benih kemudian tumbuhan. Sebab selalu dari ada di dalam potensi lalu berubah menjadi ada di dalam aktus oleh karena suatu ada di dalam aktus. Manusia dari potensi manusia; musik dari potensi musik. Maka, di dalam perihal waktu dan generasi, potensi lebih dahulu daripada aktualitas. Sekarang ia adalah seorang manusia aktual, sebelum dia menjadi manusia adalah suatu material yang berpotensi menjadi manusia secara waktu dan secara generatif. Di dalam waktu pada mulanya ia adalah sperma kemudian diaktualkan oleh sang agen lewat generasi sehingga menjadi manusia aktual. Demikian juga padi, pada mulanya di dalam waktu adalah benih kemudian menjadi padi. Potensi yang lebih dahulu daripada aktualitas di dalam waktu membedah suatu fakta adanya agen yang telah memiliki aktualitas. Potensi menjadi aktualitas terjadi karena peranan sang agen (causa efisien) yang adalah aktualitas. Misalnya, apa yang berpotensi menjadi manusia, menjadi manusia aktual oleh karena agen yang melahirkan dirinya dan tentu saja agen yang melahirkan adalah aktualitas. Hal sama pula bahwa seseorang memiliki potensi menjadi seorang seniman lalu menjadi seniman oleh karena belajar dari seorang guru seni yang adalah aktualitas seni.
  • Fakta misalnya saya tidak tahu apakah benih berubah ketika saya hanya sekedar tahu benih ini tanpa mengacu kepada yang lain. Saya tahu bahwa benih ini akan berubah menjadi mawar karena saya telah melihat bahwa pada kenyataannya benih yang lain telah berubah menjadi mawar. Konsekuensinya di dalam generasi dan waktu, aktualitas terjadi sesudah potensi.

 Supremasi aktus terhadap potensi mencakup:

  1. Substansi

Di dalam sebuah substansi, aktus lebih dahulu ada (prior) daripada potensi. Terminology lebih dahulu di dalam substansi sama artinya dengan lebih dahulu di dalam kesempurnaan. Jadi aktus adalah kesempurnaan suatu subtansi. Di dalam koridor substansi, kesempurnaan selalu dikaitkan dengan dua hal yaitu:

  • Forma

Kesempurnaan  adalah forma karena forma adalah itu yang dengannya sesuatu disempurnakan. Forma itu sendiri dipahami di dalam term substansi. Mengapa demikian? Kenyataan ini berkaitan dengan generasi. Dalam generasi, hal-hal yang merupakan hal yang kemudian (berikutnya) selalu lebih dahulu di dalam substansi dan forma yaitu di dalam kesempurnaan. Sebabnya, proses generasi berlangsung dari apa yang tidak sempurna menuju apa yang sempurna. Sebagai contoh  di dalam proses generasi, ayam merupakan hal yang berikutnya sesudah telur dan ayam merupakan hal yang berikutnya sesudah benih. Dasarnya ayam telah memiliki kesempurnaan forma sedangkan telur dan benih belum memiliki forma. Artinya bahwa materi adalah potensi sampai ia menerima suatu forma tetapi setelah menerima forma, materi menjadi aktualitas.

  • Tujuan

Segala yang ada memiliki tujuan atau finalitas. Maka dalam konteks tersebut aktualitas adalah tujuan dari potensi. Segala sesuatu yang akan menjadi ketika bergerak menuju tujuannya bergerak menuju suatu prinsip. Suatu tujuan, atau itu yang deminya sesuatu menjadi menyatakan suatu prinsip karena tujuan adalah hal yang pertama yang diintensikan oleh sang agen dan juga bahwa karena tujuanlah generasi terjadi. Segala sesuatu digerakkan oleh tujuan. Maka aktualitas adalah tujuan dari potensi sehingga  aktualitas lebih dahulu daripada potensi bahkan merupakan satu-satunya prinsip untuk potensi. Misalnya seorang guru seni berpikir bahwa dia telah mencapai tujuannya ketika murid yang diajar menunjukkan aktivitas seni. Dalam konteks ini pula dapat ditarik kesimpulan bahwa aktualitas berasal dari aktivitas dan aktivitas itu dilebarkan kepada forma yaitu kepenuhan atau kesempurnaan.

  1. Pengetahuan

Pengetahuan tentang potensi hanya dapat dikenali melalui aktusnya. Maka definisi suatu potensi selalu menyertakan aktusnya. Misalnya, melihat adalah kekuatan untuk menangkap gambaran.  Ketika potensi suatu hal dibawa kepada atau berubah menjadi aktualisasi, maka kebenaran hal tersebut ditemukan. Prinsipnya bahwa pemahaman adalah soal aktualisasi sehingga karena aktualitasi manusia mendapatkan pengetahuan, oleh karena itu hal-hal yang dimengerti haruslah aktual[11].

  1. Causalitas

Tidak ada sesuatu pun yang dapat beraktivitas, beraksi kecuali sesuatu itu adalah aktualitas. Pasif potensi berarti menerima kesempurnaan dari yang lain sementara bertindak artinya memberikan pengaruh real kepada yang lain dan hal ini mungkin hanya jika sesuatu memiliki kesempurnaan untuk dikomunikasikan. Obor memberi terang kepada keadaan di sekitarnya sejauh obor adalah cahaya. Dingin memberikan dingin di sekitarnya jika ia merupakan hal yang dingin. Dengan demikian potensi tidak akan menjadi aktual tanpa pengaruh sesuatu yang telah menjadi aktual. Jadi, di dalam segala sesuatu yang potensial untuk menjadi aktual selalu ada hal yang menggerakkan dan si penggerak (agen) adalah aktual. Peranan agen yang adalah aktualitas sebagai causa efisien membuktikan supremasi aktus atas potensi di dalam causalitas.

 

Konsekuensi supremasi aktus

Dengan adanya supremasi aktus, maka prinsip menjadi tidak bisa mematrikan ada yang absolut, tetapi prinsip menjadi memiliki sesuatu yang lain dari dirinya sendiri yang berasal dari sesuatu yang lain artinya prinsip menjadi harus dijelaskan dari sesuatu lain yang telah menjadi aktus. Benih ini akan menjadi mawar karena telah dideterminasi oleh mawar lain yang telah menjadi aktus. Dengan adanya aktus, realitas selalu menjadi suatu ada dan bukan hanya sekedar prinsip menjadi; di dalam realitas terdapat ada-ada yang menjadi dan bukan menjadi saja tanpa ada. Ada yang menjadi berarti pula bahwa suatu perubahan membutuhkan suatu terminus a quo dan suatu terminus ad quem. Apapun yang berubah dari potensi ke aktus berarti telah dideterminasi oleh suatu ada yang telah menjadi aktus.

Prinsip menjadi membutuhkan pilar yaitu unum (satu). Sebab, unum membuat prinsip menjadi dari yang hal yang demikian menjadi hal demikian pula (de tali ad tale). Mengapa? Prinsip menjadi adalah suatu substrat[12] permanen yang darinya mengalir perubahan tetapi juga mempertahankan unum dengan berbagai cara karena unum menghilangkan permulaan dan akhir yang absolut sekaligus mempertahankan satu yang berubah selagi berubah. Jadi unum adalah fluktuasi yang mengansumsikan unum itu sendiri. Tanpa unitas menjadi kehilangan arti dan konsistensinya.

Unum yang menjadi jangkar prinsip menjadi menyiratkan pula suatu suksesi yaitu realitas pertama dan realitas kemudian. Suksesi ini merupakan syarat mutlak karena menjamin kelangsungan proses menjadi. Benih itu menjadi suatu tanaman mawar kemudian berturut-turut pula menjadi mawar-mawar yang indah. Realitas pertama dan kemudian terkait satu sama lain sedemikian rupa bahwa realitas kemudian selalu dikondisikan oleh realitas pertama yang secara bersamaan berasal dari unum. Selanjutnya sebagaimana kemudian selalu yang pertama, demikian juga bahwa pertama selalu kemudian.

 

Relasi aktus-potensi

Ada dikatakan sebagai ada karena aktualitasnya, bukan karena potensinya. Ada adalah ada sejauh  aktualitas. Potensi menjadi aktus dan terpahami karena relasinya kepada aktus. Ada di dalam potensi berarti bahwa ada itu bukan non ada tetapi ada yang akan menjadi. Jadi potensi tidak pernah berada di dalam keadaan murni potensi tetapi selalu  menjadi bagian ada yang telah menjadi aktus. Demikian juga dengan aktus bahwa aktus tak pernah di dalam keadaan murni aktus tetapi selau menjadi bagian dari potensi. Jadi aktus dan potensi berelasi satu sama lainnya.

Relasi aktus-potensi dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Aktus dibatasi oleh potensi yang diterimanya

Kesempurnaan suatu subyek dibatasi oleh kapasitas subyek itu sendiri (potensi). Pengetahuan sesorang terbatas kepada kapasitas intelektualnya, gelas dalam ukuran tertentu hanya dapat menampung air yang sedemikian melimpah dalam ukurannya. Jelaslah aktus tidak dibatasi oleh dirinya sendiri karena kesempurnaan tidak membutuhkan ketidaksempurnaan. Maka jika terjadi ketidaksempurnaan suatu substansi, itu terjadi karena potensi. Misalnya, seorang yang memiliki intelegensi yang kurang, hal ini disebabkan bukan karena intelegensi yang terbatas tetapi karena subyek yang memiliki kekurangan (potensi).

  1. Aktus digandakan melalui potensi

Artinya bahwa aktus yang sama dapat menjadi pluraritas sejauh dapat digandakan oleh potensi. Misalnya, kita menjumpai pluraritas di dalam species yang sama: ada banyak gajah, ada banyak manusia, ada banyak keindahan. Pluraritas terjadi karena adanya potensi yaitu materi utama. Kertas dapat dicetak kembali selama materi kertas (potensi) ada. Realitas ini hanya berlaku untuk substansi komposisi, bukan Tuhan karena Tuhan adalah pure act, Ia tidak mengenal potensi, esse-nya tidak dibatasi potensi. Essenya adalah esensinya sehingga Tuhan adalah satu.

  1. Relasi aktus dan potensi adalah relasi partisipatif di mana aktus adalah itu yang kepadanya (baca: partisipatus) berpartisipasi dan potensi adalah itu yang mana dia berpartisipasi (baca:partisipan). Partisipasi memiliki dua arti:
  1. bahwa ada subyek-subyek lain yang memiliki kesempurnaan yang sama dan tidak ada di antara subyek-subyek tersebut yang memiliki kesempurnaan secara penuh (semua benda merah berpartisipasi di dalam warna merah).
  1. bahwa subyek tidaklah sama dengan apa yang dimilikinya tetapi hanya memiliki, jadi kesempurnaan terjadi karena partisipasi. (Claudio bukanlah seorang yang bijaksana murni, tetapi hanya berpartisipasi di dalam kebijaksanaan).

Substansi komposisi selalu terdiri dari partisipatus dan partisipan. Konsekuensinya, dalam kaitannya dengan esse, maka segala yang ada atau realitas adalah partisipan. Menurut Thomas Aquinas bahwa sebagaimana seorang individu manusia berpartisipasi di dalam natura manusia, setiap ciptaan berpartisipasi di dalam di dalam esse Tuhan, karena Tuhan adalah esse-Nya sendiri. Dengan demikian jelaslah bahwa perbedaan Tuhan dan ciptaan adalah esse-Nya adalah esensinya sementara ciptaan berpartisipasi di dalam esse-Nya. Memiliki  dengan cara partisipasi (ciptaan) jelas berbeda dengan memiliki dengan cara esensi (Tuhan). Sebab memiliki dengan cara esensi berarti memiliki dengan cara yang sempurna, eksklusif, ada identik dengan esensi.

Aktus dibatasi dan digandakan oleh potensi di dalam relasi partisipatif.  Relasi partisipatif aktus-potensi memiliki konsekuensi sebagai berikut:

  1. Komposisi aktus-potensi tidak menghancurkan kesatuan ada. Kombinasi dari beberapa realitas yang telah menjadi aktualisasi tidak melulu membentuk suatu ada tunggal tetapi juga ada-ada lain misalnya penunggang kuda dan kuda; rumah yang disusun dari kayu, semen, batu dan lain-lain.
  1. Potensi di dalam kesatuannya dengan aktus tidak dapat menghasilkan dua ada yang berbeda secara spesies. Misalnya telur sebagai potensi ayam tidak menghasilkan badak tetapi ayam atau beberapa ayam.

Kesimpulannya, prinsip aktus-potensi menyingkapkan keabsahan perubahan dalam koridor prinsip metafisika non-kontradiksi. Justru dengan aktus-potensi sebagai struktur ada, prinsip non-kontradiksi menjadi nyata di dalam realitas[13]. Pada akhirnya, aktus dan potensi adalah modalitas bagi ada ciptaan karena ada ciptaan mengalami perubahan, berubah dari satu hal ke hal yang lain.

[1] Thomas Aquinas, IX Metaphysics, lec.2, no. 1769

[2] Ibid., V Metaphysics, lec.9, no. 897

[3] Tomas Alvira, Luis Clavell, Tomas Melendo, Metaphysics (Manila: Sinag-Tala, 1991) hal 90

[4]  Aristotele, Metafisica, libro IX, 1048a

[5] Tomas Alvira, Luis Clavell, Tomas Melendo, op.cit, hal 77

[6] Ibid., hal 78

[7] ibid

[8] Ibid., hal 79

[9] Vanni Rovighi,  Elementi Di Filosofia (Brescia:Editrice La Scuola, 1999) hal 67

[10] Ibid.

[11] Thomas Aquinas, IX Metaphysics, Lect. 10 , no. 1894

[12] Substrat dalam dunia kimia berarti molekul organik yang telah berada dalam kondisi siap bereaksi karena telah mengandung promoter.

[13] Prinsip aktus-potensi ada ini yang digagas oleh Aristoteles mengakhiri perdebatan Heraklitus dan Parmenides. Bagi Heraklitus ada adalah ada yang berubah, tidak ada ada yang tetap. Bagi Parmenides ada adalah ada yang tetap, tidak ada ada yang berubah , hanya ada satu ada. Andaikata Parmenides yang benar maka prinsip non-kontradiksi tidak berlaku karena segala sesuatunya menjadi identik sehingga tidak ada perbedaan di antara ada. Sebaliknya, andaikata Heraklitus yang benar yang terjadi adalah segala sesuatu berubah sehingga ada dan non ada menjadi sama dan justru mengantar kepada absurditas. Prinsip non-kontradiksi akan dibahas pada bab prinsip pertama metafisika.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply