Ada Real dan Ada Akal Budi (Ens Rationis)

 

Lukisan Luigi Chialiva, Young Boy Tending Geese 

 

 

 

 

“Realitas dan Akal budi menunjukan kekayaan dan kebenaran  realitas”

Ada real (Ens reale)

 

Wilayah metafisika mencakup ada real (ens reale) yang meliputi yang aktual dan yang mungkin yaitu itu yang real dan mengada dan itu yang dapat atau mampu mengada. Akibatnya, ens, ada, being dapat didistingsi menjadi ada aktual dan ada posibilis. Baik ada aktual dan ada posibilis merupakan ada yang real (ens reale). Distingsi ini didasarkan pada fakta adanya perubahan ada dan kemampuan manusia untuk berbuat, melakukan sesuatu dan mengalami atau menerima perubahan. Distingsi ada sebagai ada aktual dan ada possibilis merupakan distingsi yang pertama baik secara ontologis maupun psikologis dan distingsi ini mendahului distingsi ada sebagai substansi dan ada sebagai aksiden. Oleh karena itu, hubungan substansi dan aksiden mensyaratkan distingsi antara ada aktual dan ada posibilis: oleh karena substansi dideterminasi oleh aksiden, konsekuensinya ada aksiden diaktualkan dan ditopang oleh substansi.

 

  1. Ada aktual

Ada aktual meliputi segala yang nyata, bentuk fisik dan materi yang dapat disentuh misalnya rumah, kuda, patung, Sergio Busquets dan sebagainya. Ada aktual adalah itu yang merupakan posibilitas yang telah direalisasikan atau sesuatu yang telah mengada secara aktual oleh dirinya sendiri.

  1. Ada posibilis

Berbicara tentang posibilitas dalam konteks metafisika berarti berbicara tentang sesuatu yang terkait erat dengan potensi. Maka ada posibilis merujuk kepada potensi dari sesuatu hal. Sesuatu itu dikatakan mungkin, possible ketika terdapat pasif potensi dan aktif potensi. Sebagai contoh sebuah tembok dapat dilukis karena tembok mempunyai kapasitas nyata untuk menerima warna (pasif potensi) dan ada seorang manusia yang mewarnai tembok (aktif potensi).

Menurut beberapa filsuf (misalnya Spinoza, Hartmann) ada posibilis adalah ketiadaan sehingga yang ada hanyalah ada aktual, maka jika sesuatu hal itu bukan ada aktual, sesuatu hal tersebut tidak bisa dikatakan sebagai ada posibilis tetapi ketiadaan. Bagi Spinoza, ada posibilis merupakan ketidaksempurnaan pengetahuan kita, artinya ada posibilis hanyalah sebagai infinitas antara ada dan non-ada berlangsung di dalam pengetahuan kita melulu dan itu berarti tidak real. Bagi Nicolai Hartmann ada posibilis sekedar merupakan sesuatu hal dalam relasinya dengan sesuatu hal yang lain. Bagi filsuf maupun mazhab yang menolak ada posibilitas dapat ditarik suatu kesimpulan berikut ini: posibilitas diidentifikasikan dan disamakan dengan aktualitas. Ketika ada kondisi yang pasti di mana sesuatu dapat mengada terpenuhi, maka realitas ini dapat disebut sebagai ada aktual sehingga tidak ada realitas yang namanya ada posibilis. Dengan kata lain ketika semua syarat untuk sesuatu hal mengada terjadi, maka sesuatu hal tersebut tidak mungkin tidak mengada sehingga ada aktual menjadi suatu keniscayaan. Dengan demikian yang aktual hanyalah yang mungkin dan yang tidak aktual atau posibilis tidaklah mungkin[1].

Konsekuensi penolakan ada posibilis merujuk kepada penolakan Tuhan sendiri sekaligus menjadi satu jawaban pertanyaan perdebatan filsafat: apakah Tuhan sebagai prima causa yang menciptakan segala sesuatu ditentukan (determinasi) atau memiliki kebebasan? Menurut mereka, Tuhan ditentukan di dalam menciptakan karena tidak adanya posibilitas. Padahal, kenyataannya bukan saja aktualitas sebagai penyebab posibilitas secara pasti tetapi juga terdapat suatu causa intelek dan bebas (aktif potensi) di mana causa intelek dan bebas dapat menciptakan sesuatu dengan definitif. Jadi, para filsuf dan mazhab yang menolak ada posibilis yaitu mereka yang menyamakan ada posibilis dengan ada aktual menolak juga eksistensi Causa prima yang bebas.

Arti Causa prima yang bebas menjelaskan bahwa pengetahuan Tuhan akan posibilitas ciptaan-ciptaan tidak berasal dari suatu pertimbangan akan ciptaan-ciptaan yang aktual tetapi justru dari esensi-Nya. Tuhan melihat dari kekekalan bagaimana esensi-Nya kiranya dapat diimitasi atau dihadirkan untuk berbagai jenis ciptaan. Ada Tuhan tidak tergantung kepada dunia atau ciptaan dan di dalam diri-Nya tidak ada aksiden-aksiden yang mana dia kiranya ditentukan dan diatur terhadap ciptaan-ciptaan. Kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas membentuk di dalam dirinya sendiri model-model dari hal-hal yang mungkin atau possible tersebut, secara analog seperti seorang arsitektur yang menyusun berbagai macam model bangunan yang dapat ia bangun. Segala yang ada tidak hanya memiliki eksistensi yang berasal dari Tuhan ketika diciptakan, tetapi kodrat ciptaan-ciptaan dapat dimengerti; sebab intelek Tuhanlah yang merancang ciptaan-ciptaan tersebut.

                               

Posibilitas intrinsik dan ekstrinsik

Ada posibilis terjadi karena ada dapat dan mampu mengada. Posibilitas terdiri dari dua hal yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Posibilitas intrinsik adalah karakter intrinsik dari sesuatu hal yang dapat mengada, posibilitas ekstrinsik adalah apa yang difondasikan pada kapasitas dan kemampuan causalitas. Suatu hal secara intrinsik mungkin jika sesuatu hal melalui naturanya dapat mengada dan sesuatu hal tersebut tidak meniadakan satu sama lain sehingga suatu gunung emas merupakan sesuatu hal yang mungkin, tetapi segitiga kotak tidaklah mungkin. Suatu hal secara external atau ekstrinsik mungkin ketika ada kekuatan untuk menciptakannya, maka, karena kekuatan Tuhan tak terbatas, segala kemungkinan ekstrinsik dan intrinsik dapat diciptakan dan diaktualkan oleh Tuhan.

  1. Posibilitas ekstrinsik

Posibilitas ekstrinsik dapat dibedakan dalam tiga hal yaitu ekstrinsik dalam metafisika, ekstrinsik dalam fisik dan ekstrinsik dalam moral. Sesuatu hal dikatakan mungkin secara metafisika ketika dapat diaktualkan oleh Causa prima (Causa segala yang ada); secara fisik ketika dapat diaktualkan oleh causa-causa yang beroperasi dalam dunia aktual menurut hukum-hukum natura; secara moral ketika dapat diaktualkan oleh norma-norma atau nila-nilai manusia. Oleh karena itu, adalah mungkin secara metafisika bahwa benda-benda ditarik di dalam proporsi yang terbalik dengan massa benda-benda (daripada dalam proporsi lurus sebagaimana dikatakan oleh hukum gravitasi), sebab Causa prima kiranya dapat mengkonstruksikan benda-benda dengan proprietasnya yang berbeda dari yang aktual; tetapi kenyataan yang seperti itu secara fisik tidaklah mungkin. Selanjutnya secara metafisika dan fisik adalah mungkin bahwa seorang ibu membenci anaknya, tetapi hal ini secara moral tidaklah mungkin.

 

  1. Posibilitas intrinsik

Kita memperoleh pengetahuan kita tentang apa yang mungkin dari apa yang aktual. Imaginasi kita mengkombinasikan ide-ide dari benda-benda material yang dipersepsikan sehingga menjadi ide baru dari hal-hal yang dapat dibayangkan. Intelek kita dapat mengkonstruksikan gagasan hal-hal aktual yang telah diketahui dan membentuk konsep-konsep baru tentang hal-hal yang mungkin; tetapi intelek tidak dapat mengkombinasikan elemen-elemen yang saling berkontradiksi satu sama lain. Tentu saja, kita tidak dapat mempersepsikan lingkaran segitiga. Jadi, fundamen dari posibilitas intrinsik adalah jika tidak ada kontradiksi atau absennya kontradiksi. Maka, gunung emas adalah mungkin karena tidak ada kontradiksi antara gunung dan emas. Absennya kontradiksi oleh Immanuel Kant disebut sebagai forma dari ada posibilis. Selain syarat absennya kontradiksi, ada juga syarat dibutuhkan untuk mendukung ada posibilitas supaya dapat mengaktual yaitu materi dan aktif potensi. Maka, dengan adanya materi dan absennya kontradiksi serta aktif potensi, ada posibilitas adalah sesuatu yang dapat mengada.

Sekarang semakin jelaslah bahwa seandainya ketiadaan terjadi, segala yang mungkin juga tidak dapat terjadi karena tidak adanya fundamen bagi ada posibilis yaitu materi dan aktif potensi. Sebab ada posibilis membutuhkan ada aktual (materi), ada posibilis berarti itu yang dapat berpartisipasi pada ada (aktual) dan lebih tepatnya ada posibilis bergantung kepada Sang Ada yang adalah prinsip segala yang ada. Jadi, fundamen utama ada posibilis adalah kekuatan aktif Tuhan yang dapat menciptakan segala partisipasi di dalam ada (segala sesuatunya tetapi yang tidak melibatkan kontradiksi).

Walaupun demikian, ada-ada yang mungkin (possibilis) bukanlah ada yang aktual. Ada-ada yang demikian hanya di dalam Tuhan dan ia dapat memikirkannya di dalam kebijaksanaan dan menciptakan mereka di dalam kemahakuasaan-Nya. Maka, sebelum dunia ada, segala sesuatunya adalah mungkin bukan karena pasif potensi tetapi berkat kekuatan aktif Tuhan. Di sini terbuktilah bahwa Tuhan adalah sang pencipta dengan kebebasan-Nya. Tuhan yang mencipta dengan kebebasan-Nya berarti segala yang ada adalah aktualisasi dari kebebasan yang dipilih oleh Tuhan. Konsekuensinya pula bahwa segala yang aktual menjadi segala yang mungkin secara infinitif. Infinitas itu terjadi karena infinitas itu sendiri adalah keniscayaan Ada yang infinitif. Kebebasan Tuhan menunjukkan dua fakta yaitu kehendak dan Intelek Ilahi. Kehendak (esensi) dan intelek Tuhan menjadi dasar dan akar posibilitas intrinsik.

Tuhan mendahului tatanan ciptaan dan bukan merupakan subyek dari natura. Tuhan adalah causa segala hal termasuk posibilitas. Artinya, posibilitas merupakan cara-cara di mana ada-ada ciptaan berpartisipasi di dalam esensi Tuhan karena posibilitas diketahui oleh Tuhan sebagai sesuatu yang partisipatif. Konsekuensinya, tidak ada posibilitas yang lepas bebas dari Tuhan. Itu yang membuat atau menciptakan sesuatu bukan memisahkan diri dari tatanan esensi posibilitas, tetapi justru adalah esensi Tuhan sendiri dalam arti bahwa esensi Tuhan dapat diimitasi dan dapat dikomunikasikan. Modus dari ada ciptaan adalah modus yang mana memiliki kemungkinan untuk berpartisipasi di dalam esensi Tuhan. Tuhan mengetahui esensi-Nya karena Tuhan adalah self-knowledge sehingga dia mengetahui dan membangun posibilitas.

 

Ens rationis (being of reason)[2]

Ternyata akal budi dengan kemampuan abstraksi mampu menciptakan ide-ide ataupun gagasan-gagasan yang tidak ada di dalam realitas. Maka, segala sesuatu yang ada di dalam akal budi disebut dengan ens rationis (being of reason). Jelasnya ens rationis adalah segala sesuatu yang bukan ada real (baik aktual ataupun posibilitas) tetapi segala sesuatu yang mengada di dalam intelek[3]. Semua ide-ide yang abstrak, semua universalitas merupakan ens rationis.

Lalu apa yang dimaksud dengan universalitas? Universalitas mencakup segala sesuatu yang ada di dalam kesadaran manusia dan mengada di dalam intelek manusia. Di dalam pemahaman dan intelek kita, ketika kita berkata atau memahami ini segitiga, ini pohon maka apa yang kita pahami itu tidak hanya isi yang sifatnya individu tetapi juga isi yang sifatnya universal, pohon berarti “pohon-pohon”, segitiga berarti “segitiga-segitiga”. Di sini yang dimaksud dengan “pohon-pohon” atau “segitiga-segitiga” bukanlah soal pluralritas melainkan merangkul semua genus ataupun suatu species. Lalu ketika kita mengatakan bahwa pohon adalah makhluk hidup, maka merujuk kepada sesuatu yang umum atau kepada segala kategori yang menunjukkan natura atau esensi dari segala model-model pohon. Atau, pada saat kita menyatakan bahwa manusia dari kodratnya adalah makhluk rasional, maka kita tidak menyatakan seorang manusia tertentu, seorang manusia dengan warna kulit tertentu tetapi merujuk kepada semua manusia secara universal. Pemikiran kitalah yang mengkonstruksikan konsep-konsep dan pemahaman universal yang seperti itu[4]. Thomas Aquinas mendefinisikan universalitas sebagai berikut: “universalitas adalah itu yang umum bagi banyak hal; untuk itu dikatakan universal karena berpartisipasi di dalam banyak hal (multis inesse) dan didasarkan dari banyak hal (de multis praedicari)”[5]. Dengan kata lain universal adalah satu di dalam dirinya sendiri tetapi ditemukan di dalam banyak hal pada saat yang bersamaan.

Lantas, jika kita membedakan antara ens rationis dan ens reale, ens rationis dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang bukan ens reale. Juga bahwa ens posibilis dan ens rationis adalah hal yang berbeda. Ens rationis adalah itu yang hanya mengada di dalam pikiran sementara ada posibilis adalah itu yang dapat mengada. Menurut Thomas Aquinas ens rationis kiranya mencakup segala jenis ada yang tidak real[6] atau sebagai absen dari ada real dan merupakan kilasan dari akal budi. Cakupan ataupun jenis ens rationis adalah sebagai berikut:

  • Fiksi, seperti chimera (gagasan yang tidak masuk akal), mimpi termasuk di dalam kelas ini, dan logical being seperti definisi, predikat, preposisi dan silogisme, pertentangan. Logical being adalah ada yang dilihat melulu sebagai objek pengetahuan dan oleh karena itu hanya mengada di dalam pikiran (mental term) serta menjadi subyek  logika[7].

 

  • Negasi dan privasi

Negasi[8] mengindikasikan bahwa adanya non-ada dari sesuatu hal, negasi juga berarti tidak memiliki ens, ada, being sebagai fondasinya; sementara privasi menunjukkan absennya sesuatu hal yang seharusnya ada, dari sebab itu pernyataan batu tidak memiliki mata adalah suatu negasi sementara mamalia yang tidak mempunyai mata adalah privasi[9]. Namun, yang harus diingat bahwa dalam realitas, negasi ataupun privasi tidaklah ada: yang ada hanyalah subyek-subyek yang kehilangan atau kekurangan sesuatu hal[10]. Maksudnya demikian: misalnya realitas lubang sebuah pakaian terjadi karena terpotong, air masuk ke dalam lubang; lubang tidak memiliki eksistensi sebagai lubang (negasi) atau sebagai kekurangan: adalah intelek kita yang mempresentasikan lubang sebagai entitas. Negasi dan privasi yang disebut sebagai ens rationis ini tetaplah ada, being karena kita dapat memikirkan negasi dan privasi walaupun bukan merupakan ada yang real[11].

Dalam bukunya De Ente et Essentia[12] Thomas sembari menguraikan penjelasan tentang ada menurut Aristoteles, menjelaskan bahwa  ada (ens) memiliki dua kegunaan: yang pertama ada digunakan di dalam apa yang terbagi di dalam sepuluh kategori; dan yang kedua ada digunakan untuk menunjukkan kebenaran preposisi. Perbedaan di antara kedua ada ini adalah bahwa di dalam cara yang kedua segala sesuatu yang dengannya kita dapat membentuk preposisi afirmatif dapat disebut sebagai suatu ada, meskipun ada tersebut tidak memiliki realitas. Maka, di dalam cara ini, privasi dan negasi dapatlah disebut sebagai ada; sebab kita dapat mengatakan bahwa afirmasi bertentangan negasi, dan bahwa kebutaan adalah soal mata. Dalam cara yang pertama, apa yang ada di dalam realitas itulah yang dapat disebut sebagai ada. Oleh karena itu, di dalam cara yang pertama pula, kebutaan dan yang semacamnya bukanlah ada.

 

  • Relasi-relasi akal budi

 Ens rationis juga dapat terjadi di dalam relasi-relasi yang diciptakan oleh akal budi. Relasi-relasi akal budi merupakan relasi-relasi yang ada hanya di dalam pemikiran manusia. Relasi-relasi akal budi kiranya tidak real (relasi-relasi yang tidak real bisa salah satu atau keduanya, relasi tersebut kiranya tidak terlalu berbeda dengan relasi yang lain (identik), relasi yang terjadi tidak memiliki dasar yang real di dalam subjek) dan sebagai akibat dari refleksi akan universalitas. Apa artinya? Dalam konsep-konsep universal, itu yang dihadirkan atau diabstrasikan oleh konsep-konsep universal adalah real sementara yang tidak real adalah konsep universal dan modus ada universal. Modus ada universal (genus, species) misalnya segitiga adalah suatu genus, segitiga sama sisi adalah suatu species; binatang adalah suatu genus, manusia adalah suatu spesies. Tetapi dari manakah kita bisa mengetahui data-data modus ada yang universal yang tidak real? Dari suatu relasi-relasi yang dibuat oleh akal budi yaitu suatu relasi kesamaan yang berasal dari pikiran manusia di mana pikiran manusia mengabstrasikan karakter-karakter definitif sesuatu hal dan karakter-karakter definitif sesuatu hal yang lain sehingga muncul kesamaan. Universalitas yang direfleksikan memang berada di dalam intelek dan mempunyai dasar pada esensi yang konkret dalam hal-hal (res, thing) tersebut. Jadi, relasi-relasi akal budi merupakan perbandingan mental artinya relasi-relasi akal budi terjadi ketika akal budi membandingkan hal-hal yang sebenarnya tidak berkaitan satu sama lainnya.

Tipe-tipe relasi-relasi akal budi[13]:

  1. Relasi-relasi antar konsep seperti relasi antara species dan genus atau species dan individu. Segala yang memiliki perasaan adalah binatang (genus) tetapi manusia selain memiliki perasaan juga memiliki akal budi (species); mawar yang ada di taman kota (individu) termasuk jenis mawar Lebanon (species).
  1. Relasi identitas yaitu ketika kita mengatakan bahwa sesuatu identik dengan dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita mempertimbangkan realitas yang sama seolah-olah sebagai kedua hal. Segala sesuatu identik dengan dirinya sendiri, tetapi ini bukanlah relasi yang real, karena hanya satu hal saja sungguh eksis. Misalnya, ketika seseorang bercermin lalu dia membandingkan dengan seorang aktor sehingga dia mengatakan bahwa dirinya mirip dengan aktor tersebut.
  1. Relasi dengan yang tak real. Kita sering mengkaitkan dua hal di mana salah satunya tak real seperti ketika kita membandingkan masa sekarang dengan masa depan atau antara ada (being) dan ketiadaan (nothingness).
  1. Relasi-relasi akal budi yang terjadi ketika tidak adanya relasi yang sifatnya timbal-balik secara real di antara dua hal. Sebagai contoh, dunia external tidak mengalami perubahan ketika diketahui oleh manusia. Konsekuensinya, objek yang diketahui tidaklah diubah oleh segala relasi yang menuju kepada subyek yang mengetahui, sebaliknya dari pihak subyek, terjadilah relasi yang nyata bagi subyek dalam hubungannya dengan obyek. Kita melihat pohon di tepi jalan lalu kita menilai pohon tersebut: tingginya, bentuknya, warnanya. Kita mendapat informasi tentang pohon tersebut (ada relasi nyata) tetapi pohon tersebut tetap pohon dan tidak berubah walaupun telah diketahui dan dinilai oleh kita .
  1. Lalu relasi-relasi yang dibuat akal budi untuk memahami Tuhan lewat ciptaan-ciptaan juga termasuk ens rationis. Untuk memahami perlindungan Tuhan kita mengatakan bahwa Tuhan adalah benteng hidupku. Benteng hidupku di sini adalah ens rationis. Tentu saja, segala ciptaan memliki relasi ketergantungan yang real dengan Tuhan sebab memang Tuhan adalah sang Pencipta. Tetapi relasi yang sebaliknya (Tuhan memliki relasi dengan ciptaan) bukanlah relasi yang real[14]. Sebab Tuhan tidak dapat menjadi subyek relasi dengan alasan bahwa Tuhan tidak memiliki aksiden-aksiden. Walaupun tidak ada relasi yang real kepada ciptaan-ciptaan-Nya bukan berarti bahwa Tuhan adalah ada yang jauh, tak dikenal dan tidak peduli akan ciptaan-ciptaan-Nya. Justru sebaliknya, bahwa Tuhan hadir di dalam segala ciptaan dengan memberikan esse kepada ciptaan-ciptaan-Nya lewat causa efisien diri-Nya. Kedekatan-Nya kepada ciptaan-ciptaan jauh lebih besar dan lebih dalam daripada segala relasi aksiden-aksiden yang ada dan dapat dibuat[15].

[1] Sebaliknya juga bahwa beberapa filsuf dengan tegas mereduksi total esensi kepada potensi. Reduksi total esensi kepada suatu potensi berakibat isi, contentnya tidak dapat ditangkap. Terlebih, multiplisitas dan keteraturan ada tidak akan dapat dipahami,  keteraturan ada tergantung kepada suatu impulse buta suatu ada. Esensi bukan lagi partisipiasi  dalam esensi Tuhan, makna causalitas mutualisme antara ada dan esensi tercabut.

[2] Ens rationis disebut juga sebagai ens mentale

[3] Martinus Smiglecius -seorang ahli filsafat Polandia- dalam bukunya Logica mendefinisiakan ens rationis sebagai berikut:”Hoc enim nome entis rationis intelligimus, quod cum non sit ens reale, in solo intellectu existit. (…) Ad rationem igitur entis rationis requiritur, ut nullo modo sit reale, nec actu, nec potentia“. Logica, hal. 2.

[4] Thomas Aquinas, De Ente et Essentia, n. 60

[5] Ibid., dalam VII Metaphysics, lect. 13, n. 1572

[6] Ibid., dalam IV Metaphysics, lect. 4, n. 574: “Ens autem rationis dicitur proprie de illis intentionibus quas ratio adinvenit in rebus consideratis; sicut intentio generis, speciei et similium, quae non inveniuntur in rerum natura, sed considerationem rationis consequuntur. Et huius modi, scilicet ens rationis, est proprie subiectum logicae”.

[7] Ibid.

[8] Negasi juga termasuk logical being. Lihat  S. Th., I, 16, 3 ad 2.

[9] Menurut privasi lihat de principiis naturae

[10] Bdk. Thomas Aquinas, dalam IX Metaphysics, lect. 9, n. 896

[11] Thomas Aquinas dalam IV Metaphysics, lect. 2, n. 560.

[12] Thomas Aquinas, De Ente et Essentia, n. 3

[13] Tomas Alvira, Luis Clavell, Tomas Melendo, Metaphysics (Manila: Sinag-Tala, 1991) hal 71

[14] “Non enim producit creaturas ex necessitate suae naturae, sed per intellectum et voluntatem, ut supra dictum est. Et ideo in Deo non est realis relatio ad creaturas”. Thomas Aquinas Summa.Theologiae, 1,28,1. ad 3.

[15] Tomas Alvira, op.cit., hal 71

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply