Yesus Yang Tergantung Di Atas Kayu Salib: Tuhan Adalah Cinta

 

Lukisan Bartolomé Estebán Murillo,The Crucifixion

 

 

 

Ketika dunia selalu berubah, salib tetap berdiri teguh. St. Bruno

Yohanes 3: 14-21

Ada kelompok musik yaitu Eagles yang terkenal dengan lagunya Love will keep us alive: Cintalah yang membuat kita hidup.  Berikut ini adalah cuplikan lirik lagu love will keep us alive.

Aku berdiri sendiri

Menatap dunia luar

Kamu mencari suatu tempat untuk bersembunyi

 

Hilang dan sendiri

Sekarang kamu memberikan kepadaku

Kehendak untuk bertahan hidup

Ketika kita kelaparan, cintalah yang membuat kita hidup

 

Janganlah kamu khwatir

Kadang kala kamu harus membiarkan semua terjadi begitu saja

Dunia sedang berubah

Dan itu benar  seperti yang terjadi di hadapanmu 

Sekarang aku telah menemukan dirimu

Dan tidak ada lagi kekosongan di dalam hati

Sebab ketika kita kelaparan, cintalah yang membuat kita bertahan hidup

Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun -demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan- supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Kata-kata Yesus menunjukkan suatu fakta bahwa dia harus ditinggikan. Apa yang dimaksud dengan ditinggikan dan bagaimana Yesus ditinggikan? Yesus ditinggikan berarti Yesus dimuliakan dengan cara tergantung di atas kayu salib (Bdk. Bertold Anton Parreira). Ada dua alasan yang menjelaskan: yang pertama karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini dan yang kedua supaya mereka yang percaya kepada Yesus Kristus beroleh keselamatan. Kata Yohanes: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Putranya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan peroleh hidup yang kekal”. Dengan demikian, kemuliaan Kristus di atas salib membuktikan bahwa Allah datang bukan untuk menghakimi dunia tetapi untuk menyelamatkannya.

Yesus Kristus yang ditinggikan di atas kayu salib demi menyelamatkan dunia membuka suatu misteri ilahi: Tuhan adalah cinta. Mengapa? Sebab di atas salib ada kejahatan dan dosa manusia; salib adalah hukuman manusia tetapi di atas salib itu pula Tuhan mengampuni dosa dan menebus upah dosa yaitu maut.  Yesus Kristus ditinggikan melalui salib supaya cinta itu berada di tempat yang paling tinggi. Cinta yang berada di tempat yang maha tinggi itu -baca salib- berarti cinta meraja. Cinta meraja adalah cinta mengalahkan segala-galanya termasuk kejahatan, dosa dan maut. Dalam salib Kristus, cinta berkata dan bertindak di dalam keheningan, berkarya dan bekerja di dalam kepahitan dan kegagalan. Namun logika cinta salib ini hanya bisa ditangkap, dimengerti dan dirasakan dalam iman yaitu percaya kepada Yesus sebagai Putra Allah.

Iman yang melihat dan merasakan cinta Tuhan yang terukir di di atas kayu salib menyalakan cinta di dalam diri. Maka, setiap kali kita memandang salib kita tahu betapa indahnya cinta Tuhan kepada dunia. Keindahan cinta itu Tuhan diungkapkan dengan indah oleh St.Katarina dari Siena: Oh kasih yang tak terungkapkan! Meskipun engkau melihat segala perbuatan jahat yang dilakukan oleh manusia terhadap kebaikanmu yang tak terbatas, engkau bertindak seolah-olah Engkau tidak melihatnya. Engkau mengarahkan mata-Mu hanya pada keindahan ciptaan-Mu. Engkau telah jatuh cinta padanya seolah-olah seperti seorang mabuk dan tidak waras karena cinta… Bukan karena dosa itu tersembunyi dari pandanganmu, melainkan karena Engkau memusatkan diri pada kasih. Memang hanya api kasihlah Engkau (dikutip dari Bertold Anton Parreira)

Maka, di dalam salib ada iman, cinta dan harapan yang tersatukan secara secara sempurna menjadi terang. Salib adalah terang yang selalu menerangi dunia dan memberi kita kekuatan untuk bertahan karena salib adalah cinta Kristus kepada dunia. Maka, ketika dunia sendirian dan berjalan menuju kegelapan, ketika kebencian semakin merajalela, cinta salib harus semakin menunjukkan terangnya supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatan para murid Kristus dilakukan di dalam Tuhan. Jadi di dalam salib dan cinta semua menjadi nyata apakah orang berada dalam Allah atau di luar Allah; apakah dia seorang pengikut Kristus yang sejati atau bukan.

 Marilah kita mengukir hidup dengan salib dan cinta Kristus; dengan cinta dan salib pula marilah kita mengingat tentang jati diri kita dan seberapa jauh kita telah berjalan. Ingatlah saat kita berjalan seorang diri, saat kita menatap dunia dengan kesepian, saat kelaparan melanda dalam perjalanan hidup, salib Kristus yang membuat kita bertahan hidup. Sebab di dalam salib-Nya ada cinta yang mengenyangkan kita; di dalam salib ada cinta yang tak pernah meninggalkan kita; di dalam salib ada cinta yang membuat kita berani berjalan menyusuri dunia; dan di dalam salib kita telah menemukan Kristus. Tidak ada lagi kekosongan dan kesendirian pun melenyap karena salib. Akhirnya, kesetiaan kita kepada salib membuat kita pun akan ditinggikan dan dimuliakan dalam salib kemuliaan Kristus. Kata Kristus:

Barang siapa percaya kepada-Ku ia tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply