Yesus Kristus: Ikan Orang-Orang Hidup

Lukas 24:36-49

                       “Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.  Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka”

Ditemukan sebuah kuburan Kristen kuno di kota Rhodes, Yunani. Yang menarik bahwa pada kuburan Kristen kuno tersebut ada suatu lambang ikan dengan kata-kata ikan orang-orang hidup. Pada masa jemaat perdana, terutama di wilayah Yunani yang merupakan bagian dari imperium Romawi, Yesus disebut dengan ikan orang-orang yang hidup. Bahasa Yunani ikan adalah ichthus dan oleh orang Kristen Yunani dilihat sebagai singkatan dari Iesous Christos, Theou (h) Uios, Soter artinya Yesus Kristus, Putra Allah, Juru Selamat. Lambang atau simbol ikan selain salib dalam sejarah Kristen merupakan lambang yang penting untuk menunjukkan keberadaan atau identitas orang Kristen. Simbol ikan digunakan oleh orang Kristen Yunani untuk berkomunikasi dan mengenali satu sama lain. Ketika seorang murid Kristus bertemu dengan orang yang baru dikenalnya atau orang asing, ia menggambar lengkungan sederhana di atas tanah. Dan jika orang asing tersebut juga merupakan seorang pengikut Kristus maka ia akan menambah lengkungan yang kedua sehingga kedua lengkungan membentuk simbol ikan. Sebaliknya, jika orang asing tersebut bukan seorang pengikut Kristus, tentu ia tidak akan menambah lengkungan ataupun bagi orang asing tersebut gambar lengkungan di atas tanah hanyalah suatu tawaan. Lambang ikan menjadi simbol yang sederhana dan mudah dikenali sebagai lambang kekristenan tetapi juga simbol ikan tidak dimengerti oleh mereka yang anti Kristen. Sebab pada masa itu tidak mungkin mereka menyatakan diri secara umum kalau mereka adalah Kristen karena imperium Romawi menilai agama Kristen sebagai kelompok, sekte yang memecah belah bangsa sehingga mereka akan ditangkap, dianiaya bahkan dibunuh. Oleh sebab itulah lambang salib tidak digunakan. Ikan selain melambangkan Yesus juga berarti bahwa orang Kristen hidup dari curahan air baptis Kristus yang berasal dari Yerusalem di mana kabar gembira untuk pertama kali diwartakan. Kata Tertulianus: Kami, ikan-ikan kecil, menurut gambar Ichthus kami, Yesus Kristus, dilahirkan di dalam air. Jadi, ikan menjadi simbol rahasia Yesus Kristus sekaligus simbol identitas murid Kristus dari Yunani.

Ketika para murid sedang asyik-asyiknya memperbincangkan dan menceritakan tentang peristiwa Yesus yang menampakkan diri, tiba-tiba Yesus datang menampakkan diri kepada mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu”. Keheranan, terkejut dan ragu-ragu merupakan reaksi, tanggapan para murid melihat Yesus yang bangkit. Mereka mengira bahwa Yesus yang ada di depan dan bercakap-cakap dengan mereka adalah hantu. Demi membuang, mengusir ketakutan dan keraguan serta membuka pikiran dan hati mereka Yesus membuktikan kebangkitan diri-Nya dengan cara menyuruh mereka meraba diri-Nya dan menunjukkan tangan dan kaki-Nya. Meraba tubuh-Nya berarti kebangkitan adalah bangkit seutuhnya baik tubuh dan jiwa. Tetapi ketidakpercayaan masih menyelimuti hati dan pikiran para murid. Sekali lagi untuk membuktikan kebangkitan-Nya, Yesus meminta makanan dan disuguhkan ikan kepadanya lalu ia memakan ikan di hadapan mereka. Dengan makan ikan, Yesus membuktikan bahwa ia benar-benar bangkit; ia bukan hantu karena hantu tidak ada daging, tidak ada tulang dan yang terpenting tidak makan.

Yesus menampakkan diri bukan sekedar menampakkan diri tetapi menyampaikan arti kebangkitan diri-Nya yaitu bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa mulai dari Yerusalem. Sejak itu, pesan kebangkitan diberitakan ke segala penjuru dunia dan ke segala zaman oleh para murid Kristus.

Kebangkitan Yesus adalah Allah yang membawa damai sejahtera. Damai Sejahtera bagi kamu. Kebangkitan Yesus memberikan kedamaian bagi dunia ini karena damai sejahtera bagi kamu menunjukkan Allah yang maharahim. Kerahiman Allah ada dan termanifestasi di dalam diri Putra-Nya: Yesus Kristus. Yesus adalah pendamaian untuk segala dosa kita, malahan bukan hanya dosa kita saja, tetapi juga dosa seluruh dunia dan seluruh ciptaan. Dosa menyebabkan kebencian, ketakutan, kekacauan, pertikaian dan bahkan kematian. Dosa menjadi kabar kesedihan bagi seluruh semesta ini. Tetapi sejak Paskah yaitu kebangkitan Yesus Kristus segalanya berubah. Dengan kebangkitan-Nya, Kristus mengalahkan dan menghancurkan dosa dan kematian. Kebangkitan-Nya berari damai, cinta, kebenaran, ketenangan dan kehidupan. Dalam kebangkitan-Nya, Yesus mengubah kabar kesedihan menjadi kabar gembira. Paskah memuat kabar gembira tentang Yesus Kristus dan kabar gembira tentang Yesus Kristus diwartakan sehingga kedamaian dan kebebasan menjadi tumbuh dan berkembang di dunia ini.

Kedamaian dan kebebasan meminta pertobatan dari pihak manusia dan mensyaratkan pengampunan dosa yang merupakan rahmat Allah yang dicurahkan secara penuh lewat wafat, sengsara dan kebangkitan Kristus. Pertobatan dan pengampunan dosa harus menjadi warta paskah. Itulah kegembiraan paskah, itulah sukacita kebangkitan Kristus karena di mana ada pertobatan dan pengampunan dosa di situ pasti ada damai. Di mana ada damai di sana datang dan hadir Yesus Kristus. Kebangkitan Kristus adalah karya cinta Allah bagi seluruh ciptaan. Karya cinta Allah adalah karya damai. Damai sejahtera bagi kamu. Yesus adalah damai kita. Dengan menunjukkan kaki dan tangan-Nya ia menyembuhkan luka-luka kita, segala permusuhan dihilangkan. Allah mengakhiri segala kebencian dengan mendamaikan segala sesuatunya di dalam tubuh Putra-Nya Yesus Kristus. Jadi melalu diri dan kebangkitan Putra-Nya, Allah telah membangun suatu kedamaian universal yang telah dijanjikan di dalam perjanjian lama, rekonsiliasi segala bangsa. Damai sejahtera bagimu merupakan pengejewantahan dan realisasi keselamatan yang telah dijanjikan di dalam Perjanjian lama dan telah terpenuhi di dalam diri Yesus Kristus. Lewat Paskah, Ia telah menunjukkan damai-Nya kepada kita dan telah hadir di dalam hidup dengan memenuhi hati kita dengan kebebasan dan kegembiraan paskah.

Yesus muncul atau hadir ketika para murid sedang memperbincangkan dan bercerita tentang kebangkitan diri-Nya. Maka Paskah adalah memperbincangkan, menceritakan mewartakan dan bersaksi akan kebangkitan Yesus. Berkat pembaptisan, kita  adalah saksi Paskah, saksi kebangkitan-Nya. Cerita dan kesaksian kita akan Yesus Kristus harus terwujud di dalam perkataan, tindakan dan doa kita. Itulah kemuridtan di dalam ketaatan iman, itulah pelayanan cinta. Di dalam kesaksian kita akan diri-Nya dan pelayanan cinta, Yesus selalu hadir dan datang di tengah-tengah kita.

Kehidupan yang diresapi oleh warta Paskah dan semangat paskah membuat kita mengerti lambang ikan: Ihctus: Yesus Putra Allah, Sang Juru Selamat. Berkat kesaksian kita akan kebangkitan Kristus kita sungguh menjadi orang-orang yang hidup, bukan orang-orang mati dan kita pun tahu bahwa Yesus adalah ikan bagi kita: ikan orang-orang hidup.

Doa bunda Theresa dari Calcutta kiranya juga menjadi seruan kita kepada Yesus sang ikan dan sang damai kita:

Yesus Kristus, bawalah aku dari kematian menuju kepada kehidupan.

Dari kepalsuan kepada kebenaran.

Bimbinglah aku, ya Yesus dari keputusasaan kepada harapan

Dari ketakutan kepada kepercayaan

Tuntunlah aku dari kebencian kepada cinta, dari peperangan-pertikakan kepada kedamaian

Biarkanlah damai memenuhi hatiku, menyelimuti dunia dan seluruh semesta ini: damai, damai damai

Seruan damai-damai-damai menyatakan bahwa lambang ikan: Ichtus menjadi lambang mistik karena kebangkitan dan kehadiran Yesus Kristus di tengah dunia yang membawa damai: Damai sejahtera bagi kamu. Lambang mistik ikan ichtus -Yesus Kristus Putra Allah Sang Juru Selamat- terukir indah di tengah-tengah hati dunia, terlukis di tengah jantung kehidupan karena kita adalah saksi dari semuanya ini.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply