Wah Cantiknya!!!

Lukisan: ALfred Sisley, The Bridge

 

Kenalilah dan hargailah keindahan dan kamu akan menjadi keindahan itu sendiri.

 

Ketika Monica Belluci berakting di dalam film Malena, kekaguman akan kecantikannya muncul. Setidaknya bagi para penggemarnya. Atau ketika ratu tenis Rusia, Maria Sharapova, melangkah di arena bahkan di catwalk, setiap mata terpesona mengagumi kecantikannya. Kecantikan itu memang sesuatu yang menyenangkan bagi pelihatnya (Thomas Aquinas). Sebab kecantikan itu memuaskan fakultas estetis manusia yang selalu merindukan kecantikan. Ibaratnya kecantikan itu adalah sebuah simfoni yang mengayunkan nada-nadanya dan fakultas estetis itu bernari-nari menyambut nada-nada yang dihasilkan oleh simfoni itu. Maka kita dapat berkata sesuatu itu cantik jika memiliki kesempurnaan dan kapasitas untuk menyempurnakan yang lain.

Ternyata kecantikan Monica dan Maria itu hanyalah salah satu kecantikan di antara horizon kecantikan yang ada. Buktinya saat sebuah bunga mulai bersemi menghiasi taman bahkan hutan- hutan belantara tidakkah kita juga berseru wah cantiknya? Nah, sesuatu itu cantik karena adanya. Adanya sesuatu itu cantik. Dengan kata lain sesuatu karena adanya memiliki sebuah kesempurnaan. Tetapi adanya bukanlah satu-satunya aspek yang menjadikan sesuatu itu cantik. Sesuatu itu cantik jika memiliki segala kesempurnaannya yang berkorespondensi dengan naturanya. Sebagai contoh bunga yang menghiasi taman itu cantik selain karena adanya tetapi juga karena memiliki keserasian dengan kesempurnaan naturanya. Dengan demikian kecantikan itu terwujud melalui karakter-karakter yang dimiliki oleh ada yang menimbulkan sebuah kenikmatan estetis.

Lantas Aquinas menyebutkan tiga hal yang menjadi karakter kecantikan. Yang pertama adalah adanya keharmonian atau proporsionalitas dalam sebuah objek itu sendiri dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tetapi keharmonian atau proporsionalitas itu tidaklah meniadakan variasi; tidak berarti sesuatu yang monoton bahkan juga ketiadaan perbedaan. Yang kedua adalah integritas atau kelengkapan sebuah objek berkat bentuk substansial dan aksidentalnya. Sebuah patung menjadi cantik tidak hanya karena bahannya tetapi juga karena menerima sentuhan terakhir pemahatnya yang mentranformasi sebuah bahan yang baik menjadi suatu karya seni. Yang ketiga adalah adanya kejelasan baik di dalam tataran material dan spiritual. Bagi akal budi kejelasan itu berarti inteligibilitas, kebenaran dan ada. Sebagai contoh dalam hal penglihatan, kejelasan itu berarti adanya warna, terang dan kejernihan. Ketiga karakter tentu memiliki bentuk dan tempatnya sendiri-sendiri di dalam ada. Namun kehadiran dan persatuan mereka di dalam ada itu menjadi penilaian akan kecantikan yang ada. Jadi ada yang memiliki keharmonian, integritas (kelengkapan) dan kejernihan adalah cantik secara obyektif.

Karena ada sejauh ada itu itu cantik maka kecantikan itu sebuah singularitas. Singularitas itu tak lain adalah sebuah individualitas, partikularitas yang tidak dapat dibagi lagi. Dalam tataran yang demikian setiap kecantikan suatu individualitas dapat dipungut dan dikenali dari rangkaian individualitas kecantikan yang ada. Rangkaian kecantikan invidualitas itu mengada di dalam ruang dan waktu sehingga kecantikan suatu individu itu dideterminasi oleh prinsip identitas ruang dan waktu. Lewat prinsip indentitas, kecantikan itu dapat diinderai, dipersepsikan, dinikmati dan sebagainya. Kecantikan memikat pelihatnya tidak hanya di dalam kedudukannya di dalam rangkaian individu yang ada tetapi juga karena distingsinya yang khas dan unik itu. Selanjutnya masing-masing kecantikan individu itu meleburkan dan menggabungkan diri menjadi totalitas kecantikan. Oleh sebab itulah Leibniz memuji individualitas itu. Menurutnya individu-individu adalah representasi dari keseluruhan. Analogi yang tepat untuk menggambarkan totalitas kecantikan yang demikian adalah pelangi. Pelangi menjadi indah karena individualitas masing-masing warna yang terangkai dan melebur menjadi satu. Mengikuti Leibniz, setiap kecantikan suatu individu itu adalah cermin dari kecantikan dunia sebagai keseluruhan. Dengan kata lain sebuah singularitas yang cantik merupakan media untuk melihat, merasakan kecantikan semesta.

Selanjutnya kecantikan suatu individu hanya dapat mewujudkan kecantikannya di dalam kecantikan individu-individu yang lain. Individualitas kecantikan yang lain merupakan locus untuk mengaktualkan kecantikan suatu individu. Dan pada saat yang sama, suatu kecantikan individu itu menghasilkan keharmonian, kelengkapan dan kejelasan yang menjadi karakter kecantikannya serentak bersama kecantikan-kecantikan individu lainnya. Itu berarti pula bahwa setiap individu mengkomunikasikan kecantikannya kepada individu yang lain. Kecantikan suatu individu itu ditanggapi oleh kecantikan suatu individu yang lain. Jadi ada interkomuniasi di antara individu-individu yang ada. Tentu saja individu-individu yang mampu mengkomunikasikan kecantikannya dan menaggapinya secara sadar dan penuh adalah manusia. Interkomunikasi di antara manusia ataupun antara manusia dengan singularitas yang lain yang bukan manusia itu menciptakan sebuah cermin dan jendela. Cermin selalu memantulkan apa yang tercermin itu; dan jendela merupakan fakultas untuk melihat, masuk ke dalam dunia yang lain. Yang lain itu adalah media untuk melihat diriku sekaligus jendela untuk masuk ke dalam diriku.

Maka kecantikan yang kita lihat melalui suatu individu; kecantikan yang kita masuki entah melalui imaginasi, kontemplasi, pujian tak lain adalah kecantikan kita sendiri. Apa yang cantik yang menyenangkan kita saat kita melihatnya itu adalah diri kita. Tetapi kecantikan kita itu tidak dapat diidentikkan sama persis dengan apa yang kita lihat, kita rasakan. Kecantikan kita itu berarti kita memiliki kekhasan kecantikan yang terwujud saat diri mengkomunikasikan dengan yang lain. Kecantikan diri yang masih tersembunyi dibuka oleh kecantikan-kecantikan yang kita lihat itu. Apalagi saat kekaguman akan kecantikan ada yang lain itu muncul dari diri, kecantikan yang lain itu menyempurnakan kecantikan diri sendiri. Kecantikan diri sendiri itu diaktualkan dengan ada yang lain. Ada yang lain itu memunculkan kecantikan diri. Jadi kecantikan yang ada dan yang kita kagumi itu selalu mempercantik diri sendiri. Mengagumi dan menghargai kecantikan ada yang lain itu berarti menghargai dan mengagumi diri sendiri. Itu berarti pula bahwa diri kita itu cantik; kita adalah sang kecantikan itu sendiri. Lantas tidakkah setiap orang berkata wah cantiknya? Kata Vincent Van Gogh: Jika engkau sunggu mencintai alam semesta atau natura, engkau akan menjumpai kecantikan di mana saja.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply