Tinggallah Bersama Kami

 

Lukisan Sieger Koder, Emaus

 

Lukas 24: 13-35

                                                                                          Mereka mengenal dia pada waktu memecah-mecah roti

Ada sebuah lukisan karya Sieger Koder yang menggambarkan peristiwa makan bersama di rumah Emaus. Kehebatan dari lukisan ini adalah si pelukis dengan imannya menggambarkan ekspresi keterkejutan wajah murid-murid Emaus akan Yesus yang menghilang. Yesus ditampilkan tanpa sosok dan wajah-Nya hanya digambarkan dengan cahaya warna kuning. Di meja makan, terdapat anggur, roti dan gulungan kitab suci. Orang yang melihat lukisan ini sungguh dibawa ke rumah Emaus sehingga  orang bisa mengkontemplasikan dan membayangkan suasana iman di meja Emaus dalam misteri Paskah.

Para murid setelah kematian Yesus mengalami patah harapan. Misteri sengsara dan wafat-Nya tetap tersembunyi apalagi untuk mempercayai akan kebangkitan-Nya. Satu fakta yang definitif adalah bahwa Yesus telah mati tetapi sekarang terdengar bahwa Yesus telah bangkit. Jalanan menuju Emaus terasa berat, memilukan, penuh kebingungan. Bagaimana mengerti semua ini, itulah pergulatan batin murid Emaus. Situasi hidup para murid setelah kematian Yesus seolah-olah berada di hari yang menjelang malam atau hari senja di mana matahari hampir tenggelam. Situasi para murid Emaus ini sebenarnya juga situasi kita, pengalaman kita ketika kita mengalami kesedihan, keputusasaan.

Di tengah hari yang menjelang malam, ternyata sang cahaya terbit kembali menyusuri jalanan Emaus. Yesus lewat di Emaus untuk menyertai dua murid-Nya. Mengapa Yesus datang di Emaus? Yesus yang lewat di Emaus mau membuktikan kepada para murid Emaus bahwa penderitaan, salib  dan kematian bukanlah akhir dari segalanya tetapi justru kebangkitan dan kemuliaan. “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Di jalan Emaus, Yesus membiarkan dan mempersilahkan para murid menceritakan, mengungkapkan, menuangkan segala kegelisahan, keputusasaan mereka. Indahnya adalah bahwa Yesus sungguh mendengarkan penderitaan mereka, menyeka tangisan mereka dan menguatkan mereka. Untuk itu, Yesus menceritakan kembali kitab suci dan mengingatkan kembali pengalaman mereka bersama diri-Nya dan sabda-Nya supaya mereka mengerti arti penderitaan dan kemuliaan. Derita di dalam hidup para murid Kristus berarti pula ikut serta dengan kesengsaraan Kristus dan kebangkitan-Nya. -Seperti kata pemazmur- “aku selalu ingat akan Tuhan, aku tidak goyah, karena Ia ada di sampingku”. Maka, sabda Allah memenuhi dan menghiasi jalanan Emaus. Sabda Allah membuat murid-murid memiliki hati yang berkorbar-korbar. Hati yang berkobar-kobar adalah api Roh Kudus yang menyalakan kembali hati dingin para murid supaya dengan hati yang berkorbar-korbar para murid menjadi saksi-saksi gembira akan kebangkitan-Nya dan mewartakannya ke seluruh penjuru.  Jadi, selama perjalanan Emaus Yesus dengan sabar membimbing mereka dari keputusasaan kepada perayaan Paskah dan menguatkan iman mereka supaya mereka melihat kehadiran diri-nya dalam pemecahan roti (Alfred McBride). Akibatnya, di jalan Emaus segala kepahitan ditinggal dan mata para murid terbuka melihat Paskah Tuhan yang bekerja di dunia ini.  Bersama Yesus yang bangkit, jalan Emaus bukan lagi jalan keputusasaan tetapi jalan Emaus adalah jalan kebangkitan, jalan paskah, jalan kehidupan yang baru.

Setelah sampai di rumah Emaus, ia duduk makan dengan para murid, mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Tujuannya ialah supaya mereka tahu bahwa ia adalah Allah yang hidup; bukan Allah yang mati karena kematian telah dikalahkan dengan kebangkitan-Nya. Dan membuka tabir bahwa roti dan anggur itu bukan sekedar anggur dan roti gandum melainkan tubuh dan darah-Nya yang membawa mereka kepada kehidupan abadi. Dengan makan tubuh dan darah-Nya akan mengingatkan para murid akan kenangan dan amanat terakhir pada perjamuan malam terakhir: hendaklah kamu saling melayani satu sama lain sebagaimana aku telah melayani kamu. Paskah di rumah Emaus mematrikan bahwa pelayanan kepada sesama adalah hal yang kekal; hal yang berlaku selamanya; tanda para murid Kristus setiap zaman. Ketiadaan terusir dan waktu menjadi rahmat Paskah ketika para murid saling melayani.

Tentu meja Emaus di mana para murid berkumpul adalah altar ekaristi. Ekaristi pun selalu menjadi sebuah pengalaman Emaus. Apa maksudnya? Diceritakan oleh Lukas: “Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka”. Ketika kita menerima Yesus dalam Ekaristi, hati kita dipenuhi dengan kasih kepada-Nya karena Hati-Nya adalah paskah kasih bagi kita. Itulah sebabnya para murid berkata, “Bukankah hati kita membara di dalam diri kita ketika dia berbicara kepada kita di jalan dan membuka Kitab Suci bagi kita?” Kehadiran Kristus yang mereka rasakan di jalan Emaus adalah kehadiran yang sama di dalam Ekaristi. Yesus datang menyertai dan masuk ke hati kita ketika kita menerima roti dan anggur Ekaristi. Roti dan anggur Ekaristi yang dibagikan kepada kita adalah kehidupan karena kita selalu makan tubuh dan darah-Nya yang membawa kita kepada keselamatan sama dengan pengalaman perjalanan Emaus yang membangkitkan dan menyembuhkan kita. Ekaristi juga menunjukkan kehadiran-Nya yang tersembunyi tetapi nyata. Pada saat Yesus setuju untuk tinggal bersama di rumah mereka di Emaus dan pada saat Yesus membagi-bagikan roti wajah Yesus menghilang. Menghilang bukan berarti Yesus pergi tetapi sejak saat itu Yesus -sang guru- selalu tinggal bersama kita, tersembunyi di dalam pemecahan roti. Ia selalu hadir menemani kita dalam rupa roti dan anggur ekaristi.

Peristiwa Emaus adalah peristiwa paskah indah, jalan Emaus adalah jalan paskah yang menguatkan kita dalam menyusuri jalan kehidupan ini. Ketika jalan Emaus kita dipenuhi dengan keputusasaan dan kekeringan,  memang jalan itu akan menjadi jalan yang sempit dan menyesakkan. Namun, pada saat itu ingatlah bahwa kita tidak berjalan sendirian. Sebab,  ada orang yang asing yang tak terlihat, Yesus yang bangkit datang untuk berjalan bersama kita. Ketika masalah melayukan hati sehingga menjadi sebuah keputusasaan, ingatlah akan jalanan Emaus yang mana Yesus hadir menemani dan menyertai murid-Nya. Ketika kita kehilangan arah dan ketika hati menciut, Yesus sendiri yang akan mengobar-ngobarkan hati kita supaya hati kita menjadi hati paskah yang berkorbar-korbar seperti dua murid Emaus sehingga kita sampai di rumah Emaus.

Marilah kita berjalan bersama dengan Yesus. Berjalan bersama Yesus membuat jalan kita yang sempit dan sesak akan berubah menjadi jalan raya persahabatan, percakapan, iman dan dan harapan dengan Yesus sendiri. Di Emaus meja sudah disiapkan, roti sudah dipanaskan dan anggur sudah dihidangkan sehingga di hadapan Yesus terdapat sukacita berlimpah, pada Kristuslah kebahagiaan selama-lamanya. Maka terhadap Yesus yang lewat, kita bisa mohon dan menyerukan keinginan dan kerinduan kita seperti madah Paskah berikut ini:

Tuhan tinggallah bersama kami

Karena hari hampir gelap dan matahari mulai tenggelam

Bagaimana kami akan menemukan-Mu

Pada saat hari-hari mulai menjadi gelap

Jika jalan-Mu bukan langkah kami

 

Tuhan, tinggallah bersama kami

Maka kami akan melihat hari yang mencerminkan keelokan wajah-Mu.

Dan matahari yang terbit di langkah hadapan-Mu

Semoga angin malam tidak memadamkan api hidup yang membimbing kami kepada jalan-Mu esok pagi

 

Tuhan, meja sudah disiapkan

Roti sudah dipanaskan dan anggur sudah disajikan

Berkatilah roti dan anggur ini

Dan Tuhan, tinggallah, dan duduklah selalu bersamaku di meja ini

Tinggallah selamanya bersamaku.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply