Tinggal di Dalam Yesus

 

Lukisan: August Macke, Hause im Garten

 

Yohanes 15: 1-8

Tinggallah di dalam Aku

 

Ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta itu begitu ilahi. Kita bertanya-tanya mengapa cinta itu ilahi? Ada dua alasan yang menjelaskan, pertama, ternyata hanya dari cintalah orang bisa mengerti dan sampai kepada realitas ilahi; kedua yang ilahi selalu melampaui dan menembus ruang dan waktu. Maka, ketika orang itu tinggal di dalam cinta, dia akan tahu dan mengerti dengan baik bahwa dia bisa bertemu dengan dia yang dicintai setiap saat dan di mana pun. Tidak mengherankan jika lirik lagu when I need you yang dinyanyikan oleh Julio Iglesias mengatakan  when I need you, I just close my eyes and I am with you. Antara yang mencintai dan yang dicintai ada persatuan yang begitu erat.

Injil Yohanes yang baru kita dengar bercerita soal kebun anggur. Kebun anggur ini adalah simbol atau lambang antara Yesus, Allah Bapa dan murid-murid-Nya. Mari kita perdalam  kiasan kebun anggur ini.  Yesus menyatakan bahwa dirinya adalah pokok anggur yang sejati dan benar. Yesus disebut pokok anggur yang benar karena Yesus berasal dari  Allah yang benar dan dia adalah Putra Allah. Maka, ketika Yesus menyebut dirinya sebagai pokok anggur, tentu merujuk pula kepada pengusaha kebun anggur yang adalah Allah Bapa sendiri. Sebagai pengusaha kebun anggur, Allah menjaga, merawat kebun anggurnya dengan cara memotong ranting yang tidak berbuah dan membersihkan ranting yang berbuah supaya menghasilkan buah lebih banyak. Lalu siapakah ranting-rantingnya? Ranting-rantingnya itu tak lain adalah murid-murid Yesus sendiri. Jadi betapa indahnya persatuan antara Bapa, Yesus dan murid-muridnya ini dalam kiasan kebun anggur.

Berkatalah Yesus: “akulah pokok anggur dan kamu adalah ranting-ranting-nya”, dengan perkataan ini Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya untuk tinggal dan selalu bersatu erat dengan diri-Nya karena hanya dengan bersatu erat dengan diri-Nya -sang pokok anggur- maka para murid-muridnya -sang ranting- akan berbuah. Tinggal dan bersatu dengan Yesus merupakan syarat mutlak bagi para murid Kristus supaya ia menjadi ranting yang subur dan menghasilkan anggur yang lezat. Buah anggur yang lezat akan memaniskan dan mengenyangkan kehidupan. Nikmatnya buah anggur  tampak dalam karyanya, apa yang diperbuatnya, tindakannya, perkataannya. Buah anggur yang baik mencerminkan sang pokok anggur itu sendiri. Pada saat itu pula Allah pun dipermuliakan dan bukti kalau dia adalah murid Kristus: Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridku. Jadi, tanda seorang murid Kristus yang sejati; tanda dari ranting yang subur adalah kalau ia berbuah banyak. Ada suatu fakta tentang ranting anggur yang tak terbantahkan bahwa ranting menghasilkan buah yang banyak tidak ditentukan oleh jabatan, umur, profesi. Seorang awam bisa berbuah lebih banyak dari seorang pastor; seorang yang masih muda bisa lebih berbuah daripada orang yang tua (Bertold Anton Parreira). Sebab yang menentukan ranting menghasilkan buah yang banyak adalah seberapa dalam ranting bersatu erat dengan sang pokok anggur; seberapa kuat si ranting melekat dengan sang pokok anggur. Dengan demikian itu berarti pula bahwa tanpa ada persatuan dan tinggal di dalam sang pokok anggur tentu ranting tidak akan berbuah karena ranting lepas dari pokok anggur yang memberinya kehidupan sehingga ranting mati lalu dibuang dan dibakar. Dengan kata lain para murid tidak dapat berbuat apa-apa, tidak bisa berkarya tanpa Yesus. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak  tinggal di dalam aku. Realitasnya, bisa jadi dia seorang murid Kristus tetapi tidak menghasilkan buah. Siapakah murid Kristus yang tidak menghasilkan buah, siapakah ranting yang dibuang? Para murid Kristus yang tidak berbuah adalah mereka yang membenarkan tindakan mereka yang bertentangan dengan kerajaan Allah; mereka yang mengikuti dan menyembah kerajaan dunia padahal mereka menyatakan diri sebagai murid Kristus. Ranting-ranting yang kering ini tentu akan dipotong dan dibuang karena sama sekali tidak menghasilkan buah.

Lalu bagaimana tinggal di dalam Yesus atau bersatu erat dengan Yesus? Tinggal di dalam Yesus dan bersatu erat dengan Yesus berarti percaya kepada Yesus, melaksanakan firman-Nya dan menuruti segala perintah-Nya. Yohanes sendiri dalam suratnya mengatakan “barang siapa menuruti segala perintah-Nya ia diam di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam dia. Dan kita tahu bahwa Tuhan tinggal dalam diri kita, karena Roh yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita”. Maka, kata Yesus: “Tinggallah di dalam aku dan aku di dalam kamu”.

Tinggal di dalam Yesus dalam iman, firman dan perintah-Nya membuat diri bersatu dengan Yesus di segala waktu dan tempat; terbenam dalam cinta ilahi Allah Bapa. Ikatan dan persatuan ini begitu erat dan tak mungkin dipatahkan. Yesus di dalam kita dan kita di dalam Yesus serta bersatu dengan Allah Bapa. Jadi antara Allah Bapa, Yesus dan kita adalah satu, utuh, penuh.

Maka, murid Kristus yang tinggal di dalam Allah Tritunggal bisa berjumpa dengan Allah Tritunggal  setiap saat dan kapan pun karena Allah Tritunggal ada di dalam diri; karena Allah Tritunggal tinggal di hati. Jika dia membutuhkan Allah Tritunggal, dia tinggal memejamkan mata dan Allah Tritunggal hadir bersamanya. Di dalam hati, dia melihat dan merasakan kehadiran  Bapa, Yesus, dan Roh Kudus yang menyertainya. Orang yang tinggal di dalam Yesus akan mengalami bahwa Tuhan itu begitu dekat, Tuhan selalu menyertainya dan merasakan cinta Tuhan yang menyelimuti dirinya. Dan tentu orang yang tinggal di dalam Yesus selalu mencari waktu agar bisa berjumpa dengan Yesus misalnya lewat keheningan doa, mendengarkan dan membaca firman Tuhan. Kata St. Clare: “Kita menjadi apa yang kita cintai dan dia yang mencintai kita membentuk menjadi apa kita”.

Ganjaran bagi yang tinggal di dalam perintah dan firman Yesus adalah mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerima-Nya. Dia yang tinggal di dalam Yesus pun tahu bahwa permintaannya,  doanya, selalu dalam koridor akan keindahan kebun anggur Tuhan. Ranting yang subur itu tidak lagi mohon dan berdoa demi hal-hal di luar kebun anggur itu. Doa-doanya akan didengarkan Tuhan. Dia pun akan akan mengumandangkan nyanyian Mazmur berikut ini: Tetapi aku, aku akan hidup bagi Tuhan dan keturunanku akan mengabdi kepada-Nya. Mereka akan mengisahkan karya Tuhan turun temurun, dan mewartakan keadilan-Nya kepada anak cucunya. Nyanyian Mazmur itu berkumandang karena Allah Bapa adalah pengusaha kebun anggur; Yesus adalah sang pokok anggur; dan kita adalah ranting-Nya; nyanyian itu bersenandung karena cinta Allah Tritunggal menyinari, memupuki, mengairi, merawat dan memelihara kebun anggur yang indah itu sehingga menghasilkan buah berlimpah dan manis rasanya.

 

 

 

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply