Tanggung Jawab Demi Dan Untuk Orang lain: Ketulusan Yang Membawa Kepada Kebahagiaan

Lukisan Edouard Manet, A Bar at the Follies Bergere, 1882

Filipi 2: 1-4
Lukas 14: 12-14
Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, jangalah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudar-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.

Emmanuel Levinas terkenal dengan pemikirannnya yang memperluas arti tanggung jawab. Bagi Levinas, tanggung jawab itu bukanlah tanggung jawab demi dan untuk diri sendiri tetapi tanggung jawab selalu bertanggung jawab demi dan untuk orang lain. Karakteristik tanggung jawab demi dan untuk orang lain itu bersifat asimetris. Artinya tanggung jawab itu dimulai dari aku yang secara mutlak bertanggung jawab demi dan untuk orang lain. Tanggung jawabku demi dan untuk dia tidak bisa dipindah atau pun ditransfer. Namun dalam kondisi yang demikian, aku tidak mengharapkan bahwa dia juga bertanggung jawab demi dan untuk aku. Itu urusannya. Tetapi yang penting dan mutlak adalah bahwa akulah yang bertanggung jawab demi dan untuk dia. Maka, di balik pemikiran Levinas terkandunglah usaha untuk mendobrak logika ekonomi yang selalu mewarnai kehidupan. Logika ekonomi menjelaskan bahwa aku memberi supaya aku mendapat lebih banyak.

Tanggung jawab asimetris jelas menendang logika ekonomi dan justru dalam tanggung jawab asimetris ada kemurnian, ketulusan. Tanggung jawab asimetris sudah pasti seperti yang dikatakan oleh surat Filipi itu sendiri “hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain”.

Melalui logika yang demikian kita dapat mengerti mengapa Yesus menyuruh mengundang orang cacat, orang buta dan orang miskin bukannya para sahabat, saudaramu ataupun tetanggamu. Ketika kita mengundang sahabat, saudara jujur harus diakui bahwa undangan kita memiliki kepentingan tertentu atau setidaknya logika ekonomi itu berjalan. Ada harapan bahwa dengan mengundang mereka, kita akan mendapatkan sesuatu entah itu uang, hadiah, dan sebagainya. Ketika hidup hanya dijalankan dengan logika ekonomi, tidak ada namanya kebahagiaan dan cinta. Semuanya menjadi pamrih sehingga hidup yang dijalankan dengan logika ekonomi mengantar kepada hidup yang kering dan seperti mesin yang tidak menikmati indahnya hidup karena hidup hanya menyoal ritualisme ekonomi. Padahal indahnya hidup ini ketika manusia saling berbagi dan mencinta; ketika aku bertanggung jawab demi dan untuk sesamaku.

Cinta dan kebahagiaan ditemukan dan diperoleh ketika logika ekonomi berhenti berjalan dan digantikan oleh ketulusan. Ketulusan membuka fakta bahwa aku adalah penjaga saudaraku dan telah menjadi tanggung jawabku demi dan untuk saudaraku-sesamaku. Ketulusan selalu memuat kemurnian dan keikhlasan yang mengantarkan kita kepada realitas ilahi, terbenam kepada kemurahan hati Tuhan. Ketulusan membuka mata dan hati bahwa betapa hidup ini adalah anugrah dan rahmat Tuhan, betapa kita dicintai oleh Allah sendiri. Kita memperoleh rahmat Allah secara cuma-cuma sehingga mendorong kita berbuat tulus kepada sesama kita.

Bagaimana untuk tulus hati? Memang tidak mudah untuk tulus dan berbuat ketulusan. Hanya Kristus sendiri yang dapat mengajarkan ketulusan. Maka pengenalan akan Kristus dan kedalaman iman akan Kristus itulah yang memampukan kita berbuat ketulusan. Iman akan Kristus mengalahkan rasa pamrih yang bercokol di dalam kodrat kita.

Ketulusan memberikan balasnya kepada kita yaitu sukacita hati. Kita berjumpa dengan kebahagiaan dan kebahagiaan itu sendiri tak lain adalah Kristus. Sebab dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Memang mereka yang hidup di dalam ketulusan selalu berada di dalam Kristus dan bersuka hati. Balasnya ini melampaui segala yang ada yang tak mungkin diberikan oleh logika ekonomi. Balasnya adalah seperti yang dikatakan oleh Yesus: “Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar”.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply