Tampaknya Bijaksana

XXVI

Tampaknya Bijaksana

Francis Bacon

Lukisan Nicolas Lancret, Le Menuet, 1732

Telah menjadi lancretsebuah opini bahwa orang-orang Perancis lebih bijaksana dari kelihatannya, dan orang-orang Spanyol lebih bijaksana dari mereka yang sesungguhnya. Namun, walaupun kebijaksanaan terjadi di antara bangsa-bangsa, tetapi tetaplah bahwa kebijaksanaan berlangsung di antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Seperti yang dikatakan oleh St. Paulus[1] tentang kesalehan, bahwa secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya[2]; maka tentu saja ada penilaian dalam poin kebijaksanaan dan kecukupan, bahwa tidak melakukan apa-apa atau melakukan hal yang sepele dengan sungguh serius adalah magno conatu nugas (dengan suatu usaha yang luar biasa, namun sia-sia). Hal yang konyol dan cocok untuk menjadi sebuah satir bagi manusia-manusia sang penghakim, yaitu mereka yang mengamat-amati perubahan-perubahan macam apakah yang dibuat oleh para formalis ini, dan stereoskop macam apa yang dipergunakan manusia penghakim yang dapat membuat superficies (permukaan-permukaan) melihat kedalaman dan isi tubuh. Beberapa orang begitu tertutup dan pendiam, nampaknya mereka tidak akan memamerkan kehebatan-kehebatan mereka dengan cara terbuka tetapi melalui cahaya yang remang-remang; tampaknya mereka selalu menahan diri dan ketika mereka tahu di dalam benak mereka bahwa mereka berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui dengan baik; dan dikatakan kepada orang lain, maka bagi orang lain perkataan mereka tersebut akan sungguh nampak sebagai sesuatu yang mereka yang ketahui dengan baik. Beberapa orang melakukan hal ini dengan raut muka dan gerak-isyarat, dan nampak begitu bijaksana dengan gelagat mereka; seperti ketika Cicero[3] bercakap-cakap dengan Piso[4], bahwa ketika Cicero menjawabnya, dia menarik satu alisnya naik sampai ke dahinya, dan menurunkan alis yang satunya lagi sampai ke dagunya; respondes, altero ad frontem sublato, altero ad mentum depresso supercilio, crudelitatem tibi non placer. (Kamu menjawabku, dengan satu alis mata terangkat ke dahi dan satu alis mata yang lain turun sampai ke dagu, bahwa kekejaman tidak menyenangkan kamu.) Beberapa yang lain melakukan hal yang sama dengan kata-kata yang indah, dan dengan sikap yang tegas; maju terus, dan dengan asumsi-asumsi yang mana mereka sendiri tidak dapat membuktikan. Beberapa orang, berkaitan dengan segala sesuatunya yang berada di luar jangkauan mereka, tampaknya akan menghina atau menyepelekannya dengan menganggap hal-hal yang berada di luar jangkuan mereka sebagai yang tidak relevan dan suatu kesia-siaan untuk dijelaskan; dan akibatnya ketololan mereka itu kiranya akan menjadi penghakiman bagi mereka. Beberapa orang tak pernah bertikai dan pada umumnya akan menyenangkan orang lain dengan seluk-beluknya dan dengan menghindari masalah-masalah; tentang orang-orang ini A. Gellius[5] mengatakan, Hominem delirum, qui verborum minutiis rerum frangit pondera (seorang yang amat tolol, yang dengan poin-poin yang dikatakan dan hal-hal yang menyenangkan malah menghancurkan banyak sekali perkara). Tentang hal yang sama pula, Plato[6] di dalam diaolognya dengan judul Protagoras melibatkan Prodius[7] dengan cara menghinanya sehingga memaksa Prodius berbicara yang isi pembicaraannya hanya terdiri dari perbedaan-perbedaan dari awal sampai akhir.

Umumnya, orang-orang yang seolah-olah bijaksana sungguh menemukan ketentramannya dengan berada di sisi yang negatif, dan merusak suatu kehormatan dengan penolakan dan meramalkan segala kesulitan; sebab ketika proporsi-proporsi mereka ditolak, maka berakhirlah mereka; namun jika mereka diizinkan, maka akan membutuhkan suatu pekerjaan baru; di mana nilai kebijaksanaan yang salah adalah suatu kutukan bisnis. Sebagai kesimpulan, tidak ada pedagang yang sekarat atau pengemis yang bangkrut dengan diam-diam, manusia memiliki begitu banyak trik-trik untuk meninggikan kehormatan kehebatan mereka, sebagaimana orang-orang kosong ini juga harus mempertahankan kehormatan kecukupan mereka. Orang-orang yang nampaknya bijaksana kiranya membuat suatu perubahan-perubahan hanya untuk mendapatkan opini; tetapi semoga tak seorang pun memilih orang-orang yang seolah-olah bijaksana untuk diperkerjakan; sebab tentu saja untuk bisnis, anda lebih baik memperkerjakan seseorang yang kasar daripada seseorang yang terlalu amat formal.

[1] Tentang St. Paulus lihat essai III; no. 4

[2] 2 Timotius 3: 5

[3] Tentang Cicero lihat essai XVI; no. 18

[4] Piso adalah seorang konsul Romawi.

[5] Aulus Gellius adalah seorang pengarang dan ahli tata bahasa Latin. Karyanya yang terkenal adalah Noctes Atticae (Attic Nights) yang berisi tentang catatan-catatan tentang tata bahasa, filsafat, sejarah, geometri yang berasal dari berbagai orang yang sekarang sudah tidak dikenali lagi. Judul Attic diambil dari nama sebuah kota Attica. Buku ini terdiri dari 20 buku.

[6] Tentang Plato lihat essai XVI; no. 9

[7] Protagoras adalah seorang sophist. Dialog Sokrates dengan Protagoras berdiskusi tentang apakah keutamaan itu satu atau banyak hal. Jawaban Sokrates: semua keutamaan adalah pengetahuan dan oleh karena itu keutamaan hanya satu, tunggal. Sokrates menyatakan bahwa alasan dan penyebab manusia melakukan kejahatan kepada orang lain atau diri mereka sendiri karena mereka hanya melihat keuntungan jangka pendek dan mengabaikan kerugian jangka panjang. Mereka, ibarat seseorang yang salah di dalam menilai ukuran suatu objek yang berada di kejauhan. Sokrates menjelaskan bahwa jika manusia diajarkan seni menghitung dengan benar dan memiliki pengetahuan yang lebih tentang kejahatan, tentu saja mereka tidak akan melakukan kejahatan. Hal yang sama berlaku pula untuk keberanian. Seorang perenang yang pemberani adalah dia yang mengetahui cara berenang dengan lebih baik. Oleh karena itu, melalui analogi yang sama, semua keutamaan pada dasarnya adalah pengetahuan sehingga dapat dianggap sebagai satu, tunggal dan hal yang sama. Konsekuensinya pula adalah jika keutamaan itu suatu pengetahuan maka keutamaan pasti dapat diajarkan.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply